Interval

Yang Tersisa dari Jejak Manusia Purba Sulawesi

Membaca tulisan-tulisan Eko Rusdianto memang selalu menyenangkan. Sama seperti buku Eko yang kubaca sebelumnya—Tragedi di Halaman Belakang—buku Meneropong Manusia Sulawesi: Di Antara Pencarian Leluhur, Ramalan, Hingga Ancaman Ekologi membawa para pembacanya melihat lebih dekat tempat-tempat yang begitu akrab bagi orang-orang Sulawesi.

Buku setebal 181 halaman itu merupakan kumpulan tulisan dengan satu benang merah: jejak manusia purba dan yang tersisa dari mereka. Terdiri dari 16 tulisan, buku dengan ukuran huruf cukup besar ini akan membawa pembacanya pada petualangan arkeolog, keseruan lapangan mereka, dan ancaman dalam mempertahankan jejak-jejak purbakala yang masih ada hari ini. 

Sampul depan buku ini cukup menarik. Dua hewan endemik Sulawesi yang kini jarang ditemukan—kutebak anoa dan babi hutan—berdiri di antara tumbuhan belukar dan rumput-rumput tinggi, serta mulut gua yang menggambarkan sebagian besar isi buku ini. Berpindah dari sampul, Eko juga menyediakan kata pengantar yang tak kalah menarik, dinamainya “Tersesat Kenikmatan Tulisan”. Ia menceritakan perihal arkeologi yang sempat ia geluti di kampus sebelum berpindah ke jurusan jurnalistik setelah dirinya ingin menjadi wartawan. Akan tetapi, Eko tetap melanjutkan kecintaannya terhadap arkeologi. Setidaknya buku ini lahir dari sana. 

Yang Tersisa dari Jejak Manusia Purba Sulawesi
Ilustrasi menarik pada sampul depan buku/Nawa Jamil

Lukisan Purba Kampung Biku

Seperti judulnya, buku ini terdiri dari 16 tulisan pencarian jejak-jejak purba di tanah Sulawesi di tengah ancaman ekologi hari ini. Berasal dari tahun yang beragam, 16 tulisan tersebut ditulis Eko sepanjang perjalanannya menelusuri jejak purba Sulawesi.

Ada beberapa tulisan yang menarik (bahkan semuanya), seperti “Kampung Biku dan Lukisan Babi Purba Sulawesi”. Kampung Biku bukan pertama ini kudengar. Sewaktu menyelesaikan kuliah magister dengan konsentrasi Manajemen Bencana, Kampung Biku nyaris menjadi salah satu wilayah penelitianku. Sebab salah seorang teman di masa lalu sempat bercerita terkait resiliensi unik warga di kampung ini. 

Kampung Biku berada di dalam lembah kecil di atas bentangan karst Maros–Pangkep. Jika musim hujan tiba, air akan menggenangi daerah ini dan menyebabkan banjir setinggi tiang-tiang rumah. Penyebabnya ketiadaan saluran air turun di antara bentangan batuan karst yang membentuk lembah tersebut. Adaptasi selama puluhan tahun membuat para penduduknya dapat membaca tanda-tanda alam dan memperkirakan kapan musim hujan akan datang.

Dari cerita seorang kawan yang pernah berkunjung ke sini, saya kembali mendengar Kampung Biku hari ini lewat penceritaan Eko Rusdianto. Lebih mengagumkan lagi, ternyata di Kampung Biku terdapat lukisan purba agung di salah satu guanya, yakni Leang Tedongnge. Gaya bercerita Eko begitu hidup. Ia seolah membawa para pembacanya menyusuri Leang Tedongnge, lalu menemukan lukisan babi dengan dua ornamen telapak tangan di bagian atas punggung belakangnya. 

Pencarian Rumah Wallace di Maros

Tulisan berjudul “Menelisik Jejak Wallace di Maros” menjadi favorit saya, karena seperti bagian kecil dari buku-buku Enid Blyton 5 Sekawan. Layaknya detektif, Eko dan Kamajaya Saghir mencari rumah yang ditinggali Alfred Russel Wallace sewaktu mengunjungi Maros pada Juli–November 1857. 

Wallace menuliskan tentang kedatangannya di Maros dalam buku The Malay Archipelago, termasuk serangkaian cerita hingga dirinya mendiami hunian yang berada “di kaki sebuah bukit yang ditutupi hutan”. Eko bercerita, ia dan temannya mencari Amasanga, daerah yang bersisian dengan gunung karst, daerah yang konon yang sempat ditinggal Wallace di masa lalu. 

Ketika mendatangi titik Amasanga pada peta kuno Belanda, Eko menemukan tempat itu telah banyak berubah menjadi pabrik semen milik PT Semen Bosowa. Tidak jauh dari titik tersebut terdapat kampung bernama Ammasangeng, tetapi keterkaitan kampung ini dengan titik Amasanga tidak dapat dipastikan. Setelah mencari ulang, mereka kembali turun ke lapangan, menyusuri daerah lain bernama Tompokbalang. Di sana, ia bertemu seorang warga bernama La Saing (60).

“Di sana, dulu ada rumah orang Belanda yang selalu diceritakan nenek saya,” katanya.

Begitu sampai pada penyampaian La Saing, saya tidak dapat membendung rasa haru tersebut. Meskipun sedikit kecewa mengetahui rumah tersebut telah rata dengan tanah dan hanya tersisa jejak-jejaknya saja, tetapi tetap saja, menemukan dan berdiri di titik sejarah adalah hal yang besar. 

Di tempat itu, Eko dan temannya kembali membaca buku The Malay Archipelago. “Kira-kira 50 yard (sekitar 100 meter) dari kaki bukit di bawah rumah saya, terdapat lubang dalam yang berada di alur sebuah sungai dan menjadi sumber air. Setiap hari saya mandi di situ menggunakan ember air dan mengguyurkannya di sekujur badan saya,” tulis Wallace. Lalu persis seperti yang dituliskan Wallace dalam bukunya, Eko dan temannya juga menemukan titik yang dimaksud.

Namun, dalam subtulisan yang diberi judul “Napak Tilas Wallace Terancam Hilang”, Eko menceritakan bagaimana ia mendengar suara dentuman dinamit dari PT Semen Bosowa. Ledakan yang terjadwal tiap pukul 12 siang. Sekitar 400 meter dari lokasi bekas pondok Wallace ini terdapat lubang galian tanah dan satu mobil eskavator yang bekerja, dan beberapa mobil truk pengangkut tanah yang sibuk. Ancaman ini sungguh nyata. Apalagi menurut penuturan dari buku ini, bukit tempat rumah Wallace di masa lalu ini beberapa kali ditawar untuk dibeli.

Yang Tersisa dari Jejak Manusia Purba Sulawesi
Bagian halaman yang mengulas dampak buruk perubahan iklim pada jejak prasejarah di Sulawesi/Nawa Jamil

Pertanyaan-pertanyaan Lainnya

Buku ini benar-benar menyenangkan, seperti buku sejarah yang dibalut petualangan-petualangan arkeologis. Beberapa gua dalam tulisan Eko sangat mudah dijangkau, bahkan Leang-Leang telah terbuka untuk para wisatawan sejak puluhan tahun lalu.

Ada banyak pertanyaan tentang kehidupan jauh sebelum generasi kita ada di bumi hari ini, salah satunya kehidupan purba puluhan ribu tahun yang lalu. Lewat buku ini, Eko sedikit menyingkap pertanyaan-pertanyaan. Mengapa orang purba membuat lukisan tangan? Mengapa mereka bermigrasi? Dari mana mereka berasal? Mengapa mereka tinggal di bentangan karst Sulawesi ini?

Eko tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan menyediakan jawaban berbagai ahli arkeologi dalam buku ini. Ia juga menyisipkan pertanyaan-pertanyaan penting yang mesti dijawab bersama atas ancaman-ancaman ekologi yang nyata. Sejauh mana kita akan bergerak untuk melindungi yang tersisa dari jejak-jejak manusia Sulawesi di masa lalu?


Judul Buku: Meneropong Manusia Sulawesi; Di Antara Pencarian Leluhur, Ramalan, Hingga Ancaman Ekologi
Penulis: Eko Rusdianto
Editor: Wawan Kurniawan
Perancang sampul: Rara Bijda
Tata Letak: Armin
Penerbit: Penerbit Akasia, Gowa
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Desember 2021
Tebal Halaman: x + 171 halaman
ISBN: 978-623-98085–1-8


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Semangkuk Coto Makassar dan Kerinduan dalam Perantauan