Travelog

Taman Radio Bandung dan Kenangan Masa Kejayaan Musik Rekaman

Keberadaan Taman Radio setidaknya hendak menegaskan Bandung, yang juga dijuluki Kota Kembang, sebagai Kota Radio. 

Minggu pagi, pertengahan Januari 2022, jalanan di kawasan Dago, Bandung, terbilang masih lengang. Sejumlah pesepeda mengayuh sepeda perlahan, menuju ke kawasan Dago atas. Sabtu dan Minggu, terutama di pagi hari, kawasan Dago menjadi salah satu arena para pesepeda. Ada yang cuma bersepeda tipis-tipis rute pendek dan diakhiri dengan kongko di sudut-sudut trotoar Dago yang teduh karena naungan pohon-pohon berdaun rimbun. Ada juga yang bersepeda agak jauhan ke daerah Tahura, bahkan tembus hingga kawasan Lembang.

Salah satu sudut kawasan Dago, Bandung/Djoko Subinarto

Di antara pesepeda yang melintas di kawasan Dago pagi itu, terlihat beberapa orang yang melakukan aktivitas joging maupun jalan-jalan santai. Tampak pula beberapa warga yang duduk-duduk di bangku khusus yang ada di trotoar, menikmati sejuknya udara pagi kawasan Dago. Seorang warga kulihat duduk santai menghadap ke arah Jalan Ir. H. Juanda. Adapun dua orang lainnya duduk menghadap ke arah Taman Radio.

Posisi Taman Radio mudah ditemukan. Ia berada di sisi kiri Jalan Ir. H. Juanda, jika kita melaju dari arah Dago bawah. Sisi selatan taman ini menghadap langsung ke Jalan Ranggamalela. Ke utara sedikit dari taman ini, sekitar 300 meteran, kita temui persimpangan Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan Sulanjana, yang dulu memiliki bunderan di mana terdapat patung gajah yang ikonik di tengah-tengahnya. Namun, akhir tahun 80-an, bunderan dan patung gajah tersebut dibongkar, tak bersisa.

Boleh dibilang Taman Radio adalah taman radio  yang pertama ada di Indonesia, bahkan mungkin di Dunia. Taman ini diresmikan pada tanggal 19 Mei 2017. Walikota Bandung ketika itu masih dijabat oleh Ridwan Kamil, yang akrab disapa Kang Emil.

Penyiar sedang bertugas di sebuah stasiun radio/Djoko Subinarto

Acara peresmian taman ini diawali dengan pawai kendaraan outside brodcast atau OB van milik stasiun-stasiun radio yang ada di Bandung. Selain itu, juga dimeriahkan dengan parade penyiar dan pembawa acara yang tergabung dalam komunitas MC Bandung, serta hiburan dari radio anggota-anggota Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat. Peresmiannya sendiri dilakukan langsung oleh Kang Emil.

Taman Radio dibangun sebagai apresiasi terhadap media radio yang selama bertahun-tahun telah menjadi sarana edukasi dan juga hiburan bagi masyarakat, khususnya Bandung. Selain itu, boleh jadi pula pendirian taman ini merupakan sebuah penegasan bagi Bandung sebagai Kota Radio.

Sejarah mencatat bahwa di sekitar tahun 1920-an, di Bandung berdiri De Bandoengsche Radio Vereniging (BRV), yang disebut-sebut menjadi salah satu tonggak sejarah bagi perkembangan Radio Republik Indonesia (RRI). Siaran perdana BRV didengar oleh warga Bandung pada 8 Agustus 1926.

Pasca kemerdekaan, Bandung termasuk salah satu kota pelopor yang memunculkan  stasiun-stasiun radio yang dikelola oleh pihak swasta, yang kemudian dikenal sebagai stasiun radio siaran swasta nasional. 

Pada era emas siaran radio, Bandung bahkan menjadi kota yang memiliki stasiun radio di kanal FM terpadat di seluruh dunia, sehingga untuk beberapa waktu lamanya Kota Bandung menutup izin pendirian stasiun radio FM.

Sejumlah presenter televisi nasional maupun sejumlah pesohor tercatat mengawali karirnya sebagai penyiar radio di Bandung. Ridwan Kamil, yang kini menjadi Gubernur Jawa Barat, pernah pula nyambi sebagai penyiar radio di Bandung. Begitu juga Yana Mulyana, atau Kang Yana, yang kini menjadi Walikota Bandung, cukup akrab dengan dunia radio siaran. Sebelum menjadi Walikota Bandung, Kang Yana adalah salah satu petinggi sebuah stasiun radio di Bandung.

Jadi, agaknya memang tak berlebihan jika di Kota Bandung ada sebuah taman yang didedikasikan untuk radio dan diberi nama sebagai Taman Radio.

Gedung bekas Toko Aquarius/Djoko Subinarto

Musik rekaman

Dari depan Taman Radio, jika kita layangkan pandangan ke sisi timur laut, kita dapat melihat Jalan Sultan Tirtayasa, yang tidak terlalu lebar. Tak jauh dari mulut Jalan Sultan Tirtayasa ini, ada sebuah bangunan dua lantai yang dindingnya didominasi warna putih, menghadap ke arah barat. Bangunan ini kini menjadi kantor sebuah bank.

Dulu, bangunan tersebut adalah Toko Aquarius, toko yang khusus menjual musik rekaman dalam bentuk kaset dan compact disc (CD). Selain di Bandung, Aquarius dapat pula dijumpai di sejumlah kota. Saat industri rekaman sedang jaya-jayanya, Aquarius tak pernah sepi pengunjung. 

Aquarius boleh dibilang menjadi tempat ”pelepas dahaga” para pecinta musik dan kolektor musik. Musik rekaman terbaru maupun lawas, domestik maupun mancanegara, dari berbagai genre, dapat kita jumpai dan beli di Aquarius.

Namun, seiring dengan kemajuan teknologi digital, penjualan musik rekaman dalam wujud kaset dan CD semakin seret. Terus merugi, Aquarius pun akhirnya tak bisa lagi mempertahankan roda bisnisnya. Akhir tahun 2009, Toko Aquarius yang berada di Dago, Bandung, tutup. Aquarius yang ada di kota lain menyusul tutup pula kemudian.

Bagi para pecinta dan kolektor musik, Aquarius mungkin saja menjadi kenangan tersendiri dan terakhir ihwal kejayaan musik rekaman. Lantas, bagaimana dengan nasib radio, yang notabene lekat pula dengan musik rekaman?

Radio siaran hingga sekarang masih eksis. Stasiun-stasiun radio di sejumlah kota, termasuk di Kota Bandung, masih mengudara. Tapi, jujur saja, minat orang untuk mendengar siaran radio sudah tidak sebesar dulu.

Dengan kemajuan teknologi digital yang demikian dahsyat sekarang ini, orang memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan informasi maupun hiburan, termasuk mendengarkan musik rekaman–yang dulu mungkin hanya bisa diakses lewat siaran dari stasiun radio atau dari kaset/CD yang kita dapatkan dari Aquarius atau gerai musik rekaman lainnya.

Mudah-mudahan saja nasib industri radio siaran tidak seburuk nasib Toko Aquarius, yang harus tutup untuk selama-lamanya.

Taman Radio dilihat dari arah depan/Djoko Subinarto

Keberadaan Taman Radio kiranya dapat menjadi pelecut tersendiri bagi insan-insan radio, khususnya di Kota Bandung, untuk lebih kreatif dalam berkarya, sehingga membuat khalayak tidak memutuskan cepat-cepat mengucapkan selamat tinggal untuk radio.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Travelog

    Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

    Travelog

    Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

    NusantarasaTravelog

    Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Kemah di Pantai Karang Papak, Garut