Travelog

Air Guci, Kain Banjar yang Semakin Terpinggirkan

“Silahkan masuk,” ucap Risna. Perempuan yang akrab disapa Iin ini mempersilahkan saya masuk ke rumahnya. Sesaat memasuki ruang tamunya, tersuguh hamparan berbagai kerajinan olahannya dari kain air guci; tempat tisu, baju pengantin, laung, hingga hiasan dinding. Sehelai kain nampak belum selesai digambar untuk membuat pola kain air guci, dibiarkan tergeletak di lantai. Sore itu, Risna menerangkan kepada saya bagaimana usahanya berjalan beriringan; antara bisnis dan pelestarian kain asli daerah.

Argadia Melati, nama yang diberikan neneknya kepada usaha kain air guci buatannya. Iin belajar menyulam air guci dari neneknya serta orang tuanya yang juga pengrajin. Meskipun usahanya dimulai dari 2010, sebenarnya dia tidak membuka usaha baru, melainkan melanjutkan usaha yang telah dirintis oleh neneknya.

“Beliau (nenek) termasuk salah satu perempuan yang bergerak di bidang keterampilan di Banjarmasin tahun 1960,” waktu itu beliau belajar sendiri, ikut kegiatan, juga ikut kursus, dari semenjak itu beliau mengembangkan ilmunya dengan membuka kursus-kursus menjahit, tata rias, dan sulam air guci,” kata Iin. 

Kursusnya berkembang dan mulai menghasilkan anak murid yang menyebar ke berbagai penjuru. Seiring waktu, nenek semakin tua dan semakin sulit untuk mengajar, akhirnya kegiatan kursus ditutup. Kegiatan mulai difokuskan pada tata rias dan sulam air guci, yang bertahan hingga sekarang.

Kain air guci bukan sembarang kain. Pada saat masa Kerajaan Banjar, kain ini hanya boleh dipakai oleh kalangan istana. Pakaian kebesaran raja menggunakan air guci sebagai hiasan lambang kebesaran. Kesannya kuat dan beraura. Saya pernah menyaksikan sendiri peninggalan pakaian raja di museum, memang terlihat kuat aura wibawanya.

Berbeda dengan masa silam yang menggunakan payet tembaga, sulaman air guci masa sekarang menggunakan payet bahan sintetis sebagai pengganti tembaga karena sudah sukar mencarinya. “Kombinasi masa sekarang juga menggunakan payet mutiara atau payet permata sebagai hiasan tambahan,” terang Iin. Plastik dan kaca menjadi alternatif dari tembaga, selain karena mudah didapat, juga bahan ini terasa lebih ringan saat dipakai. Kain yang dipakai sebagai bahan utama pun beragam, bisa menggunakan kain beludru atau satin.

“Misal untuk pakaian biasa pakai kain satin, untuk hiasan bisa pakai beludru yang juga ada beberapa tingkatan, ada yang biasa, ada yang lembut,” ungkap Iin. Untuk harga, bisa dibilang kain air guci ini memiliki keragaman dari 50.000 sampai jutaan rupiah. Produk kain air guci yang dihasilkan oleh Iin tidak menentu setiap bulannya. Banyak sedikitnya ditentukan oleh jumlah pesanan. 

Pagebluk yang menyerang hampir semua sektor, tetapi air guci nampak tak bergeming. Iin menyatakan bahwa orang-orang lebih mengenal air guci sebagai pakaian adat, maka tak jarang orang lebih memilih untuk menyewa daripada membeli. “Disamping kita memproduksi, kita juga menyewakan, sebab kalau cuman menunggu produksi saja, mungkin sebulan hanya satu pesanan,” ungkapnya. Dalam bekerja, Iin tidak sendiri, dia memberdayakan orang-orang sekitarnya untuk membantunya dalam membuat kain air guci. “Kami menyebutnya sebagai mitra kerja,”tambahnya.

Pengrajin air guci memang sudah sedikit sekali, boleh dibilang hampir punah. Jika dibandingkan dengan pengrajin sasirangan tentu bedanya sangat jauh. Air guci yang penggunaannya lebih ke pakaian adat kalah populer dibandingkan sasirangan yang bisa digunakan untuk pakaian sehari-hari. Seiring perkembangan jaman, air guci kini diaplikasikan ke berbagai benda seperti sarung bantal, kaligrafi, hiasan dinding, dan lainnya.

Motif hiasan cenderung lebih bebas daripada yang dikhususkan untuk pakaian adat yang memiliki pakem tersendiri. “Ada motif gigi haruan, halilipan, pucuk rabung, itu untuk pakaian adat,” ujar Iin menjelaskan sembari memperlihatkan beberapa corak motif.

Pemerintah daerah, sebagai salah satu pemangku kepentingan tinggalan budaya daerah turut serta mempromosikan air guci sebagai kekayaan daerah. Dalam baliho-baliho yang berjejer, seringkali menampakkan kepala daerah menggunakan pakaian adat Banjar. Apalagi setelah munculnya ‘kebanggan lokal bernilai budaya’ dari kepala daerah, pakaian adat tidak lagi sekedar untuk seremoni perayaan 17 Agustus, sekarang dimunculkan peraturan-peraturan yang mengakomodasi pakaian adat sebagai pakaian kerja, meski dibuat lebih sederhana sesuai kebutuhan kantor.

Budaya kita memang tidak lepas dari tradisi adikodrati, dalam adat istiadat biasanya disertakan syarat-syarat khusus untuk membuat atau melakukan suatu tradisi, begitu pula pada pembuatan sulaman air guci. “Kalau jaman dahulu untuk membuat tapih pengantin, kita harus pakai piduduk (sajian kepada leluhur) umumnya yang berisi beras, telur ayam kampung, bisa ditambah kelapa, beras ketan, dan gula merah, tergantung ada keturunan (keturunan kerajaan) atau tidak.”

Iin menegaskan bahwa hal ini bergantung kepada kepercayaan masing-masing. Persoalan warna pun diatur oleh adat yang pada jaman dahulu mengharuskan pakaian berwarna kuning atau hijau. “Sekarang warnanya sudah bermacam-macam, yang penting motifnya jangan berubah.”

Saya diperlihatkan sebuah kain yang mungkin berusia 50 tahun yang masih menggunakan tembaga sebagai payetnya. Kain sepanjang 3 meter tersebut menggunakan kain sutra sebagai dasar kainnya, yang kemudian berlapis dua untuk menahan beban dari payet tembaga. Iin bercerita kain tersebut merupakan warisan neneknya yang turun temurun diturunkan, salah satu kain yang masih menggunakan pakem asli dengan motif kanas dan pucuk rabung. Saya meminta izin untuk memegang kain. Seumur hidup menghadiri acara hajatan, saya baru tau kain yang sering saya lihat sebagai dekorasi merupakan kain khas daerah dan bernama kain air guci.

Kecenderungan kita untuk meninggalkan adat istiadat memang lebih terbuka di abad modern ini, terlebih gelombang modernisasi yang melanda seiring dengan tumbuh pesatnya internet. Harapan Iin cenderung sama seperti kita, berharap tradisi akan ada generasi penerus yang mau melakukan pekerjaannya. Sembari menggenggam kain tua tersebut, saya juga menatap kesungguhan dalam raut wajahnya. Oh air guci, apakah engkau akan dapat ku jumpa dalam 30 tahun lagi?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Menikmati Segelas Cendol Elizabeth di Hari Minggu

Travelog

Memaknai Fenomena Alam Pasca Badai Seroja

Travelog

Mengenang Perjuangan Kemerdekaan di Taman Tegallega

Travelog

Cara Terbaik Memaknai Pulang (4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Ibu Zie dan Warna-warni Alami Batik Kampung Malon