Interval

Womentourism.id: “Women Empower Women”

Kebetulan saya sedang tertarik mencari tahu soal keterlibatan perempuan di industri pariwisata. Ketika meng-Googling kata kunci “wisata dan perempuan,” hasil pencarian yang muncul kemudian sebagian besar adalah rekomendasi wisata yang cocok untuk didatangi oleh perempuan. Tak banyak informasi terkait keterlibatan perempuan sebagai pelaku wisata.

Lalu, atas rekomendasi dari seorang rekan, saya menghubungi Monic, pendiri Womentourism.id. Senang sekali rasanya ketika permohonan wawancara saya disambut Monic dengan hangat.

Hai, Mon! Boleh perkenalkan diri terlebih dahulu ke teman-teman TelusuRI?

Halo, Mauren! Jadi, Womentourism.id ini diinisiasi oleh aku sendiri, Anindwitya Rizqi Monica dan Laras Candra Laksi. Aku (Monica) kebetulan sekarang bekerja di sebuah startup company dan saat ini juga sedang merintis Womentourism.id. Doain, ya! Nah, kalo Laksi kebetulan dia lanjut S2 di UNIBRAW, Jurusan Manajemen.

Anindwitya Rizqi Monica/Istimewa

Mon, sebagai pemuda/i Indonesia, kontribusi apa yang kamu berikan untuk mendukung pariwisata Indonesia yang berkelanjutan?

Kalo dilihat dari kontribusi untuk pariwisata pariwisata Indonesia yang berkelanjutnya, ini sebenernya cukup luas banget, ya. Sejauh ini kami memang sedang belajar banyak, sih, mengenai itu.

Kami [dulu] waktu kuliah S1 di UGM cukup aktif di bidang volunteering. Laksi sendiri pernah ikut menjadi volunteer di salah satu desa wisata di Gunung Kidul. Kalo aku kebetulan pernah jadi volunteer di Desa Ekowisata Pancoh. Di situ aku mendapat networking untuk mengerjakan skripsi juga tentang partisipasi perempuan. Jadi [itulah alasan] kenapa aku melihat penelitian partisipasi perempuan dalam pariwisata di Indonesia masih sedikit sekali. Sedangkan, pariwisata sudah menghidupkan banyak lapangan kerja untuk perempuan.

Tahun 2017, aku dan Laksi juga menjalani program KKN bersama di Desa Bukian, Bali. Di situ kami berperan dalam proses inventarisasi atraksi wisata dan membantu promosi jajanan pasar perempuan ….

Bisa diceritakan insight yang melatarbelakangi kamu dan Laksi mendirikan Womentourism.id?

Sebenarnya … dari penelitian yang masih sedikit dan belum adanya program pemerintah yang mengarah pada peningkatan kapasitas perempuan dalam pariwisata.

Personally, aku sama Laksi emang concern sama hak-hak perempuan dan passionate di bidang pariwisata, sehingga kami memutuskan untuk membuat platform sekaligus gerakan Womentourism.id pada 14 September 2019. Jadi, kami ini masih baru banget.

Alasan kami simpel, Womentourism.id ini adalah platform aspirasi dan apresiasi untuk perempuan yang terlibat di bidang pariwisata.

Laras Candra Laksi/Istimewa

Misi besar apa yang dibawa oleh Womentourism.id?

Misi besar kami, nantinya Womentourism.id akan mengarah lebih serius lagi ke organisasi non-profit yang bisa memberikan pelatihan langsung ke perempuan-perempuan yang terlibat di bidang pariwisata. Tentunya, sebagai sebuah organisasi, akan perlu kolaborasi dari pemerintah maupun stakeholder lain. Jadi, kami akan menjadi partner pertama pemerintah terkait dengan pengembangan dan peningkatan kapasitas perempuan yang berpartisipasi di bidang pariwisata dalam lingkup small dan medium business.

Kalau boleh cerita lebih lanjut, cita-cita kami nantinya, ketika Womentourism.id sudah berdiri sebagai non-profit organization, kami juga ingin mengembangkan diri sebagai profit organization di bidang pariwisata yang nantinya profit tersebut bisa digunakan untuk membiayai gerakan-gerakan Womentourism.id. Walaupun kedua organisasi ini bergerak dalam dunia pariwisata dan dalam satu naungan kita, tentu saja nantinya akan dibedakan entitasnya, karena kedua visi organisasi ini memiliki esensi yang berbeda.

Nantinya, ketika organisasi-organisasi ini mempunyai berbagai lini di bidang pariwisata, harapan kami pribadi sebenarnya hanya satu, yakni untuk menutrisi sektor pariwisata Indonesia sehingga Indonesia menjadi negara yang hebat di mata dunia.

Lalu, apa saja kegiatan yang akan dilakukan oleh Womentourism.id, Mon?

Dalam satu tahun ke depan kami berencana memfokuskan gerakan untuk meningkatkan awareness untuk para perempuan yang terjun di bidang pariwisata. Namun, kami juga tidak menutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan organisasi lain di tahun pertama. Kolaborasi yang dimaksud ini bisa saja dalam bentuk pelatihan UMKM, promosi digital, sharing tentang ilmu yang berkaitan dengan pariwisata atau topik apa saja yang terkait dengan perempuan dan pariwisata.

Kemudian, tahun berikutnya, ketika kami sudah dikenal oleh masyarakat, kami berharap mengadakan sejumlah pelatihan untuk perempuan yang bekerja sebagai pelaku SMEs (Small to Medium Enterprises). Namun, jika memang ada suatu desa yang ingin berkembang menjadi desa pariwisata dengan memperbaiki struktur organisasi bisnisnya, kami juga bisa membantu tanpa mempertimbangkan gender sebagai alasan untuk tidak membagikan ilmu kita.

Tidak lupa, kami juga ingin membantu mewadahi perempuan-perempuan yang bekerja dalam perusahaan besar di sektor wisata dengan mengadakan sharing session. Arah ini akan menjadi networking yang kuat agar perempuan dapat meningkatkan soft skill-nya. Singkatnya: women empower women.

Sejauh ini, kegagalan paling besar yang pernah dialami apa? Bagaimana kalian mengatasinya?

Karena kita merupakan organisasi yang masih sangat baru, sejauh ini kami belum dihadapkan [pada] kegagalan. Namun, kami mempunyai keterbatasan waktu untuk membuat content kami lebih menarik karena organisasi ini masih terbatas sumber daya manusianya.

Apa harapan kalian untuk para perempuan Indonesia yang terjun di bidang pariwisata?

Besar harapan kami untuk perempuan Indonesia yang terjun di bidang pariwisata agar terus berkembang menjadi tenaga kerja ahli sehingga menjadi salah satu kunci keberhasilan sektor pariwisata Indonesia.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Related posts
Interval

Hanifati Radhia dan Pengalamannya Menjadi Pendamping Desa

Interval

Hannif Andy dan Desa Wisata Institute: Gotong Royong Membangun Desa Wisata

Interval

Ranar Pradipto: Mempromosikan pariwisata Indonesia lewat Fotografi

Interval

Solilokui Jalan Tol

2 Comments

  • Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *