Adalah Maria Ulfah yang menyarankan negosiasi itu diadakan di Desa Linggarjati, Kabupaten Kuningan. Perwakilan Inggris, Indonesia, dan Belanda kumpul pada 10–15 November 1946.
Lokasi perundingan di kaki Gunung Ciremai. Udara sejuk diharapkan mendinginkan situasi. Indonesia mengirim Sutan Sjahrir (ketua), Mr. Soesanto Tirtoprodjo, Dr. Adnan Kapau Gani, dan Mr. Mohammad Roem. Belanda diwakili Prof. Willem Schermerhorn (ketua), Dr. Hubertus Johannes van Mook, Mr. Max van Pool, dan Dr. Frank De Boer. Diplomat Inggris, Lord Killearn, tampil sebagai mediator.
Pihak Indonesia dan Belanda sepakat berunding di Linggarjati, karena dianggap tempat aman. Presiden Sukarno menolak Jakarta, karena dikuasai pasukan kompeni. Sebaliknya para bule enggan di Yogyakarta, karena basis pejuang republik.


Bukan tanpa alasan, Maria Ulfah menyodorkan Linggarjati. Dia putri asli daerah. Bahkan sang ayah, Mochamad Achmad, adalah Bupati Kuningan periode 1923–1939. Mereka pernah ke negeri Belanda tahun 1929, sekalian mengantarkan Maria Ulfah belajar hukum di Universiteit Leiden, hingga menjadi perempuan Indonesia pertama yang menyabet gelar sarjana hukum. Kebetulan pula saat perundingan Linggarjati digelar, Residen Cirebon Hamdani dan Bupati Cirebon Makmun Sumadipradja, merupakan anggota Partai Sosialis pimpinan Sjahrir.
“Delegasi Belanda tiba di perairan Cirebon pakai pesawat amfibi, lalu naik mobil ke Kuningan. Mereka merasa nyaman,” kata pemandu yang mendampingi saya, Udi Sapdi, Sabtu (25/4/2026).


Akhirnya Mampir
Turun dari Pos Cibunar Gunung Ciremai, saya mampir ke Gedung Perundingan Linggarjati. Petugas jaga menggoda, “Jadi masuk, Pak?”
Paginya saya izin ke dia, memotret beberapa sudut bangunan yang mulanya gubuk milik Jasitem (1918), sebelum dibeli keluarga Van Os untuk ditinggali (1930), lantas dikontrak Theo Huitker dan dijadikan Hotel Rustoord (1935).
Jasitem berjodoh dengan Tuan Tersana (Marghen), pemilik pabrik gula Tersana Baru di Cirebon. Gubuk si janda dipugar jadi hunian semi permanen (1921). Sebelum diboyong ke negeri Belanda, Jasitem menjual rumah cikal bakal gedung perundingan itu ke Van Os.
“Tadi ke tujuan awal dulu. Sekarang ingin tahu dalamnya,” sahut saya ke si petugas sambil mendatangi loket. Saya diberi karcis biru, dan menyerahkan uang Rp10.000. Tiket khusus anak Rp5.000.
Seorang pemandu bersiap di pintu masuk. Di dada kanan kemeja kerjanya tertera bordiran nama: Udi Sapdi. Di dada kiri logo Museum Linggarjati. Dia pemandu resmi yang bertugas di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan.
“Sudah hampir 15 tahun saya menemani tamu yang datang kemari,” ujarnya.
Perabot Tempo Dulu
Ruang pertama menyuguhkan diorama dengan miniatur peserta perundingan, maket kawasan, papan keterangan isi naskah persetujuan Linggarjati, dan poster riwayat gedung yang pada masa pendudukan Jepang (1942) disebut Hotel Hokay Ryokan, lalu menjadi Hotel Merdeka usai proklamasi 1945.
“Ini meja dan kursi yang masih asli,” kata Udi saat membawa saya ke ruang makan. Sementara perangkat di ruang lainnya duplikat. “Ada yang rusak dimakan usia. Lainnya raib entah ke mana.”
Di ruang utama dialog, meja panjang delegasi Indonesia dan Belanda berhadapan. Terpasang bendera nasional masing-masing. Menengahi keduanya, meja dan kursi Lord Killearn (Inggris). Lurus di depannya, meja bundar dengan empat kursi untuk para saksi: Dr. Leimena, Dr. Sudarsono, Mr. Amir Syarifuddin, dan Mr. Ali Boediardjo.


Jalannya diplomasi mendapat sorotan dunia. Wartawan asing menginap dan membuat laporan di wisma Sjahrir, sekitar seratus meter di bawah gedung pertemuan. Bangunan lawas itu masih tegak hingga kini. Tercatat sebagai aset TNI.
“Sempat jadi gudang mesiu, namun sudah tidak lagi. Disdikbud Kuningan berupaya menjadikannya cagar budaya, karena terkait sejarah perundingan Linggarjati. Masih terus kami perjuangkan,” jelas Udi.
Walau rembuk di Kuningan, penandatanganan resmi kesepakatan berisi 17 pasal itu dilakukan di Jakarta, 25 Maret 1947. Pasal 1–3 merupakan inti mufakat: (1) Belanda mengakui de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. Belanda harus sudah meninggalkan daerah de facto selambatnya 1 Januari 1949; (2) Indonesia dan Belanda bekerja sama membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS); (3) RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Akan tetapi, penjajah berkhianat! Rentang 21 Juli–4 Agustus 1947, tentara Belanda melakukan Agresi Militer I. Melanggar perjanjian Linggarjati. Berlanjut Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.
“Perundingan Linggarjati adalah awal perjuangan diplomasi mempertahankan kedaulatan bangsa. Menyusul kemudian Perjanjian Renville, Roem-Royen, dan Konferensi Meja Bundar di Den Haag,” tutur Udi bergelora.




Potret jurnalis internasional mengetik naskah berita (kiri) dan ketika rehat di perkampungan/Mochamad Rona Anggie
Kamar Para Utusan
Udi lantas mengajak ke kamar tidur para diplomat. Ada di selasar sebelah timur, yang terhubung (mulanya) dengan halaman dan pagar depan. Saat pertemuan 80 tahun silam, gerbang masuk langsung dari pinggir jalan utama. Para utusan menaiki tangga menuju gedung.
Belakangan, kata Udi, pintu masuk lewat pagar sisi selatan. Kalau masih dari depan, kasihan pengunjung sepuh harus naik tangga lumayan panjang. “Tangganya masih ada. Tapi jalan masuknya berubah setelah jadi museum,” terangnya.
Tiap ruang tidur, berisi dua orang. Kamar juru runding Indonesia terpisah. Sedangkan kamar delegasi Belanda, walau beda ruang, terhubung sebuah pintu. “Curang, nih, tim Belanda bisa diskusi kapan saja,” kelakar Udi.
Dari area kamar, kami menuju lobi di sisi utara. “Ini ruangan Bung Karno dan Lord Killearn berbincang,” kata Udi lantas menunjuk sketsa karya Henk Ngantung, yang menggambarkan kedekatan kedua tokoh itu. Presiden Sukarno meninjau lokasi perundingan, tetapi bermalam di pendopo Bupati Kuningan di pusat kota.




Kamar delegasi Belanda (kiri) dan ruangan tempat Presiden Sukarno berjumpa Lord Killearn/Mochamad Rona Anggie
Hamparan Rumput
Saya kemudian mengitari area luas berumput hijau, sebagaimana terlihat di foto sampul. Pepohonan rindang menaungi. Masa perundingan dulu, inilah halaman depan gedung. Terbayang kabut turun saat peserta rapat santai berkeliling.
Pukul 10.00 WIB itu, ada beberapa kelompok pelajar bercengkerama. Pengunjung keluarga menggelar tikar yang disewakan. Rupanya wisatawan tak hanya menapaktilasi histori gedung, tapi juga dapat menikmati suasana asri.
“Tadinya rusa-rusa dibiarkan berkeliaran, namun sekarang dikandangkan karena merusak hamparan rumput,” ucap Udi.
Saya sempatkan menengok kumpulan rusa tutul (Axis axis) di pinggiran sebelah utara. Ada rusa dewasa dan anak. Tahu ada yang mendekat, mereka waspada. Area berkawat diteduhi pepohonan, membuat keluarga rusa nyaman. Jika merasa terancam, mereka berpencar menjauh.


Lawatan SMPN 11 Cirebon
Saya bersiap menyudahi kunjungan. Menapaki tangga yang dilalui Sutan Sjahrir dan rombongan, lalu kembali ke titik awal masuk. Tak disangka, sekumpulan pelajar dan orang tuanya tiba.
Mereka antre di loket, lalu berduyun ke tiap ruangan yang membuat penuh sesak. Terdengar langkah kaki dan celotehan khas remaja. Begitu riuh.
Mereka sibuk mendokumentasikan tiap sudut gedung. Selain replika meja-kursi yang dipakai musyawarah, para murid menyasar koleksi foto hitam-putih yang terpampang di dinding.
“Ibu gurunya, ya?” tanya saya pada seorang wanita berkerudung merah.
“Bukan, saya wali murid. Kami mendampingi outing class anak kelas delapan SMPN 11 Cirebon,” tutur Sarah (47). “Ini tempat kedua. Tadi pagi ke museum Purbakala Cipari.”
Hasil pengamatan di luar kelas tersebut, lanjut dia, akan dibuat makalah. Nantinya siswa dan siswi berkelompok mempresentasikan di hadapan guru. “Sekalian saya nostalgia, dulu waktu kecil pernah ke sini,” ucapnya antusias.


“Apa ada perubahan [isi gedung]?”
“Seingat saya, dulu tatak letaknya tidak begini. Tapi makin bagus dan terawat,” kata nenek satu cucu itu.
“Wisata sejarah semacam ini, apa masih relevan buat generasi muda?”
“Tentu penting, ya, merawat ingatan perjuangan para pendiri negeri dalam menegakkan kedaulatan bangsa,” tegasnya.
Sarah memanggil putrinya, Andin, lalu bersama orang tua lainnya menyusuri bagian luar gedung. Mereka penuh semangat menyisir setiap jengkal selasar bangunan tua yang berdiri di atas lahan 2,4 hektare.
Kalau bukan karena Mariah Ulfah, boleh jadi perundingan berlangsung di tempat lain dan Linggarjati tak pernah dikenal dunia. Menteri Sosial pertama RI itu wafat 15 April 1988 di usia 77 tahun.
Saya pamit ke Udi dan bertukar nomor ponsel. “Museum buka sampai malam. Silakan datang. Tentu sensasinya berbeda, jika berkunjung saat langit gelap,” ucapnya menyiratkan sesuatu yang mistis.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.




