TRAVELOG

Ziarah ke Tanah Mati

Perjalanan ini mengingatkan saya kepada para pendahulu yang saleh. Tentang malam Jumat, malam yang baik untuk beraktivitas spiritual. Macam bentuknya, juga caranya. Ini kali saya dan Kiki, keponakan saya, melakukan semacam ziarah dengan cara kami. Memaknai pelesir di malam kota dengan berkendara dari Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, menuju Kota Jakarta.

Sebagai latar belakang, kami berdua adalah perantau dari Jawa. Meski bisa dikata saya saja yang merasa demikian. Sebab, Kiki ini sudah ber-KTP di Tigaraksa, sudah dua tahun di Tigaraksa, kuliah di Tigaraksa, dan jatuh cinta di Tigaraksa. Saya? Hanya berkunjung ke dia. Bisa dibilang bermain, sekaligus mencari kerja.

Tiga hari kami bersama, kegiatan saya hanya di depan laptop, mengirim surat lamaran kerja ke UMKM terdekat. Mencoba peruntungan. Kalau dalam istilah nelayan: tebar jala. Sedang kegiatan Kiki: menunggu waktu UAS, menjalani UAS, dan selesai. Setiap hari. Sampai tibalah pada kebuntuan yang menuntut kami untuk berunding dan menunjuk satu keputusan yang menyenangkan: jalan-jalan. Lebih konkretnya, disepakati tiga tempat: Kopi Tanah Mati, TPU Karet Bivak, dan Taman Ismail Marzuki. Pikir kami, sekali mendayung dua tiga tempat terlampaui. 

Kami berangkat pada Kamis malam, 13 Februari 2026, pukul 21.00 WIB. Malam Jumat, tepat di hari terakhir Kiki menuntaskan UAS-nya. Ia bilang, perjalanan itu sekalian untuk merayakan kebebasan setelah ujian. Barangkali memang naluri manusia selalu condong pada kemerdekaan. Saya pun demikian: ingin lepas dari jerat kemiskinan. Dan entah bagaimana, semoga Indonesia menyimpan hasrat serupa.

Hujan, Ujian, dan Keputusan

Sejak sore hujan telah mengguyur, padahal beberapa hari sebelumnya langit sama sekali tak menurunkan setetes pun air. Entah harus disebut mujur atau justru sebaliknya, selalu ada cara Tuhan menguji kesungguhan kami—lewat cuaca, misalnya. Dan Kiki, rasanya lebih patut dikasihani: dalam satu hari ia diuji dua kali—beda mata kuliah, tanpa kisi-kisi.

Setelah menakar segala kemungkinan—menghitung manfaat dan mudarat—kami akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat, meski menempuh jarak jauh dan memakan waktu berjam-jam. Salah satu pertimbangannya, kami telah berjanji dengan beberapa kawan, termasuk Chairil dan Pak Pram esoknya di Karet. Janji adalah janji. Teguh pada sikap—begitulah, konon, pelajaran dari para pendahulu itu.

Kami berjalan berselubung mantel, seperti dua bocah yang tak tahu persis apa yang sedang dilakukan. Hingga keanehan pun datang. Tidak jauh setelah kami bertolak dari tempat tinggal, hujan pun reda. Bahkan hilang. Seperti mengalami dua dimensi yang berbeda. Jalanan di luar wilayah kompleks kami sungguh kering. Menampakkan wajah aslinya.

Ziarah ke Tanah Mati
Kawasan Pasir Bolang, Tigaraksa/Kind Shella

Jalan Raya Serang dan Wajah Industri

Kami berhenti di teras ruko, melepas mantel, dan kembali berjuang menempuh rute yang membentang ganas di Jalan Raya Serang: Tigaraksa, Bitung, Cimone, Jatiuwung, Tangerang Kota, lalu sepanjang Daan Mogot sebelum akhirnya Jakarta menyeringai di depan mata. Bagi yang tak pernah melaluinya, barangkali kesan yang timbul serupa: takut.

Polusi menggumpal menjadi kabut pekat, tirai yang menelan jarak pandang. Di kiri-kanan, kawasan industri menjulang kaku. Truk kontainer berderet seperti hewan purba. Forklif lalu-lalang membawa palet, dan dari dalam bangunan panjang tanpa jendela terdengar dengung mesin yang menusuk kuping. Cerobong-cerobong asap menganga ke langit, memuntahkan sisa pembakaran yang menyatu dengan kabut polusi. Langit di atas Tangerang bukan lagi biru atau hitam; ia abu-abu basah, warna kompromi antara asap dan kelembapan.

Di salah satu hamparan itu berdiri kompleks industri milik Mayora Indah, raksasa makanan yang produknya akrab di warung-warung kampung kami. Ironi kecil menyelinap: jajanan ciki dan kopi yang kami telan sejak kecil lahir dari rahim mesin-mesin raksasa di tengah lanskap sekeras ini. Bau gula terbakar kadang samar tercium, bercampur solar dan logam panas—perpaduan yang ganjil antara manis dan getir.

Memasuki Tangerang Kota menuju Daan Mogot, ritme tak berubah, justru semakin padat. Billboard tinggi menancap menawarkan apartemen, pinjaman, dan masa depan instan. Sungai Cisadane mengalir di bawah kami, terjepit di antara tembok beton. Ya, air pun harus tunduk pada garis produksi. 

Kurang lebih satu setengah jam hingga kami mencapai pintu masuk Jakarta melewati depan Terminal Kalideres. Kiki memberitahu jika terminal itu berbahaya, perlu kesiapan mental dan segala mitigasi jika memasukinya karena reputasinya yang rawan perampokan. 

Saya pikir, kota ini sendiri mungkin yang lebih rawan bagi mereka yang tak punya jaringan dan modal. Barangkali bukan hanya dompet yang bisa dirampas, melainkan juga waktu dan harga diri.

Ziarah ke Tanah Mati
Kemacetan di Jalan Raya Serang, Bitung/Kind Shella

Tanah Mati: Oase Para Pengembara

Sudah, kami terus saja berjalan menuju destinasi pertama: Kopi Tanah Mati yang berlokasi di daerah dekat Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Warung kopi jalanan yang bagi saya memiliki peran krusial di Jakarta. Seperti oase di tengah padang gurun. Tempat para pengembara singgah meneguk air bening. Tempat para pekerja melepas istirah. Dan, tempat para filosof berteduh, membuka kembali tas ransel mereka, lalu menghitung makna yang mereka bawa sisa seberapa. Itulah Tanah Mati. Dengan sendirinya sangat paradoks. Sesuatu yang berkebalikan dari namanya. 

Sebelum sampai di sana, kami berhenti sebentar untuk membeli persediaan rokok. Saya buka gawai, dan ternyata semua kawan yang berjanji memberi kabar sudah berkumpul. Kecuali Chairil dan Pak Pram.

Sekitar pukul sebelas malam kami baru sampai di Tanah Mati. Terlihat dari parkiran ada: Lanang yang jauh-jauh dari Bogor, Mas Rohman dan Bang Don selaku juru seduh Kopi Tanah Mati, lalu kawan lainnya yang berkunjung. Kami bersapa, membicarakan kabar dan banyak hal.

Sudah lama kami tidak bertemu. Terutama dengan Lanang. Dia sahabat lama SMA di Ponorogo. Kabar terakhir yang saya terima dia baru saja menikah dengan neng geulis asal Sunda. Syukur, turut berbahagia. Obrolan kami lanjut bersimpul pada cerita masa lampau. Betapa indah hari-hari di era remaja. Mencintai sesuatu semudah membalik telapak tangan. Tak ada tekanan konsumsi yang mesti dipikirkan secara berlebihan. Hidup terasa berkutat di pasar malam. Segala mata tertuju, semua pilihan hanyalah permainan yang membuat hati senang.

Dengan Mas Rohman, pertemuan terakhir kami terjadi tahun lalu di Forest Art Camp, Magelang. Ia masih sama: tenang, dan selalu antusias kalau urusan “ilmu”. Ia salah satu pegiat kemanusiaan tersohor. Cara dia berbakti kepada hidup sungguhlah sederhana dan tak muluk-muluk. Tiada hal yang menyenangkan baginya selain berserikat, memaknai alam, membaca dan menuliskan karya. Satu lagi, bersepeda. Mas Rohman, jika kamu membaca ini, itulah penafsiranku atas semestamu. Semoga tidak terlalu meleset, ya?

Sementara Bang Don, saya baru mengenalnya belum lama. Sebelum ke Jakarta, kami sempat bertemu di Kedai Sabana, Yogyakarta. Dari sana percakapan mulai terjalin, pelan-pelan saja. Namun, pertemuan kedua ini berbeda. Saya bisa sedikit mengerti bahwa, Bang Don adalah representasi riil dari kalimat: “nakal boleh, goblok jangan!”. Ia slengekan sekaligus kritis sekaligus welas asih. Aih, mantap.

Ziarah ke Tanah Mati
Suasana di Kopi Tanah mati/Kind Shella

Kontrakan Cibubur dan Janji ke Karet

Warung tutup setelah waktu masuk dini hari. Kami semua: Saya, Kiki, dan Lanang, diajak Bang Don dan Mas Rohman untuk menginap di kontrakan mereka di daerah Cibubur, Jakarta Timur, sebelum esok lanjut perjalanan. Kami dijamu sangat baik. Diberikan cinta, kopi-kopian, serta makanan. Terima kasih. Utang rasa.

Percakapan berlanjut memanjang sampai subuh: antarfenomena-lintas perkara. Tapi yang menjadi pokok hanya satu: politik. Anda semua tahu arahnya. Anda semua jengah menghadapinya. Ya, demokrasi terasa jauh ketika yang paling dekat justru tagihan, bukan?

Baiklah. Barangkali terlalu lebar jika diteruskan catatan ini. Pagi nanti kami akan ke Karet. Menepati janji pertemuan berikutnya. Menjenguk mereka yang pernah menulis tentang kemerdekaan dan harga diri. Sampai jumpa!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Kind Shella

Kind Shella, seorang pegawai swasta yang kelewat batas menyukai keindahan. Selain bekerja, ia juga tergabung dan aktif belajar semesta keredaksian di Penerbit Kobuku.

Kind Shella

Kind Shella, seorang pegawai swasta yang kelewat batas menyukai keindahan. Selain bekerja, ia juga tergabung dan aktif belajar semesta keredaksian di Penerbit Kobuku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Satu Dekade Cinta Forest Art Camp 2025