EVENTSSIARAN PERS

BEKAL MAPAN: Wadah Suara Petani dan Nelayan Demi Ketahanan Pangan Indonesia

  • Selama dua hari, BEKAL MAPAN menjadi ruang diskusi bagi petani, nelayan, pemerintah, peneliti, dan masyarakat untuk membahas kesejahteraan pelaku pangan serta tantangan masa depan pangan Indonesia.
  • Acara ini turut menghadirkan penayangan publik perdana film dokumenter “Besok Kita Nanem Lagi”, yang menyoroti ketangguhan petani lintas generasi dalam
    menghadapi tantangan usaha dan menjaga keberlanjutan pangan.
  • Melalui diskusi, workshop, hingga pameran foto, BEKAL MAPAN menegaskan pentingnya menghadirkan suara petani dan nelayan dalam pembahasan kebijakan
    untuk masa depan pangan Indonesia.

Sardi, petani asal Bekasi, menyampaikan pandangannya mengenai tantangan keberlangsungan pangan yang dialami oleh petani sebagai garda terdepan pangan nasional/CIPS
Sardi, petani asal Bekasi, menyampaikan pandangannya mengenai tantangan keberlangsungan pangan yang dialami oleh petani sebagai garda terdepan pangan nasional/CIPS

JAKARTA, 23 Mei 2026 — Pemberdayaan petani dan nelayan melalui perbaikan akses pasar, kebebasan berusaha, dan perlindungan hak kepemilikan lahan adalah kunci untuk
mewujudkan ketahanan pangan Indonesia. Sayangnya, saat ini masih terdapat sejumlah kendala untuk mewujudkan kesejahteraan petani dan nelayan, antara lain terkait kebijakan, serta terbatasnya inovasi dan regenerasi di sektor pertanian. Inilah benang merah dalam rangkaian kegiatan dalam BEKAL MAPAN (Bersama Kawal Masa Depan Pangan), sebuah inisiatif yang digelar Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 22–23 Mei 2026.

Selama dua hari, acara ini menjadi wadah dialog bagi masyarakat, pemerintah, peneliti, petani, nelayan, hingga generasi muda untuk memahami lebih jauh tantangan yang masih dihadapi para pejuang pangan Indonesia.

Keberpihakan Kebijakan Lebih Penting bagi Petani dan Nelayan Kecil

Kepala Peneliti CIPS, Aditya Alta, menjelaskan kebijakan pangan perlu semakin berpihak pada keberlanjutan usaha petani dan nelayan. Ia mencontohkan pentingnya memastikan akses terhadap pupuk yang berkualitas dan tepat sasaran, alih-alih hanya berfokus pada keterjangkauan harga.

“Berbicara soal subsidi pupuk, bukan berarti kita tidak butuh pupuk murah. Jelas, pupuk terjangkau kita semua butuh. Namun, yang perlu dievaluasi adalah ketepatan sasaran
penerima subsidi,” ujar Aditya Alta di Taman Ismail Marzuki, Jumat (22/5).

Selain isu pertanian, kesejahteraan nelayan juga menjadi perhatian penting dalam BEKAL MAPAN. Dalam sesi “Sistem Kuota Pengelolaan Perikanan: Perlukah Demi Masa Depan Pangan?”, Jan Tuheteru dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyoroti masih terbatasnya keberpihakan kebijakan terhadap nelayan kecil, yang dinilai masih menghadapi kerentanan dan akses pelindungan yang belum merata.

“Jika kita membicarakan soal kesejahteraan nelayan kita, baik skala kecil maupun profesional, sampai pada titik ini kami perlu menyampaikan bahwa kebijakan itu tidak
memberikan keberpihakan pada nelayan kecil dan tradisional. Kemiskinan ekstrem masih terjadi di wilayah ekstrem,” ungkap Jan.

Pemutaran film dokumenter "Besok Kita Nanem Lagi" di BEKAL MAPAN (CIPS)
Pemutaran film dokumenter “Besok Kita Nanem Lagi” di BEKAL MAPAN/CIPS

Pemutaran Film Dokumenter dan Pameran Foto

BEKAL MAPAN juga menghadirkan suara langsung dari petani sebagai pihak yang berada di garis depan sistem pangan nasional. Sardi, petani beras dari Kabupaten Bekasi,
menyoroti bahwa di tengah berbagai tantangan, mulai dari risiko gagal panen hingga tingginya biaya produksi, petani tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga
keberlangsungan pangan bagi masyarakat luas.

Menurutnya, di balik berbagai tantangan yang dihadapi, petani terus menjaga keberlangsungan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas.

“Petani itu untuk hajat hidup orang banyak. Bahkan, selagi masih ada orang hidup, petani akan tetap berjalan. Petani itu sosok manusia tangguh. Gagal panen, nanem lagi,” ujar
Sardi.

Suasana pameran foto "Suara MAPAN" di BEKAL MAPAN (CIPS)
Suasana pameran foto “Suara MAPAN” di BEKAL MAPANCIPS

Selain menghadirkan diskusi dan pemutaran film dokumenter, BEKAL MAPAN juga menggelar pameran foto “Suara MAPAN” yang menampilkan potret serta kisah petani dan
nelayan dari berbagai daerah di Indonesia.

Pameran ini menjadi ruang bagi publik untuk melihat lebih dekat realitas, tantangan, serta harapan para pejuang pangan Indonesia. BEKAL MAPAN menjadi bagian dari rangkaian inisiatif MAPAN (Masa Depan Pangan) yang diinisiasi CIPS untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai kesejahteraan petani, nelayan, dan masa depan pangan Indonesia.

Inisiatif ini akan terus berlanjut melalui berbagai kampanye dan kegiatan yang menempatkan petani dan nelayan sebagai aktor utama, sehingga suara dan harapan mereka dapat menjadi bagian penting dalam pembahasan kebijakan pangan yang lebih adil dan tepat sasaran.


Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)

CEO CIPS Anton Rizki dapat dihubungi melalui Feraldi (089603612731)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar photo

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Petani dan Nelayan Indonesia Terus Berjuang di Tengah Kebijakan yang Membatasi