TRAVELOG

Janji Tuhan di Titian Aka yang Nyaris Putus

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”

(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat itu terlintas di kepala saya ketika berdiri di hadapan jembatan akar yang nyaris putus.

Lah gantiang,” gumam saya lirih. Begitulah cara kami di sini menjelaskan kondisi yang sudah gawat, atau saat melihat sesuatu yang hampir putus. Warga yang menemani saya hari itu mengangguk kecil dengan keprihatinan yang sama.

Karya alam yang terbentuk begitu lama, bisa rusak dalam waktu singkat. Ia diterjang banjir bandang, menyisakan satu tali akar yang menahan jembatan itu agar tidak hilang sepenuhnya.

Tragedi yang berkelindan dengan perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Janji Tuhan di Titian Aka yang Nyaris Putus
Kondisi jembatan akar yang hampir putus akibat banjir besar November 2025 lalu, menyisakan satu akar saja yang masih terhubung/Adzkia Arif

Perjalanan menuju Batang Bayang

Perjalanan darat selama 2–3 jam membawa saya menuju Nagari Puluik-Puluik, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan. Saya mendapat mandat menjadi pengawas dadakan untuk sebuah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) di kawasan tersebut.

Program ini memanfaatkan aliran Sungai Batang Bayang sebagai sumber listrik alternatif bagi sekitar 30 rumah warga. Sebetulnya sudah ada listrik dari PLN yang dialirkan, tapi daya yang diperoleh masyarakat masih belum mencukupi.

Pengalaman ini tidak sepenuhnya baru, hanya saja sudah lama saya tidak melakukannya. Kegiatan kali ini menjadi momen penyegaran dari rutinitas harian biasa. 

Aliran Sungai Batang Bayang yang jernih dan dipenuhi batu-batu besar menyambut kedatangan saya. Sungguh, rindu sekali rasanya melihat pemandangan seperti ini, karena banyak sungai di kota tempat saya tinggal sudah tertutup lumpur akibat tambang emas ilegal.

Janji Tuhan di Titian Aka yang Nyaris Putus
Pintu masuk menuju jembatan akar yang ada di Nagari Puluik-Puluik, Kabupaten Pesisir Selatan/Adzkia Arif

Jembatan Akar: Warisan dari Masa Lalu

Di atas aliran sungai Batang Bayang, membentang Jembatan Akar yang disebut oleh warga lokal dengan titian aka.

Alkisah, jembatan ini mulai ditanam oleh Pakiah Sokan sekitar awal abad ke-20. Sebelum ada jembatan ini, warga harus menyeberang dengan rakit bambu atau menunggu air surut.1

Syahdan, Pakiah Sokan yang mengajar mengaji di Lubuak Silau—kampung kecil yang berada di kawasan ini—membuat jembatan ini untuk membantu muridnya yang kesulitan dalam menyeberangi Sungai Batang Bayang. Akar dari dua pohon beringin kemudian dirajut kurang lebih 26 tahun lamanya, dimulai pada 1890 dan baru digunakan pada 1916.2

Berdiri satu abad lamanya, Titian Aka menjadi ikon wisata. Tali baja digunakan untuk menyangga jembatan agar dapat menahan beban dari pengunjung yang melintas. Kata wali nagari setempat, dulu di bawah jembatan ini terdapat lubuak (lubuk) yang digunakan anak-anak untuk berakrobat dengan cara melompat dari Titian Aka.

Tapi sayang, lubuak ini hilang karena galodo, banjir bandang besar yang membawa lumpur, batu, dan batang kayu dari hulu, yang terjadi pada akhir 2025 lalu.

Janji Tuhan di Titian Aka yang Nyaris Putus
Jembatan akar dulu menjadi satu-satunya tumpuan warga Kampung Lubuak Silau (jalan semen yang mengarah ke atas di sebelah kanan) untuk menyeberangi sungai Batang Bayang/Adzkia Arif

Amukan Sungai Batang Bayang

Sungai Batang Bayang mengalir sejauh 43,9 kilometer,3 berhulu di kawasan Pegunungan Bukit Barisan dan berakhir di Samudera Hindia. Aliran sungainya jernih, ditemani hutan rindang. Perkampungan, sawah, dan ladang yang digarap di lereng bukit menjadi tempat hidup masyarakat Lubuak Silau. 

Di atas sungai, berdampingan dengan Titian Aka, terdapat jembatan gantung yang lebih modern. Dua teknologi dari zaman berbeda kini berdiri bersisian. Akar yang dirajut manusia masa lalu dan besi yang dirakit oleh manusia hari ini. Keduanya menjadi titian hidup warga agar terhubung dengan dunia di seberangnya.

Sekitar empat bulan lalu, tepatnya November 2025, sungai ini mengamuk ketika banjir melanda berbagai wilayah Pulau Sumatra. Bukan tanpa sebab, hutan primer di bagian hulu sungai telah rusak parah akibat pembalakan liar.4

Melihat ukuran sungai yang terbilang besar dan dalam, terbayang besarnya volume air hingga mampu menggapai Titian Aka di atasnya, bahkan hampir membuat jembatan itu putus total. Kini, terdapat celah besar di tengah Titian Aka dengan satu akar yang masih terhubung. Menyisakan harapan agar kondisinya bisa dipulihkan.

Pihak nagari sudah meminta Universitas Andalas Padang agar mengirimkan tim ahli guna merawat akar yang tertinggal. Tujuannya agar tidak mati serta mencari cara agar akar yang putus dapat terhubung kembali.

Janji Tuhan di Titian Aka yang Nyaris Putus
Jembatan besi yang kini menjadi tempat penyeberangan yang lebih aman. Bersisian dengan jembatan akar/Adzkia Arif

Titipan dari Masa Lalu, Warisan untuk Masa Depan

Di tempat saya tinggal, puluhan alat berat mengeruk bumi dengan kuku besinya. Harga emas yang melonjak, kesempatan kerja terbatas, dan keinginan mendapatkan uang dengan cepat membuat banyak orang tak berpikir panjang. Sawah dan kebun digadaikan begitu saja. Tak terpikirkan bagaimana hidup akan berjalan satu bulan, atau satu tahun ke depan. Sungai berubah, tertutup lumpur, tak ada lagi air mengalir. Ikan-ikan yang dulu mudah ditemukan kini bahkan tak terlihat.

Seorang warga kampung yang kebetulan bersua karena urusan kantor mencuri waktu untuk mencurahkan keluh kesahnya.

“Kampuang kini lah cayia, sawah-sawah tu lah abih dek alat. Di tapi jalan nyo gali juo, ndak nyo pikian rumah kawan nan ka kanai imbasnyo doh (Kampung sudah hancur, sawah-sawah habis digali alat berat. Di pinggir jalan pun tetap digali, tak peduli sekalipun ada rumah warga yang mungkin terkena imbasnya).”

Ada perasaan tidak nyaman ketika saya mendengar cerita tersebut. Dan hari ini, di Titian Aka, saya menyaksikan satu lagi kerusakan nyata. Keserakahan manusia memang memiliki daya rusak yang luar biasa.

Janji Tuhan di Titian Aka yang Nyaris Putus
Penulis berdiri di atas jembatan akar, tempat penulis berdiri merupakan titik terakhir yang masih aman dipijak dengan kondisi jembatan saat ini/Adzkia Arif

Saatnya Tobat Ekologis

Kedatangan wali nagari memecah lamunan saya di atas Titian Aka.

“Saya tadi dari desa yang di atas, melihat kondisi hunian sementara untuk masyarakat yang kehilangan rumahnya karena banjir kemarin,” kata wali nagari sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Kami memang janji bertemu di sini untuk berbincang-bincang perihal kemajuan program PLTMh. Selain itu, juga untuk melihat kondisi Titian Aka yang sudah gantiang tadi. Kami melintas di sisa-sisa Titian Aka yang masih bisa dipijak, meski ada perasaan gamang karena beliau mengajak saya berjalan agak ke tengah.

“Kalau tidak ada tali baja yang terpasang, ini pasti sudah putus. Sekarang yang kami harapkan cuma perbaikan, apakah itu Titian Aka, dan yang terpenting adalah kondisi di hulu agar bencana serupa tak terulang lagi. Kasihan masyarakat yang terdampak,” katanya sambil mengambil napas panjang dan mengembuskannya, seakan ada sesak di dada yang ingin dilepaskan. Amukan Batang Bayang beberapa bulan lalu mengoyak Titian Aka dan membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggalnya. 

Terlintas di pikiran saya bahwa manusia masa lalu, yang sering kita bayangkan hidup dalam keterbatasan, justru mampu mengelola alam dengan bijak dan menitipkannya kepada kita hari ini. Sedangkan di masa sekarang, ketika pendidikan dan teknologi semakin maju, justru ada manusia yang memperlakukan alam seolah tak ada lagi yang akan hidup setelahnya. Merampas habis apa yang seharusnya diwariskan untuk masa depan.

Perjalanan kali ini memvalidasi perasaan tidak senang saya mengenai hubungan manusia dan alam akhir-akhir ini. Terlalu banyak perilaku di luar batas yang dinormalisasi.

Jika manusia tidak berubah, bukan tidak mungkin alam akan menunjukkan kemarahan yang lebih dahsyat lagi, sesuatu yang tak kita inginkan. Hampir putusnya Titian Aka seolah menjadi simbol hubungan yang telah genting antara manusia, alam, dan Penciptanya.

Barangkali inilah saatnya manusia melakukan semacam tobat ekologis, memperbaiki kembali hubungannya dengan alam. Sebagaimana Janji Tuhan dalam sambungan ayat pembuka di awal tulisan ini.

“…Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”


  1. Wempi Hardi, “Jembatan Akar Bayang: Ketika Alam dan Budaya Bertaut dalam Harmoni”, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Oktober 21, 2025, https://berita.pesisirselatankab.go.id/berita/detail/jembatan-akar-bayang-ketika-alam-dan-budaya-bertaut-dalam-harmoni. ↩︎
  2. Jay Fajar, “Pesona Jembatan Akar Sungai Batang Bayang Sumbar”, Mongabay, Oktober 10, 2014, https://mongabay.co.id/2014/10/10/mongabay-travel-pesona-jembatan-akar-sungai-batang-bayang-sumbar/. ↩︎
  3. BPS Kabupaten Pesisir Selatan, “Nama-Nama Sungai, Lokasi dan Panjangnya, 2017”, (terakhir diperbarui 9 Juni 2020), https://pesselkab.bps.go.id/id/statistics-table/1/NTQjMQ%3D%3D/nama-nama-sungai–lokasi-dan-panjangnya–2017.html. ↩︎
  4. Yoni Syafrizal, “Pembalakan Liar, 159 Hektare Hutan Rusak di Bayang Pesisir Selatan”, Padang Ekspres Digital Media, Agustus 4, 2025, https://padek.jawapos.com/pesisir-selatan/2366388181/pembalakan-liar-159-hektare-hutan-rusak-di-bayang-pesisir-selatan. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Adzkia Arif

Seorang penulis honorer yang bercita-cita punya perusahaan media sendiri. Tukang jalan-jalan dan suka bercerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Hipotesis Sederhana tentang Kebahagiaan dan Tawa di Kedai Sarapan