INTERVAL

Burangrang dan Fenomena “Amenity Migration”

Mengisi libur long weekend beberapa pekan lalu, saya memilih MTB-an menuju Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Perjalanan dimulai dari arah Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi. Dari Cisarua, alih-alih menuju Lembang dan meluncur turun ke Kota Bandung, saya memilih mblusuk menyusuri sisi selatan dan sisi barat kaki Gunung Burangrang. 

Selama perjalanan bersepeda itu, yang menarik perhatian saya bukan cuma tanjakannya. Pasalnya, lanskap di kiri-kanan jalan terasa telah jauh berbeda dibandingkan 30–40 tahun silam. Di antara lahan-lahan pertanian yang masih tersisa, kini semakin mudah ditemukan bangunan baru berupa kafe, vila, hunian, tempat makan, dan berbagai bentuk properti lain.

Tentu saja, saya tidak punya data serial dari atas sepeda untuk mengatakan persis berapa hektare lahan-lahan terbuka yang asalnya disesaki vegetasi hijau yang telah berubah fungsi. Pengamatan mata saya selama perjalanan itu juga bukan pengganti citra satelit atau laporan tata ruang yang bisa langsung menghasilkan data presisi. 

Gunung Burangrang terlihat dari Pasar Barukai, Cisarua (Djoko Subinarto)
Gunung Burangrang terlihat dari Pasar Barukai, Cisarua/Djoko Subinarto

Menarik secara Ekonomis

Sebagai kawasan pegunungan, Cisarua dan kaki Burangrang tak pelak menawarkan sejumlah amenitas alam berupa udara yang relatif sejuk, panorama pegunungan, lanskap hijau, dan suasana yang lebih tenang dibandingkan kawasan perkotaan. 

Bagi sebagian orang, terutama mereka yang berasal dari kawasan urban, kualitas lingkungan semacam itu bukan lagi sekadar daya tarik untuk berwisata, melainkan bagian dari kualitas hidup. Karena itu, Cisarua kemudian dipilih tidak hanya sebagai tempat berlibur, tetapi juga sebagai lokasi untuk bermukim maupun mengembangkan usaha. 

Perkembangan tersebut barangkali tidak semata-mata menunjukkan bertambahnya bangunan dan aktivitas ekonomi. Ia juga dapat dibaca sebagai bagian dari fenomena yang dalam kajian perkotaan dan lingkungan dikenal sebagai amenity migration, yakni perpindahan penduduk, modal, dan aktivitas ekonomi menuju wilayah yang memiliki daya tarik lingkungan dan kualitas hidup tertentu. 

Dengan demikian, orang tidak lagi semata-mata memilih tempat tinggal berdasarkan kedekatannya dengan pusat pemerintahan, kawasan industri, atau pusat perdagangan. Udara sejuk, panorama gunung, pepohonan, ketenangan, dan akses terhadap ruang terbuka hijau juga mulai menjadi komoditas. Kawasan yang dahulu dianggap sebagai daerah pinggiran perlahan berubah menjadi ruang yang memiliki nilai ekonomi baru.

Cisarua dan kaki Burangrang memiliki hampir semua prasyarat untuk mengalami proses tersebut. Dari kawasan urban yang padat seperti Cimahi dan Bandung, wilayah Cisarua relatif mudah dijangkau. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, seseorang dapat meninggalkan kepadatan kota dan memasuki lanskap pegunungan. Perbedaan suasana itu sendiri sudah merupakan sebuah amenitas yang mempunyai nilai ekonomi.

Maka, tidaklah mengherankan jika kemudian muncul vila, kafe, restoran, penginapan, tempat rekreasi, maupun hunian yang menawarkan pengalaman hidup dekat alam. Alam kemudian tidak lagi sekadar menjadi latar belakang kehidupan manusia. Ia berubah menjadi bagian dari produk ekonomi yang dijual kepada konsumen.

Sejumlah properti berdiri di kaki Burangrang (Djoko Subinarto)
Sejumlah properti berdiri di kaki Burangrang/Djoko Subinarto

Persoalan Keterbatasan

Jujur saja, semakin menarik sebuah kawasan karena kehijauan, ketenangan, dan panorama alamnya—seperti yang dimiliki Cisarua dan kaki Burangrangnya—semakin besar pula dorongan ekonomi untuk membangun di kawasan tersebut. Namun, ketika pembangunan berlangsung tanpa kendali, bisa-bisa amenitas alam yang menjadi daya tarik utama justru dapat berkurang.

Di kaki Burangrang, kafe dibangun lantaran orang menyukai suasana hijau pegunungan. Pun vila dibangun karena orang ingin menikmati pemandangan asri pegunungan. Juga hunian baru muncul lantaran orang ingin hidup lebih dekat dengan alam. Namun, jika pembangunan ini berlangsung terus-menerus, lahan hijau yang menjadi alasan orang datang otomatis perlahan menyusut. 

Apa yang dialami Cisarua dan kaki Burangrangnya sesungguhnya bukanlah fenomena baru. Banyak kawasan pegunungan di berbagai negara mengalami proses serupa. Ketika sebuah daerah mulai populer sebagai tempat tinggal, tempat berlibur, atau lokasi investasi, harga tanah meningkat. Infrastruktur berkembang. Pelaku usaha berdatangan. Penduduk dari luar wilayah masuk. Lanskap pun berubah.

Persoalannya sendiri bukan semata-mata apakah pembangunan itu baik atau buruk. Pembangunan tentu membawa manfaat. Kehadiran kafe, restoran, penginapan, dan berbagai bisnis baru dapat membuka lapangan pekerjaan, menciptakan sumber pendapatan bagi warga, meningkatkan nilai ekonomi tanah, dan memperluas basis ekonomi lokal.

Persoalannya adalah keterbatasan. Pasalnya, pada titik tertentu, pembangunan yang semula memanfaatkan daya tarik alam dapat berubah menjadi pembangunan yang menggerus daya tarik alam itu sendiri.

Bayangkan, sebuah kawasan pegunungan yang dahulu menawarkan udara sejuk, pemandangan hijau, dan ketenangan, kemudian mulai dirambah pembangunan. Mula-mula, jalan diperlebar, rumah bertambah, vila berdiri, restoran dan bermunculan, lahan-lahan pertanian berubah menjadi properti. Secara ekonomi, kawasan itu mungkin semakin hidup. Namun, secara ekologis dan bahkan secara estetis, ia bisa kehilangan sebagian alasan mengapa orang pertama kali datang ke sana.

Pemandangan sisi selatan Burangrang dilihat dari halaman samping sebuah kafe di Cisarua (Djoko Subinarto)
Pemandangan sisi selatan Burangrang dilihat dari halaman samping sebuah kafe di Cisarua/Djoko Subinarto

Bukan Objek Visual

Pada dasarnya, gunung bukan sekadar objek visual yang tampak indah di kejauhan. Lereng dan kaki gunung merupakan bagian dari sistem ekologis yang jauh lebih kompleks. Di dalamnya terdapat daerah tangkapan air, ruang vegetasi, habitat berbagai organisme, sekaligus kawasan penyangga bagi kehidupan masyarakat di bawahnya. Karena itu, perubahan penggunaan lahan di kawasan kaki gunung tidak semestinya dilihat semata-mata dari perspektif harga tanah, nilai investasi, atau potensi ekonomi.

Ada juga nilai ekologis yang tidak selalu tercermin dalam transaksi pasar. Sebidang lahan terbuka mungkin memiliki harga tertentu ketika diperjualbelikan. Namun, kemampuan lahan tersebut menyerap air hujan, menahan erosi, menjaga kelembapan tanah, menopang vegetasi, dan mempertahankan karakter lanskap memiliki nilai sosial dan ekologis yang jauh lebih besar, meskipun sering kali tidak tercantum dalam harga jualnya.

Karena itu, kawasan pegunungan tidak dapat diperlakukan seperti ruang kosong yang seluruhnya tersedia untuk dikonversi menjadi properti. Setiap pembangunan semestinya berhadapan dengan batas-batas ekologis yang nyata berupa kemiringan lahan, kapasitas resapan air, sistem hidrologi, kawasan lindung, sempadan sungai, daerah rawan longsor, hingga keberlanjutan fungsi pertanian. 

Persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah bangunan secara administratif dapat didirikan, melainkan apakah lingkungan di sekitarnya masih mampu menyokong kehadiran bangunan tersebut dalam jangka panjang. Sebab, ada ironi pembangunan yang perlu kita waspadai. Contohnya, kita datang ke Cisarua dan kaki Burangrang untuk mencari udara sejuk, tetapi pembangunan yang berlebihan justru dapat membuat vegetasi semakin tertekan dan kualitas lingkungan menurun. Kita mencari panorama hijau, tetapi bukit perlahan dipenuhi bangunan. Kita mencari ketenangan, tetapi kawasan yang semula menawarkan kesunyian berubah menjadi koridor komersial yang padat, bising, dan semakin menyerupai ruang perkotaan.

Alhasil, semakin banyak orang datang ke kaki Burangrang karena alasan kualitas alamnya, semakin besar pula sesungguhnya tekanan untuk mengubah alam kawasan tersebut.  Karena itu, menjaga kaki Burarang agar tetap memiliki kualitas alam yang menjadi daya tariknya  bukan berarti menolak investasi atau melarang pembangunan ekonomi. Yang harus ditolak adalah gagasan bahwa nilai ekonomi selalu lebih nyata daripada nilai ekologis. 

Bagaimanapun, ketika udara sejuk, air bersih, vegetasi, panorama asri, dan ketenangan di kaki Burangrang telah benar-benar hilang, kita pun bakal segera kehilangan alasan utama mengapa kawasan itu dahulu begitu berharga.


Referensi:

Gosnell, H., Abrams, J. (2011). Amenity migration: diverse conceptualizations of drivers, socioeconomic dimensions, and emerging challenges. GeoJournal 76, 303–322 (2011). https://doi.org/10.1007/s10708-009-9295-4.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Avatar photo

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Roda Kecil itu Menggilas Jalanan Tasikmalaya–Bandung