Pada tahun 1960-an, Presiden Sukarno menginisiasi sebuah proyek ambisius: mengumpulkan seluruh resep makanan tradisional dari Sabang sampai Merauke. Proyek ini melahirkan Mustikarasa (1967), sebuah kitab kuliner raksasa setebal lebih dari 1.100 halaman. Di balik ketebalannya, Mustikarasa bukan sekadar buku panduan memasak, melainkan juga dokumen politik-kebudayaan untuk merayakan kedaulatan pangan nasional sekaligus manifestasi nyata dari konsep Trisakti Bung Karno, khususnya “Berdikari di bidang ekonomi” dan “Berkepribadian dalam kebudayaan”.
Dalam lembarannya, masakan Jawa—termasuk gaya Jawa Tengahan, Yogyakarta, hingga Jawa Timuran—mendapatkan porsi pendokumentasian yang sangat masif. Melalui buku ini, kita dapat membaca bagaimana anatomi, bahan baku, profil rasa, dan karakteristik autentik masakan Jawa dikodifikasikan sejak awal kemerdekaan.


Karakteristik Utama Masakan Jawa dalam Mustikarasa
Jika ditelaah melalui resep-resep di dalam Mustikarasa, masakan Jawa memiliki beberapa karakteristik mendasar yang membedakannya dengan kuliner wilayah Nusantara lainnya.
Pertama, Ppemanfaatan hasil bumi lokal yang maksimal. Masakan Jawa dalam buku ini sangat bertumpu pada agrikultur pedalaman (palawija, sayur-mayur, dan kelapa) serta protein lokal seperti ayam kampung, daging sapi/kerbau, tahu, dan tempe. Jarang ditemukan penggunaan rempah impor yang eksotis; semua lahir dari pekarangan dan pasar lokal.
Kedua, filosofi kerakyatan dan penahan krisis. Sesuai dengan situasi politik ekonomi era 1960-an, Mustikarasa menonjolkan kreativitas dapur Jawa dalam mengolah bahan-bahan murah atau sisa menjadi hidangan lezat—seperti pemanfaatan krecek (kulit sapi), tewel (nangka muda), hingga sisa tempe (tempe semangit). Ini adalah wujud nyata dari “makanan rakyat” yang naik kelas menjadi kebanggaan nasional.
Ketiga, teknik memasak lambat (slow cooking). Banyak masakan Jawa yang mengandalkan teknik mengungkep, menyetup, atau merebus dalam waktu lama (angslup). Proses ini esensial agar bumbu meresap sempurna hingga ke serat terdalam dan menghasilkan tekstur yang empuk tanpa menghancurkan bahan utamanya.


Anatomi Bahan dan Profil Rasa
Secara umum, profil rasa masakan Jawa dalam Mustikarasa terbagi menjadi dua poros utama: Jawa Bagian Tengah/Yogyakarta yang cenderung manis, gurih, dan legit; serta Jawa Bagian Timur yang lebih berani, asin, pedas, dan tajam.
Perbedaan profil rasa ini dikonstruksikan oleh kombinasi bahan-bahan berikut. Pertama, jembatan rasa manis-gurih (gula jawa dan kelapa). Gula jawa (gula merah/pohon aren) dan kelapa (baik parut maupun santan) adalah fondasi utama. Santan encer digunakan untuk menyegarkan sayur kuah, sementara santan kental digunakan untuk mengentalkan lauk daging. Gula Jawa tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga penyeimbang rasa (balancing agent) sekaligus pemberi warna cokelat karamel yang estetis dan menggugah selera.
Kedua, rempah empon-empon dan daun aromatik. Bumbu halus Jawa umumnya mengandalkan kombinasi bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri (sebagai pengental alami sekaligus pemberi rasa gurih), jinten, dan empon-empon seperti kencur, jahe, kunyit, serta lengkuas. Daun salam, daun jeruk purut, dan serai hampir selalu hadir untuk memberikan aroma segar yang khas.
Ketiga, penyedap alami khas (kluwek, petis, dan terasi). Untuk masakan berkarakter tegas, masyarakat Jawa menggunakan fermentasi alami. Kluwek memberikan warna hitam dan rasa gurih pekat (earthy) pada rawon. Petis udang memberi sentuhan rasa gurih-manis-asin yang tajam pada kuliner Jawa Timuran, sedangkan terasi dan tempe semangit (tempe yang hampir busuk/over fermented) kerap digunakan sebagai penyedap alami (umami kuno) pada aneka sayur lodeh atau tumisan.


Mengupas Ragam Masakan Jawa Legendaris di Mustikarasa
Berikut adalah bedah beberapa masakan Jawa ikonik yang tercatat secara autentik di dalam Mustikarasa:
| Nama Masakan | Bahan Utama | Profil Rasa | Karakteristik Unik |
|---|---|---|---|
| Gudeg | Nangka muda (tewel), gula jawa, santan | Manis legit, gurih, bumbu meresap dalam | Dimasak berjam-jam dengan daun jati untuk warna merah alami. |
| Rawon | Daging sapi berlemak, kluwek | Gurih pekat, asin, sedikit getir segar | Menggunakan kluwek sebagai pewarna hitam dan penguat rasa daging. |
| Jangan Lodeh | Aneka sayur (terong, kacang panjang, labu siam) | Gurih santan encer, pedas tipis, beraroma ndeso | Sering memakai tempe semangit atau terasi sebagai penyedap alami. |
| Tempe Bacem | Tempe/tahu, air kelapa, gula jawa melimpah | Dominan manis-gurih | Direbus hingga airnya habis (asat), lalu digoreng sebentar untuk karamelisasi. |
| Rujak Cingur | Cingur (moncong sapi), sayur, buah mentah, petis | Asin, gurih petis yang tajam, pedas, segar | Memadukan kelembutan sayur dengan kekenyalan cingur dan saus petis pekat. |
Gudeg (Yogyakarta dan Surakarta)
Gudeg adalah representasi sempurna dari teknik slow cooking Jawa. Menggunakan bahan utama nangka muda, gudeg dimasak berjam-jam bersama gula jawa, santan, daun salam, lengkuas, dan ketumbar. Profil rasanya manis legit, gurih, dengan tekstur nangka yang melunak namun tidak hancur. Dalam Mustikarasa, resep gudeg didokumentasikan lengkap dengan aneka lauk pendampingnya seperti ayam opor dan sambal goreng krecek.
Rawon (Jawa Timur)
Rawon menampilkan sisi masakan Jawa yang eksotis dan berani. Bahan utamanya adalah potongan daging sapi berlemak (seperti tetelan atau sandung lamur). Kunci utama Rawon terletak pada kluwek yang direbus dan dihaluskan bersama bumbu lainnya. Profil rasanya gurih, sedikit getir khas kluwek, dan sangat segar berkat paduan daun jeruk purut serta taburan tauge pendek (kecambah) mentah serta sambal terasi saat disajikan.
Jangan (Sayur) Lodeh
Sayur lodeh dalam Mustikarasa dicatat dalam berbagai variasi regional. Masakan ini memadukan aneka sayuran penunjang gizi—seperti kacang panjang, terong, melinjo, daun so, dan labu siam—ke dalam kuah santan berbumbu bawang, kemiri, dan kencur. Keunikan lodeh tradisional Jawa adalah penggunaan sedikit terasi atau tempe semangit untuk memunculkan aroma gurih pedalaman yang membangkitkan selera.
Tempe dan Tahu Bacem
Bacem adalah teknik pengawetan sekaligus pengolahan pangan yang sangat lekat dengan masyarakat Jawa Tengah. Tahu dan tempe direbus bersama air kelapa (untuk rasa gurih alami), gula jawa yang melimpah, ketumbar, bawang merah, dan daun salam hingga airnya menyusut habis. Profil rasanya dominan manis-gurih. Setelah bumbu meresap, baceman biasanya digoreng sebentar (tidak sampai kering) untuk mengkaramelisasi gula di permukaannya.
Rujak Cingur (Surabaya)
Mewakili pesisir Jawa Timur, hidangan ini memadukan sayuran rebus, tahu, tempe, buah-buahan mentah (seperti mangga muda atau kedondong), dan cingur yang kenyal. Semua bahan ini disiram saus pekat yang terbuat dari ulekan petis udang kualitas prima, pisang batu (klutuk) mentah untuk penyeimbang rasa sepat, kacang tanah, cabai, dan sedikit air asam. Profil rasanya sangat kaya: asin, gurih petis yang tajam, pedas, sekaligus segar dari buah.


Keunikan Literasi dan Jejak Abadi Kuliner Jawa dalam Mustikarasa
Satu hal yang membuat bab masakan Jawa dalam Mustikarasa begitu bernilai tinggi adalah bahasanya yang sangat organik. Karena resep-resep ini dikumpulkan langsung dari para ibu rumah tangga dan juru masak lokal di desa-desa Jawa, buku ini tidak menggunakan satuan metrik modern seperti gram atau mililiter.
Sebaliknya, kita akan menemukan instruksi takaran tradisional yang khas, seperti sejemput atau sejumput menggunakan ujung jari, sebesar ibu jari untuk jahe atau lengkuas, sejumput garam, selerang daun pandan, hingga sabatok kelapa. Pilihan kata ini mencerminkan “rasa” dan intuisi dalam memasak kuliner Jawa, yang harmoni rasanya tidak ditentukan oleh timbangan digital, tetapi kepekaan lidah sang juru masak (ngira-ira).
Membaca ulang resep masakan Jawa dalam buku Mustikarasa akhirnya memberikan kita kesadaran bahwa kuliner Jawa dibentuk oleh rasa hormat yang mendalam terhadap alam dan lingkungan sekitar. Dari kesederhanaan tempe bacem hingga kompleksnya rasa rawon hitam, setiap hidangan membawa narasi tentang adaptasi geografis, ketersediaan bahan lokal, dan kearifan masyarakatnya.
Warisan kuliner yang dicatat atas perintah Bung Karno ini bukan sekadar arsip sejarah yang kaku, melainkan cetak biru kuliner yang tetap hidup, relevan, dan terus merajai lidah dari generasi ke generasi di seluruh pelosok negeri. Sebuah bukti nyata bahwa ketahanan pangan bangsa sejatinya bermula dari dapur rumah kita sendiri.
Foto sampul: Sayur lodeh, masakan Jawa berkuah santan dengan aneka sayuran yang sangat ikonis (Badiatul Muchlisin Asti)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia


