Pilihan EditorTravelog

11 Jam Menuju Surabaya: Adu Cepat di Pemalang dan Mati Lampu di Semarang

“Sudah vaksin 3 ya.”

Seorang petugas stasiun Pasar Senen mengkonfirmasi status vaksin tiket saya sesaat sebelum memasuki peron kereta Airlangga dengan pemberhentian terakhir Surabaya Pasar Turi. Setelah sekitar tiga tahun absen melakukan perjalanan jauh, khususnya dengan kereta ekonomi, akhirnya saya kembali menyusuri utara Jawa untuk berhenti di Kota Pahlawan dengan waktu tempuh lebih dari 11 jam. Beberapa hal cukup buat saya tercengang: pemugaran beberapa bagian stasiun, lokasi cetak tiket dan boarding yang berbeda, hingga pembagian masker ke tiap penumpang yang ternyata perjalanan penuh keimpulsifan ini berujung beragam cerita aneh. 

Dimulai dari saya harus mendengar keluhan seorang ibu sebab sang anak perempuannya dinilai kelewat kuper dan merengek minta nikah ketimbang lanjut kuliah. Drama itu kembali panjang saat si ibu dan anak perempuan serta anak laki-lakinya duduk terpisah. Percobaan untuk duduk di satu lokasi terus gagal. Ujungnya mereka hanya bisa ngedumel dan menempati kursi kosong depan saya karena penumpang semestinya tidak naik dari Jakarta.

Menunggu Kereta
Menunggu kereta/Dewi Rachmanita Syiam

Kereta terus melaju dan drama ibu-anak di depan pun kembali mengikuti. Saya hanya terdiam dan senyum tipis sembari membuka bekal di kotak makan dengan lauk nugget dan telur dadar.

“Dia pindah gerbong aja nggak berani. Memang saya salah juga sih terlalu protektif, jadi anaknya nggak berani ke mana-mana,” kata si Ibu yang tujuan bepergian kala itu untuk menghadiri sebuah hajatan di kampung.

“Hehe, iya bu. Mari makan, ya, Bu. Takut lambung saya kumat.”

Menjelang siang, saat kereta belum setengah jalan, mendadak langit lebih gelap. Tetesan air membekas di kaca dan petak-petak sawah kian samar. Memasuki daerah sekitar Cirebon, hujan tipis dan angin menerpa. Dan ini sepertinya pengalaman langka saya merasakan hujan saat di kereta, ditambah terkena tampias dari celah jendela yang berdebu. Syukurnya meski cuaca mulai gloomy, lambung saya masih aman jadi tidak harus menahan sakit di ulu hati dalam kondisi yang serba terbatas.

Kurang dari Dua Menit Menjemput Kasmir dan Mie Jawa

Hujan mereda, tapi kabar dari teman terus meluap di Instagram, termasuk dari seorang kawan kuliah asli Pemalang yang kini berprofesi sebagai fotografer lepas. Secara tak diduga ia tawarkan perbekalan sebagai pengganjal perut sampai Surabaya. Bagaimana caranya? Kereta yang saya tumpangi dalam beberapa jam ke depan akan mampir di Stasiun Pemalang dengan waktu pemberhentian hanya dua menit. Tantangannya adalah dengan waktu yang sangat singkat itu, saya harus segera turun dari kereta, berlari ke perbatasan stasiun, menjemput bekal dari kawan, dan kembali berlari masuk ke kereta. 

Saya tidak bisa membayangkan apakah kenekatan untuk mampir di stasiun ini akan berjalan mulus atau saya harus tertinggal kereta lalu kembali cari alternatif kendaraan agar mengejar stasiun berikutnya. Berjam-jam saya sempat ragu, tapi Prima, teman saya meyakinkan pasti bisa. Prima bahkan kirimkan saya panduan rinci saya harus berlari ke arah mana, harus standby di kereta nomor berapa, dan lain sebagainya. Di tengah dilema yang melanda itu, Prima juga masih sempat memberi pilihan perbekalan yang ingin saya santap nantinya: makanan kering atau makanan basah.

“Nanti, begitu turun lu pergi ke sini Dew, pintu tengah utama yang ada teralisnya. Bilang aja mau ambil makanan dari teman. Atau mau ambil titipan aja. Gua nggak akan bisa masuk, paling nunggu di luar.”

Momen itu pun kian dekat. Kereta Airlangga yang saya tumpangi memasuki Tegal. 

“Stasiunnya kecil tenang aja, kagak kayak (Stasiun Pasar) Senen yang kudu lewat terowongan,” ujar Prima yang masih berusaha meyakinkan kenekatan ini. 

Pukul 16.23 kereta dalam hitungan ratusan meter akan masuk Stasiun Pemalang. Sesaat setelah masinis umumkan akan segera tiba di stasiun, saya bergegas pindah ke kereta nomor 5 dan berdiri di depan pintu untuk siap-siap loncat dan lari menuju pintu tengah Stasiun Pemalang yang bahkan saya lupa seperti apa perawakannya. 

Prima di balik besi-besi pagar
Prima di balik besi-besi pagar/Dewi Rachmanita Syiam

Kereta kian pelan, saya meluncur berlari sembari infokan ke petugas akan ambil titipan. Prima pun memanggil di balik besi-besi pagar. Sebuah kresek hitam dan air mineral botol besar segera ia selipkan di antara celah pagar untuk dipindahtangankan. Demi mengabadikan momen epic ini, swafoto seadanya pun terjadi. Dan saya lalu kembali tancap gas bak perlombaan untuk masuk ke kereta.

Kurang dari dua menit saya sudah kembali duduk manis di kereta nomor 6. Menatap jendela dan lambaikan tangan ke Prima di luar stasiun. Beberapa buah kue kasmir, sebungkus mi jawa yang panas lengkap dengan kerupuk, dan air mineral pun terealisasi menjadi pengisi perut saya sampai Surabaya Pasar Turi.

Sebungkus mi jawa
Sebungkus mi Jawa/Dewi Rachmanita Syiam

Terus Melaju walau Gelap Gulita

Langit berganti malam dan kereta masih melaju hingga beberapa jam ke depan untuk sampai di kota yang akan jadi tempat transit sementara saya untuk ke Lombok. Kali ini depan saya ialah sepasang suami-istri dan seorang anak yang akan berhenti di tujuan akhir lalu lanjut perjalanan ke Banyuwangi. Sepanjang jalan mereka terus bercerita ini dan itu, termasuk bagaimana membiasakan anak mereka sejak usia hitungan bulan untuk bepergian jauh. Di tengah obrolan yang hangat, kereta mendadak kian gelap. Mati lampu di sekitar Semarang.

Epic-nya perjalanan ini kembali terjadi. Bisa-bisanya kereta rute panjang yang jarak tempuhnya 719 km ini lampunya padam, tapi kereta tetap terus melaju.

Penumpang di kereta 6 saling celingak-celinguk, termasuk saya dan teman baru saya di kanan dan seberang. Kami saling kebingungan dengan kondisi yang terjadi. Baik di luar maupun di dalam kereta mendadak gelap selama beberapa menit hingga sorotan lampu senter handphone mulai memancar dari banyak orang.

Dalam kereta malam hari
Dalam kereta malam hari/Dewi Rachmanita Syiam

Segelintir petugas mondar-mandir dan mulai sibuk otak-atik suatu loker di depan kursi 4E yang saya duduki. Kereta masih gelap. Butuh setidaknya lima belas menit sampai akhirnya kereta kembali terang. Para balita yang semula menangis karena tidak nyaman atau ketakutan pun mulai kembali wara-wiri di sepanjang lorong yang lebarnya paling-paling hanya 25 cm bila tidak disesaki koper dan aneka rupa perbekalan lain penumpang.

Sejatinya bepergian dengan kereta Airlangga ini merupakan perjalan pembuka saya untuk menemukan diri kembali. Kereta ekonomi sengaja saya pilih sebagai awalan untuk mendapati banyak obrolan dan aneka kegiatan membunuh waktu lain karena kursinya yang kurang nyaman sekaligus perjalan relatif lebih lama. Setelah ini, saya akan melanjutkan perjalanan mengarungi laut pesisir Jawa dan Bali serta berlabuh di Lombok menanti berbagai momen epic lain yang tak disangka-sangka untuk kembali meyakinkan siapa saya sejatinya setelah  dilema hidup jadi orang kantoran selama sekitar dua tahun.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyusuri Pelaruga di Langkat