Travelog

Buka Tutup Alun-alun Cianjur

Hawa dingin dan sedikit mendung masih menyelimuti kawasan Cianjur, Jawa Barat, Senin (28/2/2022) pagi. Sisa hujan gerimis yang turun sejak dini hari masih membekas di aspal jalan yang terlihat membasah, persis di depan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Cianjur. Lalu lintas lengang. Mentari tampaknya masih di peraduan. Sama sekali belum menampakkan parasnya.

Gerbang Kantor Disdukcapil Cianjur tertutup rapat. Tidak ada aktivitas. Maklum, hari itu bertepatan dengan hari peringatan Isra Miraj, yang merupakan hari libur nasional. Tak jauh dari kantor Disdukcapil, persis di belokan yang mengarah ke Terminal Rawabango, sejumlah motor terparkir. Para pengemudinya bergerombol sembari mengobrol. Mereka adalah para pengemudi ojek pangkalan yang memang sejak lama biasa mangkal di situ.

Setiap ada bus dari arah Bandung yang yang berhenti, mereka sigap menyambut penumpang yang turun untuk menawarkan jasa, yakni mengantar ke sejumlah tempat yang dituju. Turut mengobrol dengan para pengemudi ojek yang sedang mangkal pagi itu adalah beberapa pedagang asong. 

Sama seperti pengemudi ojek, pedagang asong itu pun memanfaatkan momen berhentinya bus untuk mengais rejeki. Setiap ada bus yang berhenti dan menurun-naikkan penumpang, para pedagang asong itu sigap meloncat masuk ke dalam bus untuk menawarkan barang dagangannya. 

Selain aneka minuman dingin, yang mereka tawarkan adalah keripik pisang, kacang tanah goreng, keripik sukun, kerupuk kulit, basreng, manisan mangga, manisan kedondong, serta permen tolak angin. Namun, ada juga pedagang asong yang tidak menawarkan makanan-minuman. Produk yang mereka tawarkan adalah barang seperti dompet, ikat pinggang, minyak gosok, alat pencukur, hingga buku kumpulan doa dan tuntunan salat.

Berjarak beberapa puluh meter ke sebelah barat dari tempat mangkal para pengemudi ojek dan pedagang asong, terlihat sebuah truk sampah berplat merah. Nomor polisinya terbaca jelas, F 8318 W. Tiga awaknya tampak sibuk mengangkut sampah dari tong sampah yang ada di sepanjang jalan, dan kemudian melemparkan sampah-sampah itu ke dalam bak truk.

Meski hari libur, rupanya para petugas sampah itu tetap bekerja. Bisa dibayangkan jika hari libur, petugas sampah juga ikut libur. Maka, sampah akan menumpuk-numpuk. Bagaimanapun, sampah perlu diangkut saban hari karena produksi sampah boleh dibilang terjadi sepanjang hari, bahkan juga sepanjang malam. Sungguh, para petugas sampah berjasa besar bagi kita semua. Jika mereka berhenti bekerja, misalnya, alamat kota-kota kita akan jadi lautan sampah. Mungkin tak berlebihan jika pahlawan kebersihan atau pahlawan lingkungan kita sematkan kepada mereka.

Sembari menyusuri trotoar, aku amati gedung-gedung yang kulewati di sebelah sisi kiriku. Berbeda dengan kantor-kantor pemerintah yang tutup karena hari libur nasional, toko-toko, kedai makan, juga kios-kios pinggir jalan, tetap buka melayani konsumen. Setidaknya hal itu sangat kentara ketika kakiku akhirnya membawaku ke kawasan Jalan Mangunsarkoro, yang jaraknya tak begitu jauh dari Alun-Alun Cianjur.

Banner pengumuman/Djoko Subinarto

Bunyi musik jedag-jedug dibarengi suara pramuniaga datang dari salah satu toko busana. Sang pramuniaga berdiri di depan toko sambil cuap-cuap melakukan promo dan mengundang orang-orang untuk singgah berbelanja ke tokonya.

Di dekat perempatan jalan, sebuah angkot tanpa kernet menepi, menurunkan penumpang. Dari dalam angkot, turun seorang perempuan beserta seorang anak kecil. Menyusul kemudian seorang pria. Aku menduga mereka sebuah keluarga. Ketiganya bergegas berjalan ke arah Alun-Alun Cianjur. Kubuntuti mereka. 

“Euh, tutup geuning, nya,” (Lho, tutup, ya) terdengar sang pria bersuara dalam bahasa Sunda tatkala ia akhirnya melihat pengumuman yang digantungkan di salah satu sudut Alun-alun Cianjur.

“Tos we calik heula di dieu. Reureuh,” (Sudah, duduk dulu di sini. Istirahat) kata si perempuan menimpali sembari mengajak si anak kecil duduk di tembok trotoar yang dinaungi rimbun pohon.

Di beberapa sudut Alun-alun Cianjur hari itu memang tampak terpasang banner pengumuman. Isi pengumumannya berbunyi: “Pengumuman. Dalam rangka pencegahan COVID-19, Alun-alun Cianjur Ditutup Sementara.”

Mendapati pengumuman itu, beberapa pengunjung memilih segera balik kanan. Beberapa lagi memilih duduk-duduk di seberang Alun-alun, sambil memesan makanan ringan dari pedagang yang mangkal di sana. 

Selain pengumuman tertulis, pengumuman juga dilakukan secara lisan lewat pengeras suara, terutama ketika ada warga yang nekat mencoba masuk ke alun-alun.

“Ibu/Bapa, punten. Alun-alunna nuju ditutup,” (Ibu/Bapak, maaf. Alun-alun sedang ditutup) begitu terdengar beberapa kali petugas mengumumkan lewat alat pengeras suara.

Sempat dibuka

Pada Selasa (11/1/2022) lampau, Alun-alun Cianjur memang sempat kembali dibuka untuk publik setelah hampir dua tahun ditutup karena pandemi COVID-19. Pembukaan tersebut tentu saja disambut antusias warga. Bukan hanya warga Cianjur yang menyerbu Alun-alun Cianjur, tetapi juga ada yang dari luar Kota Cianjur.

Namun, baru sebulan dibuka, Pemerintah Kabupaten Cianjur akhirnya memutuskan menutup kembali Alun-alun Cianjur mulai pertengahan Februari 2022 lalu. Salah satu petimbangan penutupan tersebut yaitu terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Kabupaten Cianjur. 

Alun-alun Cianjur sendiri memiliki luas sekitar tiga hektare. Alun-alun ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi terakhir selesai pada tahun 2019, yang sekaligus menjadi momen penting dengan diresmikannya alun-alun ini oleh Presiden Joko Widodo.

Masjid Agung Cianjur/Djoko Subinarto

Seperti umumnya alun-alun lainnya di Pulau Jawa, di sisi barat Alun-alun Cianjur terletak Masjid Agung. Adapun di sekeliling Alun-alun Cianjur, berdiri sejumlah instansi maupun pertokoan.

Sejumlah literatur menyebut Masjid Agung Cianjur dibangun pada sekitar tahun 1810. Awalnya, luas masjid ini hanya sekitar 400 meter persegi. Kini luas Masjid Agung Cianjur sekitar 2.500 meter persegi dan mampu menampung hingga ribuan jamaah.

Rumput sintetis menutup sebagian Alun-Alun Cianjur/Djoko Subinarto

Meniru konsep Alun-alun Bandung, Alun-alun Cianjur juga menggunakan rumput buatan (sintetis) untuk menutupi sebagai lahannya di mana para pengunjung dapat duduk-duduk santai atau berguling-guling di atasnya. Tatkala kita melayangkan pandangan dari sisi selatan ke arah tengah alun-alun, kita bakal melihat sebuah tulisan slogan berbunyi: “Cianjur Sugih Mukti”.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.