Itinerary

Nggak Perlu Khawatir, 7 Hal Ini Hampir Selalu Ada di Kawasan Backpacker

Kemunculan aplikasi-aplikasi hotel booking memang sudah mengubah lanskap pariwisata. Kalau dulu para pejalan lebih senang langsung go show ke kawasan backpacker, sekarang mereka bisa memilih-milih penginapan di penjuru kota, selama akomodasi yang direkomendasikan aplikasi itu sesuai dengan selera mereka.

Tapi, bukan berarti semua kawasan backpacker sekarang sudah sepi. Jalan Jaksa di Jakarta mungkin iya, tapi Sosrowijayan, Dagen, dan Prawirotaman di Jogja atau Poppies Lane I dan II di Kuta masih tetap ramai.

Nah, sebagai pejalan, menginap di kawasan backpacker bakal ngasih kamu pengalaman lumayan unik. Kamu bisa connect dengan banyak pejalan lain, berbagi cerita, bahkan mungkin berkesempatan buat menjelajah tempat itu sama-sama. Dan kamu nggak usah khawatir, kawasan backpacker di mana pun biasanya punya hal-hal yang bikin pejalan nyaman, misalnya tujuh hal berikut:

Pintu masuk kampung Sosrowijayan, Yogyakarta via TEMPO/Rully Kesuma

1. Akomodasi berbagai rentang harga

Kawasan backpacker memang sering diasosiasikan dengan penginapan-penginapan murah. Tapi, kenyataannya akomodasi yang tersedia di sana nggak cuma penginapan murah seperti hostel saja. Resor sampai hotel berbintang juga tersedia di sana. Jadi, meskipun kamu punya duit lebih dan nggak berminat menginap di penginapan murah, kamu tetap bisa mencoba sensasi tinggal di kawasan backpacker.

2. Warung, kafe, restoran, dll.

Kalau nggak makan-makan ya matek. Di kawasan backpacker, kamu bakal menjumpai banyak warung, kafe, dan restoran—bahkan pub tempat kamu bisa nonton pertandingan olahraga lewat televisi. Nggak cuma yang mahal-mahal, tempat-tempat makan dan minum murah juga banyak. Harga makanan dan minuman di kawasan backpacker biasanya juga transparan. Hampir dipastikan mereka menyediakan lembaran menu lengkap dengan harga. Kalau menurutmu kemahalan, tinggal cari yang lain.

Sejumlah wisatawan asing mencari penginapan di kawasan Kampung Sosrowijayan, Yogyakarta via TEMPO/Rully Kesuma

3. Persewaan kendaraan

Waktu jalan-jalan, tentu kamu perlu sering berpindah. Kalau kebetulan kamu mampir ke tempat yang sistem transportasi publiknya masih kacau, tentu opsi naik kendaraan umum jadi prioritas kesekian. Buang-buang waktu saja itu namanya. Nah, di kawasan backpacker biasanya banyak banget rental kendaraan, dari mulai yang nggak bermesin sampai bermesin, dari mulai roda dua sampai roda empat. Karena persaingannya sengit, tentu harga di sana juga bersaing.

4. Jasa “one-day trip”

Nggak mau repot-repot berkendara ke atraksi-atraksi wisata yang agak jauh dari kawasan backpacker? Jangan khawatir, Sob. Di kawasan backpacker biasanya banyak penyedia jasa one-day trip. Di Sosrowijayan di Jogja, misalnya, kamu bisa mencari paket one-day trip ke tujuan-tujuan seperti Borobudur, Prambanan, bahkan sampai Dieng jauh di utara sana. Di Poppies Lane II, kamu bakal mudah sekali menemukan jasa penyedia one-day trip trekking ke Gunung Batur atau diving ke Tulamben.

5. Jasa penatu atau “laundry”

Urusan baju kotor ini kadang-kadang memang ngeselin, terlebih kalau kamu traveling dalam waktu yang lama. Mau cuci sendiri, kadang hostel/hotel/guesthouse nggak mengizinkan tamu buat mencuci baju sendiri. Mau dibiarin saja, baju terakhir kamu sudah bau. Laundry di hostel, mahal. Tapi, kalau kamu menginap di kawasan backpacker, kamu bisa keliling-keliling mencari jasa penatu kiloan. Biasanya harganya jauh lebih murah ketimbang di penginapan.

Plang daftar akomodasi di salah satu gang kawasan Sosrowijayan via TEMPO/Rully Kesuma

6. Toko barang-barang seni alias “art shop”

Mau beliin oleh-oleh buat orang tercinta tapi nggak punya hasrat untuk ke pasar oleh-oleh? Nggak perlu dipaksain jauh-jauh ke sana. Di kawasan backpacker biasanya ada toko barang-barang seni (art shop). Yang dijual di sana biasanya suvenir-suvenir buatan lokal—meskipun banyak juga yang bikinan daerah luar—semisal gantungan kunci, patung ukuran mini, sampai lukisan berbagai ukuran. Perlu kartu pos? Di art shop banyak banget pilihan gambar dan desain yang tersedia.

7. Toko buku bekas

Buku yang kamu baca sudah habis padahal perjalanan masih jauh? Mampir saja ke salah satu dari toko buku bekas di kawasan backpacker itu. Kamu bisa tukar-tambah bukumu dengan buku-buku bekas yang tersedia di sana. Rupiah yang kamu keluarkan tentu jauh lebih sedikit ketimbang kalau kamu beli buku di toko buku-toko buku mentereng. Oh, iya. Siap-siap buat menemukan buku-buku langka di sana!

Jadi, bagaimana? Tertarik buat menginap di kawasan backpacker? Kalau iya, siap-siap saja untuk merasakan pengalaman-pengalaman menyenangkan yang bakal terus kamu kenang sampai jauh di masa depan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Senja dari Pinggir Brantas

Itinerary

Remeh-temeh yang Tak Remeh tentang Tempe

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Ngobrolin Fotografi Perjalanan bareng Ingga Suwandana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *