INTERVAL

Biennale Jatim XI: Hantu Laut Bergentayangan di Pesisir Industri

Jauh di pesisir paling timur Pulau Jawa, berdiri sebuah kota yang dirancang untuk menopang kebutuhan industri berskala nasional. Hampir setiap jam kapal-kapal tanker lalu-lalang mengepungnya, pabrik kilang semen mengepul tanpa jeda, bau amoniak serta rembesan oli seperti melumasi jalanan kampung.

Lanskap tersebut tidak sekadar membentuk panorama di sekitarnya, tetapi juga memengaruhi pola keseharian. Hari-hari di pesisir utara kota ini adalah hari-hari paling padat ketika ritme kehidupannya ditandai oleh bunyi mesin, truk-truk logistik, serta udara yang kian berat untuk dihirup.

Bale Celek, kampung nelayan di pesisir utara Gresik (Mohamad Ichsanudin Adnan)
Bale Celek, kampung nelayan di pesisir utara Gresik/Mohamad Ichsanudin Adnan

Kehidupan Pesisir yang Berat

Di satu garis pantai yang sama, warga pesisir utara bernegosiasi dengan situasi tersebut. Nelayan kampung yang selama ini mengandalkan kapal kecil, berebut tempat dengan kapal-kapal tanker di lautan lepas. 

Sumber penghidupan yang dulu dekat, kini terasa menjauh. Tangkapan yang dulu bisa diraih dalam hitungan jam, kini menuntut perjalanan berjam-jam lamanya. Alhasil para nelayan mesti menempuh ke tengah laut untuk sekadar mendapatkan ikan dan udang yang pelan-pelan mengalami penyingkiran ruang hidup.

Sebuah kota yang dirancang untuk menopang kebutuhan industri, nyatanya telah memicu banyak persoalan. Sampah, kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, seperti menjadi kewajaran yang barangkali kadung ditampik bertahun-tahun lamanya. 

Dalam konteks itulah Biennale Jatim XI hadir di kota Gresik pada tahun 2025 lalu. Ia bukan sekadar menghadirkan peristiwa seni, melainkan juga sebagai medium artikulasi atas persoalan yang kerap luput. 

Mengusung tema “Hantu Laut”, Biennale Jatim seperti membuka ruang bagi hal yang selama ini luput dari perhatian. “Hantu” di sini bukan semata sebagai entitas mistis, melainkan metafora bagi jejak-jejak kerusakan, ingatan ekologis, hingga ancaman krisis yang terus bergentayangan, meski tak terlihat secara kasatmata. 

Di hadapan industri besar, tema tersebut seolah mengajak kita untuk berhadapan dengan sesuatu yang belum usai. Perbincangan mengenai pencemaran laut, ruang hidup yang terdesak, serta relasi manusia dengan alam yang kian rapuh.

”Hantu Laut” menggiring kita pada kesadaran bahwa apa yang “bergentayangan” itu bukanlah sesuatu yang jauh dan asing, melainkan bagian dari laku sehari-hari yang kerap kita abaikan. Di sini seniman tidak cukup sekadar menghadirkan bentuk artistik, tetapi juga perlu untuk memantik kegelisahan. 

Roh Laut karya Halid Mustapa (Mohamad Ichsanudin Adnan)
“Roh Laut” karya Halid Mustapa/Mohamad Ichsanudin Adnan

Manifestasi Paling Sunyi dari Hantu

Salah satu karya seniman Biennale Jatim XI yang berhasil mengusik kegelisahan tersebut adalah “Roh Laut” karya Halid Mustapa (mix media, 2024). Menggunakan material sederhana, ia merakit sebuah bambu dan menguntai tali kapal yang kusut, menjadi sebuah perahu sederhana yang tampak sedang karam. 

Komposisi bentuk demikian membawa karya Halid merefleksikan ulang sebuah tragedi. Bukan ketika kapal itu berlayar menjauh dari bibir pantai, melainkan saat ia telah kehilangan arah, fungsi dan mungkin juga harapan.

Di sini pemilihan material menjadi kunci bagaimana sebuah ide sederhana menjadi gangguan ketika berada di tangan Halid. Sebuah limbah nelayan yang membawa keringat, bau garam, serta tumpahan oli di lautan lepas yang seharusnya digunakan untuk menangkap ikan, justru tampak menahan sebuah bangkai kapal.

Komposisi bentuk tersebut menciptakan asosiasi terbalik antara alat tangkap dan kondisi tertangkap. Bangkai kapal yang telah lama karam, menjadi jejak sejarah terhadap rapuhnya relasi manusia dengan ekologi pesisir yang semakin terdesak.

Gestur visualnya pun tak kalah pentingnya. Ukuran kapal yang kecil—nyaris tenggelam dalam lilitan jaring seperti menciptakan rasa tak berdaya. Tidak ada kehebatan maritim sebagaimana yang diajarkan dalam sejarah. Hanya ada kerapuhan dan ketidakstabilan yang sewaktu-waktu akan runtuh.

Akan tetapi, Halid Mustapa tampaknya belum mau berhenti pada karya tersebut. Pada satu kesempatan yang sama, ia justru menggeser konteks karyanya menjadi lebih tajam: memasuki salah satu rumah warga kelas atas yang terdapat di Kampung Kemasan. 

Di salah satu ruang terbengkalai yang dahulu pernah dihuni oleh keluarga priayi, Halid menghadirkan karya “Sesak” (mix media, 2025). Sebuah intervensi yang sedari awal telah menegaskan ketegangan antara kenyamanan privat dengan ancaman yang tak kasatmata.

Menggunakan modus yang sama, kali ini Halid memilih jaring nelayan yang telah kusut. Sebuah gumpalan jaring yang biasanya terbentang di lautan lepas, kini digantung dan dibiarkan mengambang di langit-langit ruangan, menyerupai gumpalan asap yang menggantung dan perlahan merayap ke kamar tidur. 

Di tangan Halid, asap industri kelas kakap yang mengepung melalui cerobong pabrik, bertransformasi menjadi “hantu” yang menyelinap diam-diam ke ruang hidup sehari-hari. Rumah atau bahkan kamar tidur yang seharusnya menjadi ruang aman, justru menjadi saksi bagaimana invasi industri bisa sewaktu-waktu dapat merembes tanpa izin. Meninggalkan jejak yang sulit diusir dan terus bergentayangan.

Dengan demikian, karya ini tidak hanya berbicara tentang polusi sebagai isu ekologis, tetapi juga pengalaman intim yang menembus batas antara dunia luar dengan ruang privat.

“Sesak” karya Halid Mustapa/Mohamad Ichsanudin Adnan

Hantu-Hantu yang Bergentayangan

Dua Karya Halid Mustapa tersebut memperlihatkan satu benang merah yang kuat. Benang merah tersebut barangkali dapat dilihat dari satu pernyataan reflektif: bagaimana laut dan industri tidak lagi berdiri sebagai dua entitas yang terpisah, melainkan saling menekan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada karya “Roh Laut”, kita dihadapkan pada residu dari relasi yang telah rusak, yaitu laut tidak lagi menjadi ruang penghidupan yang utuh. Sementara dalam karya “Sesak”, residu tersebut justru bergerak masuk, menyelinap ke ruang domestik sebagai ancaman yang perlahan bergentayangan di sudut kamar kita.

Dengan demikian, Halid tidak sekadar merepresentasikan krisis ekologis, tetapi juga memindahkan cara kita mengalami. Dari sesuatu yang mungkin terlampau jauh dan besar, kemudian merembes menjadi sesuatu yang paling intim. Halid seperti mengiring kita untuk menyadari bahwa “hantu” yang bergentayangan itu bukan metafora kosong, melainkan kondisi yang terus hadir dalam bentuk-bentuk yang sangat halus. 

Di sinilah letak kekuatan dari kedua karya Halid. Ia berdiri bukan pada spektakel, melainkan kemampuan menahan kita dalam rasa tidak nyaman. Seolah-olah apa yang kita anggap aman ternyata telah lama ditembus oleh sesuatu yang kita biarkan tumbuh tanpa kendali.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mohamad Ichsanudin Adnan

M. Ichsanuddin Adnan merupakan sejarawan partikelir dari Yogyakarta yang bekerja di persilangan riset sejarah, kuratorial dan dramaturgi. Pada tahun 2026, ia telah menulis buku “Anda Sopan Bapak Segan” (SelakLali, 2026).

M. Ichsanuddin Adnan merupakan sejarawan partikelir dari Yogyakarta yang bekerja di persilangan riset sejarah, kuratorial dan dramaturgi. Pada tahun 2026, ia telah menulis buku “Anda Sopan Bapak Segan” (SelakLali, 2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Boekoe Theotraphi Jogja: Harapan Kebangkitan Toko Buku Alternatif?