Events

Bacarita Digital, Tiga Kisah dari Kawasan Timur

April, 2022, sebuah pesan singkat disertai dengan e-flyer terbaca di layar gawai saya. “Ayo ikut ajang ini. Bertiga sama Ais.” Ajang yang dimaksud kawan saya bernama Valen itu adalah lokakarya produksi konten untuk komunitas Indonesia Timur, namanya Bacarita Digital.

Bacarita, istilah khas yang menyesuaikan aksentuasi orang-orang di tengah dan timur Indonesia, yang populer dipahami sebagai bercerita. Ditambah embel-embel digital, sudah jelas bahwa ajang ini bakal fokus pada penggunaan teknologi, dan output-nya yang akan memanfaatkan sosial media.

Penyelenggaranya Rumata’ Artspace—sebuah rumah budaya yang lahir dari proyek bersama mantan jurnalis Kompas, Lily Yulianti Farid, dengan sutradara film lokal Indonesia favorit saya, 3 Hari untuk Selamanya (2007), Riri Riza. Lokasinya di Jalan Bontonompo, No.12A, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Kalau kamu pernah mendengar Makassar International Writer Festival (MIWF), yakni festival yang menghubungkan penulis lokal, nasional, dan internasional di Benteng Rotterdam Makassar, nah manusia-manusia di Rumata’ ini jugalah para biang keroknya. 

Workshop Bacarita Digital Sesi 1/Arsip Rumata’

Dengan pertimbangan, saya telah lebih dulu mengenal Rumata’ dan beberapa kali menjadi penonton film-film pendek yang mereka tayangkan secara eksklusif, juga sebagai pengunjung MIWF yang sayangnya alfa setelah pandemi, saya pikir mencoba terlibat sebagai calon peserta yang lebih intim akan sangat menyenangkan. 

Apalagi ide yang mereka bawa pada lokakarya Bacarita Digital sebagai upaya menggagas cerita, narasi, dan nilai budaya dari keragaman konteks lokalitas masing-masing daerah peserta adalah peluang besar. Maksud saya, ini kesempatan bagi Indonesia Timur menyuarakan isu-isu terabaikan di tempatnya yang selama ini tertutupi info-info kehidupan selebriti dari Jawa. Atau sekadar berbagi cerita personal menghangatkan hati bahkan mengejek. Hingga resep kuliner khas tradisional yang jarang muncul di layar televisi, dan mengambil tempat dalam pariwisata.

Kami pun mendaftar. Dan tiga individu melebur jadi satu dalam komunitas bernama Dari Halaman Rumah—sebuah komunitas kecil yang baru terbentuk di 2022 demi ajang Bacarita. Komunitas ini memutuskan fokus untuk menghidupkan narasi-narasi ekologis, nilai budaya dan sosial, serta ekonomi bagi manusia-manusia Bugis.

Ide cerita dan data diri kami kirimkan. Hingga tiba hari pengumuman di bulan Juni. Tujuh komunitas dari 29 komunitas di sembilan provinsi yang mendaftar, berhasil lolos ke tahap wawancara. Tujuh komunitas itu berasal dari Sulawesi, Kalimantan, Jayapura, dan Nusa Tenggara Timur. Mereka melangkah maju ke tahap wawancara oleh pihak Rumata’ dan sutradara film dokumenter pendek Ibu Bumi (2020), yang menyoroti partisipasi generasi muda petani Kendeng melawan pabrik semen, Chairun Nissa.

Empat komunitas sayangnya harus gugur. Dan hanya tiga komunitas terpilih yang melanjutkan perjalanan.  Ketiga komunitas itu adalah Hakola Huba (Sumba Barat, Nusa Tenggara Barat), Indonesia Art Movement (Jayapura, Papua), dan Dari Halaman Rumah (Pangkep, Sulawesi Selatan).

Petualangan baru kami pun dimulai pada akhir Juni. Ketiga komunitas bertemu untuk pertama kalinya di Rumata’. Dan mengikuti workshop pra produksi Bacarita Digital sesi pertama selama empat hari pada 30 Juni–3 Juli 2022. Bersama para mentor, yakni Yusuf Radjamuda (Sutradara Film-Palu), Chairun Nisa (Sutradara Film-Jakarta), dan Ratrikala Bhre Aditya (Penulis & Sutradara Film-Jakarta). 

Dan co-mentor Ishak Iskandar (Sinematografer-Makassar), Rahmadiyah Tria Gayathri (Penulis & Sutradara-Palu) dan Rahman Saade (Sinematografer-Makassar). Serta para pemateri, yakni Yandy Laurens (Sutradara), Evi Mariani (Direktur Eksekutif Project Multatuli), M. Nawir (Penulis, Peneliti, dan Pengajar), serta Riri Riza (Sutradara).

Launching perdana konten Bacarita Digital di CGV Panakkukkang, Makassar/Arsip Rumata’

Sesi dua berlanjut di bulan Agustus. Berlokasi di daerah masing-masing komunitas. Didampingi para mentor, co-mentor yang telah dibagi pada sesi pertama. Proses  produksi yang berlangsung singkat selama empat hari. Namun, menyita beberapa bulan untuk proses editing. Hingga akhirnya, karya ketiga komunitas resmi launching perdana pada sesi ketiga Bacarita di 24 Februari 2023 kemarin. 

Ditayangkan di bioskop CGV Panakkukang, Makassar. Suara, wajah, dan cerita para komunitas menggema di sudut-sudut bioskop. Disaksikan puluhan pasang mata. Meski ada sedikit kendala teknis yang agak menyebalkan. Tapi, malam itu berakhir dengan wrap up party yang menyenangkan ditemani steak dan minuman fermentasi nanas. Juga celetukan dan tawa lepas yang besoknya hanya bisa dikenang.

Merawat Ingatan-ingatan Nenek

Kisah yang dibawa Dari Halaman Rumah ke bioskop mungkin yang paling personal. Bercerita tentang perempuan kota yang sakit, dan penat dengan keriuhan Jakarta. Lalu memutuskan pulang ke desa. Tapi, bukan ke rumah orangtuanya. Melainkan ke rumah neneknya yang hidup sendirian di Desa Tabo-tabo, Pangkep. 

Proses Produksi Dari Halaman Rumah/Arsip DHR

Ais, nama perempuan itu, lalu belajar banyak hal. Tentang tanaman yang bisa menyembuhkan lebih baik dari obat-obatan kimia. Tentang tangguhnya seorang wanita paruh baya yang menghidupi ternak dan kebunnya. Saling menghidupi. Ritual-ritual untuk berterima kasih kepada alam dengan sumber dayanya yang melimpah. Hingga betapa memuakkannya pabrik-pabrik semen, dan marmer yang telah merangsek masuk ke desa neneknya. Tentu saja, ada cerita tentang truk-truk pencuri batu dari sungai yang asap hitamnya mencemari udara yang seharusnya menyegarkan. 

Desa dan kota hampir tidak ada lagi bedanya. Tapi, Ais, tidak ingin kehilangan memori-memori magis, dan manis di desa neneknya. Jadilah ia memulai mendokumentasikan si nenek dalam projek bernama merawat ingatan-ingatan nenek. Ingatan yang menjadi konten digital tiga episode berjudul Rumah Diri. Dan bisa disaksikan di laman YouTube Dari Halaman Rumah akhir Maret ini.

Pinang Tumpuk dan Cerita Mama Nela

Sementara, Indonesia Art Movement (IAM) tidak melupakan pinang tumpuk yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Papua. Tradisi mengunyah atau makan buah pinang yang diwariskan turun temurun mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Yang konon katanya, buah pinang ini diperkenalkan oleh manusia berbahasa Astronesia yang datang ke pesisir dan pulau-pulau kecil di lepas pantai Papua. Hingga kini menggapai pegunungan. Seperti yang dituliskan Hari Suroto (2010) dalam bukunya “Prasejarah Papua”.

Proses Produksi IAM/Arsip IAM

Dari pinang yang dikunyah, dan lepehan cairan kental berwarna merah yang biasanya diludahkan ke tanah oleh para pengunyah pinang, siapa sangka cerita-cerita justru berdatangan. Kisah asmara yang menggelitik, persoalan ekonomi dan mahalnya harga pinang, sampai larangan memasuki hutan bakau perempuan bagi laki-laki, dan sanksi adat yang menunggu. 

Semuanya dikemas dalam balutan komedi sedikit satir melalui obrolan-obrolan ringan Mama Nela, si penjual pinang tumpuk Kampung Enggros bersama para pelanggannya. Dan bisa kamu jumpai di laman YouTube Indonesia Art Movement, yang tahun ini akan memproduksi Season 1 dengan lima episode. 

Obed Kampung Sodan

Dan, Hakola Huba, atau Sokola Sumba yang berada di bawah payung Sokola Institute ini menjadi komunitas yang pemeran di filmnya cukup banyak. Dengan satu pemeran utama bernama Obed yang menghadapi kecemasan gagal panen. 

Proses Produksi Hakola Huba/Arsip Hakola

Masalahnya kian pelik, tatkala pupuk tidak berhasil ia pinjam dari kerabatnya. Padahal sang kekasih sudah mendesak untuk segera dilamar. Tak habis akalnya, Obed bahkan berniat meminjam uang dan menggadai parang hulu tanduk yang sebenarnya ia siapkan sebagai mahar.

Kisahnya terekam apik dan orisinil karena menggunakan bahasa Laboya sepanjang film. Ditambah pemandangan Kampung Sodan, Sumba Barat, dengan uma mantoko atau rumah menaranya. Dan kebiasaan menyambut tamu dengan tikar, dan suguhan pinang. 

Film fiksi berjudul Obed secepatnya juga akan ditayangkan di laman YouTube agar menemui para penontonnya. 

Bacarita Digital Volume 2

Akhirnya, dunia yang luas ini bisa kita telanjangi dan bawa kemana-mana. Ide dan cerita yang tadinya hanya ada di kepala bisa dibaca dan ditonton banyak orang, melalui benda kecil yang selalu ada di dalam tas. 

Mungkin saja kamu juga tertarik untuk mendokumentasikan kisahmu agar tidak dilupakan, Bacarita Digital Volume 2 akan kembali diadakan. Mengenai akomodasi dan transportasi, kamu tidak perlu khawatir. Karena Rumata’ yang didukung oleh Kemendikbud Ristek akan membiayai full komunitas dari luar Sulawesi Selatan.

Hanya saja, untuk biaya produksi tetap akan diserahkan pada sumber daya mandiri komunitas masing-masing. Jadi, saran saya sih persiapkan alat-alat produksi yang mumpuni seperti kamera DSLR, handy recorder, hardisk, dan laptop.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menyukai aroma melati, rumah berjendela, dan suatu hari ingin membuat dokumenter tentang kucing dan anjing.

Menyukai aroma melati, rumah berjendela, dan suatu hari ingin membuat dokumenter tentang kucing dan anjing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Lara Tawa Nusantara: Indonesia dari Kacamata “Tidak Biasa”