NusantarasaTravelog

Dari Susu Pasteurisasi hingga Panganan Serba Susu Ada di KPBS Pangalengan

Melewati kebun teh Cukul yang panjang, akhirnya mengantarkan saya pada sebuah tempat yang tak pernah sepi pembeli. Keranjang belanja tiap orang terlihat menggunung. Mereka tampak membeli oleh-oleh sebagai tanda mata dari Bandung Selatan. Ada yang membeli susu pasteurisasi, yogurt, keju mozzarella, permen susu, bolu susu, dodol susu hingga keripik susu. 

Beragam panganan serba susu dijual di sini. Koperasi Peternakan Bandung Selatan Pangalengan atau yang disingkat KPBS Pangalengan merupakan sebuah koperasi yang beranggotakan para peternak sapi perah yang berada di Kecamatan Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Terdapat satu pabrik yang mana gedung utama dijadikan sebagai pusat oleh-oleh bernama Rest Area KPBS Pangalengan, berada satu komplek dengan pabrik susu segar. 

KPBS Pangalengan
Truk Milk Treatment yang baru saja tiba di pabrik/Atika Amalia

Pabrik susu KPBS Pangalengan mengolah dan memproses setiap hari produk-produk yang dijual di rest area maupun untuk didistribusikan keluar Pangalengan. Karena diproduksi setiap hari, produk-produk susu yang dijual tentu selalu segar. Susu sapi pasteurisasi yang rutin dijual dikemas dalam kemasan botol dan plastik. Di sana saya membeli susu pasteurisasi kemasan gelas plastik dengan isi 160 ml harga pergelasnya Rp3.000,00 rupiah, dan yogurt kemasan botol dengan isi 250 ml. 

Susu pasteurisasi dijual dengan rasa yang beragam, begitu juga yogurt. Ada rasa stroberi, leci, original, dan anggur. Selain itu juga terdapat keju mozzarella dengan kemasan 250 gram dan 1000 gram. Menurut Ibu Nita, salah seorang pembeli di sana, ia pernah membeli produk keju mozzarella KPBS Pangalengan, setelah dimasak rasanya tak kalah enak dari produk yang banyak dijual dipasaran. 

Sejajar dengan kulkas display susu, yogurt, dan mozarella, terdapat sebuah dapur yang siap menyajikan susu hangat serta menu-menu lainnya. Harga yang ditawarkan pun beragam mulai dari Rp10.000,00 hingga Rp40.000,00 rupiah, makanan bisa dinikmati di tempat. Pengunjung bisa memilih untuk bersantap di area makan lantai satu atau area makan lantai dua. Dari lantai dua, pengunjung bisa melihat lebih luas area belakang pabrik susu KPBS Pangalengan.

Sejarah Singkat Berdirinya KPBS Pangalengan

Peternakan susu sudah ada sejak zaman Belanda. Saat itu, Pangalengan merupakan penghasil susu sapi perah, beberapa peternakan diantaranya, De Friensche Terp, Almanak, Van Der Els dan Big Man. Untuk pemasaran hasil produksinya dilakukan oleh Bandoengsche Melk Centrale (BMC). Kemudian setelah Belanda meninggalkan Pangalengan, Jepang datang lalu menghancurkan perusahaan itu. Sementara sapi-sapi dipelihara oleh penduduk sekitar sebagai usaha keluarga. Para bulan November 1949 petani membentuk koperasi dengan nama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (GAPPSIP). 

Setelah beroperasi cukup lama, pada tahun  1961, GAPPSIP tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia, sehingga tataniaga persusuan sebagian besar diambil alih oleh kolektor (tengkulak). Dengan situasi dan kondisi tersebut, tahun 1963 GAPPSIP tidak mampu melakukan kegiatannya sebagai koperasi. 5 tahun kemudian yaitu pada Tanggal 22 Maret 1969 didirikanlah koperasi yang diberi nama Koperasi Peternakan Bandung Selatan disingkat KPBS Pangalengan. Akhirnya Tanggal 1 April 1969 KPBS Pangalengan secara resmi telah berbadan hukum, dimana Tanggal 1 April 1969 ditetapkan sebagai Hari Jadi KPBS Pangalengan.

Distribusi Pengolahan Susu Pangalengan

KPBS Pangalengan
Aneka olahan susu/Atika Amalia

Sapi-sapi perah milik anggota KPBS memproduksi susu segar, lalu dikumpulkan di Milk Collecting Point (MCL). Setiba di pabrik, susu akan dikumpulkan di cooling tank milik KPBS. Sebelum pengolahan ke berbagai bentuk olahan, susu akan terlebih dahulu dilakukan uji sampel untuk mengecek kualitas susu. Setelah diyakini susu yang diproduksi sudah sesuai standar, dilakukan pengolahan ke produk yang diinginkan, diantaranya susu pasteurisasi, yogurt, dan keju mozzarella. Produk yang sudah jadi akan dipasarkan melalui gerobak dan rest area KPBS Pangalengan.

Tangan sudah penuh dengan belanjaan, karena tidak kebagian keranjang saya harus memangku semuanya menuju meja kasir. Mereka bekerja dengan sigap, atrian yang tampak mengular sekejap mata beres dan disambung kembali oleh antrian baru. Saya sama sekali tidak merasa jenuh menunggu. Kresek putih yang berisi susu dibawa menuju mobil, tak sengaja saat keluar saya berpapasan dengan truk yang baru saja pulang mengumpulkan susu-susu dari peternak sekitar. 

Truk menepi mendekati sebuah bangunan bercat putih, seorang lelaki menaiki badan truk lalu memasukan satu batang besi panjang, kemudian menariknya kembali lalu menyerahkan besi tersebut kepada seseorang yang sudah menunggu di dalam gedung. Rupanya alat ini berguna untuk mengambil sampel untuk dilakukannya pengujian sebelum hasil perahan diolah dan dijadikan beragam bahan dasar makanan. 

Pangalengan yang sejuk dihiasi oleh kebun teh yang indah membuat perjalanan ini menyenangkan. Saya melaju santai menuju tol terdekat, sering kali saya berpapasan dengan petani sapi yang membawa kaleng-kaleng penampungan susu. Tak hanya ini, motor-motor yang membawa rumput untuk sapi pun hilir mudik. Terlihat jelas bahwa masyarakat benar-benar berkontribusi penuh dalam menghasilkan susu yang berkualitas. 

Tak terasa, saya sudah menghabiskan gelas kedua susu sapi rasa coklat. Jika rasa ini disandingkan dengan merek ternama yang ada di pasaran, rasanya mirip salah satu brand terkenal. Pantas saja, susu sapi dan olahannya digandrungi masyarakat yang berkunjung ke Pangalengan untuk dijadikan oleh-oleh.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.

Atika Amalia yang kini tinggal di Jakarta. Disela-sela kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Atika juga menekuni hobi fotografi.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gowok

    NusantarasaTerkini

    Kuliner Prancis dan Arsitektur Jawa dalam Cinema Bakery Yogyakarta

    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.