TRAVELOG

62 Tahun Wanadri: Pengabdian yang Tak Lekang Zaman

Suguhan tahu kecap (hucap) khas Kuningan menyela perbincangan kami. Kalau di Bandung namanya kupat tahu. 

“Ayo, dimakan dulu!” kata Harrie Hardiman Soebari kepada saya dan tiga anggota Wanadri, Sabtu (4/4/2026).

Sehari sebelumnya, Harrie tiba di Pasir Bungkirit, rumah masa kecilnya di Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kami berbincang di pendopo bekas rumah kayu milik Mama Soebari—ayah Harrie—tempat lahirnya gagasan pembentukan sebuah kelompok pencinta alam, cikal bakal Wanadri

“Kalau cerah, Ciremai jelas sekali,” ujar Harrie menatap arah barat. Sayang, gumpalan awan menutupi. Menyisakan kelebatan hutan di lerengnya. Menggoda untuk dijelajahi.

Sarapan hucap bareng Kang Harrie (kanan) di pendopo Pasir Bungkirit/Mochamad Rona Anggie
Sarapan hucap bareng Kang Harrie (kanan) di pendopo Pasir Bungkirit/Mochamad Rona Anggie

“Terakhir ke sini delapan tahun lalu. Bareng Ilham,” kata ayah dua anak itu. Semilir angin menyibak rambut putihnya. “Saya ajak Ilham karena paham lanskap, biar kasih saran pengembangan Pasir Bungkirit.”

Ilham dimaksud adalah anak Dipa Nusantara Aidit, yang masuk Wanadri tahun 1981 (Kabut Rimba). Dia arsitek lulusan Universitas Katolik Parahyangan. Kakaknya, Iwan Hignasto, lebih dulu gabung Wanadri tahun 1969 (Hujan Kabut).    

“Kalau bicara Wanadri, saya back azimuth. Tentang sejarahnya,” ucap Harrie, merujuk istilah ilmu navigasi—sudut balik pada kompas—guna memastikan arah pergerakan benar.

Iwan Hignasto (kiri) dan Erry Riyana Hardjapamekas di jalur pendakian Carstensz Pyramid, 2010 (Ardeshir Yaftebbi, Merah Putih di Atap Dunia)/Mochamad Rona Anggie
Iwan Hignasto (kiri) dan Erry Riyana Hardjapamekas di jalur pendakian Carstensz Pyramid, 2010 (Ardeshir Yaftebbi, Merah Putih di Atap Dunia)/Mochamad Rona Anggie

Semboyan Tri Matra

Harrie lantas menceritakan pemberian motto Wanadri oleh Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Sarwo Edhie Wibowo. 

“Pak Sarwo minta bertemu!” ujar Harrie mengenang ucapan Ketua Dewan Pengurus II Wanadri (1966–1969), Djuhana “Iis” Partakoesoema. “Iis masih kerabat Pak Sarwo.”

Sarwo Edhie, lanjut Harrie, menanyakan ihwal nama Wanadri yang belum memasukkan unsur laut dan udara. “Baru gunung-hutan. Saya ingin pengembaraan Wanadri juga di laut dan udara,” kata Harrie menirukan Sarwo, mengacu pada tiga matra dalam kancah militer.

Alih-alih menunggu jawaban Harrie, Sarwo menyodorkan kalimat esprit de corps, yang menjadi semboyan jiwa korsa personel Wanadri di setiap aktivitas petualangan. 

“Dari situ mulanya motto Wanadri muncul,” tutur Harrie yang merasa lega usai perjumpaan dengan Sarwo Edhie. “Jadi tak perlu saya tambahi Wanadri Laut dan Udara,” imbuhnya terkekeh.

Pada perjalanannya, kalimat sakti itu diresapi hingga ke sumsum tulang oleh setiap anggota Wanadri dalam pengabdian kepada ibu pertiwi. Deretan puncak gunung, tebing terjal, jeram sungai, lautan dan angkasa luas, disambangi demi kemajuan ilmu pengetahuan. Tentu saja semua keberhasilan itu atas izin Allah azza wa jalla

“Tak ada gunung yang tinggi, rimba belantara, jurang curam dan lautan serta angkasa yang tak dapat dijelajahi oleh Wanadri.” 

Menjelang akhir hayatnya tahun 1989, Sarwo Edhie didapuk menjadi inspektur upacara penutupan Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) angkatan Topan Rawa–Brugmancia.  

Dalam buku Kepak Sayap Putri Prajurit karya Alberthiene Endah (2010), mendiang Ibu Negara Ani Yudhoyono mengungkapkan papinya sangat mencintai Wanadri. Selepas acara di Situ Lembang awal Maret itu, kesehatan Sarwo Edhie menurun hingga wafat pada 9 November 1989.

Sarwo Edhie dan Ilham Aidit

Delapan tahun sebelumnya, Sarwo Edhie menjadi inspektur upacara penutupan PDW 1981 angkatan Kabut Rimba–Kaliandra. Di antara 72 peserta yang dilantik, ada Ilham Aidit. Saat pemberian ucapan selamat, Sarwo memeluk salah satu anak kembar DN Aidit tersebut. “Selamat, kamu berhasil!”

Tentu saja makna pelukan itu amat mendalam bagi keduanya. Ilham masih kecil, ketika terjadi tragedi politik 1965. Dan Sarwo Edhie atas nama tugas negara memimpin RPKAD, menumpas anggota serta simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ayah Ilham, DN Aidit tewas ditembak tentara di Boyolali, 22 November 1965.   

Keponakan Harrie yang membangun monumen Wanadri di Pasir Bungkirit, Argha Darma Tubagus (53), kaget tahu ada putra DN Aidit di Wanadri. Sang paman menenangkan, “Wanadri menganut prinsip kesetaraan.” Harrie menambahkan Wanadri tidak melihat latar belakang seseorang. Bila sudah bergabung, bakal menjelma saudara seutuhnya: satu perhimpunan, sebangsa dan setanah air.

Ilham aktif di banyak kegiatan Wanadri. Paling menonjol saat terlibat operasi search and rescue (SAR) di Gunung Binaiya, Maluku, 1987. Dalam feature Wartapala Indonesia (30/4/2025) disebutkan, Ilham bersama Lody Korua (Mapala UI) dan warga Desa Kanikeh mengevakuasi dua peserta Operation Raleigh. Ashley Hyett ditemukan selamat dengan kondisi penuh luka, sedangkan Paul Claxton tewas.

Sementara itu atas peran dan jasanya, Sarwo Edhie dikukuhkan sebagai anggota kehormatan Wanadri (W 002 PELINDUNG). 

Tomy Hosni Mubaraq (ketiga dari kanan) di tepi Sungai Progo (Yogyakarta), persiapan ekspedisi Sungai Kayan (Kalimantan Utara), 2025/Dokumentasi Wanadri
Tomy Hosni Mubaraq (ketiga dari kanan) di tepi Sungai Progo (Yogyakarta), persiapan ekspedisi Sungai Kayan (Kalimantan Utara), 2025/Dokumentasi Wanadri

Terus Menjelajahi Indonesia

Spirit Pasir Bungkirit mengantarkan Wanadri ke usia 62 tahun pada 16 Mei 2026. Ketua Dewan Pengurus (DP) Wanadri XXIX, Tomy Hosni Mubaraq (W 1030 ELKA), mengajak partisipasi anggota Wanadri di mana pun dalam setiap aktivitas perhimpunan.

Tahun ini, beber dia, akan ada Sekolah Pendaki Gunung (SPG) di Jawa Barat dan Jawa Timur. Tahun depannya di Sumatra. Pihaknya ingin berbagi ilmu pendakian gunung kepada khalayak luas.

“Kami mau melibatkan personel Wanadri di daerah. Kelompok pencinta alam bisa ambil bagian. Mari, kita belajar dan berlatih bersama,” ajaknya.

Gladian Eksplorasi SAR (ESAR) bakal dihelat pula. Terakhir tahun 2008, Wanadri menginisiasi Gladian Panji Geografi di Situ Lembang, dengan Ketua Pelaksana Yemo Wakulu (W 0638 TORA). Presiden SBY hadir membekali 687 peserta dari 26 provinsi se-Indonesia.

Wanadri identik dengan ekspedisi, akan ke mana mereka dalam waktu dekat? Tomy tengah menyiapkan Anggota Muda Wanadri (AMW) angkatan Badai Kabut–Bintang Rawa untuk menjelajahi pedalaman Nusantara. 

Bagaimana dengan ekspedisi ke luar negeri? Menurut Tomy, ekspedisi ke benua lain adalah impian setiap petualang. Hanya saja melihat situasi global sekarang, pengembaraan di dalam negeri jadi pilihan bijak. “Banyak kawasan di Indonesia yang menantang untuk dieksplorasi,” tuturnya.

Tomy mencontohkan Buru eXpedition 2025, kolaborasi Wanadri dan Mahatva Unpad, tak semata pencapaian ke puncak Gunung Kapalatmada dan Tebing Kaku Mahu. Tapi juga meneliti kekayaan flora di sana. “Ada tujuh spesies baru. Sudah diteliti bareng ahlinya. Tinggal rilis penamaannya,” ucapnya bangga.

Apa motivasi Wanadri terus bertualang? Membentuk nation and character building, kata Tomy, merupakan tugas penting semua elemen masyarakat. Melalui pelatihan di alam terbuka, Wanadri berupaya mendidik generasi muda yang andal di segala medan.

Tim kayak Wanadri siap beraksi/Dokumentasi Wanadri
Tim kayak Wanadri siap beraksi/Dokumentasi Wanadri

Melengkapi Karakter Asal 

Harrie menerangkan, karakter dasar manusia dibentuk oleh orang tua dan gurunya. Nilai-nilai kejujuran, keikhlasan, dan kesungguhan, dilengkapi oleh Wanadri dengan keterampilan hidup di alam bebas.

“Ragam medan latihan menguji fisik, mental, dan inteligensi. Seorang Wanadri harus yakin pada kekuatan dirinya seraya mengutamakan prinsip kemanusiaan,” paparnya.

Di umur 85 tahun, Harrie bersyukur masih bisa menyaksikan lintas generasi di Wanadri menorehkan prestasi gemilang. Tujuh puncak dunia (seven summits) sukses diziarahi. Tebing dan sungai perawan di ceruk negeri berhasil dilewati. Pelbagai misi kemanusiaan tuntas lewat kehadiran Wanadri. Semisal operasi SAR mandiri di Gunung Slamet dan Bukit Mongkrang, awal 2026.

“Apa keluhan kesehatan sekarang?” tanya saya.

“Paling suka pusing tiba-tiba. Padahal gula darah dan tensi normal,” katanya sambil menyuapkan hucap ke mulut.

Seketika datang seorang wanita, “Pah, ini dipakai dulu rompinya. Anginnya mulai terasa.”

“Ini teman anak saya,” Harrie mengenalkannya. Selain anjangsana ke Pasir Bungkirit, Astri anak kedua Harrie yang seorang pelari ultramarathon, menjajal lari ke puncak Ciremai via Palutungan. “Dia sudah biasa ikut ajang di luar negeri.”

Tadinya Harrie perokok berat. Namun, sejak kena serangan jantung tahun 2020 di Ciater, Subang, kakek tiga cucu itu insaf. “Perlu perjuangan setahun menjauhi rokok,” sahut lelaki yang kini punya enam ring di pembuluh darah jantung.

Mendekati zuhur, Harrie kembali ke vila Ardanta di sebelah pendopo. Ponsel berstiker lambang mata angin oranye W 001 PEN diselipkan ke saku rompi. Lima jam kami dibuat antusias mendengar kiprah Wanadri tempo dulu. 

“Orang menilai Wanadri itu perkumpulan gila. Padahal kami manusia biasa. Adakala lelah mendera,” tandas pensiunan Kementerian Pekerjaan Umum itu.

Dirgahayu ke-62, Wanadri!


Foto sampul: Harrie Hardiman Soebari (tengah) menjelaskan Mukadimah Anggaran Dasar Wanadri warisan sang ayah kepada Achmad Z. Arifiyanto (W 1346 HR/kiri) dan Herry Gunawan (W 366 RL/kanan), 4 April 2026 (Mochamad Rona Anggie )


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pasir Bungkirit: Jejak Kelahiran Wanadri