Sebelum memasuki makam Sunan Ampel, peziarah akan melewati gapura yang berjumlah lima buah dengan ornamen relief dan ukuran yang berbeda-beda. Populer dengan sebutan gapura lima atau gapura paduraksa. Jumlah lima menunjukkan simbolisme dari rukun Islam.
Dimulai dari gapura munggah (naik) yang ada di Jalan Sasak. Gapura ini merupakan salah satu pintu masuk menuju makam Sunan Ampel. Lalu ada gapura pasa (puasa) di dekat tempat wudu para peziarah. Masuk lebih dalam, peziarah akan menjumpai gapura mengadep (menghadap). Gapura ini identik dengan relief ornamen berbentuk cengkih. Kemudian peziarah akan melewati gapura ngamal (zakat), hingga gapura terakhir di dekat makam Sunan Ampel, yakni gapura paneksen (penyaksian).
M. Khotib Ismail, sejarawan lokal di Ampel sebagaimana dikutip Detik.com (12/9/2021) mengatakan, gapura-gapura tersebut diyakini sudah ada sejak tahun 1530, yang artinya dibangun saat Sunan Ampel sudah wafat. Akan tetapi, soal siapa yang membangun, hingga sekarang masih belum diketahui.
Selain gapura, di kompleks makam Sunan Ampel juga terdapat sejumlah gentong berisi air minum yang disediakan untuk para peziarah. Sumbernya dari sumur peninggalan Sunan Ampel, yang terus memancarkan air meski musim kemarau. Banyak peziarah yang menyempatkan minum air dari gentong-gentong itu. Bahkan ada yang menyimpannya di botol untuk dibawa pulang. Sumur peninggalan Sunan Ampel itu dipercaya membawa keberkahan.

Larangan Memotret Makam Sunan Ampel
Saat hendak berziarah, saya mendapatkan informasi dari salah seorang penjaga makam (security) bahwa ada peraturan larangan memotret makam Sunan Ampel dengan kamera. Saya hanya diperbolehkan memotret dengan menggunakan HP.
Saya sempat berdiskusi dengan dua orang penjaga makam lainnya, tapi tak ada yang dapat memberikan penjelasan memadai alasan pelarangan, selain karena sudah menjadi ketetapan pengelola. Bahkan, menurut satu di antaranya, larangan memotret itu sebenarnya mutlak untuk jenis kamera apa pun, termasuk HP. Namun, penjaga merasa kewalahan menertibkan HP peziarah, sehingga lebih memilih membiarkan daripada ribut.
Di sejumlah makam Walisongo yang saya kunjungi, seperti makam Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, pengelola membebaskan peziarah memotret makam dengan kamera apa pun, asal memperhatikan adab berziarah kubur. Mungkin, bisa dibuat peraturan seperti di Makam Sunan Muria. Bagi siapa pun yang ingin memotret makam Sunan Muria secara khusus, harus membawa surat pengantar dari lembaga bersangkutan dengan menyebutkan tujuan pemotretan.
Namun, sebagai pendatang dan peziarah, saya hanya mengikuti dan menghormati peraturan yang telah ditetapkan pengelola. Saya pun memasukkan kamera DSLR saya ke ransel dan bergegas menuju kompleks makam Sunan Ampel untuk berziarah.
Makam Sunan Ampel sendiri sangat sederhana dan terbuka. Hanya ada kain putih di batu nisannya dan pagar besi setinggi 1,5 meter dengan luas 64 meter persegi sebagai pembatas. Sehingga para peziarah dapat melihat makamnya secara langsung. Tidak ada cungkup yang bagus untuk menaungi sebagaimana umumnya makam para wali. Boleh dibilang, makam Sunan Ampel adalah makam yang paling sederhana di antara makam sembilan wali.
Meskipun pada usia senjanya Sunan Ampel telah menjadi tokoh yang sangat dihormati sebagai sesepuh Walisongo, tetapi tidak ada informasi pasti tentang kapan aulia asal Champa ini wafat. Babad ing Gresik menetapkan wafat Sunan Ampel dengan candrasengkala berbunyi, “Ngulama Ngampel lena masjid”. Menurut sejarawan Agus Sunyoto, candrasengkala itu selain mengandung makna ‘ulama Ampel wafat di masjid’ juga mengandung nilai angka 1401 Saka, yang jika dikonversi menjadi tahun 1479 Masehi. Akan tetapi, meski tidak ada kepastian kapan tepatnya Sunan Ampel wafat, makamnya menjadi pusat ziarah umat Islam di seluruh Nusantara hingga sekarang.

Makam Mbah Sonhaji dan dan Mbah Sholeh
Di kompleks masjid dan makam Sunan Ampel terdapat pula makam Mbah Sonhaji dan Mbah Sholeh. Menurut cerita, saat babat alas dan mendirikan tempat ibadah pertama kali di Kampung Ampel, keduanya turut membersamai dan menjadi murid Sunan Ampel. Kelak sosoknya lekat dengan cerita ajaib yang bagi sebagian orang dipercaya sebagai karamah keduanya.
Saat pembangunan masjid Sunan Ampel, Mbah Sonhaji diserahi tugas menentukan arah kiblat. Setelah arah kiblat ditemukan olehnya, banyak jemaah yang meragukan hasilnya. Menghadapi kesangsian itu, ia membuat lubang di tembok pengimaman. Kemudian ia mempersilakan orang-orang yang masih ragu untuk melihat dari lubang yang dibuatnya.
Betapa takjubnya orang-orang setelah melihat dari lubang itu, karena mereka dapat melihat Ka’bah di Masjidilharam, Makkah. Setelah itu, barulah mereka tidak ragu lagi. Karena itulah, Mbah Sonhaji populer dengan sebutan Mbah Bolong.
Adapun Mbah Sholeh bertugas sebagai tukang sapu Masjid Sunan Ampel. Sepeninggal Mbah Sholeh, tidak ada lagi petugas kebersihan masjid, sehingga masjid menjadi kotor. Konon, melihat hal itu, Sunan Ampel lantas berkata, “Andai saja Mbah Sholeh masih hidup, tentu masjid tidak akan sekotor ini.”
Begitu Sunan Ampel selesai berbicara, sekonyong Mbah Sholeh tampak sedang menyapu lantai masjid. Masjid pun bersih kembali. Banyak yang heran, Mbah Sholeh hidup lagi. Beberapa waktu kemudian, Mbah Sholeh meninggal dunia dan dimakamkan di sebelah makamnya yang pertama. Kejadian ini terulang hingga sembilan kali. Sehingga bila kita berkunjung ke kompleks makam Sunan Ampel, kita akan mendapati makam Mbah Sholeh berjajar sebanyak sembilan makam. Menurut Syamsuddin (2017), kedua kisah itu adalah mitos dan dongeng masyarakat yang tidak jelas sumbernya. Bahkan Simon (2008) menduga, cerita Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji merupakan hasil rekayasa pihak-pihak yang kurang puas karena Sunan Ampel dinilai kurang memiliki kesaktian yang menonjol. Wallahu a’lam.


Makam KH. Mas Mansur dan KH. Hasan Gipo
Karena baru pertama kali berkunjung ke masjid dan makam Sunan Ampel, sebenarnya saya betah berlama-lama menyusuri spot-spot menarik yang ada di sana. Namun, karena tujuan berziarah ke makam Sunan Ampel hanya sekadar singgah dan memanfaatkan waktu, maka saya harus bisa menahan diri.
Di akhir penelusuran, saya merasa terkejut ketika mengetahui bahwa di kompleks ini terdapat makam dua tokoh besar, yakni KH. Mas Mansur dan KH. Hasan Gipo. Semasa hidup, masing-masing pernah menjadi pucuk pimpinan dua ormas terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
KH. Mas Mansur (1896–1946) adalah ketua umum ke-4 Pengurus Pusat Muhammadiyah (1937–1942). Meski seorang tokoh Muhammadiyah, rupanya KH. Mas Mansur memiliki persinggungan amaliah dengan orang-orang NU, di antaranya terbiasa dengan tradisi ziarah ke makam aulia seperti yang biasa dilakukan oleh warga Nahdliyyin.
Koran Soerabaijasch Handelsblad edisi 26 Desember 1933, seperti dikutip dalam Historia (16/7/2025) memberitakan, saat Ketua Western Islamic Association Dr. Khalid Sheldrake berkunjung ke Surabaya, KH. Mas Mansur mengajaknya berziarah ke makam Sunan Ampel.

Adapun KH. Hasan Gipo adalah ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode pertama (1926–1934), mendampingi Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar dan KH. Wahab Chasbullah sebagai Katib Aam. Selain seorang ulama, KH. Hasan Gipo dikenal sebagai seorang saudagar kaya yang masih keturunan Sunan Ampel.
Fakta menarik, kedua tokoh tersebut ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan. Sebuah sumber menyebutkan, KH. Mas Mansur adalah saudara sepupu KH. Hasan Gipo. Alur kekerabatannya sebagai berikut: KH. Hasan Gipo adalah putra dari Abdullah bin Tarmidzi. Abdullah memiliki adik perempuan bernama Roudloh yang diperistri oleh KH. Ahmad Marzuki, ayah dari KH. Mas Mansur.
Baik KH. Mas Mansur maupun KH. Hasan Gipo, keduanya tercatat tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang sama dan terlibat dalam pendirian sekolah Taswirul Afkar di Ampel yang banyak melahirkan pasukan santri pejuang tahun 1945. Namun, keduanya memilih jalan yang berbeda. KH. Mas Mansyur memilih aktif di ormas Muhammadiyah, sementara KH. Hasan Gipo di NU.
Kedua makam tokoh besar itu menjadi simbol persatuan Muhammadiyah dan NU. Realitas yang sangat menarik. Melihat kedua papan nama berlogo Muhammadiyah dan NU berdampingan, terasa sangat menyenangkan hati.
Referensi:
Azmi, F. (2021, 12 September). Kapan Gapuro Limo di Ampel Dibangun dan Siapa Penggagasnya?. Detik.com, https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5720133/kapan-gapuro-limo-di-ampel-dibangun-dan-siapa-penggagasnya.
Halim, A., dkk. (2021). Mazhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel. Depok: Pustaka IIman.
Matanasi, P. (2025, 16 Juli). NU-Muhammadiyah Bersatu di Ampel. Historia, https://www.historia.id/article/nu-muhamadiyah-bersatu-di-ampel.
Rahman, T. (2024, 23 Juni). Kisah Langgar Gipo (Bagian 2): Pendiri NU dan Muhammadiyah Bersemayam Dalam Satu Petak Makam. Harian Disway, https://harian.disway.id/read/795586/kisah-langgar-gipo-bagian-2-pendiri-nu-dan-muhammadiyah-bersemayam-dalam-satu-petak-makam/15.
Simon, H. (2008). Misteri Syekh Siti Jenar: Peran Wali Songo dalam Mengislamkan Tanah Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sunyoto, A. (2012). Atlas Wali Songo. Depok: Pustaka IIman.
Syamsuddin, Z. A. B. (2017). Fakta Baru Walisongo: Telaah Kritis Ajaran, Dakwah, dan Sejarah Walisongo. Jakarta: Pustaka Imam Bonjol.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia


