TRAVELOG

Tur Sejarah Pasar Tanjung dan Komunitas Tionghoa di Jember

Meskipun telah lama hidup di Jember, nyatanya belum banyak sejarah Kota Tembakau ini yang saya ketahui. Oleh karena itu, saya sangat senang ketika menemukan akun Instagram Telusur Djember. Sebuah komunitas pencinta sejarah yang aktivitasnya melakukan penelusuran sejarah Jember, didirikan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Saat tahu mereka akan mengadakan acara menelusuri Pasar Tanjung Jember dan komunitas warga Tionghoa di sekitarnya pada 14 Juni lalu, tanpa banyak pikir saya langsung mendaftar untuk ikut tur. Penelusuran awalnya direncanakan mulai pukul tujuh pagi, tapi acara sedikit molor. Sebab, pemateri yang juga seorang mahasiswa dari kampus yang sama datang sedikit terlambat. Penelusuran akhirnya dimulai sekitar pukul 07.30 WIB. 

Tujuan pertama penelusuran adalah areal belakang gedung Matahari Department Store Jember. Kawasan ini menjadi semacam pasar loak kecil tempat aneka barang bekas diperjualbelikan. Ada jam tangan bekas, koin kuno, batu akik, sepeda bekas, hingga buku bekas. Areanya memang tidak terlalu luas, bahkan hanya sekitar sepuluh persen dari Pasar Loak Jatinegara, Jakarta Timur.

Foto bersama peserta tur (Dokumentasi Telusur Djember)
Foto bersama peserta tur/Dokumentasi Telusur Djember

Mindring dan Ruko

Di area pasar loak itu terdapat sebuah gang kecil tempat permukiman warga sekitar Pasar Tanjung. Di depan sebuah bangunan rumah kuno bergaya sekitar tahun 1980 atau 1990-an, kami berhenti. Sang pemateri menceritakan beberapa hal mengenai sejarah komunitas orang Tionghoa pertama di Jember.

Orang-orang Tionghoa masuk ke Jember sekitar tahun 1930-an. Pada saat itu, bank-bank milik Eropa enggan untuk memberikan bantuan kredit kepada pribumi. Sehingga, peluang ini dimanfaatkan orang Tionghoa untuk membuka usaha bank perkreditan bagi masyarakat pribumi. Di Jember, ada suatu profesi yang dikenal dengan nama “mindring”. Mindring adalah orang yang menyediakan jasa kredit untuk orang-orang menengah ke bawah. Tak hanya pinjaman uang, mereka pada umumnya juga mengkreditkan peralatan elektronik hingga barang-barang kecil, seperti minyak rambut dan lampu senter..

Saya ingat sewaktu kecil dulu, sekali seminggu rumah ibu saya didatangi mindring untuk menagih angsuran. Pada zaman sepeda motor masih menjadi sebuah kemewahan, para mindring ini memilih untuk berjalan kaki, dengan membawa sebuah tas besar berisikan berbagai barang untuk mereka kreditkan. 

Aneka barang bekas di pasar loak (Sigit Candra Lesmana)
Aneka barang bekas di pasar loak/Sigit Candra Lesmana

Di era modern seperti sekarang, mungkin para mindring itu menjelma menjadi koperasi simpan pinjam yang hanya menyediakan kredit pinjaman uang atau kredit barang-barang besar, seperti televisi, kulkas, dan kendaraan. Sementara para mindring kecil yang mengkreditkan barang-barang seperti minyak rambut, parfum murah, baju, atau sabun sudah punah, karena orang-orang sudah mampu membeli barang-barang tersebut secara tunai di toko.

Melalui cerita dari pemateri, saya juga tahu bahwa yang memulai konsep rumah toko atau ruko adalah para warga Tionghoa. Jadi, tempat usaha di lantai bawah menyatu dengan tempat tinggal yang biasanya berada di lantai dua.

Selain mengenai mindring dan ruko, pada tahun 1931 didirikan sebuah komunitas Tionghoa bernama Shiong Tih Hwee atau Sh.T.H. atau STH. Pada tahun yang sama pula diadakan rapat perdana STH di Jember. Kegiatan-kegiatan STH meliputi olahraga, perdagangan, amal, dan keagamaan. Komunitas inilah yang membuat warga Tionghoa menjadi amat solid.

STH didirikan oleh Toean Tan Kiet Khing, Toean Tan Kiet Lam, Toean Liem Tjie Gwee, Toean Tee Gwan Tjiak, dan Toean Tan King Djien. Tan King Djien adalah seorang jurnalis kelahiran Surabaya yang terkemuka pada zaman Hindia Belanda.

Potret para pendiri STH (kiri) dan suasana rapat STH pertama di Jember sekitar tahun 1931 yang ditemukan oleh kawan-kawan Telusur Djember/Sigit Candra Lesmana

Cerita di Pasar Sore dan Gang Djie

Setelah berbicara tentang mindring, ruko, dan STH, perjalanan kami berlanjut keluar dari gang kecil itu lalu masuk ke area Pasar Sore. Pasar Sore masih termasuk dalam wilayah Pasar Tanjung. Sebagian besar pedagang di area pasar sore ini memang merupakan warga Tionghoa. Ini tidak terlepas dari peristiwa tahun 1948, ketika terjadi penjarahan besar-besaran terhadap warga Tionghoa di Malang.

Mereka yang selamat kemudian menyelamatkan diri dengan pindah ke Jember dan menempati area yang saat ini dikenal sebagai Pasar Sore itu. Namun, menurut pemateri, penempatan orang Tionghoa di area pasar sebenarnya tak lepas dari keterlibatan tangan kolonial yang menginginkan orang-orang Tionghoa berhadapan langsung dengan masyarakat pribumi. Jadi, jika ada konflik, kedua kelompok masyarakat ini akan dengan mudah untuk diadu domba. Sehingga, perlawanan akan terjadi secara horizontal, bukan vertikal.

Setelah dari area Pasar Sore, perjalanan berlanjut menuju tempat terakhir dalam penelusuran kali ini. Tempat itu adalah Gang Djie, sebuah gang di sudut Pasar Tanjung, tepatnya di seberang pintu masuk Matahari. Sebenarnya, gang ini sudah sedari lama menarik perhatian saya, tapi saya tidak berani masuk. Sebab, gang itu tampak eksklusif dan orang luar yang tak berkepentingan dilarang masuk.

  • Suasana Pasar Sore/Sigit Candra Lesmana
  • Pintu masuk Gang Djie memiliki gerbang pagar layaknya sebuah rumah/Sigit Candra Lesmana

Teman-teman dari Telusur Jember juga harus meminta izin terlebih dahulu untuk menjelajahi gang tersebut. Ternyata, di gang ini terdapat sebuah penggilingan beras besar yang berdiri tahun 1930. Namun, sayangnya penggilingan beras ini sudah tidak berfungsi sekarang.

Tempat penggilingan beras itu membentang mulai dari pintu masuk gang hingga ujung belakang gang. Saat ini disekat-sekat dan dibagi menjadi beberapa rumah yang ditinggali oleh keturunan para karyawan penggilingan tersebut. Menurut pemateri, penggilingan beras besar seperti yang ada di Gang Djie ini ada beberapa di Jember. Satu di Rambipuji, satu di daerah Ambulu, dan beberapa daerah lain. Inilah sebabnya kemudian yang membuat komunitas Tionghoa di Jember menyebar di mana-mana. 

Sewaktu saya masih SD, di pertigaan jalan Ledokombo menuju sekolah saya ada sebuah toko besar yang dimiliki oleh seorang Tionghoa. Orang-orang biasa mengenalnya dengan nama Mama Tien. Di daerah rumah saya di Desa Lembengan, juga ada orang Tionghoa yang membuka toko, kami mengenalnya dengan sebutan Keswi dan Gi An. Di Kalisat, tempat saya bersekolah SMP, saya juga kenal seorang Tionghoa yang sering menjadi tempat keluarga saya memeriksakan kesehatan ketika sakit. Sayangnya, saya tidak terlalu ingat namanya. Kondisi seperti ini menyebabkan Jember tidak punya tempat khusus orang-orang Tionghoa berkumpul dan bermukim dalam satu wilayah. Sehingga, praktis Jember tidak punya kawasan pecinan seperti Surabaya, Semarang, Jakarta, atau kota besar lainnya.

Salah satu pintu masuk ke penggilingan beras yang belum beralih fungsi menjadi rumah pribadi/Sigit Candra Lesmana
Salah satu pintu masuk ke penggilingan beras yang belum beralih fungsi menjadi rumah pribadi/Sigit Candra Lesmana

Perjalanan di Gang Djie diakhiri dengan menemui seorang warga Tionghoa yang sudah mendiami Gang Djie sejak penggilingan beras itu masih beroperasi. Sayangnya, karena faktor usia, banyak hal yang beliau lupa sehingga tidak banyak informasi yang bisa kami gali.

Usai bertamu, kami kembali ke tempat parkir motor kami. Sebagai peserta, kami juga diminta untuk memberikan uang seikhlasnya untuk dana operasional komunitas Telusur Jember. Jujur, sebagai warga dengan penghasilan kecil, penarikan dana yang tak ditentukan nominalnya ini sangat membantu saya. 

Namun, ada satu kabar kurang baik yang dibagikan panitia sebelum kegiatan berakhir. Telusur Jember terpaksa hiatus sementara karena para pengurusnya akan menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Semoga saja setelah KKN, mereka masih bersemangat untuk melanjutkan kegiatan Telusur Jember. Sebab, sayang jika komunitas yang sangat menyenangkan bagi para pencinta sejarah seperti saya dan (mungkin) satu-satunya ini harus hilang dari Jember. 


Referensi

Soejatmiko, B. 1982. Etnis Tionghoa di awal Kemerdekaan Indonesia. Surabaya: Majalah Mingguan LIBERTY.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Sigit Candra L

Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Keliling Jember Sebagai Seorang Pencinta Sejarah