Itinerary

Bincang Musik dan Perjalanan bersama Endah n Rhesa

Endah N Rhesa

Endah N Rhesa/Istimewa

Pada Minggu, (29/11/2020) lalu, TelusuRI berkesempatan ngobrol bareng dengan salah satu grup musik Ballad kenamaan tanah air Endah N Rhesa. Mungkin banyak dari kalian yang sudah mendengar lagu terbaru mereka yang berjudul Pulang ke Pamulang. Lirik dan video musiknya menceritakan perjalanan mereka pulang ke Pamulang dan bagaimana Endah N Rhesa mengajak kita memaknai arti ‘pulang’. Melalui lamannya Endah N Rhesa memang mengakui bahwa lagu-lagu mereka dapat dikategorikan ke genre balada, yang berarti lagu yang bercerita. 

Nah, di #NgobrolBareng kali ini, Endah N Rhesa membagikan cerita mereka tentang bagaimana cerita di balik pembuatan lagu Pulang ke Pamulang, serta bagaimana mereka memaknai perjalanan. Yuk kita simak!

Halo Mbak Endah dan Mas Rhesa, apa kabarnya nih?

Endah: Baik-baik sehat, dirimu gimana Tiffany?

Baik-baik sehat Mbak! Mbak, “Pulang ke Pamulang” itu mirip banget sama tur virtual TelusuRI deh, aku melihat di setiap liriknya direpresentasikan secara visual, nah boleh diceritakan nggak, bagaimana proses pembuatan lagu itu?

Endah: Jadi korelasi visual lagu “Pulang ke Pamulang” itu karena kami tinggal di Pamulang, dan kata-kata pulang ke Pamulang memang sering diucapkan, secara bunyi juga enak [didengar]. Akhirnya kita memutuskan untuk ya sudah yuk kita bikin sesuatu [untuk] mendeskripsikan bagaimana Pamulang melalui kacamata Endah n Rhesa.

[Lagu ini] sebenarnya [bercerita], kaya apa sih yang kita lalui di sini, apa yang kita lihat, dan rute-rute mana yang sering kita lewati. Jadi inilah yang kita abadikan dalam sebuah lagu  yang sebenarnya maknanya banyak banget, yaitu doaku akan selalu pulang ke Pamulang. Intinya dimanapun kita berada akan selalu mengirimkan doa ke orang-orang yang kita sayang, ke tempat-tempat yang kita sayang.

Nah kemudian korelasi antara bagaimana ya memvisualisasikan lagu tersebut, ketika melihat video “Pulang ke Pamulang” memang ada spot-spot yang juga disebutkan di dalam lirik lagunya. Misalnya lirik tiba di bundaran, itu adalah tugu keramat kita, Tugu Pamulang.

Ketika ngelewatin persis seperti yang ada di video, di tepian selatan [berarti itu adalah visualisasi] saat masuk Tangerang Selatan dari arah Jakarta, atau saat melewati pacuan kuda lewat flyover Ciputat terus kemudian tiba di bundaran, memang seperti itu rute yang kita lalui. Akhirnya kita bisa menciptakan lagu dari sebuah tempat dari berbagai angle, dan lagu ini kami dedikasikan untuk tempat tinggal kami.

Rhesa:  Lirik doaku akan selalu pulang ke Pamulang, memang bercerita tentang sebuah tempat atau sebuah situasi, tapi inti dari lagu ini sebenarnya adalah kemanapun kita pergi doa kita akan selalu pulang ke tempat di mana ada orang yang kita sayang ada keluarga kita, kurang lebih gitu. 

Berarti Mas Reza tuh yang sebenarnya anak Pamulang banget ya dari kecil?

Rhesa: Iya dari SD aku di sini tahun ‘88.

Endah: Saksi mata pembangunan Pamulang lah Rhesa itu, dari sebelum ada bioskop, sampe ada bioskop, dan sekarang nggak ada bioskop lagi.

Secara pribadi lagu Ini kan mengandung sebuah doa, apa aja sih doa-doa itu? Selain itu, apa sih perubahan spesifik dari Pamulang itu sendiri sejak ‘88? 

Endah: Sebenarnya kalo doa memang karena orang tua Rhesa kan di sini ya.

Rhesa: Jadi keluarga dan teman-teman kita di sini, apalagi sejak ada Earhouse. Makanya ada lirik kawanku telah tumbuh seribu. Di Earhouse ini kita mulai banyak kawan, dan mulai ada obrolan kreatif dari santai sampai yang produktif. Makin ke sini, hubungan kami menjadi erat dengan kawan-kawan di Pamulang ini, jadi doa kami akan selalu buat mereka dan buat orang tua kita juga.

Nah kalau perkembangan Pamulangnya sendiri sebenarnya cukup variatif ya.  Jadi pada intinya ada yang bertambah berkembang dan ada yang mengalami penurunan. Itu proses ya, karena kami ‘kan di pinggiran gitu,  di pinggiran selatan Tangerang Selatan [tepatnya], kadang-kadang ada minimarket masuk yang lalu menjadi besar, terus toko elektronik, dsb.

Endah: Pamulang itu menurut aku masih sangat fokus dengan wilayah pemukiman, wilayah tempat tinggal gitu, mungkin berbeda dengan beberapa tempat-tempat yang lain yang memang sudah ada banyak pusat perbelanjaan yang lebih fancy atau gedung-gedung perkantoran yang besar-besar, atau misalnya wilayah industri.

Tapi sebenarnya Pamulang ini memang sebagian besar pemukiman jadi memang berasa banget wilayah suburban-nya. Di mana Kalau kemacetan datang itu ketika orang pergi ke kantor dan di jam-jam tertentu.

Kemudian banyak banget tempat-tempat yang membuat nyaman bermukim di sini. Misalnya betapa banyaknya makanan dari yang tendaan, angkringan, sampai dengan restoran franchise luar negeri. 

Menurutku ini yang membuat kita merasa cukup nyaman di Pamulang, [Pamulang] tidak kehilangan identitasnya meskipun di tempat-tempat sekitarnya sudah mulai bermunculan tempat baru. Akhirnya kita memutuskan untuk menjadikan itu sebagai tempat tinggal aja nih kita jadi tempat tinggal bersama dengan ular, musang, biawak dan lain-lain.

Wah memangnya masih ada ya Mbak, Mas, ular-ular dan biawak gitu di sana? 

Endah: Masih, karena memang kebanyakan tempat di Pamulang itu sawah, setu, dan danau. Jadi memang sangat variatif bener seperti yang Rhesa bilang tadi.

Endah N Rhesa

Endah N Rhesa/Istimewa

Pulang ke Pamulang bercerita tentang perjalanan, dari banyaknya lagu Endah N Rhesa, kenapa sih memilih tema perjalanan. Lalu, bagaimana perjalanan itu sendiri dimaknai oleh Endah N Rhesa?

Rhesa: Memang ada beberapa lagu yang punya visualisasi [terlebih] dulu seperti perjalanan kami. Di album kelima misalnya, kami punya “Hello, Love is in Town” yang bercerita tentang perjalanan pulang ke rumah di dalam kereta.

Endah: Kami punya banyak waktu di perjalanan apalagi dulu sering tur, mungkin dalam satu minggu, di rumah hanya tiga hari, sisanya memang kita akan pergi dan sibuk dengan hal-hal di luar rumah. Secara nggak sadar rasa itu ada dan akhirnya terekam dalam sebuah lagu.

Kalau buat kami, makna perjalanan itu adalah dimana kita bisa mendapati banyak kejutan di tengah-tengah proses yang kita jalani. Di perjalanan ada proses-proses, berangkat, ketemu orang, bersiap-siap, kemudian sampai ke tujuan. Dengan adanya proses itu mungkin kita bisa menjadi a better person gitu, justru bukan fokus ke tujuannya, tapi malah bagaimana kita bisa enjoy ketika hal tersebut berjalan. 

Rhesa: Kemanapun perjalanannya, menurutku memang yang paling penting adalah supaya kita bisa sampai ke tujuan. 

Endah: Tapi kadang-kadang belok tujuannya karena somehow perjalanan itu kan menuju sesuatu, ketika kita punya bekal, ketika kita punya knowledge, dan kita berproses, kita melihat satu tujuan yang ternyata proses itu bisa mendukung untuk tujuan kita ke sana gitu. 

Untuk lagu berikutnya, mana yang akan diangkat nih?

Sebenernya kita nggak pernah benar-benar merencanakan apa yang ingin kita bikin. Jadi kita berdua itu impulsive banget orangnya. Tabungan lagu kami itu sedikit, jadi belum punya rencana. Biasanya ketika lagi ada ide langsung kita eksekusi.

Sebenernya sih akan sangat menarik jika setiap tempat itu punya cerita. Nggak harus tempat yang semua orang tau, dan nggak harus [berbentuk] lagu, mungkin bisa film atau lukisan. 

Kalau misalnya ditantang untuk membuat lagu tentang ragam kuliner indonesia kira-kira tertarik nggak? 

Tertarik sekali. Tapi memang harus tunggu momen nya. Karena kita tipikal yang sangat impulsive dan spontan, kita sebenarnya kalau mau bikin lagu tentang apa aja kalo based on challenge tuh seru. Sekarang aja juga bisa. 

“Jangan lupa makan pecel lele tenda, yang ada di pinggiran Pamulang, warung tenda yang beragam, pecel lele ayam bakar juga ada kerang-kerang nikmat rasanya,” Endah menyanyi.

Nah itu [lagu] tentang warung tenda, judulnya warung tenda.. 

Wah mantap, keren banget, langsung dibikinin dan dinyanyiin tuh! Padahal seharusnya Endah N Rhesa nggak nyanyi loh di #NgobrolBareng ini. Terima kasih banyak, Mbak Endah dan Mas Rhesa cerita-ceritanya.

Terima kasih banyak juga @ayotelusuri dan temen-teman pejalan, semoga nanti kita bisa jumpa di Earhouse, jumpa di Pamulang, semoga kita juga bisa jumpa jangan virtual, setelah pandemi rame-rame bareng.

Simak lagi percakapan dengan Endah n Rhesa di akun Instagram TelusuRI

Artikel Terkait
Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

ItineraryPilihan Editor

Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *