TRAVELOG

Belajar pada Penjaga Hulu Sungai Mata Allo di Kaki Gunung Latimojong

Sebagai seorang yang menyenangi perjalanan dan berkegiatan di bidang kehutanan, perjalanan-perjalanan yang telah saya alami sering kali menjadi upaya mencari validasi antara materi-materi yang diajarkan di dalam ruang kelas dengan realitas di lapangan. Meskipun petualangan yang saya jalani masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan banyak orang di luar sana, sesekali sebuah perjalanan membawa saya pada sebuah renungan apakah semua orang percaya frasa “The Mother Earth”?

Kita banyak belajar tentang hutan. Namun, banyak pula berita yang kita temui menceritakan bahwa jumlah hutan kita terus berkurang. Aneh rasanya bagi kita yang terus belajar, tetapi terasa menimbulkan jarak antara pengetahuan kita dan realitas di lapangan.

Awal Ramadan 2026 saya menjemput Abdul Masli untuk memulai sebuah perjalanan yang kelak kami namai sebagai “Perjalanan Menemukenali dan Menyerap Energi Baik”. Ini adalah kali kedua kami melakukan perjalanan mandiri setelah sebelumnya di awal 2025 kami melakukan perjalanan yang sama yang kami namai “Mencari Ba’tan (jawawut) di Leon”.

Tujuan kami kali ini adalah sebuah permukiman terakhir di kaki Gunung Latimojong yang berbatasan langsung dengan hutan lindung Pegunungan Rantemario, tepatnya di Dusun Karangan, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang. Jujur saja desa ini baru kami sepakati selama dalam perjalanan dari Kota Makassar menuju Kabupaten Enrekang.

Sebelum menuntaskan perjalanan, kami sempat melipir sejenak ke Desa Banti di Kecamatan Baraka untuk beristirahat dan menjemput puasa pertama, lalu kembali melanjutkan perjalanan di pagi harinya. Dari Desa Banti menuju Dusun Karangan masih membutuhkan sekitar 1–2 jam perjalanan dengan medan khas yang menanjak dengan tepi jalan berupa lereng terjal.

Mungkin bagi awam medan jalan seperti itu bisa saja menakutkan. Kalau kata Kristian Hansen, seorang traveler yang berkeliling Indonesia dengan sepeda motor dalam kanal YouTube miliknya, “Perjalanan sulit kadang menemui kejutan-kejutan menarik yang tidak terduga.” Dan benar saja. Terlepas dari jalanan yang menguras tenaga, hamparan hijau pepohonan, pegunungan, lembah, perkebunan, sawah, dan permukiman menjelma lukisan alam sejauh mata memandang.

Perjalanan ke Dusun Karangan menyuguhkan bentang alam pegunungan, lembah, perkebunan, dan permukiman (Syamsumarlin)
Perjalanan ke Dusun Karangan menyuguhkan bentang alam pegunungan, lembah, perkebunan, dan permukiman/Syamsumarlin

Penjaga Hulu

Dusun Karangan menjadi salah satu gerbang wisata pendakian Gunung Latimojong yang populer, sekaligus salah satu wilayah hulu Sungai Mata Allo. Sekadar informasi, Sungai Mata Allo menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sepanjang jalur sungai yang membelah Kabupaten Enrekang, Kabupaten Pinrang (bermuara di pesisir barat), dan Kabupaten Sidenreng Rappang (bermuara di Danau Tempe). Bayangkan apa yang akan terjadi jika wilayah hulu mengalami kerusakan lebih cepat, maka akan ada begitu banyak masyarakat yang terdampak. Bahkan bukan cuma manusia, melainkan juga tumbuhan dan hewan.

Kami melanjutkan perjalanan menelusuri jalan rabat beton. Selama perjalanan pandangan kami serasa kehilangan kemampuan mengagumi betapa menakjubkannya bentang alam yang terhampar luas di hadapan kami. Semakin tinggi kami bergerak, suhu udara juga perlahan mulai turun. Meskipun matahari cukup terik, rasanya udara dingin tetap saja menembus pakaian, apalagi saya yang suka bepergian menggunakan kaus dan celana kargo pendek.

Tidak sekali kami berhenti untuk sekadar berfoto atau menikmati perjalanan. Menjelang siang hari kami akhirnya tiba di gerbang wisata alam Dusun Karangan.

Kami beristirahat cukup lama sembari menunggu Andi dan Mirda (warga lokal). Sambil menunggu, saya dan Abdul Masli berdiskusi tentang pengetahuan lokal dan konsep hidup kembali ke alam sembari sesekali menunjuk beberapa rumah yang dikelilingi kebun kopi. “Itu referensi rumah impian saya,” ujar Abdul Masli sembari menunjuk.

Gerbang Dusun Wisata Karangan, Desa Latimojong/Syamsumarlin
Gerbang Dusun Wisata Karangan, Desa Latimojong/Syamsumarlin

Sekitar satu jam berlalu, di tengah diskusi kami, Andi tiba dan menyapa, lalu mengajak kami untuk berhenti sejenak di rumah orang tuanya yang jaraknya sekitar 200 meter dari gerbang tempat kami beristirahat. Hari itu, kami berencana akan menginap di Sipin Camp, salah satu daya tarik selain pendakian di Dusun Karangan.

Tenda yang akan kami sewa untuk bermalam sebelumnya telah dipesankan oleh Andi. “Tidak usah buru-buru,” ujarnya. Kami punya banyak waktu bercerita dengan keluarga Andi, mengabadikan lanskap dari depan teras rumahnya, sembari menanyakan beberapa hal seputar perkebunan dan pangan lokal masyarakat setempat.

Ibu Andi bercerita kalau Dusun Karangan telah ada sejak puluhan tahun yang lalu—era kolonialisme—bahkan sempat menjadi lokasi persembunyian Tentara Gerombolan (DI/TII Wilayah Sulawesi Selatan) untuk menghindari pengejaran Tentara Siliwangi (sekarang TNI) pada masanya. Terlepas dari cerita panjang itu, ada spekulasi bahwa dusun ini pada mulanya adalah perkebunan dan rumah-rumah yang dibangun merupakan pondok kebun, yang kemudian berubah menjadi hunian permanen seiring waktu berjalan sampai sekarang.

Saya cukup takjub melihat rumah-rumah warga yang berdampingan dengan perkebunan, cukup rapat seolah kebun-kebun itu menjadi penghubung dari rumah satu ke rumah lainnya. Menurut saya, ini adalah contoh teknik budi daya agroforestri konvensional. Teknik ini diterapkan masyarakat setempat dengan memadukan tanaman perkebunan, seperti kopi, cengkih, sayuran, dan buah-buahan seperti kacang merah, tomat, pisang, vanili, avokad, dan jagung, dikombinasikan dengan tanaman hutan seperti pohon suren, cemara, dan pinus dalam satu lahan garapan.

Pangan lokal berupa jagung, pisang, dan kacang merah sebagai sumber karbohidrat selain beras/Syamsumarlin

Menariknya, melalui transfer pengetahuan dari generasi ke generasi, teknik budi daya ini masih dipertahankan, setidaknya saat saya berada di sana. Melalui praktik ini masyarakat secara tidak sadar menerapkan salah satu metode konservasi tanah dan air pada kawasan lereng dan hulu sungai.

International Centre for Research in Agroforestry (sekarang CIFOR-ICRAF) dalam buku yang dipublikasikan tahun 2002, disebutkan bahwa wilayah hulu sungai perlu menerapkan upaya perlindungan tanah dan air. Hal ini penting untuk tetap menjaga kemampuan tanah dalam menyerap air hujan untuk menghindari limpasan permukaan (run off) jika hujan tiba, apalagi pada daerah dataran tinggi dan lereng-lereng yang curam seperti di Dusun Karangan yang berpotensi erosi dan tanah longsor.

Agroforestri telah diakui secara global sebagai salah satu metode budidaya yang berkelanjutan dengan tetap menyelaraskan aspek ekologi dan ekonomi, jika diterapkan dengan baik. Betapa tidak, tanaman perkebunan adalah sumber pendapatan utama bagi masyarakat. Namun, dengan mengombinasikan tanaman perkebunan dan kehutanan dalam satu bidang lahan, akan membentuk strata bertingkat yang menyerupai hutan alam.

Lebih lanjut, pada beberapa lahan garapan, saya melihat penerapan terasering memungkinkan material erosi yang terbawa air hujan akan tertahan dan tidak langsung mengalir dalam limpasan air permukaan yang besar menuju sungai. Kabar baiknya, teknik budi daya ini masih dipertahankan oleh masyarakat di Dusun Karangan, salah satu wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Mata Allo.

Terasering dan perkebunan agroforestri konvensional di Dusun Karangan/Syamsumarlin
Terasering dan perkebunan agroforestri konvensional di Dusun Karangan/Syamsumarlin

Belajar di Tepi Hutan

Hari sudah sore saat kami menuju ke lokasi camp ditemani Andi. Rupanya tenda kami telah disiapkan tepat di pinggir aliran sungai. Ingin rasanya segera mencelupkan kaki dan membasuh wajah dengan air sungai yang jernih. “Airnya bisa bikin kaki atau tangan kebas (mati rasa) kalau terlalu lama di bawah,” kata Andi.

Kalimat itu sontak membuat saya lebih semangat. Sesampai di lokasi, saya meletakkan tas dan kamera lalu bergegas turun ke sungai mencelupkan kaki. Benar saja, air yang dingin terasa langsung menusuk ke tulang. Tak bisa berlama-lama, aku segera naik kembali dari sungai dan sore itu kami habiskan dengan duduk bersama bercerita sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Banyak hal menarik yang menjadi catatan dan energi baik bagi kami. Perjalanan ini memperlihatkan kepada kami aktivitas sederhana yang secara tidak langsung menjaga wilayah hulu sungai, berbekal pengetahuan lokal masyarakat yang terus diwariskan secara turun-temurun.

Suasana Sipin Camp di malam hari, terlihat tenda kami berada di pinggir sungai/Syamsumarlin-
Suasana Sipin Camp di malam hari, terlihat tenda kami berada di pinggir sungai/Syamsumarlin-

Melalui budi daya perkebunan dan wisata alam, perlahan akan membangun keberdayaan masyarakat baik dari aspek ekonomi maupun ekologi. Pembangunan sejatinya dimulai dari fondasi dasar, yaitu desa. Di sisi lain, Nur Hayati Rahman, Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin, dalam sebuah wawancara menuturkan bahwa negara hebat dibangun dari fondasi budayanya sendiri.

Bagi kami, pengetahuan lokal adalah fondasi penting pembangunan yang semestinya diwadahi, agar pengetahuan lokal kembali menemui masyarakatnya. Kalau kata Abdul Masli, “Dari masyarakat ke masyarakat.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Syamsumarlin

Syamsumarlin, suka mendokumentasikan hutan. Bertamu dengan teman baru, berjalan sambil membawa kamera. Bermimpi untuk keliling Indonesia.

Syamsumarlin

Syamsumarlin, suka mendokumentasikan hutan. Bertamu dengan teman baru, berjalan sambil membawa kamera. Bermimpi untuk keliling Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melihat “Passandeq” Menjadi Guru di Pesisir Selat Makassar