TRAVELOG

Pantai Wohkudu: Badai yang Berkecamuk dan Tebing Karst yang Tersingkap

Jutaan tahun lalu, apa yang kita lihat sekarang di deretan perbukitan karst Gunungkidul adalah dasar laut yang tersingkap oleh proses geologi yang panjang. Dalam bukunya, Licht- und Schattenbilder aus dem Innern von Java, Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn—seorang naturalis dan penjelajah berkebangsaan Jerman—mendokumentasikan lanskap Gunungkidul yang berbatu serta kehidupan masyarakat Jawa kala itu, pada tahun 1836. Ia begitu terpesona dengan keindahan alam dan aktivitas penduduk setempat yang memanfaatkan topografi perbukitan karst dan gua-gua dalam mencari sarang burung walet. 

Dalam penjelajahannya, Junghuhn mengabadikan keindahan Gunungkidul dalam lukisan berjudul “Zuidkunst Beoosten Rankop”. Ia menggambarkan Goenoeng Sewoe, nama Gunungkidul saat itu, dan samudera luas dari ketinggian di tebing karst dengan bebatuan tajam di sekitar Pantai Ngungap, Rongkop.

Ketika saya menyinggahi pantai-pantai di Gunungkidul, seperti Pantai Kesirat, Watunene, Siung, dan Pengilon, saya dapat melihat bahwa batuan dan karakteristik yang menyusunnya sama persis. Batuan karang tajam menjadi ciri menarik. Tidak hanya di tepian garis pantai menghadap samudera luas, tetapi di sepanjang perjalanan yang kami lihat, batuan karst ini menjadi lanskap alam untuk dieksplorasi.

Pun Pantai Wohkudu, gambaran kecil dari proses terbentuknya perbukitan karst yang menakjubkan di selatan Pulau Jawa. Memberikan kami pemahaman mendalam tentang proses terbentuknya muka bumi yang menakjubkan ini.

Lukisan Franz Junghuhn di Pantai Ngungap, Rongkop, Gunungkidul (Universitaire Bibliotheken Leiden)
Lukisan Franz Junghuhn di Pantai Ngungap, Rongkop, Gunungkidul/Universitaire Bibliotheken Leiden

Memulai Petualangan Menuju Pantai Wohkudu

Sejenak untuk keluar dari padatnya rutinitas, kami berencana menghabiskan waktu dengan melepas penat jauh dari hiruk-pikuk perkotaan ke Pantai Wohkudu. Tempat yang membuat kami bisa merasakan kebebasan dan ketenangan dari apa yang membelenggu selama ini. Tempat terpencil, tidak ada sinyal telepon, dan mungkin hanya suara deburan ombak yang akan menemani kami.

Menyusuri jalanan padat penuh aktivitas manusia, kami pergi ke selatan kota menyusuri jalanan beraspal nan ramai hingga ketika kami sampai memasuki jalur Imogiri–Siluk. Seketika itu juga berubah menjadi jalanan pedesaan yang tenang, mungkin karena kami berangkat ketika hari sudah larut malam. Hal yang tidak kami rencanakan sebelumnya. 

Kami terus berjalan menyusuri jalan menanjak dan berkelok dan sesekali melihat keindahan gemerlapnya lampu kota tatkala kami sampai di ketinggian yang memisahkan antara Gunungkidul dan Bantul. Ban motor kami menggilas jalanan naik-turun mengikuti kontur perbukitan.

Vegetasi pepohonan yang didominasi tanaman monokultur, seperti pohon jati dan tanaman palawija adalah hal yang kami lihat di sepanjang perjalanan menyusuri jalanan yang gelap dan minim pencahayaan ini. Sesekali kami melintasi perkampungan. Meskipun demikian, jalanan beraspal mengantarkan kami untuk tiba di tujuan. Mujur rasanya mendapat kemudahan akses karena sebagian besar pantai di sini memiliki akses sulit untuk mencapainya. 

Akses jalan ke pantai (kiri) dan tebing karst yang tersingkap di Pantai Wohkudu (dipotret saat hari kepulangan)/Aris Risnandar

Embusan angin laut dari kejauhan menyambut tatkala kami sampai di sebuah warung sederhana di balik sunyinya alam. Jauh dari perkampungan, tidak ada yang bisa kami lihat selain cahaya lampu dari warung sederhana tempat kami memarkirkan motor. Dari sinilah perjalanan seru dan mendebarkan baru saja dimulai. Tidak ada pilihan selain menyusuri jalan setapak berlumpur bekas hujan yang mengguyur Yogyakarta sore tadi.

Cahaya rembulan sesekali menampakkan dirinya di balik awan bergerombol sembari kami terus menyusuri jalan setapak dibantu cahaya senter. Batuan karang tajam dan lumpur menjadi tantangan di tengah kegelapan menuruni perbukitan karst untuk sampai di tepi pantai, tetapi suara deburan ombak pun belum terdengar nyaring di telinga. “Sudah sejauh ini berjalan, berapa lama lagi kami harus berjalan?”pikir saya.

Hingga pada akhirnya, setelah lama kami berjalan menyusuri lereng perbukitan karst dengan pencahayaan lampu seadanya, kami bisa mendengar deburan ombak dari kejauhan. Suara itu menggelegar memecah keheningan malam dan tampaknya kami akan tiba di tujuan. Syukurlah kami bisa melihat gemerlapnya lampu tenda tatkala kami tiba di area kemah Pantai Wohkudu. 

Area aman berkemah di Pantai Wohkudu (Aris Risnandar)
Area aman berkemah di Pantai Wohkudu/Aris Risnandar

Hangat Mentari Selepas Badai

Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Kami bergegas mendirikan tenda tepat di atas pasir putih di pinggir pantai, menghadap karang dan samudra luas. Angin kencang menerjang dan deburan ombak menggelegar, menabrak karang-karang memecah kesunyian malam. Sesekali saya mendengar pelancong lainnya dari kejauhan. Menandakan bahwa kami tidak sendiri.

Setelah mendirikan tenda dan makan malam, kami lekas tidur untuk sejenak membaringkan tubuh dari lelahnya perjalanan. Semakin malam, angin kencang dan deburan ombak menghantam karang semakin keras. Baru pertama kalinya suara itu membuat bulu kuduk berdiri. Sangat mengerikan. Lalu kami mendengar suara hujan perlahan-lahan membasahi tenda kami. 

Kami terus terjaga dan menatap langit-langit tenda seiring angin kencang menerpa dan badai berkecamuk di luar. Seketika itu juga, salah satu tenda yang kami dirikan roboh karena tidak cukup kuat untuk menahan angin. Pasak-pasak yang terpancang di pasir itu ternyata tidak sehebat ketika mencengkeram tanah. Akhirnya, kami memindahkan salah satu tenda dan mendirikan ulang di tengah amuk badai.

Sebuah pengalaman mendebarkan karena harus mengalaminya secara langsung. Namun, di sisi lain berkesan karena bisa merasakan hal yang tidak semua orang bisa merasakannya.

Sejumlah pengunjung bermain air di tepi Pantai Wohkudu (Aris Risnandar)
Sejumlah pengunjung bermain air di tepi Pantai Wohkudu/Aris Risnandar

Keesokan paginya, cahaya jingga keemasan menyoroti sisi barat dari balik bukit sebelah timur, menciptakan warna gradasi yang memukau. Sementara mata masih cukup mengantuk untuk terbangun usai berjibaku dengan dinginnya udara dan badai semalaman. Namun, kami bisa merasakan kehangatan mentari pagi yang kami rindukan.

Kami menikmati hangatnya mentari sambil bermain air di tepian pantai. Tampak dua bukit karst mengapit pantai dengan batuan karang memecah ombak, seakan-akan melindungi pantai ini dari ganasnya laut selatan. Garis pantai ini tidak sepanjang pantai lainnya di Gunungkidul, tetapi menyuguhkan karakteristik berbeda di balik terjalnya jalan ke tempat ini.

Matahari sudah tepat di atas kepala tatkala kami selesai bermain air. Kami pun berkemas dan mengakhiri petualangan ini. Kembali menyusuri perbukitan karst dengan batuan tajam di setiap sisinya, dan baru bisa melihat seberapa terjal jalan setapak berlumpur yang kami lalui semalam.

Pengalaman ke Pantai Wohkudu kami maknai sebagai guru terbaik dalam hidup. Tentang hujan badai yang berkecamuk, deburan ombak yang menghantam karang, kebersamaan, dan bagaimana kami belajar banyak dari proses alam yang membentuk pantai ini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Aris Risnandar

Singgah di Yogyakarta untuk menimba ilmu dan senang untuk mengeksplorasi berbagai hal termasuk pergi ke tempat-tempat yang bisa saya singgahi.

Aris Risnandar

Singgah di Yogyakarta untuk menimba ilmu dan senang untuk mengeksplorasi berbagai hal termasuk pergi ke tempat-tempat yang bisa saya singgahi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Narapuspitan Library & Public Space, Pusat Literasi Baru di Gunungkidul