INTERVAL

Di Balik Saparan Gogik

Untuk kesekian kalinya, saya kembali melihat bukti nyata semangat nguri-uri kabudayan khas masyarakat Jawa. Kali ini di acara Saparan Gogik yang berlangsung pada 2 Agustus 2026 lalu. Gogik merupakan dusun yang sejuk di kaki Gunung Andong, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang.

Semangat yang sedang dibangun ulang untuk mengisi momen bulan kedua kalender Jawa itu tidak hanya berhenti di seremonial semata, tetapi juga menitis dan bertumbuh bersama di setiap napas dan urat nadi warganya. Menurut Krisna Phiyastika, co-founder Arutala Boemi Lestari—sebuah inisiatif ekowisata berbasis mindfulness dan lokalitas budaya—dan warga asli Gogik, saparan kali ini adalah momentum untuk membangkitkan kembali identitas kebudayaan kampung yang autentik dan, “….sudah puluhan tahun tidak muncul ke publik dan agar generasi muda Gogik tahu mereka punya kebudayaan.”

Seperti halnya petani yang menumbuhkan (nguri-uri) benih padi di sawah, begitu pun Kompag Sigra Jumangkah. Berkolaborasi dengan para sesepuh, tokoh masyarakat, perangkat dusun, dan masyarakat, sekelompok pemuda dalam organisasi karang taruna Dusun Gogik tersebut memelopori kebangkitan ‘benih’ kebudayaan yang berangkat dari kesadaran sebagai generasi penerus. 

Rangkaian tradisi yang mengandung nilai-nilai luhur warisan moyang tidak hanya ditumbuhkan sebagai pemenuhan pada pepatah “wong Jawa aja ilang Jawane”—orang Jawa jangan sampai kehilangan ke-Jawa-annya. Krisna menegaskan, misi besar Saparan Gogik lebih dari itu. Terlebih periodisasi saat ini (terutama pasca rezim Orde Baru) memungkinkan keterbukaan dan kebebasan melalui aktivisme budaya. Saparan Gogik barangkali tergolong festival yang dikonstruksi sebagai perlawanan terhadap upaya komodifikasi dan penyeragaman ekspresi budaya ala kolonial, yang terkadang melupakan peran dan metode khas komunitas lokal sebagai pemilik kebudayaan tersebut. Sebab, konteks lokal sangat penting dan paling layak untuk meracik ritual, tradisi, kisah, dan citra kebudayaan dengan caranya sendiri.1

Sesaji berisi ragam hasil bumi, bentuk rasa syukur pada Tuhan dan alam yang memberi kehidupan
Sesaji berisi ragam hasil bumi, bentuk rasa syukur pada Tuhan dan alam yang memberi kehidupan. Bagian integral dan sakral dalam Saparan Gogik 2026/Mauren Fitri

Dari kenangan masa kecil hingga menjaga kerukunan

Saparan Gogik 2026 mengusung tema “Nandur Tradisi, Ngunduh Pakarti”, atau dalam arti harfiah menanam tradisi untuk memanen budi pekerti. Makna ini berangkat dari keyakinan bahwa tradisi yang ditanam dan dirawat dengan baik akan menghasilkan panen berupa karakter luhur: religius, gotong royong, cinta lingkungan, menghormati budaya, serta menjunjung tinggi persaudaraan. Dengan menjaga tradisi, merawat alam, dan mengarsipkan warisan budaya, Dusun Gogik sedang menyiapkan bekal berharga bagi generasi yang akan datang.

Sebelum acara puncak, rangkaian kegiatan Saparan Gogik diawali dengan tirakatan (semacam tasyakuran atau selamatan) dan bersih-bersih sarean (makam) dusun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Wujud penghormatan lain demi kelancaran acara Saparan Gogik adalah menutup sementara jalur pendakian Gunung Andong via Gogik untuk umum.

Titik awal acara puncak saparan pada Minggu pagi berpusat di depan kediaman Kepala Dusun Gogik, Rangga Pramana. Sebelum kirab budaya, prosesi sakral berlangsung selepas salat Subuh. Haji Sutopo, tokoh masyarakat—atau istilah di Magelang disebut sebagai Pak Kaum, semacam modin atau tokoh agama—mendoakan tujuh tampah berisi sesaji (sajen atau langgat) berisi makanan ingkung (daging ayam kampung), jajanan tradisional, lembaran daun atau bunga dari tanaman sekitar, hasil bumi, dan sejumlah benda atau artefak.

Sesaji yang sudah didoakan kemudian disebar ke tujuh mata air yang ada di Dusun Gogik (Mauren Fitri)
Sesaji yang sudah didoakan kemudian disebar ke tujuh mata air yang ada di Dusun Gogik/Mauren Fitri

Seluruh sajen tersebut selanjutnya disebar—nyebar sajen—ke tujuh titik tuk (mata air) yang ada di dusun. Haji Sutopo meluruskan, prosesi nyebar sajen ini bukanlah praktik pemujaan atau kemusyrikan, melainkan sebagai ungkapan rasa sukur kepada Gusti Pengeran (Tuhan yang Maha Esa) atas anugerah alam yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Elemen simbolik yang tertuang dalam sajen merupakan medium pengharapan sekaligus doa memohon keselamatan, keberkahan, kesuburan tanah, dan kesejahteraan masyarakat Gogik. Langgat yang serba organik tersebut juga kemudian akan kembali menyatu dengan alam, sehingga hewan-hewan atau organisme di sekitar mata air akan memanfaatkannya sebagai sumber makanan.

Dari satu prosesi tersebut saja, tampak betapa terintegrasinya nguri-uri kabudayan berbasis alam yang tidak bisa lepas dari unsur agama sebagai tuntunan hidup. Di Jawa, termasuk Gogik, kebudayaan dan agama adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Faktor historis di masa lampau juga berperan membentuk proses akulturasi antara tradisi dan agama melalui elemen-elemen simbolik.2 Proses nyebar sajen menunjukkan komitmen masyarakat Gogik untuk merawat dan melestarikan mata air, serta menjaga ekosistem di sekelilingnya.

Selain aspek spiritual dan rasa syukur lewat pewetu atau gunungan raksasa berisi hasil bumi seperti sayur dan palawija, simbol-simbol lain juga tercermin dalam elemen-elemen saat puncak kirab budaya. Sebut saja pangon yang menggambarkan kehidupan peternakan dan nilai tanggung jawab, sunggen yang melambangkan ketangguhan dan kerja keras masyarakat desa, pawon sebagai simbol keberkahan keluarga dan ketahanan pangan. Tak ketinggalan aneka dolanan atau permainan tradisional, yang selain membangkitkan kenangan masa kecil saya di desa nenek di Jawa Timur, juga berfungsi sebagai media pendidikan karakter bagi anak-anak. 

Kepala Dusun Gogik (paling depan, kanan) memimpin kirab budaya pada puncak Saparan Gogik/Mauren Fitri
Kepala Dusun Gogik Rangga Pramana (paling depan, kanan) memimpin kirab budaya pada puncak Saparan Gogik/Mauren Fitri

Arak-arakan warga dalam kirab budaya berujung di lapangan balai dusun. Di sana, masyarakat hampir di setiap rumah yang membawa hasil buminya masing-masing merapat, berbaur, dan khidmat mengikuti umbul donga. Sebuah prosesi doa bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan desa, yang berlanjut dengan kembul bujana atau tradisi makan bersama. 

Usai kirab, doa, dan makan bersama, Saparan Gogik lalu menghadirkan pentas kesenian—yang disebut Krisna sudah beberapa dekade “sembunyi” dari perbincangan publik. Para pemuda menampilkan seni tari Soreng, sedangkan anak-anak mementaskan Warok. Penampilan rancak mereka menghibur masyarakat yang antusias menonton, tak ingin cepat-cepat beranjak pulang. Pagelaran wayang Ringgit Purwo yang berlangsung sejak sore hingga semalam suntuk menjadi penutup Saparan Gogik. 

Pemandangan yang terlihat di sepanjang hari yang cerah kala itu memberikan pesan mendalam, melebihi keindahan koreografi seni yang melengkapi simbol-simbol dalam kirab budaya. Masyarakat Gogik bukan hanya bangga dan menyenangi budayanya, melainkan juga sedang mempraktikkan fungsi sosial dari sebuah festival budaya: menjaga kerukunan dan solidaritas. Laku tepo seliro, empan papan, dan ewuh pakewuh begitu manjur untuk mempererat jejaring sosial dan spiritual masyarakat.3

Penampilan kesenian Soreng (kiri) dan Warok/Rifqy Faiza Rahman

Simpul-simpul makna yang harus diwariskan

Bagi saya, peran penting dari penyelenggaraan festival budaya seperti Saparan Gogik bukanlah semata terletak pada aspek estetika maupun konektivitasnya dengan pengembangan pariwisata. Meskipun, sebagaimana diketahui, Gunung Andong sudah populer sebagai destinasi wisata pendakian yang banyak diserbu pendaki lintas daerah.

Meminjam istilah Torianus Kalami, Ketua Perkumpulan Generasi Malaumkarta dan tokoh adat suku Moi di Sorong Raya, Papua Barat Daya, dampak ekonomi yang dirasakan dari pariwisata justru hanya bersifat bonus tambahan. Capaian keluaran dan manfaat tertinggi dari keberadaan festival budaya seperti Saparan Gogik adalah keberhasilan pewarisan pengetahuan lokal kepada generasi penerus. 

Ketika Sabtu malam (1/8/2026), beberapa jam sebelum puncak Saparan keesokan paginya, Krisna mengajak kami, tim TelusuRI dan sejumlah representasi media maupun komunitas berkeliling kampung. Seorang pemuda setempat bernama Yusuf mendapat mandat untuk menjadi ‘pemandu dadakan’. 

Saat itu, kami jalan kaki mengunjungi sejumlah titik seperti tuk (sumber mata air) dan sudut-sudut jalan kampung. Melihat elemen-elemen material dan geliat masyarakat menyambut saparan. Meriah, sekaligus sakral. 

Kami juga singgah bersilaturahmi ke rumah-rumah warga. Di Gogik, momen saparan serupa Lebaran Idulfitri. Setiap keluarga menyiapkan jajanan tradisional, minuman hangat, bahkan mempersilakan tamu atau kerabat yang datang untuk ikut menikmati hasil masakan tuan rumah. Jika harus terus terang, kapasitas perut tentu tidak akan mampu menampung seluruh makanan. Akan tetapi, hikmah besar dari kegiatan silaturahmi rutin sebagai bagian tradisi yang awet bertahun-tahun lamanya ini, amat kentara jika suasana yang terbangun begitu murni, egaliter, dan—menurut Koentjaraningrat—guyub rukun. 

Kiri: Tawa Krisna (kanan) saat mendengar cerita Mbok Ramini, seorang warga yang rumahnya kami kunjungi pada Sabtu (1/8/2026). Rumahnya terletak dekat tuk Kali Ringin, salah satu sumber mata air di Gogik. Kanan: Suguhan teh trasan, minuman khas Dusun Gogik. Bahan bakunya diambil dari pucuk daun tanaman yang langsung (terusan atau trasan) direbus setelah dipetik, tanpa proses pengeringan atau bahkan fermentasi. Untuk menikmatinya, terdapat tiga cara: minum langsung tanpa tambahan apa pun (tawar), mencampurnya dengan garam atau gula/Mauren Fitri

Dari pengalaman malam itu, yang kemudian menjadi benderang pada acara puncak, saya melihat harapan kolektif yang tengah tumbuh. Seperti terpancar dari mata Krisna dan adik kandungnya—yang katanya “dipaksa” menjadi ketua panitia—ada optimisme untuk masa depan kebudayaan Gogik.

Namun, tentu saja tidak ada jalan semudah membalikkan telapak tangan. Tantangannya adalah menjaga kesadaran bahwa kebudayaan lokal yang dimiliki Gogik merupakan simpul-simpul makna yang saling terikat satu sama lain, bak jaring laba-laba.4 Jika satu utas terputus, maka akan menghapus utas makna dari elemen kebudayaan lainnya. 

Saya juga ingin menambahkan, barangkali Saparan Gogik adalah salah satu bentuk kerja-kerja perawatan kebudayaan yang gampang-gampang susah; dan masyarakat Gogik tidak bisa berjalan sendirian. Ada komunitas, akademisi, peneliti, fotografer, videografer, jurnalis, pemerintah, dan bahkan wisatawan yang perlu menumbuhkan sugesti diri untuk merasa ‘terpanggil’, bahwa merawat warisan budaya adalah tugas bersama.

Di tengah era modern dan masifnya media sosial, barangkali seperti itulah fondasi terpenting dari dokumentasi kebudayaan lokal melalui rangkaian festival. Tidak hanya perlu, tetapi juga krusial.


  1. Corsby, A. (2013). Festivals in Java: Localising cultural activism and environmental politics, 2005-2010 (Doctoral thesis). Dikutip dari https://opus.lib.uts.edu.au/handle/10453/21805. ↩︎
  2. Geertz, C. (1960). The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago Press. ↩︎
  3. Koentjaraningrat. (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka. ↩︎
  4. Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Book Publishers. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Rifqy Faiza Rahman

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Merawat Tradisi di Saparan Gogik