Interval

Bicara Tren Pariwisata 2022

Tak dipungkiri, berwisata dewasa ini menjadi kebutuhan manusia. Meskipun bukan kebutuhan utama, berwisata juga bukan lagi barang mewah yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Karena trafik berwisata yang sangat tinggi, terlebih di era media sosial, animo untuk merealisasikan kegiatan berwisata-ria sempat terhenti di 2020 dan 2021. Dengan kurva COVID-19 yang terus menurun, bagaimanakah tren pariwisata akan berlanjut pada 2022? 

Tren Pariwisata 2022
Data kunjungan wisman pada 2020-2021 via kamenparekraf.go.id

Dari statistik kunjungan wisatawan oleh Kemenparekraf yang disadur dari BPS, 2021 mengalami tren positif seiring berakhirnya tahun. Tercatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara periode setelah masa PPKM (September—Oktober) mengalami kenaikan sekitar 21,7% dari 124.071 menjadi 151.032. Kita bisa menatap 2022 dengan optimistik, melihat laju vaksin di Indonesia yang berhasil “memaksa” para penduduk untuk mendapatkan vaksin turut menurunkan angka penderita COVID-19, tetapi kita juga harap-harap cemas, apabila kegiatan pariwisata meledak maka ada kemungkinan ledakan kasus pada varian baru COVID-19 yakni Omicron. 

Dilansir dari situs Kemenparekraf, pada rapat kerja dengan Komisi X DPR-RI, dalam Rancangan Kerja Pemerintah (RKP) 2022 masih berfokus kepada pemulihan pariwisata dan ekonomi kreatif yang terbagi dalam dua strategi pilihan yakni pemulihan pasar dan industri pariwisata dan ekonomi kreatif serta diversifikasi pariwisata dan peningkatan nilai tambah ekonomi kreatif. Dengan segala kemungkinan yang terjadi maka tren pariwisata pada 2022 akan kurang lebih seperti pada 2021.

Wisata minat khusus masih menjadi primadona ketika pagebluk berlangsung. Minat khusus yang dimaksud di sini adalah wisata dengan kegiatan tema tertentu yang bisa menambah pengetahuan sekaligus skill dari pengunjung.

Tren Pariwisata 2022
Desa Wisata Penglipuran di Bangli, Bali via TEMPO/Johanes P Christo

Pagebluk tentu saja sudah menyadarkan sebagian besar orang bahwa harus ada kemampuan-kemampuan baru semasa pagebluk berlangsung, semisal orang-orang menjadi lebih sadar untuk berkebun ketimbang sebelum pagebluk. Begitu pula dengan membatik, menyelam, beternak dan hal lainnya. Para wisatawan tidak hanya ingin melepas penat ketika berlibur, namun juga mendapatkan sesuatu hal yang baru selepas pulang.

Menjamurnya desa wisata di Indonesia adalah tren positif yang juga naik selama pagebluk, terutama desa wisata yang mengusung konsep keberlanjutan. Kemenparekraf melalui Vinsensius Jemadu dalam laman web Kemenparekraf mengungkapkan bahwa desa wisata dapat menopang ekonomi perekonomian bangsa, asal desa wisata menjadi desa wisata yang berkembang dan berkelanjutan.

Tahun 2021, ada 60 desa wisata yang mendapatkan sertifikasi oleh pemerintah, yang menurut Vinsensius melebihi jumlah desa wisata yang mendapat sertifikasi pada 2020 sebanyak empat kali lipat. Ditambah dengan suksesnya acara Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 yang mencapai 1831 peserta dari 34 provinsi, yang melebihi ekspektasi awal acara yang diperkirakan hanya mencapai 700 peserta.

“Salah satu keunggulan desa wisata itu adalah terletak di sumber daya manusianya. Desa wisata tidak menuntut masyarakat beralih profesi, tetapi justru memberi nilai tambah pada profesinya. Jadi, misal terjadi nol wisatawan, masyarakat masih punya pendapatan dari profesi utamanya yang sebagian besar ada di sektor pertanian,” ungkap Hannif Andy, salah satu penggagas Desa Wisata Institute.

Seiring pagebluk, kesadaran wisatawan tentang alam juga patut diapresiasi. Perubahan iklim yang bukan sekedar omong kosong kini sudah dirasa memasuki fase kritis mulai berdampak pada alam di sekitar kita. Perubahan cuaca ekstrim, suhu permukaan bumi yang meningkat, laut yang semakin dalam membuat kita sadar; kita seharusnya dapat menyelamatkan bumi, setidaknya sedikit.

Tren Pariwisata 2022
Penanaman pohon mangrove di Pulau Tirang via TEMPO/Budi Purwanto

Wisata alam dan wisata yang mengusung konsep go green menjadi sorotan terkait dengan aksi yang dapat kita lakukan saat berwisata. Semisal penanaman mangrove di pesisir pantai, clean up kawasan pantai, atau restorasi kawasan taman nasional. Selain dapat menikmati pemandangan yang indah dan udara sejuk tetapi juga turut sumbangsih menjaga bumi.

Sekarang kita akan sering melihat bagaimana orang-orang membentuk “kelompok kecil” untuk berwisata. Tujuannya tidak lain adalah menghindari jumlah besar dalam rombongan yang berpotensi menyebarkan COVID-19 lebih besar. Kelompok-kelompok kecil ini akan membentuk kebutuhan wisata pribadi yang tidak bercampur dengan kelompok lainnya. Dengan ruang lingkup pribadi yang seminimal mungkin menghindari pencampuran dengan rombongan lainnya. 

Dari tren yang tercipta sepanjang 2020-2021 yang diperkirakan akan terus berjalan adalah protokol kesehatan yang ketat untuk memastikan kesehatan wisatawan terpantau. Salah satu hal positif yang terjadi karena COVID-19 ini adalah protokol kesehatan, yang dahulu kita abai.

Tempat-tempat wisata mulai berbenah dan menyiapkan beberapa protokol standar seperti pengecekan suhu, penyediaan hand sanitizer, tidak berkerumun, harus membawa surat sehat atau surat vaksin. Meskipun pemerintah tidak mengawasi secara ketat, setidaknya penerapan regulasi seperti ini harus ditaati oleh pengelola tempat wisata demi keamanan bersama. 

Dimitrios Buhalis dalam bukunya Encyclopedia of Tourism Management and Marketing berujar bahwa COVID-19 memaksa kita berhadapan dengan kondisi non-tourism, berbanding terbalik dengan yang kita alami sebelumnya yakni overtourism. Kondisi non-tourism juga mengundang hal negatif diantaranya adalah kebangkrutan dan kehilangan pekerjaan bagi orang-orang yang bekerja di sektor pariwisata. Indonesia mau tidak mau harus hati-hati dalam mengambil langkah kebijakan soal pariwisata, tentunya kita tidak mau adanya lonjakan kasus terulang kembali hanya karena keinginan berwisata yang tidak terkendali tapi kita juga tidak ingin pariwisata kembali ke jurang kebangkrutan seperti pada 2020.

“Sektor pariwisata sangat rentan sama banyak faktor. Bencana alam, bencana kesehatan, keamanan, dan yang jarang kita bahas soal perubahan iklim. Jadi, bukan hanya desa wisata saja yang terpukul. Semua bidang usaha di sektor pariwisata berpotensi kena dampaknya,” jelas Hannif Andy.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu
!

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
IntervalPilihan Editor

Tani Jiwo: dari Hostel ke Pemberdayaan Literasi Dieng

IntervalPilihan Editor

Membedah Borobudur: Mengapa Kelebihan Pengunjung Menjadi Bumerang

Interval

Menilik Janji Ibu Kota Nusantara

Interval

KRMT. L. Nuky Mahendranata Nagoro:Geliat Sejarah dalam Literasi Media Sosial

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Sekarang Kita Bicara tentang Perjalanan Esok Hari