TRAVELOG

Menelisik Jejak Pers di Pecinan Semarang

Selama ini aku hanya mengetahui Sayuti Melik sebagai tokoh yang mengetik naskah Proklamasi 17 Agustus 1945. Ternyata jauh sebelum masa kemerdekaan—tepatnya masa kolonial Hindia Belanda—Sayuti Melik dikenal sebagai tokoh pers. Bahkan dia bersama istrinya, S.K. Trimurti, mendirikan sebuah surat kabar yang bernama Pesat di Semarang.

Pagi itu aku berada di Rumah PoHan untuk mengikuti kegiatan Jelajah Sejarah Semarang yang mengangkat cerita tentang “Jejak Sejarah Pers di Pecinan Semarang”. Terlihat puluhan puluhan peserta yang akan mengikuti kegiatan ini. Mereka tampak antusias, meskipun pagi ini Semarang masih diguyur gerimis sisa hujan semalam. 

Dari puluhan peserta, aku bertemu dengan beberapa orang yang aku kenal, salah satunya Mas Arry. Dia adalah seorang pegiat wisata di Kota Semarang. Kami menyukai walking tour. Oleh sebab itu, kami menganggap cerita tentang perkembangan pers di Pecinan, Semarang menarik perhatian kami. Jarang sekali ada yang membahas tentang cerita sejarah ini.

Para peserta walking tour di salah satu gang di Pecinan Semarang (Rivai Hidayat)
Para peserta walking tour di salah satu gang di Pecinan Semarang/Rivai Hidayat

Melihat Surat Kabar Lawas

Kegiatan Jelajah Sejarah Semarang ini merupakan hasil kolaborasi dari EIN Institute, Rumah PoHan, Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang, Pewarta Foto Indonesia Semarang, dan Pokdarwis Kranggan. Kegiatan ini juga diadakan dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari.

Rumah PoHan menjadi titik awal perjalanan kami. Kak Yvonne sebagai pemandu memberikan arahan dan penjelasan tentang perkembangan surat kabar di Pecinan. Kegiatan penelusuran “Jejak Sejarah Pers di Pecinan Semarang” diceritakan berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Kak Yvonne.

Selain itu, di Rumah PoHan kami mendapat kesempatan untuk melihat beberapa surat kabar lawas yang dipamerkan oleh panitia acara. Kualitasnya masih bagus. Tulisan terbaca dengan jelas. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar. Aku kagum melihat kondisinya yang masih baik. Merawat dokumen lawas bukanlah pekerjaan yang mudah. Butuh komitmen yang tinggi untuk merawatnya.

Melihat surat kabar zaman dahulu yang dipamerkan/Rivai Hidayat

Kami dilarang menyentuh surat kabar tersebut. Surat kabar ini berusia lebih dari 50 tahun. Sangat berisiko jika dipegang secara sembarangan. Beberapa surat kabar yang dipamerkan antara lain Warna Warta, Soeara Semarang, Djawa Tengah, SODA, dan Nansing. Surat kabar tersebut dulunya memiliki kantor redaksi di kawasan Pecinan, Semarang.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Kelenteng Tay Kak Sie yang ada di Gang Lombok, Pecinan. Dari kelenteng ini kami akan berjalan kaki di dengan menyusuri Jalan Gang Pinggir. Jalan ini merupakan jalan utama di kawasan Pecinan.

Tak berselang lama, kami berhenti di depan kantor sebuah bank. Kak Yvonne menjelaskan bahwa bank tersebut dulunya merupakan bekas kantor redaksi surat kabar Makmoer. Surat kabar ini terbit pada tahun 1936 dan hanya terbit setiap satu bulan sekali.

Kak Yvonne juga mengajak kami untuk menelusuri bekas kantor redaksi lainnya yang ada di Pecinan, seperti Soeara Semarang, Djawa Tengah, Sorot, Nan Sing, SODA, dan Warna Warta. Bentuk asli kantor redaksi surat kabar tersebut tidak terlihat lagi dan telah beralih fungsi menjadi sebuah kantor, tempat usaha, bank, atau tempat tinggal.

Kiprah Kwa Wan Hong

Surat kabar berkembang di Pecinan sekitar tahun 1902 hingga 1942. Terbit secara harian, mingguan, dan bulanan. Surat kabar di Pecinan ditulis dalam bahasa Melayu. Tujuannya untuk menjangkau berbagai kalangan masyarakat secara luas. Perkembangan surat kabar juga didukung dengan berkembangnya industri percetakan di Pecinan.

Perkembangan surat kabar di Pecinan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sosok Kwa Wan Hong. Seorang pengusaha pabrik es balok yang kemudian mendirikan perusahaan percetakan yang diberi nama Hap Sing Kong Sie pada tahun 1901. Percetakan ini menjadi pusat produksi media cetak, meliputi: buku, syair, dan materi surat kabar.

Pada tahun 1902, Kwa Wan Hong mendirikan surat kabar bernama Warna Warta. Hap Sing Kong Sie berperan sebagai pengelola dan penerbit surat kabar Warna Warta. Perusahaan percetakan dan surat kabar ini menjadi bagian penting dalam sirkulasi informasi dan budaya komunitas Tionghoa di Semarang.

Pecinan terletak di kawasan yang strategis juga memengaruhi pesatnya perkembangan surat kabar. Selain itu, Pecinan menjadi pusat perdagangan yang mempertemukan orang-orang dari berbagai etnis dan kalangan. Di sisi lain, etnis Tionghoa memiliki kemampuan baca tulis yang cukup baik sehingga surat kabar dimanfaatkan untuk sarana berekspresi, berbagi informasi dan menyampaikan pendapat, serta kritik sosial.

Satu hal yang aku suka dari dalam kegiatan pagi ini adalah terbukanya ruang diskusi antara Kak Yvonne dengan para peserta. Banyak hal yang ditanyakan oleh peserta, khususnya yang berkaitan dengan pers dan surat kabar di Pecinan. Mulai dari proses produksi, berita, jumlah halaman, hingga sirkulasi iklan di surat kabar pada masa itu. Hal ini membuat penelusuran menjadi lebih hidup dan akrab.

Foto perusahaan percetakan Hap Sing Kongsie (Rivai Hidayat)
Foto perusahaan percetakan Hap Sing Kongsie/Rivai Hidayat

Sayuti Melik dan Pers

Kami melanjutkan perjalanan menuju Jalan Sidorejo. Meninggalkan Kelenteng Tay Kak Sie dan kemudian menyusuri Jalan Petudungan dan tembus di Jalan M.T. Haryono. Dahulu Jalan Sidorejo dikenal dengan nama Gang Kebon Tjina.

Jalan Sidorejo seperti sebuah gang pada umumnya. Area permukiman warga, jalan yang tidak lebar. Namun, ramai dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Aku berkeyakinan, sebagian besar warga sini tidak mengetahui bahwa di gang ini pada masa lalu pernah berdiri kantor redaksi surat kabar yang dimiliki oleh Sayuti Melik—seorang pahlawan nasional.

Muhammad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal dengan nama Sayuti Melik dan S.K. Trimurti, istrinya, mendirikan surat kabar Pesat di Semarang pada tahun 1939. Pesat terbit setiap hari Kamis.

Menurut beberapa sumber, Sayuti Melik mengawali karier sebagai pers pada tahun 1923. Tulisannya mengenai politik kerap menyebabkan dia ditangkap dan ditahan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Nama ‘Melik’ merupakan nama samaran yang digunakan ketika menulis artikel di Pesat.

Sementara itu, S.K. Trimurti merupakan seorang penulis dan wartawan. Nama aslinya adalah Surasti, tapi ia selalu menggunakan nama samaran ‘Karma’ dan ‘Trimurti’ ketika menulis artikel di surat kabar. Hal ini dilakukan untuk menghindari penangkapan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Kak Yvonne menjelaskan, Sayuti Melik dan S.K. Trimurti sering bertukar peran dalam menulis. Hal ini bertujuan untuk menghindari dan mengurangi potensi tertangkap secara bersamaan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Keduanya memanfaatkan Pesat untuk menyuarakan kritik terhadap kolonialisme.

Saat ini lokasi bekas kantor redaksi Pesat telah berganti menjadi sebuah ruko. Tidak ada penanda bahwa di lokasi ini pernah ada surat kabar yang didirikan oleh Sayuti Melik dan S.K. Trimurti. Dua pahlawan nasional yang berkecimpung di dunia pers. Jalan Sidorejo menjadi lokasi terakhir perjalanan kami.

Setelah kegiatan ini, aku menyadari bahwa selain surat kabar De Locomotief—kantor redaksi di kawasan Kota Lama—ternyata ada banyak surat kabar yang terbit di Kota Semarang pada masa lalu. Kemudian kawasan Pecinan juga hadir dan menjadi bagian penting dalam sejarah pers di Kota Semarang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Avatar photo

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Cerita dari Pasar Jatingaleh