Travelog

Trekking Sentul: Perjalanan ke Curug Leuwi Asih (2)

Perjalanan dilanjutkan menuju Curug Leuwi Asih. Salah satu trek yang kami lalui ternyata juga merupakan jalur motor trail, sehingga sering kali kami harus menepi ketika ada rombongan motor trail lewat.

Tiba-tiba ada celetukan terdengar di antara rombongan, “Saya mau ikut nebeng motor trail saja!”. Saking sudah lelahnya menghadapi jalur menanjak. Namun, tentunya ditanggapi dengan tawa oleh orang-orang lainnya.

Saat masih di area perbukitan terbuka langit semakin gelap. Para pemandu mulai mengeluarkan jas hujan dari tas mereka untuk dibagikan kepada peserta. Ya, salah satu benefit yang peserta dapat dari open trip ini adalah jas hujan yang disediakan oleh pemilik jasa.

Benar saja, tidak lama setelah itu air mulai turun dari langit. Jas hujan yang sudah dibagikan mulai kami pakai. Waktu itu beberapa di antara kami ragu untuk memakai jas hujan—termasuk saya—karena tetes air yang belum cukup deras. Namun, begitu makin deras akhirnya jas hujan dikenakan oleh semua peserta. Trekking pole akan menjadi semakin berguna untuk membantu menjaga keseimbangan tubuh saat menapaki jalan menanjak dan menurun.

Untungnya hujan berhenti saat kami memasuki kawasan yang didominasi kawasan perkebunan. Di area ini kami bertemu para petani singkong yang sedang memetik, mengupas, dan membawa hasil panen mereka ke dalam karung-karung. Tak jarang kami harus bergantian menggunakan jalan setapak dengan para pekerja kebun. 

Setelah melewati lahan singkong, kami menyusuri perkebunan sereh. Area ini letaknya lebih tinggi dari kebun singkong. Perpaduan antara bau tanah yang habis tersiram hujan dengan aroma yang khas dari daun sereh menciptakan suasana rileks dan menenangkan ketika melewati kawasan ini.

Rehat Sejenak di Warung Sebelum Melanjutkan Perjalanan

Saat sedang asyik berjalan sambil menikmati pemandangan dari lahan sereh, tiba-tiba terdengar suara kambing bersahutan. Ternyata kami sudah mulai memasuki wilayah permukiman penduduk. Melihat ada pendopo dan beberapa kursi kayu, rombongan memutuskan beristirahat sebelum ke Curug Leuwi Asih.

Dari sini pun sudah terdengar gemericik air. Tidak butuh berjalan jauh kami sudah menemukan aliran sungai dengan banyak batu besar. Kami makin berjalan ke arah hulu dengan menyusuri jalan setapak yang berada di samping alirannya. Tentunya jalur yang ditempuh pun lebih licin karena lebih dekat dengan aliran air. Di sepanjang jalur ini kami akan melewati gazebo di sebelah kiri dan aliran sungai di sebelah kanan.

Setelah menyeberang melalui jembatan kayu dan menyusuri puluhan anak tangga, tibalah kami di tujuan terakhir perjalanan sekitar pukul 13.00. Rombongan duduk dan berkumpul di salah satu gazebo dekat warung. Memang di lokasi ini banyak berdiri warung dengan gazebo untuk para pengunjung beristirahat. Pengunjung tinggal pilih, mau di gazebo yang terletak di pinggir aliran air atau di dekat anak tangga yang menuju air terjun Leuwi Asih.

Sebagian peserta open trip langsung menuju lokasi curug berada, sementara lainnya memilih untuk memesan makan terlebih dahulu. Saya bergabung dengan kelompok yang kedua. Teman saya yang dari awal berjalan bersama juga memiliki pilihan yang sama seperti saya.

Sebelum bermain air, rasanya saya harus mengisi tenaga terlebih dahulu, terlebih baru usai menempuh perjalanan trekking selama beberapa jam. Hanya beberapa saat saja saya perlukan untuk menghabiskan pesanan saya berupa semangkuk mi instan dengan satu telur ceplok dan irisan cabai.

Trekking Sentul: Perjalanan ke Curug Leuwi Asih (2)
Aliran air di Curug Leuwi Asih/Nita Chaerunisa

Bermain Air di Curug Leuwi Asih

Dari deretan warung, kami hanya perlu berjalan beberapa meter saja untuk sampai ke air terjun atau lokasi persis Curug Leuwi Asih. Tempat wisata ini dikelola dengan baik, terlihat dari pagar besi yang dibuat sepanjang jalan menuju curug dan jalur yang sudah disusun dengan batuan kecil di atas tanah. Tujuannya supaya pengunjung tidak mudah terpeleset saat berjalan di atasnya.

Curug Leuwi Asih bukan termasuk tipe air terjun yang mengalir tinggi dari tebing. Menurut salah satu orang yang saya temui di curug, air terjun ini berasal dari aliran sungai yang memecah bebatuan besar. Air yang turun dari curug bergabung bersama aliran sungai dari atas, lalu mengalir di antara batu-batuan. Saya juga tidak mengetahui hulu dari aliran sungai tersebut.

Tepat di dekat air terjun, terdapat dua batu besar di tengah aliran yang mengalir ke bawah. Di samping kanan dan kiri aliran juga terdapat batu besar. Banyak pengunjung yang biasa menjadikan batu-batu tersebut sebagai titik untuk melompat ke air. Bagi pengunjung yang tidak berani melompat dari ketinggian, juga bisa sekadar berfoto di sni.

Karena malas membawa pakaian basah saat pulang nanti, alhasil saya hanya asyik berfoto di antara batu-batuan saja. Lagipula saat itu Curug Leuwi Asih sedang ramai pengunjung, sehingga kami harus bergantian bermain di beberapa titik yang dianggap menarik oleh pengunjung. Namun, untuk pengunjung yang ingin bermain air, sudah tersedia banyak toilet yang letaknya cukup dekat.

Trekking Sentul: Perjalanan ke Curug Leuwi Asih (2)
Spot melompat dari atas batuan di Curug Leuwi Asih/Nita Chaerunisa

Kembali ke Lapangan Leuwi Asih

Waktu menunjukkan hampir pukul 15.00. Sudah nyaris enam jam kami trekking dan bermain air. Rombongan open trip segera bergerak pulang menuju Lapangan Leuwi Asih melewati pemukiman penduduk sejauh kurang lebih satu kilometer. Karena berada di permukiman penduduk, jalur yang dilalui tidak sulit seperti sebelumnya. Kami melewati rumah penduduk dan warung-warung milik mereka, serta kandang hewan ternak.

Saya baru mengetahui ternyata jarak antara Curug Leuwi Asih dan Lapangan Leuwi Asih tidak jauh. Mungkin bagi pencinta alam yang hanya sekadar ingin bermain air dan tidak ingin repot berjalan jauh, Curug Leuwi Asih bisa masuk daftar kunjungan. Perjalanan bisa dimulai dari Lapangan Leuwi Asih yang lokasinya juga tidak jauh dari jalan kampung. 

Setelah sampai di Lapangan Leuwi Asih, peserta open trip langsung diantar pulang kembali menuju meeting point. Jalur yang dilalui sama seperti perjalanan berangkat. Rasa lelah atas perjalanan seharian dan embusan angin sepoi-sepoi sore itu membuat beberapa peserta terlelap di atas mobil pick up yang mengantar kami. Dari titik kumpul, saya dan beberapa peserta yang menggunakan fasilitas antar jemput diantar kembali menuju Stasiun Bogor.

Pengalaman melakukan perjalanan trekking dengan menggunakan jasa usaha open trip ternyata jadi salah satu pilihan berwisata yang menarik. Selain bisa menambah teman, dengan bantuan pemandu, para pencinta alam tidak perlu takut tersesat saat memilih jalur menuju destinasi tertentu. Selain itu tentunya para pemandu juga bisa membantu mendokumentasikan perjalanan, sehingga kami tidak perlu takut kehilangan momen saat berada di jalur trekking.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Perempuan Jakarta yang tertarik dengan keindahan alam, budaya, dan cerita masyarakat Indonesia.

Perempuan Jakarta yang tertarik dengan keindahan alam, budaya, dan cerita masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jakarta – Merak: Perjalanan antar Commuter Line