Travelog

Cerita Kebersamaan di Pantai Pacar Tulungagung

Bicara soal tempat wisata, alam tak pernah gagal menyuguhkan pesonanya bagi para penikmatnya. Alam memiliki segala sisi keindahan di setiap sudutnya yang tak ada habisnya. Tidak terkecuali pantai. Hamparan pasir dan deburan ombaknya seakan berhasil menyihir siapa pun dalam lamunannya. 

Berkemah atau camping belakangan ini menjadi pilihan kegiatan mengisi waktu luang ketika berlibur. Ide berkemah pun juga terlintas di pikiran saya dan teman-teman saat itu. Selepas bermain badminton bersama, kami berembuk dan sepakat mengisi momen liburan yang sebentar lagi tiba dengan berkemah di pantai. Namun, rencana yang terbilang mendadak membuat tidak banyak teman kami yang bisa ikut serta. Alhasil kami berangkat dengan personel lima orang saja.

Diskusi pun masih berlanjut. Beberapa nama tempat wisata sempat terucap. Masing-masing menyumbangkan idenya untuk memberikan opsi. Setelah menimbang-nimbang beberapa hal, mulai dari akses jalan, rute, suasana, jarak tempuh, hingga harga tiket masuk, kami sepakat pada satu suara, yaitu Pantai Pacar.

Sekilas Pantai Pacar Tulungagung

Pantai Pacar terletak di Desa Pucanglaban, Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung. Meskipun berjarak cukup jauh dari pusat kota Tulungagung, tetapi Pantai Pacar menjadi destinasi wisata yang cukup diminati akhir-akhir ini, khususnya oleh masyarakat Tulungagung dan sekitarnya, karena keasrian dan kebersihannya masih terjaga cukup baik.

Keunikan pantai ini adalah lokasinya yang berada di bawah tebing. Tidak seperti pantai kebanyakan, yang mana kita akan langsung berhadapan dengan bibir pantai. Ketika tiba di Pantai Pacar, kita harus menuruni anak tangga yang sudah dibangun agar bisa menikmati langsung keindahan pantai dari dekat.

Tidak hanya itu. Di pantai ini juga terdapat air terjun kecil yang mengalir dari atas tebing dengan ketinggian kurang lebih tiga meter. Air terjun ini pun menjadi spot foto yang memiliki keunikan tersendiri bagi pengunjung. Tak jarang pengunjung menggunakannya sebagai tempat untuk membilas dan membersihkan diri dari pasir pantai.

Akses jalan menuju pantai pun sudah dibangun dengan baik. Kelak pantai ini bisa ditempuh lewat Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan beberapa provinsi, mulai dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Namun, pembangunan jalan tersebut belum sepenuhnya selesai, sehingga beberapa akses jalan belum berfungsi secara maksimal.

Sambutan Hangat Menjelang Petang

Kami memulai perjalanan menuju Pantai Pacar pada Rabu sore (31/05/2023) dengan tiga sepeda motor. Kami membagi rata barang-barang bawaan kami, termasuk tenda dan tikar. Cuaca yang cerah sejak pagi membuat kami optimis tidak akan turun hujan hingga esok hari.

Jarak sejauh 30 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu setengah jam tidak terasa melelahkan. Kami disuguhkan pemandangan alam yang indah dan menakjubkan sepanjang perjalanan, seperti rindangnya pepohonan, perkebunan yang asri, dan birunya laut selatan. Rasa penat seketika terbayar meskipun harus melewati jalanan yang cukup menanjak dan turunan curam di beberapa titik sebelum Pantai Pacar.  

Cerita Kebersamaan di Pantai Pacar Tulungagung
Mulusnya aspal Jalur Lintas Selatan (JLS) menuju Pantai Pacar Tulungagung/Nur Ainun

Sesaat sebelum sampai, sempat kepikiran bakal takut karena sepinya pengunjung. Namun, ternyata saya salah. Menjelang petang pun masih cukup banyak pengunjung di pantai ini. Suasana sore dengan sunset yang bersembunyi di balik awan menyambut kedatangan kami.

Seorang petugas yang ramah mengarahkan kami untuk memarkir motor di tempat yang telah disediakan. Bagi pengunjung yang akan berkemah di area Pantai Pacar dikenakan tarif sebesar Rp15.000 per orang untuk satu malam. Sudah termasuk biaya parkir dan fasilitas toilet. Jangan khawatir bila tidak memiliki peralatan untuk berkemah, seperti tenda, tikar, dan kompor. Di sini juga terdapat tempat penyewaan alat yang cukup lengkap.

Usai memarkir motor, kami sepakat untuk turun terlebih dahulu. Berkeliling di sekitar pantai sambil berfoto-foto menunggu momen matahari terbenam.

Kami berjalan ke arah timur. Di sana terdapat batu-batu karang dan air terjun yang mengalir cukup deras dari atas tebing. Jernihnya laut menambah pemandangan di pantai ini terasa sangat menyegarkan dan menenangkan. Ketika berjalan ke arah sebaliknya, kami menjumpai banyak bebatuan besar yang tersebar di sepanjang bibir pantai. Gelapnya langit sebagai tanda menuju malam tidak menjadikan pantai ini lantas ditinggalkan pengunjung. Saya melihat ada beberapa orang yang masih bertahan untuk menikmati sunset di Pantai Pacar.

Kebersamaan yang Mengisi Malam

Selepas matahari benar-benar tenggelam dari pandangan, beberapa pengunjung mulai mendirikan tendanya di area camp. Kami juga membangun tenda sambil bergantian melaksanakan salat Magrib.

Pengalaman nol membangun tenda membuat saya dan seorang teman saya merasa agak kepayahan. Setelah memakan waktu sekitar empat puluh menit dengan segala kebingungan, akhirnya dua buah tenda berhasil kami dirikan. “Lumayanlah, ya. Enggak jelek-jelek amat, yang penting bisa buat tidur,” pikir saya.

Kami pun bergegas menata barang-barang bawaan dan selanjutnya berkumpul. Duduk bersama di atas tikar yang kami tata menghadap ke arah pantai. Segala perbekalan dan camilan satu per satu dikeluarkan dari dalam tas sebagai amunisi perut kami malam itu. Mulai dari canda tawa, perbincangan ringan hingga serius menemani kami berlima. Bermodalkan makanan, kartu UNO, minuman hangat, dan pemandangan malam yang cantik dari Pantai Pacar menghanyutkan kami dalam kebersamaan yang hangat.

Cerita Kebersamaan di Pantai Pacar Tulungagung
Suasana tempat perkemahan Pantai Pacar saat malam/Nur Ainun

Perut kenyang, main kartu pun bosan. Kayaknya masih ada yang kurang. Kalau suasana sudah seperti itu, rasanya tidak afdal kalau tidak ada rahasia yang terbongkar.

Kami berkreasi. Permainan truth or dare pun berubah menjadi truth or truth kali ini. Benar adanya jika makin malam makin jujur. Situasi deep talk pun tak terelakkan di antara kami. Obrolan demi obrolan mengalir, sehingga tanpa sadar masing-masing mulai memasang posisi nyaman dan berbaring di atas tikar.

Tanpa terasa malam kian larut. Beberapa dari kami mulai mengantuk dan memutuskan untuk menyudahi permainan. Kami pindah ke dalam tenda terpisah untuk perempuan dan laki-laki.

Suara deburan ombak, embusan angin nan tenang, dan dinginnya udara yang menerpa kulit dengan sopan; adalah definisi pengantar tidur yang sempurna bagi kami. Malam yang cukup singkat, tetapi mengesankan.

Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Berbagi cerita dan rasa melalui tulisannya.

Berbagi cerita dan rasa melalui tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kasih Tak Sampai di Gunung Padang Kota Padang