Semasa CoronaTravelog

Berjejak di Jembatan Merah Mangrove

Tepat setelah seminggu berkutat dengan pekerjaan, aku ditemani teman perempuan, Putria namanya—untuk melepaskan penat. Memang pekerjaan sekarang masih belum kembali normal seperti sebelum terjadi pandemi. Namun, tetap harus dikerjakan dengan sebagaimana mestinya.

Hari Minggu, aku mendapatkan informasi bahwa sekarang wisata yang akan ku kunjungi ini sudah banyak dilakukan renovasi. Sebenarnya sudah pernah berkunjung ke objek wisata itu, maklum agak dekat dari rumah sekitar 30 menit sudah sampai. Namun, tetap tidak menggoyahkan tekadku untuk mengintip keindahan alam itu.

Menurutku melepas penat yang baik adalah berkunjung ke destinasi wisata alam yang akan membuat mata menjadi lebih segar. Alhasil benar sekali, kami tiba di Taman Konservasi Hutan Mangrove (Jembatan Merah Mangrove), tepatnya di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kalau kalian ingin berkunjung tidak jauh dari jalan raya. Rembang yang terkenal akan potensi pesisirnya ini membuat orang dari berbagai kota rela mendatangi wisata laut, termasuk Jembatan Merah Mangrove ini. Selain wisata Karang Jahe Beach, Jembatan Merah Mangrove ini mempunyai daya tarik tersendiri.

Gapura Pintu Masuk Wisata

Dari jalan raya kalian bisa naik mobil atau motor untuk berkunjung ke sana, nanti disambut oleh sebuah tulisan “Jembatan Merah Mangrove”. Wisata JMM (Jembatan Merah Mangrove) ini tiketnya sangat terjangkau, hanya merogoh kocek Rp5.000 untuk parkir sepeda motor, maklum kami ke sana naik motor.

Kalau mobil setahuku sekitar Rp10.000 saja. Setelah itu harus berjalan setapak dulu, di samping kanan kiri disambut oleh tambak (kolam di tepi laut yang diberi pematang untuk memelihara ikan, biasanya ikan bandeng dan udang, ada juga garam) yang amat memesona cantiknya. 

Tiket Parkir dan Donasi

Di masa pandemi ini yang hanya selalu dihadapkan pada layar datar, pasti sangat bersyukur melihat pemandangan yang sangat asri nan hijau itu. Semesta mendukung, cukup terang juga perjalanan waktu itu, langit yang begitu cerahnya, matahari yang begitu gagahnya memancarkan sinar terbaiknya dan tak membuat para pengunjung untuk patah semangat agar bisa sampai ke gapura “Selamat datang di Jembatan Merah Mangrove.”

Jangan khawatir, di Jembatan Merah Mangrove ini selama pandemi pengunjung diminta untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Para pengunjung tetap harus memakai masker dan disediakan tempat cuci tangan sebelum memasuki area wisata.  

Sembari melangkahkan kaki, mataku tertuju pada deretan warung yang menjajakan dagangannya. Para penjual juga amat ramah pada pengunjung, masih sangat kental dengan adat tegur sapa. Penjual memasarkan dagangannya, berupa jajanan dan minuman. Ketika pengunjung haus, mereka bisa langsung mampir sekadar membeli air mineral atau makan sambil ngobrol asyik dengan memandangi hamparan tambak yang membuat mata takjub untuk memandang.

Tak terasa langkah ini sudah tepat sampai di gapura ”Selamat Datang Jembatan Merah Mangrove.” Di samping kiri ada kotak donasi seikhlasnya saja. Sebagai dana perawatan untuk perbaikan. Lalu pengunjung boleh masuk dan disambut oleh hijaunya mangrove. Derap kaki menginjakan ke jembatan merah sangat takjub, lebih luas daripada pertama kali berkunjung  ke sana. Rimbun sekali untuk mangrovenya. Tempatnya sangat tertata dan bersih, banyak disediakan tong sampah. Jadi pengunjung boleh membawa bekal makanan dan minuman serta membuang sampahnya pada tong sampah yang disediakan. 

Warna merah pada jembatan serta kanan kiri dikelilingi oleh tumbuhan mangrove yang hijau, membuat banyak pengunjung untuk berswafoto genik dan bergaya ala-ala selebgram. Tapi tak apa, semua itu demi mendokumentasikan jepretan pribadi. Bahkan banyak fotografer atau vlogger yang berburu foto “cantik” pemandangan yang menarik. Demi untuk mengenalkan wisata lokal yang amat indah itu.

Area Swafoto

Mataku berkeliaran memandangi seisi wisata Jembatan Merah Mangrove, banyak pasangan muda-mudi yang berkunjung, ada juga dengan teman dan sahabat, bahkan, juga keluarga yang lengkap dengan menikmati keindahan itu. Terlebih lagi banyak komunitas yang singgah untuk menikmati pesona destinasi wisata itu. Waktu itu, komunitas sepeda pun turut ikut  andil menikmati panorama mangrove.

Aku telusuri sekitar jembatan mangrove, memang benar sudah dilakukan renovasi yang sangat bagus, bertambah luas, membuat wajah baru pada destinasi wisata ini, banyak jembatan yang dibuat persimpangan, tempat swafoto dengan bergaya ngehits era sekarang. Keindahan yang sangat kentara dengan perpaduan antara pantai, mangrove beserta gazebo membuat segalanya menjadi menarik.

Disediakan gazebo, sebagai tempat untuk bercengkrama bersama pasangan, anak, sanak saudara serta rekan kerja. Tak ketinggalan para traveler dan fotografer membidik foto dengan sangat semangat untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Sesekali mereka beristirahat di gazebo untuk memikirkan angel mana yang akan dibidik.

Setelah kami lanjutkan langkah menelusuri bagian-bagian lainnya, ada yang membuat terasa unik, yaitu berjualan di atas perahu yang dekat dengan ujung mangrovenya. Tempat yang sangat strategis melihat keindahannya itu, bagaimana tidak, melihat ke depan adalah pantai, sedangkan menengok ke belakang adalah untaian jembatan yang merah merekah diikuti rimbunnya mangrove yang hijau membentang. Serta bisa menikmati minuman dan jajanan dengan asyik. Perlu dicoba bagi yang ingin berkunjung ke sana.

Kini, destinasi wisata waktu bukanya belum normal seperti biasanya. Jembatan Merah Mangrove ini sekarang hanya buka hari Sabtu dan Minggu. Meskipun demikian, masih banyak yang rela berdatangan untuk bisa melihat keindahannya. Semoga pandemi segera usai, biar segala kikuk, bisa jadi ingar bingar. Segala yang sulit bisa termudahkan serta segala yang belum baik bisa menjadi baik.

Chusnul Chotimah tinggal di Lasem-Rembang, menyukai hobi menulis, jalan-jalan serta berbisnis. Mengajar adalah pekerjaan saya. Tetap rendah hati dan jangan lupa bersyukur. Cukup sekian semoga senang dengan tulisan saya.

Chusnul Chotimah tinggal di Lasem-Rembang, menyukai hobi menulis, jalan-jalan serta berbisnis. Mengajar adalah pekerjaan saya. Tetap rendah hati dan jangan lupa bersyukur. Cukup sekian semoga senang dengan tulisan saya.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Travelog

    Singgah ke Masjid Tiban

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *