Itinerary

5 Hal Penting yang Sebaiknya Dibawa saat “Summiting”

Saat-saat muncak alias summiting dari kamp terakhir adalah saat-saat yang menguji iman. Ujiannya bahkan sudah mulai sejak kamu bangun pagi-pagi buta; kalau nggak lulus tes, kamu pasti bakalan lebih memilih untuk ngendon di tenda dan tidur sampai matahari keluar.

Kalau lulus, kamu bakalan dikasih tes kedua, yakni berjalan menanjak melintasi trek yang gelap dan dingin. Nggak semua orang bisa melewati tes kedua ini. Banyak juga yang memutuskan untuk berhenti dan nyoba peruntungan di lain hari. Nah, untuk membantu kamu melewati tes kedua pas muncak, ini TelusuRI kasih bocoran lima hal penting yang sebaiknya kamu bawa saat summiting:

Botol air minum via pexels.com/Julia Sakelli

1. Air minum yang cukup

Sebagai manusia, tentu saja kamu perlu minum. Pas muncak, pastikan kalau kamu bawa air minum yang cukup—bukan secukupnya! Jangan nekat bawa air minum secukupnya karena itu hanya bakal merugikan orang lain dan, mungkin saja, orang lain yang nantinya “terpaksa” harus turun tangan untuk menolong kamu.

Meskipun bawa air minum yang cukup, kamu tetap harus bijaksana dalam mengonsumsinya. Minumlah sedikit-sedikit supaya air minum kamu nggak habis sebelum waktunya. Supaya air yang kamu minum terasa segar meskipun volumenya nggak seberapa, sebelum ditelan tahan dulu airnya dalam rongga mulutmu.

Ilustrasi makanan ringan via pexels.com/Craig Adderley

2. Makanan ringan

Akan lebih baik kalau kamu nggak muncak dengan perut kosong. Perut kosong hanya bakal bikin kamu lemas dan nggak fokus. Mengingat trek yang bakal kamu hadapi pas muncak bakalan jauh lebih terjal ketimbang trek dari base camp ke kamp terakhir, nanjak dengan perut kosong berbahaya sekali.

Makanya sebelum muncak sempatkanlah untuk sarapan meskipun sedikit. Nah, buat jaga-jaga seandainya kamu lapar (karena menu sarapan yang kamu makan nggak mengenyangkan) sebaiknya kamu bawa makanan ringan pas muncak. Selain itu, kalau kamu bawa kompor kecil dan kopi sobek, makanan ringan ini juga bisa jadi temannya kopi.

Kotak P3K via pexels.com/rawpixel.com

3. Obat-obatan

Dibanding jarak dari base camp ke kamp terakhir, jarak dari kamp terakhir ke puncak mungkin nggak seberapa. Tapi jangan dianggap enteng, sebab—seperti yang sudah kita bahas di poin kedua di atas—trek muncak itu biasanya jauh lebih terjal dan, tentu saja, lebih berbahaya.

Makanya pas muncak kamu sebaiknya membawa obat-obatan, baik pribadi maupun kelompok. Kalau kamu biasa migrain pagi-pagi, jangan lupa bawa obat migrain; hidung suka mampet, jangan lupa bawa minyak kayu putih, dll. Sementara itu, salah satu dari obat-obatan kelompok yang penting untuk dibawa pas muncak adalah Betadine untuk mengobati luka.

gear musim hujan
Seorang pejalan sedang mamakai “mantel hujan”/Gabriela Palai

4. Mantel hujan

Cuaca di gunung nggak bisa diprediksi. Di tengah-tengah musim hujan, bisa jadi sepanjang pendakian kamu nggak diguyur hujan. Sebaliknya, di tengah-tengah musim kemarau, bisa jadi kamu dibelai hujan pas mau muncak. Karena cuaca di gunung bisa berubah sewaktu-waktu, kamu mesti selalu membawa matel hujan pas muncak.

Sebenarnya terserah aja kamu mau bawa mantel model kayak gimana. Tapi, kalau boleh ngasih saran, sebaiknya yang kamu bawa adalah mantel khusus pendakian yang nyaman buat dipakai, yang nggak mengganggu gerakanmu (misalnya berpotensi bikin keserimpet) dan membahayakan perjalananmu.

perlengkapan mendaki
“Head lamp” yang akan sangat berguna di gunung via pendakiindonesia

5. Senter dan baterai cadangan

Karena kecil kemungkinannya kamu punya mata dengan fitur night vision,kamu harus bawa senter atau head lamp dan baterai cadangan pas muncak. Kenapa? Karena kamu bakal muncak di pagi-pagi buta beberapa jam sebelum matahari mulai menunjukkan batang hidungnya.

“Kalau gue muncaknya pas matahari sudah terbit, gimana?” Kamu tetap disarankan buat bawa senter dan kelengkapannya, jaga-jaga kalau ternyata kamu dan rombonganmu turun dari puncaknya telat dan harus jalan malam dari puncak ke kamp.

Nah, lima benda di atas jangan lupa dimasukin dalam tas, ya, sebelum kamu mulai summiting!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Itinerary

Senja dari Pinggir Brantas

Itinerary

Remeh-temeh yang Tak Remeh tentang Tempe

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Ngobrolin Fotografi Perjalanan bareng Ingga Suwandana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *