Travelog

Ceritaku tentang Cilincing dan Upacara 17 Agustus di Pulau Reklamasi

Sewaktu sekolah, aku benci upacara bendera. Berpura-pura sakit kepala agar diizinkan beristirahat di UKS atau berbaris paling belakang sambil mencari-cari kesempatan kabur ke kantin adalah modusku untuk menghindari upacara bendera. Tetapi, beberapa waktu lalu ketika Novita mengajakku untuk ikut upacara perayaan 17 Agustus 1945 di Cilincing, tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan.

Sudah beberapa kali aku datang ke wilayah pesisir Jakarta itu, blusukan keluar-masuk kampung nelayan padat yang pada sebagiannya, di daerah Kalibaru, dibangun tanggul setinggi tiga meter untuk mengantisipasi banjir rob dan penurunan permukaan tanah. Kusaksikan ibu-ibu mengupas kulit kerang hijau yang menghasilkan limbah menggunung, anak-anak yang merapikan dan menjahit jala yang robek, deretan anyaman bambu tempat menjemur ikan asin, udara laut yang amis, serakan sampah, dan hal-hal lain yang wajar dijumpai di perkampungan nelayan di daerah pesisir. Kesan kumuh dan kotor di kawasan itu mencerminkan bagaimana tempat tersebut dikelola.

Namun, di balik tampilannya yang sekarang, Cilincing sebenarnya menyimpan sejarah yang panjang. Tercatat, di tahun 1672, Kapitan Jonker, seorang pemimpin serdadu VOC kelahiran Manipa, Maluku, tinggal di daerah Marunda. Keberhasilan Kapiten Jonker bersama pasukannya melawan musuh-musuh VOC menjadikannya warga terhormat. VOC menghadiahinya tanah yang luas di daerah Marunda. Makamnya masih dapat dilihat di Kawasan Berikat Nusantara Marunda.

Justinus Vinck, yang di tahun 1735 membangun Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang, juga membangun rumah peristirahatannya yang disebut Landhuis Tjilintjing di kawasan itu. Kini bangunannya masih ada, disekat-sekat oleh lebih dari 20 kepala keluarga yang menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal mereka.

Ada dua masjid tua di wilayah Cilincing dan keduanya memiliki nama yang sama: Masjid Al Alam. Masjid yang pertama ada wilayah Cilincing Lama. Bentuk asli masjid ini sudah tidak tampak lagi karena sudah ditutupi oleh pendopo yang lebih tinggi. Masjid yang kedua ada di wilayah Marunda dan lebih dikenal dengan sebutan Masjid Si Pitung. Kedua masjid tua dengan nama yang sama itu tidak diketahui secara jelas sejarah pendiriannya, tetapi sudah menjadi cagar budaya.

Sebagaimana kedua masjid tersebut, sejarah Rumah si Pitung juga masih simpang siur. Sampai sekarang kebenaran bahwa rumah panggung khas permukiman nelayan adalah rumah si Pitung masih terus dicari tahu. Ada cerita bahwa itu adalah rumah orang Bugis juragan tambak bernama Haji Safiudin. Ada yang menyebut bahwa Haji Safiudin adalah korban perampokan si Pitung, ada pula yang menduga bahwa sosok itu adalah orang yang membantu si Pitung secara sukarela. Apa pun itu, si Pitung dikenal sebagai Robin Hood Betawi karena kepedulian dan keberpihakannya pada rakyat kecil.


Di Cilincing aku memiliki teman, seorang jurnalis foto bernama Syamsudin Ilyas. Aku memanggilnya Bang Ilyas. Perkenalan dengan Bang Ilyas bermula dari ketika aku mengikuti akun Instagramnya. Dari sana kuketahui bahwa dirinya bersama temannya, Bang Satriawan (Wawan), membentuk kelas fotografi untuk anak-anak pesisir yang mereka beri nama Kelas Jurnalis Cilik (KJC). Tujuannya sangat sederhana, yakni untuk menyalurkan ilmu jurnalistik yang mereka punya dan memberikan kegiatan yang positif bagi anak-anak pesisir di daerah tempat tinggal mereka di Kalibaru, Cilincing.

Aku mengirim pesan ke Bang Ilyas tentang ajakan Novita untuk upacara 17 Agustus di Cilincing, karena aku yakin pasti dirinyalah yang mempunyai ide tersebut. Setelah beberapa pesan berbalas, aku berjanji untuk datang di pembukaan Kelas Jurnalis Cilik ke-3 di Lapangan Bhedenx Kampung Kerang Ijo tanggal 16 Agustus sekaligus bersilaturahmi dengan anak-anak KJC lainnya.


Membawa bendera ke lokasi upacara/Daan Andraan

Jam 6 pagi tanggal 17 Agustus aku tergesa-gesa bangun dan memesan ojol. Jarak dari kosku ke Pengedokan, Kalibaru, cukup jauh. Di boncengan ojol, aku mengirim pesan ke Bang Wawan kalau aku sudah jalan. Aku khawatir tertinggal karena jam 7, waktu yang disepakati untuk berangkat naik kapal ke salah satu pulau reklamasi, tinggal 30 menit lagi.

Dengan menaiki perahu kayu bermesin kepunyaan nelayan, aku bersama rombongan menuju pulau hasil reklamasi tempat upacara akan diadakan. Pulau reklamasi yang kami tuju itu adalah timbunan pasir di laut yang merupakan bagian dari proyek besar reklamasi Teluk Jakarta.

Suasana upacara bendera 17 Agustus 2020 di pulau reklamasi/Daan Andraan

Proyek ini sekarang menghasilkan daratan-daratan yang bercerita tentang masalah-masalah: pendapatan DKI Jakarta dapat mencapai Rp100 triliun jika reklamasi Teluk Jakarta terealisasi, janji-janji kampanye penolakan terhadap pulau reklamasi, ditangkapnya anggota DPRD DKI atas kasus korupsi pulau reklamasi, hingga perdebatan tentang diksi pulau reklamasi dan pantai reklamasi. Sementara, cerita tentang nelayan yang semakin jauh melaut ke tengah Laut Jawa untuk mendapatkan ikan akibat dari proyek reklamasi ini semakin sayup terdengar.

Anak-anak bermain di laut setelah upacara bendera/Daan Andraan

Kami langsung mendirikan bambu untuk mengibarkan bendera dan tenda untuk berteduh sesaat setelah sampai di pulau reklamasi. Di daratan luas tanpa pohon itu kami mulai membentuk barisan dengan mengambil jarak yang lebih panjang agar tidak terlalu berdekatan. Upacara dilaksanakan dengan khidmat, disiram terik matahari pagi dan diembus angin laut. Setelah melaksanakan upacara dengan sangat sederhana, beberapa anak dengan riangnya bermain pasir dan berenang di laut yang menjadi muara bagi 13 sungai yang meliuk-liuk di daratan Jakarta.


Sesampai di kos, dengan kepala pusing dan kulit perih terbakar akibat panas matahari di pulau reklamasi, aku mengirim pesan dan bertanya kepada Bang Ilyas dan Bang Wawan tentang ide upacara 17 Agustus di pulau reklamasi. Mereka menjawab [tujuannya] hanya ingin merayakan kemerdekaan Indonesia di masa pandemi dengan cara mereka sendiri dan juga agar bisa bersenang-senang dengan anak-anak di pulau reklamasi.

Bagiku, merayakan hari kemerdekaan dengan mengikuti upacara di pulau reklamasi ini seperti doa dan harapan: semoga para nelayan di pesisir seluruh Indonesia bisa terbebas dari bisnis politik dan oligarki kekuasaan dan hidup makmur sejahtera.

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.

Daan Andraan

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.
Artikel Terkait
Travelog

Pulau Kapoposang dan Tawa di Balik Lautan (2)

Travelog

Pulau Kapoposang dan Tawa di Balik Lautan (1)

Travelog

Catatan tentang Prasasti dan Hulu Sungai Utara

Travelog

Sisi Utara Benteng Surosowan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *