TRAVELOG

Tuhan Tak Kalah di Riuh Jalan Surabaya

Surabaya, pada mulanya hanya sebuah kemah sementara dalam peta perjalanan saya—sebuah titik singgah sebelum KM Kirana VII membawa saya berlayar menuju Lombok. Ketika turun dari kereta Sri Tanjung asal Madiun dan menjejak peron Stasiun Gubeng (9/1/2026), status kota ini di kepala saya murni hanya sebatas ruang tunggu. Tetapi saya percaya, kota-kota—seperti orang-orang—punya cara untuk membuktikan bahwa kita salah tentang mereka.

Saya sengaja meregangkan transit ini menjadi tiga hari dengan satu niat: membaca lapisan sejarah di kota ini.

Menghadapi matahari Surabaya yang terkenal ganas itu, saya tidak bertaruh sendirian. Gading dan Prasojo sudah siap pasang badan. Mereka ini sahabat sejati saya dari kampung halaman di Ponorogo. Empat tahun merantau di Surabaya agaknya sudah cukup untuk mengubah logat Ponoragan mereka menjadi lebih lugas dan keras. Mereka adalah kompas perjalanan saya; dua orang yang sudah tamat memetakan Surabaya—mulai dari kantong-kantong Bonek, hingga gang-gang kecil menuju sisa-sisa kejayaan Dolly. Semuanya terpatri di luar kepala.

Lalu lintas Surabaya siang hari di perempatan Kenjeran (Kind Shella)
Lalu lintas Surabaya siang hari di perempatan Kenjeran/Kind Shella

Meja Lengket Ramonez dan Filosofi “Atos-atosan”

Bagi saya, malam pertama di Surabaya adalah peristiwa yang intim. Kami menepi di Warkop Ramonez, Jojoran. Duduk sembari menyesap kopi susu, bertukar cerita tentang ulang-aliknya hidup, serta membiarkan telinga menangkap sahut-sahutan percakapan khas Arek Suroboyoan. Di tengah riuh rendah suara knalpot dan tawa pengunjung warkop yang saling menimpali, lirik lagu Silampukau – Malam Jatuh Di Surabaya kemudian menemukan wujud aslinya: “Tuhan kalah di riuh jalan”. Malam benar-benar jatuh di Surabaya, membawa serta segala kelelahan kelas pekerja kota ini.

Formasi kami malam itu: Gading sang pengamat yang irit bicara, dan Prasojo yang akhirnya melepas katup kepalanya setelah sekian lama menahan letih. Sebagai orang pemasaran merek elektronik raksasa di Jawa Timur, gaya bicara Prasojo sama persis dengan tabiat kota ini: gaspol, tanpa tedeng aling-aling.

“Di sini pantang bertele-tele. Butuh apa, ngomong saja langsung, apa adanya, apa butuhnya,” ujarnya sambil mengaduk kopinya. Ia tertawa, tapi raut wajahnya gagal menyembunyikan kelelahan. Dari ceritanya, saya beranggapan jika memang kota ini punya watak.

Prasojo mengaku sudah kebal dengan macet. Mentalnya sudah beradaptasi. “Kuncinya di sini adalah satu, atos-atosan,” cetusnya. Atos, bukan sekadar keras, melainkan soal resiliensi. Tahan banting, pantang mundur. Dan itu berlaku di mana pun, tanpa tebang pilih: di jalan raya, di tempat kerja, hingga di ujung lidah warganya.

Di jalanan, adu urat leher menjadi semacam sarapan sehari-hari. Saling serobot, beradu lengking klakson, hingga bentak-bentakan menjadi lumrah. Namun, tidak semuanya dibawa tegang. Ketegangan di lampu merah—saat klakson bertalu-talu bahkan sebelum lampu hijau menyala—biasanya langsung disemprot teriakan dongkol: “Yen kesusu budhalo wingi, Mas!” Gading tiba-tiba menyahut dengan senyum jahil, melempar kalimat tandingannya yang kini sedang tren: “Iki aku otw tak nggo sesuk, Mas!” Di meja warkop itu, kerasnya jalan raya ujung-ujungnya larut menjadi kelakar yang membuat tawa kami terbahak.

Begitu tawa perlahan surut dan menyisakan ampas di dasar gelas, obrolan kami beralih haluan. Dari meja warkop yang lengket itu, saya menaruh curiga bahwa watak “atos-atosan” yang diceritakan Prasojo bukan sekadar urusan jalanan atau dunia kerja. Lebih jauh dari itu, kota ini sepertinya memang dibentuk oleh sejarah yang panjang.

Malam mulai larut saat Prasojo pamit undur diri. Saya menumpang di kamar indekos Gading di sekitar Kenjeran. Di sana, udara dipenuhi perpaduan aroma laut yang sedikit anyir beradu dengan polusi knalpot kota—sebuah identitas visual dan aroma yang melekat erat pada kawasan tersebut. Gading terbukti menjadi tuan rumah yang tulus, sekaligus pemandu yang menggaransi bahwa saya tidak akan tersesat. Dalam tiga hari penuh. Saya sungguh merasa beruntung.

Panel sejarah asal-usul nama Surabaya (Kind Shella)
Panel sejarah: asal-usul nama Surabaya/Kind Shella

Jejak Demarkasi dan Memori Kolonial

Esok harinya, saya dan Gading memulai penelusuran di Kota Lama. Saya membuka kembali catatan-catatan yang saya ingat tentang Bumi Manusia. Novel Pramoedya itu berlatar Surabaya akhir abad ke-19, dan saya biasa membacanya sebagai roman pencerahan—tentang Minke, pemuda Jawa yang belajar menggugat dunia lewat tulisan dan pertama kali diempas oleh realitas modernitas Eropa dan feodalisme pribumi. Ada Wonokromo yang menjadi saksi pergolakan batinnya. Saya membacanya ulang, dalam konteks ini sebagai sesuatu yang lain: peta. 

Pemerintah kota telah menata kawasan ini semacam museum terbuka. Di sepanjang trotoar, arsip sejarah dipajang untuk publik. Saya berhenti lama di depan panel yang membongkar mitos asal-usul nama Surabaya.

Rupanya, sebelum cerita rakyat tentang perkelahian hiu dan buaya populer, nama Surabaya sudah tercatat dalam Prasasti Canggu tahun 1358. Ia berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “Berani Melawan Bahaya”—sebuah desa tepi sungai yang di abad ke-17 sempat menjadi kerajaan independen yang membuat Mataram kewalahan.

Bergeser pada panel yang lain, saya menelusuri narasi bagaimana Mataram gagal berkali-kali menundukkan Surabaya, hingga akhirnya kota ini takluk pada 1625. Namun, fragmen yang paling menyesakkan adalah saat membaca bagaimana kota ini akhirnya diserahkan oleh Mataram kepada Belanda sebagai alat bayar utang perang. Sebuah bantuan VOC yang tidak pernah gratis.

  • Replika mobil AWS Mallaby pasca meledak (Kind Shella)
  • Pabrik Limoen era kolonial yang masih berdiri dan beroperasi (Kind Shella)

Palagan Berdarah dan Ironi Siropen

Tidak jauh dari sana, ada instalasi replika mobil AWS Mallaby yang hangus. Narasi arus utama sering menempatkan kematian Mallaby sebagai “pemantik” pertempuran neraka 10 November. Tapi bagi saya, peristiwa itu lebih menyerupai titik didih dari ketegangan yang sudah lama menumpuk. Semacam sebuah reaksi dari masyarakat yang menolak diinjak (lagi).

Dari sana, saya melangkah ke bantaran sungai di dekat Jembatan Merah. Kalimas siang itu airnya kecokelatan dan tenang. Namun, jika kita memicingkan mata dan membiarkan imajinasi mengambil alih, sungai ini menyimpan memori yang cukup chaos. Saya berdiri di bantaran, membayangkan tongkang-tongkang VOC yang sarat muatan rempah merayap pelan di abad ke-17, membawa komoditas yang akan mendanai kemewahan Amsterdam. Imajinasi itu kemudian melompat ke tahun 1945, ketika sekitar jembatan ini menjadi palagan berdarah yang udaranya pekat oleh pekik merdeka, bau anyir, dan mesiu.

Tiga lapisan waktu, satu aliran air.

Barangkali itulah yang melahirkan mentalitas masyarakatnya yang atos, keras, dan lugas. Sifat ceplas-ceplos dan tanpa basa-basi (apa adanya!) juga bisa diartikan sebagai mekanisme bertahan di sebuah kota yang tumbuh dari keringat buruh pelabuhan dan nyali para pedagang. Semacam kawah candradimuka yang menempa Arek Suroboyo menjadi pribadi yang tidak terlalu suka retorika. Lebih ke tindakan yang langsung menghunjam ke jantung persoalan.

Selesai berkhayal di pinggir sungai, Gading, yang sedari awal juga sibuk atas pembacaannya sendiri, menyeret saya ke sebuah gedung tua di Jalan Mliwis: Pabrik Limoen J.C. van Drongelen (1923). Mereka masih memproduksi sirop dengan merek Siropen hingga hari ini. Di masa kolonial, botol-botol sirop ini adalah sajian elite Belanda di pesta-pesta dansa. Manisnya sirop di tenggorokan meneer Belanda dibayar lunas oleh keringat darah kuli-kuli tebu yang diupah murah.

Memasuki Kembang Jepun, kawasan yang di masa Jepang dipenuhi catatan akan derita perempuan-perempuan yang dipaksa menjadi Jugun Ianfu atau melayani tentara Dai Nippon, kini, sepanjang jalan tersebut dihiasi oleh lampion merah yang menggantung dan ornamen naga memanjang, sisa-sisa perayaan dari kawasan Kya-Kya yang dihidupkan kembali. Kami hanya berjalan menyusuri trotoarnya yang padat, menghindari tumpukan barang dari toko-toko grosir yang sibuk bongkar muat.

Tumpukan buku di kios-kios Kampung Ilmu (Kind Shella)
Tumpukan buku di kios-kios Kampung Ilmu/Kind Shella

Matahari Terbenam di Kampung Ilmu 

Menjelang sore, Gading membawa saya ke Kampung Ilmu di Jalan Semarang. Buku-buku bertumpuk sampai menyentuh langit-langit. 

Di kota yang dikenal keras dan pragmatis, ada pasar yang khusus menjual pengetahuan. Kampung Ilmu tidak glamor, ruko-ruko berderet dengan buku-buku yang dipajang tanpa kurasi estetis. Tapi ia ada, dan sudah lama ada. Mungkin atos juga punya versi intelektualnya.

Gading langsung masuk dan menghilang di antara rak, lalu muncul kembali sambil menunjukkan sebuah buku lama tentang Surabaya yang ia tebus murah. Kami menutup hari dengan soto ayam dan es teh. Gading bicara sedikit tentang rencana-rencananya. Saya mendengarkan, menyimpan utang rasa yang tidak akan cukup dilunasi dengan kata-kata.

Malam mulai merangkak di Jalan Semarang. Magrib hampir tiba. Saya mendengar Syi’ir Tanpo Waton, suluk yang pertama kali menyapa saya di Kenjeran dan diputar lima kali sehari, setiap hari, tanpa pengecualian. Tidak sekadar menjadi pengingat salat, saya kira. Juga tentang asal-usul. Kota yang pernah dijual, pernah dibelah, pernah dibakar dalam pertempuran yang seharusnya tidak perlu terjadi, mungkin memang perlu terus mengingatkan dirinya sendiri: dari mana ia berasal, dan apa yang pernah ia pilih untuk dipertahankan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Kind Shella

Kind Shella, seorang pegawai swasta yang kelewat batas menyukai keindahan. Selain bekerja, ia juga tergabung dan aktif belajar semesta keredaksian di Penerbit Kobuku.

Kind Shella

Kind Shella, seorang pegawai swasta yang kelewat batas menyukai keindahan. Selain bekerja, ia juga tergabung dan aktif belajar semesta keredaksian di Penerbit Kobuku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Ziarah Pagi ke Makam Sunan Ampel Surabaya (1)