Travelog

Alam Roh dan Desa Para Pejuang

Jalanan beraspal yang terkelupas itu bergelombang. Lubang-lubang jalan berhamburan, hampir semua sudut tidak bisa dilewati dengan mulus. Truk-truk silih berganti melewati jalan, mengepulkan debu serta asap hitam dari knalpot.

Upaya menuju tempat yang kami cari memang tidak mudah, setidaknya tidak mudah dengan menggunakan motor. Beberapa kali kami harus menghentikan perjalanan karena cuaca yang terik, sedikit tegukan air mineral mungkin bisa mengurangi dehidrasi kami. 

Selamat datang di Desa Paku Alam, spanduk yang separuhnya sudah diterbangkan angin itu menyambut kami. Tanah aspal berdebu berganti menjadi tanah berbatu. Gemericik air sungai yang mengalir juga ikut menyambut. Suasana tampak lenggang, hanya sawah dan semak belukar yang kami pandang sejauh ini. Kemudian ada dua buah rumah yang kami lihat saling berjauhan satu sama lain. 

Tak lama, kami menemui tugu itu. Tugu pengingat bahwa bangsa ini pernah berdarah-darah dalam perjuangan. Tugu Alam Roh. Saya belum tahu kenapa dinamakan demikian, tetapi menurut saya, nama ini terdengar mistis.

Tugunya sederhana, berbentuk persegi berkeramik merah putih dan berpagar. Ada tiang bendera dan tiang pohon di sisi lainnya. Pada keramik tugu tertulis Tugu peringatan perjuangan menegakkan kemerdekaan RI.

Rasa patriotik saya tiba-tiba muncul seakan melihat kembali putaran film perang kemerdekaan yang pernah saya tonton.Terlihat aneh memang, ada sebuah tugu di tengah-tengah persawahan dan semak, bagaimana dan siapa yang mendirikan tugu di tempat seperti ini? Pertanyaan itu akhirnya membawa kami ke rumah yang tadi sempat kami lalui untuk bertanya.

“Kayaknya kamu nanya ke pambakal (kepala desa) aja deh, saya kurang tau juga sejarahnya, takut tidak bisa menjelaskan,” ucap seorang wanita yang saya keluar dari rumahnya untuk menemui saya. Kami harus menempuh perjalanan lagi ke arah selatan untuk menemui pambakal desa. Masuk satu kilometer, perkampungan ramai mulai nampak. Satu persatu rumah di kiri kanan jalan bermunculan. Suara bising mesin kelotok mulai bersahut-sahutan dengan mesin motor. Kami mampir kembali untuk menanyakan rumah pambakal, katanya masih jauh di muara. 

Sedang asyik mengendarai motor, kami melihat sebuah rumah adat Banjar di kejauhan. Saya memacu motor lebih cepat untuk melihat tempat apakah itu. Monumen ALRI Divisi IV pada papan nama di depan gedung tersebut. Di sini tertulis teks kemerdekaan yang ditulis oleh Hasan Basry, Brigjen TNI pada masa perang kemerdekaan Kalimantan.

Hasan Basry banyak memimpin perjuangan di Kalsel, baik masa kemerdekaan ataupun setelahnya. Diorama perjuangan dilukiskan di samping tugu, tampak bendera Belanda dan Indonesia saling berhadapan dengan pasukan yang siap berperang. Rumah adat Banjar itu ternyata museum yang menyimpang tinggalan sejarah di sekitar kampung sini, sayangnya tidak ada penjaga yang bisa kami temui untuk melihat isi di dalamnya.

Ternyata rumah pambakal yang ingin kami temui tidak jauh dari sana. Setelah mendapati rumahnya, kami dipersilahkan masuk oleh sang pambakal. Syafi’i, nama pambakal yang menjadi narasumber kami kali ini. “Wisata yang ada di Desa Paku Alam ini ada dua; yang pertama Tugu Alam Roh dan yang kedua Monumen ALRI Divisi IV,” paparnya. “Disebut Alam Roh, karena waktu itu Belanda dan Jepang yang masuk ke desa ini tidak bisa melihat penduduk ataupun aktivitas lainnya, sehingga senjata para penjajah tersebut mudah dirampas oleh para pejuang desa,” tambahnya lagi. Tempat berdirinya Tugu Alam Roh merupakan bekas markas pejuang, sedangkan tugu ALRI dibangun karena tempatnya lebih mudah dijangkau oleh yang lain.

“Ada veteran yang masih hidup di Desa Lok Baintan, Namanya Haji Brahim, masih kerabat saya juga,” kata Syafi’i. Desa Paku Alam Tersisa beberapa veteran yang masih hidup, salah satunya Brahim yang juga menjabat ketua veteran di desa ini. Mendengar ada veteran yang masih hidup, saya tertarik untuk mendatanginya, untuk mendengar ceritanya secara langsung.

Warisan kolonial yang tersisa di sini hanyalah jalan, sisanya yang lain berupa artefak-artefak perjuangan. Pambakal Syafi’i menyarankan saya untuk langsung ke museum yang ada di monumen. Pambakal langsung menyuruh seseorang untuk menemui penjaga museum untuk membukakan pintu.

Museum ini berbentuk rumah adat Banjar Bubungan Tinggi. Ruangannya kecil, hanya bisa menampung beberapa benda dan tempat duduk. Ada pajangan senjata seperti tombak, parang, dan belati. Pistol, peci, dan baju rajah juga tersimpan rapi di dalam museum. Foto-foto pejuang beserta beberapa artikel yang pernah dibuat media juga dipajang, termasuk kegiatan-kegiatan sosial yang pernah diadakan di sini. Riduansyah, yang membukakan pintu museum sekaligus penjaganya mengungkapkan bahwa museum ini dibangun oleh pemerintah sebagai bantuan. 

Kakeknya dahulu merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang tugasnya adalah mengantar para pejuang lainnya dari satu tempat ke tempat lain. “Alam Ruh itu merupakan nama markas, bukan nama kampung, di sini (monumen) adalah tempat pengintaian dulunya, jadi bila ada musuh langsung laporan ke sana,” jelas Ridwan.

Benda-benda di museum ini sebagian besar rupanya dimiliki oleh keluarga Ridwan. Dia jelas sulit mengumpulkan benda-benda pusaka dari keluarga lainnya yang tidak dia ketahui, untuk mengisi museum maka dibawalah benda-benda warisan kakeknya ke sini. 

Saya mengamati beberapa bingkai foto-foto veteran yang tersimpan di museum. Masing-masing tampak gagah dengan setelan tentara. Merekalah yang berjuang tanpa pamrih demi kemerdekaan yang kita raih sekarang. Sudah sepantasnya mereka dihargai lebih dan hidup di masa tua dengan tenang. 

Baju rajah yang bertuliskan mantra-mantra arab menarik mata saya untuk mengamatinya lebih lanjut. Meski terlihat kusam, mantra-mantra itu masih bisa terbaca dengan baik, beberapa katanya bisa saya baca dan terlihat beberapa ayat Al-Quran, nama nabi, nama malaikat, dan nama para sahabat nabi.

Saya ingat Museum Wasaka di Banjarmasin juga menyimpan salah satu baju rajah seperti yang ada di sini. Saya mengamati pistol, peluru, dan peci tua yang tergantung di sisi lain bangunan. Pistol ini terlihat seperti pistol rakitan yang terbuat dari kayu dan besi. Hal ini umum digunakan pada jaman perang dahulu yang kebanyakan senjata merupakan rampasan perang atau rakitan. Desa Paku Alam dulunya merupakan desa yang sepi, hanya sedikit rumah yang mengisi, sekarang hanya sebagian desa yang masih berupa semak. Sungai Martapura mengalir dan menjadi batas dengan desa seberangnya, Lok Baintan. Lok Baintan lebih dikenal orang-orang sebagai tempat pasar terapung. 

Kami memacu motor, menaiki jembatan yang membelah Sungai Martapura untuk selanjutnya menuju rumah seorang veteran yang masih hidup di seberang sana.

Aku dan juga banyak para orangtua yang berkeinginan agar anak-anaknya bisa kembali bersekolah. Tapi saatnya belum tepat anak-anak kita. Tenaga kesehatan masih berjibaku menyelamatkan para pasien yang terpapar covid 19 dengan varian baru. Sudahlah, kalian kembali saja belajar di ruang sunyi karena tugasmu memang belajar.  Raihlah prestasi sebaik mungkin sampai kondisinya menjadi normal dan kalian bisa kembali bersekolah bersama teman-teman. Kapan itu ? Ketika saatnya telah tiba.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

Travelog

Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

Travelog

Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

Semasa CoronaTravelog

Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelusuri Jejak Proklamator Indonesia di Museum Bung Karno