TRAVELOG

Melacak Jejak Perusahaan Kereta Api Swasta SJS di Semarang dan Magelang

Eksistensi kantor perusahaan kereta api swasta SJS di sudut simpang empat Jalan Pengapon di Kemijen, Kota Semarang, dan eks Stasiun SJS Mayong di Grabag, Kabupaten Magelang menjadi tujuan perjalanan kali ini. Jarak keduanya 55 Kilometer atau sekitar dua jam perjalanan. Kedua peninggalan SJS masih tampak, hanya nasibnya yang berbeda. 

Kantor SJS nasibnya sangat memprihatinkan dan membahayakan daripada Stasiun SJS Mayong yang lebih hidup dan terawat. Terakhir kali saya menyambangi kantor SJS tahun 2024 dalam kondisi dikosongkan. Penurunan permukaan tanah akibat abrasi air laut membuatnya tenggelam.

Kondisi kantor SJS ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Tenggelam, terbakar, dan ditumbuhi rumput liar. Untungnya sebelum bencana kebakaran, saya sempat mengabadikan kemewahan kantor tersebut ketika ekspedisi bersama Albertus Kriswandhono dengan titik awal Kota Lama Semarang.

Kantor SJS dengan latar belakang genangan rob (Ibnu Rustamadji)
Kantor SJS dengan latar belakang genangan rob/Ibnu Rustamadji

Sepenggal Kisah SJS Semarang

Merujuk buku De Tramweg op Java dalam Gedenkboek der (SJS) Samarang Joana Stoomtram Maatschappij terbitan Kon. Ned. Boek en Kunsthandel van M.M. Couvee ‘s Gravenhage tahun 1907, diketahui upacara peletakan batu pertama pembangunan kantor kereta api swasta SJS di Kota Semarang diselenggarakan pada 1 Desember 1882, di bawah pimpinan eerste directeur Mr. H.M.A Baron van den Goes van Dirxland.

Konsesi jalur kereta api pertamanya yakni Stasiun Semarang (kini Jurnatan)–Stasiun Genuk, pada 2 Juli 1883. Jalur rel kereta api milik SJS menggunakan rel gauge 1067 mm, berbeda dengan jalur kereta api milik NIS yang menggunakan rel gauge 1435 mm. Hal ini disebabkan jalur rel kereta api NIS yang membentang di Semarang–Surakarta–Yogyakarta dan Kedungjati–Ambarawa. 

Jalur kereta api SJS pun kemudian diperpanjang hingga Stasiun Demak pada 27 September 1883. Kereta api yang digunakan SJS merupakan lokomotif trem uap sebagai sarana yang diproduksi Beyer, Peacock & Co dari Inggris dan NV. Werkspoor dari Belanda. 

Lanskap Pelabuhan Tanjung Mas Semarang dari balkon lantai dua kantor SJS (Ibnu Rustamadji)
Lanskap Pelabuhan Tanjung Mas Semarang dari balkon lantai dua kantor SJS/Ibnu Rustamadji

Setelah jalur kereta api Stasiun Semarang Jurnatan–Stasiun Juwana melalui Mayong, Jepara selesai pada 18 April 1884, pihak SJS melanjutkan proyek jalur kereta menuju Kleine Boom (Pelabuhan) Banjir Kanal Barat yang diresmikan 4 November 1899. Tanggal 1 Mei 1900, jalur kereta api milik SJS diperpanjang menuju Stasiun Lasem sebagai titik akhir setelah Stasiun Juwana.

Proyek berikutnya memperpanjang jalur kereta api komuter menuju Tayu, Welahan, Blora (melalui Purwodadi), Gundih, Kradenan, dan Cepu. Hingga tahun 1907, SJS memiliki jalur kereta api sepanjang 389 kilometer. Tahun 1914 pihak SJS mulai mengintegrasikan jalur dengan Semarang Netherland Indie Spoorweg Maatschappij yang berkantor pusat di Lawang Sewu, Semarang dan SCS (Samarang Cheribon Stoomtraam Maatschappij) di Tegal.

Dengan begitu, SJS menjadi pelopor jaringan trem di Jawa dan Indonesia. Masa kejayaan sejak akhir abad ke-19 mulai meredup hingga akhirnya terpaksa menutup layanan trem tahun 1940, karena tingginya biaya operasional dan kurangnya inovasi.

Puncak kemalangan perusahaan SJS terjadi pascakemerdekaan Indonesia. SJS gagal bersaing dengan moda transportasi modern hingga akhirnya ditutup. Lalu SJS bersama NIS, SCS, dan Staats Spoorwegen (perusahaan kereta api negara) resmi dilebur menjadi Djawatan Kereta Api Indonesia (DjKAI) tanggal 1 Januari 1946.

Bekas gedung perbaikan kereta di timur kantor SJS (Ibnu Rustamadji)
Bekas gedung perbaikan kereta di timur kantor SJS/Ibnu Rustamadji

Kantor SJS Pengapon dan Stasiun SJS Mayong Jepara, Riwayatmu Kini

Genangan rob, tanah amblas, dan rumput liar menjadi pemandangan muram selama ekspedisi di kantor SJS Pengapon. Hampir 80% halaman kantor terendam air rob cukup lama, hingga harus ditimbun berulang kali supaya gedung tidak cepat ambruk dan amblas akibat penurunan tanah.

Air rob yang menggenangi sekitar kantor SJS Pengapon berasal dari banjir pasang laut utara Semarang. Padahal, jaraknya hampir 2,2 kilometer. Banjir pasang yang terjadi berkali-kali didukung hujan lebat dan luapan saluran air di sekitarnya, sehingga memperburuk kondisi sekitar kantor SJS.

Air rob terkunci di areal Pengapon sebagai akibat tidak berfungsinya saluran air dan penurunan tanah yang cukup intensif. Menurut Kriswandhono, pengambilan air tanah dengan sumur bor yang berlebihan menjadi salah satu pemicu kuat penurunan tanah di Pengapon dan Kota Lama Semarang.

Tidak hanya kantor SJS Pengapon, rob juga merendam sejumlah bekas stasiun milik NIS, SCS, dan SS. Pun beberapa peninggalan pemerintah Belanda, seperti perusahaan kayu jati Javasche Houthandel Maatschappij di Sleko dan wilayah kampung sekitarnya.

Meski begitu, secara konstruksi kantor SJS Pengapon masih relatif utuh karena berstruktur tembok bata dengan kayu sebagai tambahan struktur di lantai dua. Sayangnya, kini kemegahan kantor tersebut semakin sirna akibat musibah kebakaran yang melanda tahun 2025.

Puas menjelajahi Kota Semarang, hari berikutnya saya putuskan untuk melanjutkan ekspedisi melacak Stasiun SJS Mayong di Mesastila Hotel dan Resort, Grabag, Kabupaten Magelang. Sesampainya di Mesastila, mata langsung tertuju bangunan kayu yang menjadi ruang resepsionis, yang menyerupai bangunan Stasiun SJS Mayong di masa lampau.

Tampak depan Stasiun SJS Mayong di Mesastila. Terlihat pintu loket di ujung kiri bangunan (Ibnu Rustamadji)
Tampak depan Stasiun SJS Mayong di Mesastila, Grabag, Magelang. Terlihat pintu loket di ujung kiri bangunan/Ibnu Rustamadji

Mengacu pada prasasti di samping pintu masuk, stasiun ini dibangun tahun 1873 sebagai stasiun utama rute Demak–Jepara. Selain untuk mengakomodasi penumpang, juga mempermudah pengiriman barang dan jasa dari dan menuju perusahaan gula atau perkebunan kayu jati di sekitar wilayah yang dilalui.

Berdasarkan buku Engineers of Happy Land karya Rudolf Mrázek, R.A. Kartini sangat bangga dengan hadirnya Stasiun Mayong di Jepara, meski untuk menaikinya tidaklah mudah. Ia harus menempuh perjalanan jauh dengan gerobak kuda dan tidak bisa setiap hari, walau hanya sekadar rute Jepara–Semarang dan sebaliknya.

Trem SJS di Stasiun Mayong juga jadi tempat Kartini bersua dengan masyarakat bumiputra Jepara, mendengar keluh kesah mereka, dan menerima tamu kenegaraan yang akan berjumpa orang tuanya. Bahkan setiap kali menaiki trem, ia merasa bahagia hingga mengambarkan sebagai tempatnya berjumpa dengan sang kekasih.

Setelah SJS menutup seluruh jalur kereta apinya, Stasiun SJS Mayong pun akhirnya terpuruk dan terbengkalai puluhan tahun, hingga puncaknya pada 2001. Naas, tapi begitulah yang terjadi. 

Gedung stasiun yang awalnya berlokasi di Pelemkerep, Mayong, Jepara ini, dibongkar hingga akhirnya dibeli oleh Gabriella Tegia, pemilik Mesastila. Pihaknya kemudian membangun ulang sebagai ruang resepsionis Mesastila Hotel dan Resort, menempati bekas stenen landhuis atau rumah batu di tengah taman (perkebunan) milik Van Der Swan di Grabag.

Eks kediaman Van Der Swan di Grabag yang kini menjadi aset Mesastila Hotel & Resort (Ibnu Rustamadji)
Eks kediaman Van Der Swan di Grabag yang kini menjadi aset Mesastila Hotel & Resort/Ibnu Rustamadji

Tenggelamnya Monumen Kejayaan SJS

Terendamnya kantor SJS Pengapon Semarang adalah bukti nyata lemahnya mitigasi serta pengawasan terhadap kondisi lingkungan dan peninggalan warisan budaya yang butuh perhatian khusus. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat pendukungnya.

Jika salah satunya mati, tentu akan mematikan bagi lainnya. Ibarat uroboros, ular yang memakan dirinya sendiri hingga akhirnya membunuh diri sendiri. Meski begitu, patut disyukuri keberadaan salah satu stasiunnya, yakni Stasiun SJS Mayong, masih mampu diselamatkan dari pembongkaran total untuk dijual kiloan. 

Berdasarkan salah satu pasal UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, masyarakat umum dapat mengelola bahkan memiliki cagar budaya meski harus memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Salah satunya dapat menghidupkan kembali cagar budaya yang dimiliki, tetapi tidak diperbolehkan untuk menambahi hingga membongkar tanpa dilakukan upaya penyelamatan.

Ruang pegawai tiket kini sebagai ruang resepsionis Mesastila Hotel (Ibnu Rustamadji)
Ruang pegawai tiket kini sebagai ruang resepsionis Mesastila Hotel/Ibnu Rustamadji

Upaya yang dilakukan Mesastila Hotel, tidak menyalahi undang-undang. Mesastila malah menjadikan warisan tersebut kembali dapat menghidupi diri sendiri. Berbanding terbalik dengan kantor SJS Pengapon yang sangat membutuhkan perhatian khusus tidak hanya pemangku wilayah, tetapi juga semua pihak—terutama masyarakat sekitar.

Sebab, keberadaan kantor SJS Pengapon tersebut merupakan monumen hidup eksistensi perusahaan Samarang-Joana Stoomtraam Maatschappij di Pengapon, Kemijen, Kota Semarang. Ibarat anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang sang ibu, jika dibiarkan hidup sendiri tanpa ada perhatian tentu hidupnya tidak akan menentu ke depannya. 

Hanya waktu dan kita sendiri yang bisa melakukan upaya penyelamatan, atau malah menghilangkan. Banjir rob kecil kemungkinan terjadi jika eksploitasi air tanah tidak berlebihan. Namun, jika terjadi sebaliknya, pesisir laut utara Semarang tentu perlahan akan tenggelam ke dasar laut.

Banjir sejatinya tidak bisa dihindari, tetapi bisa dicegah dengan melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi. Lalu tidak melakukan eksploitasi alam secara berlebihan, yang tidak hanya menghilangkan peradaban dan warisan budayanya saja, tetapi juga meninggalkan kenangan pahit.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Jejak Keluarga Rudolph Louis d’Abo dan Johannes Agustinus Dezentje di Jawa Tengah (1)