Itinerary

Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur

Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur
Wisatawan berfoto dengan latar Candi Borobudur/Rifqy Faiza Rahman

Di benak sebagian wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, Kabupaten Magelang sangat erat dengan Candi Borobudur. Hampir bisa dipastikan candi Buddha berusia 1.200 tahun peninggalan Wangsa Syailendra itu menempati urutan teratas daftar destinasi wisata yang harus dikunjungi di Magelang. Biasanya, vakansi ke Candi Borobudur sepaket dengan kunjungan ke Candi Prambanan dan Ratu Boko, karena ketiganya termasuk dalam pengelolaan yang sama di bawah PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), badan usaha milik negara. Khusus untuk Borobudur, dipelukan reservasi daring lewat ticket.borobudurpark.com/id jika ingin menaiki struktur candi dan ditemani pemandu.

Selain itu, Candi Borobudur juga disorot publik karena menjadi tempat penting untuk prosesi puncak peringatan Hari Raya Waisak. Pada tahun lalu, Waisak berlangsung meriah karena puluhan bhante peserta tradisi Thudong dari Thailand berjalan kaki ke Candi Borobudur. Antusiasme warga di berbagai daerah yang dilintasi jalur ritual Thudong menunjukkan kehangatan dan toleransi antarumat beragama.

Dimensi sosial itulah yang juga menjadi nilai lebih keberadaan candi-candi Buddha di sekitar Borobudur. Latar belakang penduduk di permukiman yang mengapit candi juga cenderung beragam. Selain Borobudur, tercatat ada tiga candi lainnya yang terletak relatif berdekatan, yaitu Pawon, Mendut, dan Ngawen. Candi-candi tersebut bisa sekadar dikunjungi dalam sehari, atau satu hari satu candi jika ingin mengeksplorasi sejarah, relief, dan cerita yang mengiringinya.

*

Candi Pawon

Candi Pawon terletak paling dekat dengan Candi Borobudur, karena berada di kecamatan yang sama, tetapi beda desa. Candi Pawon yang berjarak sekitar 2 km dari Candi Borobudur itu berada di tengah permukiman Dusun Brojonalan, Kelurahan Wanurejo, Kecamatan Borobudur. Menurut catatan sejarah, pembangunan Candi Pawon kemungkinan berlangsung antara abad VIII–IX Masehi atau di era Wangsa Syailendra. Diperkirakan pula candi ini didirikan untuk menyimpan abu jenazah Raja Indra (782–812 M), ayahanda dari Raja Samaratungga.

Batu andesit menjadi bahan baku utama yang membangun Candi Pawon. Berdasarkan keterangan Balai Konservasi Borobudur, Candi Pawon setinggi 13,3 meter tersebut berdenah bujur sangkar dengan panjang sisi-sisinya 10 meter. Orientasi candi ini adalah ke arah barat, dan diyakini menjadi pintu gerbang menuju Candi Borobudur sebagai tempat umat mensucikan diri dari kotoran jasmani dan rohani.

Karakter Buddha yang menghiasi Candi Pawon antara lain arca-arca Bodhisattva di bagian tubuh candi dan stupa besar di puncak atap dan stupa-stupa kecil di sekelilingnya. Selain itu terdapat relief yang sama di sisi utara dan selatan, yaitu penggambaran Kinara dan Kinari, sepasang makhluk berkepala manusia dengan badan burung. Keduanya berdiri mengapit pohon kalpataru yang tumbuh di dalam jambangan. Sementara di bagian atasnya tampak sepasang manusia sedang terbang.

Waktu operasional: Selasa–Minggu, 07.00–16.00 WIB (Senin tutup)
Tiket masuk: Rp10.000 (WNI), Rp20.000 (WNA), Rp5.000 (anak-anak)

*

  • Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur
  • Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur

Candi Mendut

Candi Mendut terletak sekitar 4 km dari Candi Borobudur, tepatnya di wilayah Mendut, Kecamatan Mungkid. Meskipun berada di luar kawasan Borobudur, tetapi Candi Mendut memiliki peran penting bagi umat Buddha, khususnya saat prosesi Waisak. Candi ini berada dalam satu garis lurus dengan Candi Pawon dan Candi Borobudur. Seperti kedua candi tersebut, Candi Mendut juga terbuat dari batu andesit dengan ukuran denah panjang 33,8 meter, lebar 25 meter, dan tinggi 18,95 meter; serta berorientasi menghadap ke arah barat laut.

Berdasarkan catatan sejarah oleh Balai Konservasi Borobudur, Candi Mendut diperkirakan berusia lebih tua atau setidaknya sezaman dengan Candi Borobudur. Pembangunan candi bercorak BUddha Mahayana tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Raja Indra dari Wangsa Syailendra. Pada masanya, selama kurun waktu sekitar satu abad, Candi Mendut digunakan sebagai tempat ziarah bagi umat Buddha. 

Pada bagian dinding di pipi tangganya dihiasi beberapa panil berpahat yang menceritakan ajaran-ajaran Buddha. Sementara di bagian tubuh candi, jika disimak secara pradaksina (berjalan searah jarum jam), terdapat relief jajaran dewa yang masyhur dikenal dengan nama Garbhadatu Mandala dari agama Buddha beraliran Tantrayana. Adapun di dalam bilik candi, tiga arca Buddha berukuran besar yang terletak bersisian, yaitu arca Cakyamuni (menghadap barat), arca Bodhisattva Avalokitesvara (menghadap selatan), dan arca Bodhisattva Vajrapani (menghadap utara). 

Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur
Beberapa pengunjung berjalan di bagian dalam Mendut Buddhist Monastery/Rifqy Faiza Rahman

Usai mengunjungi Candi Mendut, sempatkan pula untuk mampir ke Mendut Buddhist Monastery yang letaknya hanya sepelemparan batu. Mendut Buddhist Monastery merupakan mahavihara (vihara besar) yang di dalamnya terdapat patung Buddha, stupa, arca, vihara, taman, asrama, ruang pentahbisan bhikkhu, tempat tinggal bhikkhu, hingga perpustakaan. Tidak ada biaya masuk ke tempat ibadah ini, tetapi pengunjung diwajibkan menjaga ketenangan dan kebersihan.

Waktu operasional: Setiap hari, 07.00–16.00 WIB
Tiket masuk: Rp10.500 (WNI), Rp20.500 (WNA), Rp5.500 (anak-anak)

^

  • Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur
  • Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur
  • Telusur Candi-Candi Buddha di sekitar Borobudur

Candi Ngawen

Candi ini berada paling jauh dari Candi Borobudur, jaraknya sekitar 9,5 km. Atau berjarak kurang lebih 6 km dari Candi Mendut. Candi ini terletak di kawasan perdesaan dan persawahan asri di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. Sebagaimana menjadi kekhasan arsitektur candi Jawa Tengah, Candi Ngawen juga berbahan batu andesit dan memiliki atap stupa. 

Seyogianya Candi Ngawen yang diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Raja Indra dari Wangsa Syailendra di abad ke-8, merupakan kompleks kecil bangunan seluas 3.556 meter persegi yang terdiri dari lima candi dengan orientasi ke arah timur, berurutan dengan nama Candi I, II, III, IV, dan V. Namun, hanya Candi II dengan ukuran alas panjang 13 meter, lebar 12 m, dan tinggi 7 meter yang berhasil dipugar pada 1927, sementara empat candi lainnya hanya tersisa bagian pondasi. 

Selain dua arca Buddha yang sudah tidak utuh, ciri khas Candi Ngawen adalah keberadaan empat arca singa di sisi pojok kaki Candi II dan IV, yang mana keduanya merupakan candi induk di antara tiga candi pendamping (perwara). Menurut catatan Direktorat Perlindungan Kebudayaan, arca tersebut tampaknya lebih dari sekadar hiasan. Ada fungsi penting, yaitu sebagai saluran buangan air hujan. Relief Kinara Kinari yang mengapit pohon Kalpataru di sisi dinding candi, seperti halnya ditemukan di Candi Pawon, turut menjadi penghias yang memikat pengunjung karena kerumitan dan keindahan ukirannya.

Waktu operasional: Setiap hari, 08.00–16.00 WIB
Tiket masuk: Rp10.500 (WNI), Rp20.500 (WNA), Rp5.500 (anak-anak)


Referensi:

Balai Konservasi Borobudur. (2016, Juli 21). Candi Pawon. Diakses dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Republik Indonesia, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-pawon.
Balai Konservasi Borobudur. (2016, Juli 21). Candi Mendut. Diakses dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Republik Indonesia, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-mendut/.
Direktorat Perlindungan Kebudayaan. (2019, April 22). Candi Ngawen, si Mungil dengan Bingkai Keindahan Alamnya. Diakses dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Republik Indonesia, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/candi-ngawen-si-mungil-dengan-bingkai-keindahan-alamnya/.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelusuri Jejak Peradaban Arsitektur Hindu-Buddha di Lereng Merapi Boyolali