ITINERARY

Kedai Nyara Sukowono, Dari Bekas Stasiun menjadi Kedai Kopi

Saya menemukan sebuah kedai kopi unik yang berada di daerah Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember. Namanya Kedai Nyara. Keunikan dari kedai kopi ini bukan terletak pada menu yang disediakan, melainkan karena tempat dan suasana yang ditawarkan. 

Kedai Nyara memanfaatkan bangunan bekas stasiun yang sudah terbengkalai, sehingga menghadirkan suasana yang berbeda dengan kebanyakan kedai kopi. Saya mengunjungi kedai ini bersama saudara yang kebetulan rumahnya terletak tak terlalu jauh dari lokasi kedai. Hanya melewati sekitar tiga atau empat desa saja untuk menuju kedai kopi tersebut.

Saya menemukan kedai ini saat sedang berselancar di internet untuk mencari inspirasi tulisan. Letaknya memang tidak berada di pinggir jalan, bahkan saudara saya saja baru tahu setelah saya ajak.

Berdiri di Bekas Stasiun Kereta Peninggalan Belanda 

Nama kedai tersebut adalah Kedai Nyara. Dalam bahasa Madura, “nyara” berarti silakan, atau monggo dalam bahasa Jawa. Artinya, kedai ini mempersilakan siapa saja untuk mampir dan menikmati menu-menu yang tersedia.

Kedai Nyara memanfaatkan bangunan bekas Stasiun Sukowono yang sudah tidak beroperasi sejak jalur kereta api dari Kalisat menuju Situbondo dinonaktifkan pada tahun 2004. Jarak antara Kalisat dan Situbondo yang tidak terlalu jauh (sekitar 2 jam perjalanan menggunakan motor) dan masifnya kemudahan kredit kendaraan pribadi seperti motor dan mobil, membuat rute ini sepi penumpang. Sempat ada beberapa kali wacana untuk mengaktifkan jalur Kalisat—Situbondo, tapi sampai sekarang masih belum terealisasi.

Jika kalian pernah membaca tulisan saya yang tayang di TelusuRI beberapa waktu lalu, tentang Stasiun Bondowoso yang saat ini dijadikan museum kereta api, nah Kedai Nyara berdiri di atas stasiun yang sejalur dengan museum tersebut. 

Jalur kereta api atau jalur spoor yang menghubungkan Jember dan Panarukan dibangun sekitar tahun 1899, menghubungkan Stasiun Klakah, Tanggul, Djember, Kalisat, Bondowoso, dan Panarukan. Pembangunan ini bertujuan untuk akses angkutan komoditas, seperti tembakau, gula, kopi, dan karet yang berasal dari wilayah Djember dan sekitarnya untuk diangkut ke Pelabuhan Panarukan lalu diangkut ke Rotterdam, Belanda.1

Stasiun Sukowono ini merupakan stasiun kecil yang menghubungkan antara Stasiun Kalisat dan Bondowoso. Jalur kereta dari Kalisat, lalu melintasi Sukowono, Bondowoso, hingga ke Panarukan saat ini sudah tidak aktif lagi.

Foto Stasiun Sukowono tahun 1910/KITLV
Foto Stasiun Sukowono tahun 1910/KITLV

Sewa Murah dan Suasana Khas Zaman Dulu

“Sewanya juga murah kalau nyewa ke PT KAI, Mas,” ucap salah satu pemilik Kedai Nyara. Selain karena unsur jadul dan fotogenik dari stasiun kereta, harga sewa yang murah juga menjadi salah satu pertimbangan pemilik kedai memilih lokasi usaha di bekas Stasiun Sukowono. 

Di kedai ini terdapat dua ruangan yang bisa dipilih untuk duduk santai sembari menikmati menu yang dihadirkan, yaitu indoor dan outdoor. Suasana bangunan lawas ala kolonial di bagian dalam dilengkapi beberapa benda pajangan klasik, seperti televisi kuno, senapan kuno, mesin tik jadul, lampu minyak, dan lukisan, sehingga nuansa kuno yang dibangun kedai ini semakin kental. 

Adapun di bagian outdoor menawarkan suasana yang lebih segar karena terletak persis di pinggir persawahan. Apabila datang sekitar pukul 4 atau 5 sore saat hari sedang cerah, kalian akan disuguhi suasana sawah perdesaan di sore hari yang sejuk dan tenang. Selain properti jadul di bagian indoor, pemandangan sawah berpadu dengan langit senja, bisa memikat para penggemar fotografi.

Bagian dalam Kedai Nyara yang bernuansa klasik dengan lukisan dan benda-benda jadul sebagai pajangan penghias interior/Sigit Candra Lesmana

Tak hanya suasananya yang asyik, pelayanan di sini juga cukup baik, seperti yang sudah saya alami. Jika tidak ada pekerjaan di dapur, pemilik kedai biasanya menyempatkan untuk berinteraksi dengan pelanggan sehingga terjalin suasana yang hangat dan akrab. 

Untuk menunya sendiri, tentu saja karena mengusung jenama kedai kopi, maka menu utamanya adalah aneka sajian minuman berbahan dasar kopi. Namun, bagi yang tidak suka kopi atau tidak bisa ngopi karena masalah asam lambung, misalnya, tidak perlu khawatir. Di kedai ini juga tersedia minuman nonkopi, seperti teh, susu, wedang jahe, dan milkshake.

Sebagai pelengkap menu minuman, Kedai Nyara juga menyediakan varian snack dan makanan berat, di antaranya kentang goreng, pisang cokelat, mi instan, dan nasi goreng. Sebagai poin tambahan, letak kedai ini berada di dekat masjid, sehingga bagi teman-teman yang muslim tidak perlu khawatir telat melaksanakan salat.

Area luar kafe yang asyik buat nongkrong/Sigit Candra Lesmana
Area luar kafe yang asyik buat nongkrong/Sigit Candra Lesmana

Panduan Menuju Lokasi

Untuk rute menuju Kedai Nyara, dari Alun-alun Kalisat kalian bisa ambil arah timur ke Desa Ajung. Sesampainya di RSD Kalisat, belok kiri ke arah Sukowono. Terus saja ikuti jalan. Jarak dari RSD Kalisat ke Pasar Sukowono sekitar 10 kilometer dengan waktu tempuh 16 menit. 

Begitu sampai di Pasar Sukowono, sebelum Alun-alun Sukowono belok ke kanan masuk Jalan P.B. Sudirman. Setelah melewati Kantor Kecamatan Sukowono sejauh 200 meter, kalian akan tiba di Kedai Nyara, yang buka buka setiap hari pada pukul 15.00–00.00 WIB.

Setelah ngobrol banyak hal di Kedai Nyara, ketika magrib sudah tinggal beberapa menit saja, kami memutuskan untuk pulang. Setelah mengantar saudara saya ke rumahnya, kami berpisah dan saya kembali ke kota Jember.

Foto sampul: Suasana Kedai Nyara saat ramai pengunjung di malam hari/Facebook Kedai Nyara


  1. Dukut Imam Widodo, Djember Tempo Doeloe (Surabaya: Jepe Press Media Utama, 2014). ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Berkunjung ke Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso