EVENTS

Siaran Pers: Petani dan Nelayan Indonesia Terus Berjuang di Tengah Kebijakan yang Membatasi

  • Banyak petani dan nelayan, termasuk dari kelompok perempuan, belum mendapat ruang berkembang yang memadai dalam sistem pangan Indonesia.
  • Kebijakan pangan perlu memberi ruang yang lebih adil bagi petani serta nelayan agar mampu tumbuh dan lebih sejahtera.
  • CIPS mendorong reformasi sistem pangan di Indonesia dengan membuka akses pasar, memperkuat kebebasan berusaha, dan melindungi hak atas sumber daya bagi petani dan nelayan.

Potret Nurlaila, petani bawang merah dan kacang koro dari Aceh/CIPS
Potret Nurlaila, petani bawang merah dan kacang koro dari Aceh/CIPS

JAKARTA, 13 Mei 2026Nurlaila menghabiskan hari-harinya bertani bawang merah dan kacang koro di Aceh. Seperti banyak perempuan lain di sektor pertanian, namanya tidak tercatat secara formal sebagai petani, sehingga akses terhadap bantuan menjadi terbatas.

Keadaan serupa ditemui di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Banyak perempuan yang aktif mengolah hasil tangkapan hingga menopang ekonomi keluarga, tetapi peran mereka kerap tak diakui dalam sistem dan kebijakan yang mengatur sektor perikanan. Sementara di Karawang, Jawa Barat, para petani kecil, seperti Adis, juga menghadapi berbagai keterbatasan karenaskala usaha mereka membuat sulit mengakses dukungan yang dapat membantu mereka berkembang.

Kisah hidup Nurlaila di Aceh, para nelayan perempuan di Pulau Pari, hingga petani kecil seperti Adis di Karawang, adalah sebagian wajah dari Masa Depan Pangan (MAPAN), sebuah inisiatif Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) yang diluncurkan untuk menghadirkan suara-suara pejuang pangan ke ruang publik.

“Banyak petani dan nelayan sebenarnya terus bertahan dan mencari cara untuk berkembang di tengah berbagai keterbatasan. Arah kebijakan seharusnya memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh dan mengembangkan usahanya,” ungkap CEO CIPS, Anton Rizki.

MAPAN, sebuah inisiatif dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)
MAPAN, sebuah inisiatif dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)

Persoalan Pangan Lebih dari Sekadar Produksi dan Harga

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hampir separuh penduduk miskin ekstrem Indonesia bekerja di sektor pertanian. Di tengah kondisi tersebut, banyak petani dan nelayan kecil masih menghadapi keterbatasan akses, mulai dari dukungan usaha hingga kesempatan untuk berkembang dan meningkatkan kesejahteraan.

Padahal, para pejuang pangan di berbagai daerah memegang peran penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga dan komunitas lokal. Namun dalam praktiknya, banyak dari mereka masih susah payah bertahan di tengah keterbatasan dan tekanan ekonomi yang terus meningkat.

Anton menjelaskan inisiatif MAPAN dibangun untuk memperluas percakapan publik tentang pentingnya kebijakan pangan yang memberi ruang lebih terbuka dan adil bagi petani dan nelayan untuk tumbuh sejahtera. Gerakan ini menggabungkan suara akar rumput dengan riset kebijakan berbasis bukti untuk mendorong reformasi sistem pangan yang selama ini justru membatasi pejuang pangan.

“Pembahasan soal pangan selama ini kerap terlalu berkutat pada produksi hingga harga. Padahal, ada persoalan mendasar terkait kebebasan berusaha, akses pasar, dan pelindungan hak atas sumber daya terhadap mereka yang bekerja di balik sistem pangan Indonesia,” ungkap Anton.

Adis, petani asal Karawang, harus menyewa lahan dan meminjam modal untuk bisa bekerja/CIPS
Adis, petani asal Karawang, harus menyewa lahan dan meminjam modal untuk bisa bekerja/CIPS

BEKAL MAPAN untuk Masa Depan Petani dan Nelayan

Sebagai bagian dari rangkaian MAPAN, CIPS akan menggelar BEKAL MAPAN yang menjadi titik temu bagi siapa pun yang peduli dengan masa depan pangan Indonesia, serta ingin bergerak menyuarakan hak petani dan nelayan.

Acara yang akan digelar di Taman Ismail Marzuki pada 22–23 Mei 2026 ini menghadirkan berbagai kegiatan. Penonton dapat merasakan langsung cerita para pejuang pangan melalui pameran foto “Suara MAPAN”, menyaksikan kisah dua petani lintas generasi dalam film dokumenter Besok Kita Nanem Lagi, hingga memperkaya perspektif dalam berbagai sesi bertajuk Bahas Masa Depan Pangan.

“Kami ingin lebih banyak orang melihat bahwa isu kesejahteraan petani dan nelayan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, karena berdampak pada pangan yang kita konsumsi setiap hari. Ada wajah-wajah dan kisah manusia di baliknya, dan perjuangan mereka hari ini ikut menentukan masa depan pangan kita,” tutup Anton.


Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)

CEO CIPS Anton Rizki dapat dihubungi melalui Feraldi (089603612731)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar photo

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Siaran Pers: “Do It Yourself Trails”, Ajak Anak-Anak Bertualang ke Museum-Museum di Jakarta