Travelog

Kami “Melarikan Diri” ke Pantai Remen

Saat itu kami bersepuluh sedang melaksanakan magang di kawasan tambak udang di Tuban. Karena bosan setiap hari melakukan aktivitas yang sama, menebar pakan dan mengukur kualitas air kolam. Akhirnya kami ingin sejenak ‘kabur’ (jangan dicontoh) menuju salah satu pantai yang ada di Kabupaten Tuban. Bermodalkan nekat dan secuil informasi salah seorang dari kami yang berdomisili di Tuban. Segera kami memutuskan untuk beranjak pergi menuju satu-satunya pantai berpasir putih yang ada di sana, yaitu Pasir Remen.

“Eh, ayo main!” Ucap seorang wanita berkerudung merah dan bercelana putih. “Ngawur!” Jawab saya keheranan. “Gapapa, sekali-kali.” Balasnya.

Nama Tuban mungkin tidak seterkenal daerah lain di Jawa Timur yang memiliki keindahan wisata baharinya. Seperti Malang, Banyuwangi ataupun Pacitan. Namun, Tuban memiliki tepian diantara barisan pabrik yang berdiri, salah satunya adalah Pantai Remen. 

Terlihat orang-orang masih mempersiapkan diri untuk memulai kegiatan. Matahari pun belum terlalu bersemangat mengeluarkan energinya. Begitu pula dengan kami yang belum mengisi perut sama sekali. Namun nasi dan lauk pauk sederhana telah rampung diolah serta siap untuk dilahap. Alhasil, tidak ada pilihan selain membawa makanan menuju pantai dan berencana untuk menikmatinya disana.

Menuju Pantai Ramen

“Eh, beneran dibawa sama magic com-nya?” tanya saya kebingungan. “Ya iyalah, mau gimana lagi, gak ada wadah,” jawab wanita yang mengenakan cardigan biru langit. Bergegas kami mengendarai motor sembari membawa magic com merah muda kapasitas 1 kg.

Pantai Remen terletak di Desa Remen, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Tidak seperti halnya karakteristik pantai utara Pulau Jawa yang biasanya berpasir dan memiliki air laut hitam. Pantai Remen menyajikan putih dan halusnya pasir pantai. Kami mengawali perjalanan dari Desa Dasin melewati jalanan padat pantura penuh kendaraan berbobot raksasa ke arah Rembang.

Laguna/Melynda Dwi Puspita

Begitu tiba di Pantai Remen, gugusan pohon cemara laut menyambut kami. Jujur saja, saya belum pernah menengok hutan cemara laut serimbun dan seindah ini. Tidak ada uang sepeserpun yang kami keluarkan dari kantong. Padahal dari informasi yang kami peroleh, terdapat tarif tiket masuk dan ongkos parkir. Mungkin keberuntungan sedang berpihak kepada kami.

Kami melewati sebuah cekungan berisi air yang disekelilingnya terdapat cemara laut berjejer. Laguna tersebut cukup besar membentuk sebuah kolam yang apik. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kami menghentikan motor sejenak untuk bergaya di depan kamera ponsel. Bahkan kami juga sempat mencelupkan kaki ke dalamnya sembari menengadahkan tangan berusaha mengangkat air. Tidak ingin berlama-lama, kami melanjutkan perjalanan menuju bibir pantai.

Menyantap bekal di Pantai Ramen

Menikmati Bekal dan Suasana Pantai/Melynda Dwi Puspita

Di pagi hari yang cerah itu, ternyata sudah banyak pengunjung yang nampak asyik dengan berbagai kesibukan. Kami terus melaju bersama motor mendekati bibir pantai. Perut sudah terasa keroncongan. Lekas saja kami membuka bekal yang telah dibungkus dengan rapi. Saya hanya tertawa melihat tingkah konyol diri-sendiri dan teman-teman yang lain.

Membawa magic com tanpa ada rasa malu dan gengsi. Selanjutnya membagi rata makanan yang dibawa, salah satu dari kami bersahut, “Ayo Pak Ustaz, pimpin doa”, sambil menunjuk seorang rekan bertopi abu-abu. Sontak saja kami tertawa mengibaratkan diri sendiri seperti anak TK yang sedang belajar berdoa bersama. Tanpa pikir panjang, kami menyantap makanan yang terlihat menggiurkan.

Setelah membereskan piring, sendok dan sebagainya. Tidak lupa kami menjangkau air laut yang nampak menyegarkan. Kami melepas alas untuk membiarkan telapak kaki berinteraksi dengan halusnya pasir pantai. Tidak terlihat ombak tinggi, yang ada hanyalah arus air terbawa angin. Sehingga Pantai Remen sangatlah cocok dijadikan sebagai tempat berenang ataupun sekedar bermain air.

Sayang seribu sayang, kami tidak mempersiapkan baju ganti. Alhasil, berenang hanyalah sebuah khayalan semata. Kami sempat memikirkan kemalangan nasib yang melanda. Sehari-hari terpapar cahaya matahari membuat kulit menggelap. Hingga hanya gigi yang terlihat. Demi sebuah kesenangan dan pengalaman berharga.

Suasana jelang malam

Formasi Cemara Laut/Melynda Dwi Puspita

Tidak hanya sebatas tempat singgah, Pantai Remen digunakan sebagai lokasi untuk camping. Sebagai salah satu kawasan industri, Tuban memiliki kilau lampu pada malam hari yang menyilaukan mata. Mendirikan tenda di tepi pantai dan menikmati suasana malam hari diiringi cahaya penerangan sungguh memukau. 

Lalu lalang kapal-kapal tongkang juga menjadi pemandangan tersendiri. Banyak pula nelayan yang sedang menjala atau memancing ikan. Sehingga tawaran wisata kuliner seafood juga tersedia di Pantai Remen. Apabila bosan menikmati suara ombak, memancing menjadi alternatif aktivitas yang menyenangkan.

Setelah lelah menghampiri, kami hanya terduduk manis di atas pasir pantai. Membiarkan panas matahari menerpa raga dan merasuk melalui pori-pori kulit. Matahari mulai meninggi menandakan waktu berwisata telah berakhir. Kami tersadar untuk melanjutkan aktivitas yang sengaja sempat tertunda. Menebar pakan di sore hari untuk udang-udang yang kelaparan. Sembari memikirkan alasan mengapa kami sejenak menghilang.

“Dasar, anak-anak bandel,” pikir saya.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *