Arah SinggahInterval

Takdir Dayak Lebo di Persimpangan Jalan

Adat Dayak Lebo di Kampung Merabu mencoba bertahan di tengah ketatnya peraturan agama dan cepatnya arus modernisasi. Regenerasi dan literasi jadi kendala besar.

Teks: Rifqy Faiza Rahman
Foto: Deta Widyananda dan Mauren Fitri


Takdir Dayak Lebo di Persimpangan Jalan
Ransum, ketua adat Kampung Merabu. Saat TelusuRI berkunjung, dia sedang bersantai sambil merokok di teras rumahnya/Mauren Fitri

Rambut di kepala sudah memutih. Kulit cokelatnya mulai berkeriput. Kedua sendi lutut mengapur. Kaki bengkak karena asam urat. Sesekali ototnya akan kram jika terlalu lama duduk atau bergerak. Langkahnya sudah tatih. Saat berjalan, sepotong kayu bercat hijau harus digenggam untuk menopang tubuh.

Kondisi itu membuat Ransum (61) terlihat lunglai karena tidak selalu bisa bepergian setiap saat. Kursi kayu panjang di teras rumah panggungnya jadi tempat menghabiskan waktu sehari-hari. Mengisap batang demi batang rokok filter. Erna Wati (62), istrinya, jadi teman bicara setia yang duduk bersandar di kosen pintu rumah. Ia juga harus berjalan merangkak karena kendala kesehatan di lututnya. Tubuh Ransum tampak mungil dengan balutan kaus katun biru bertulis “Jakarta Tempo Doeloe”.

Namun, ia seakan tidak ingin menyerah pada segala titik lemah itu. Sorot matanya tajam. Tutur kata masih jelas. Selaras dengan detail labirin memori lampau yang sangat kuat. Apalagi jika sudah memakai baju jomok kulit kayu, aneka kalung di leher, hingga cawat kain dengan mandau beraneka pernik melingkar perut. Lalu topi bulu musang yang bermahkotakan paruh enggang keemasan dan bulu-bulu megah terpasang di kepala. Meski memegang tongkat, ia berusaha berdiri tegap. Terpancar jelas muruahnya sebagai tetua adat Kampung Merabu.

Di balik mulut yang nyaris ompong, senyumnya berusaha terkembang. Kepada TelusuRI (10/10/2023), ia berkisah tentang leluhur dan tradisi Dayak Lebo Merabu, yang di era kini masih berjuang mempertahankan eksistensi.

Hidup mati berurat adat

Sebagaimana suku Dayak pada umumnya, sendi-sendi kehidupan masyarakat Dayak Lebo tidak lepas dari adat. Dari proses kelahiran bayi bahkan sampai urusan kematian. Sebagai subsuku dari Dayak Basap, yang menginduk pada Dayak Punan—salah satu rumpun suku Dayak terbesar di Kalimantan—orang-orang Lebo di Merabu memiliki sejumlah laku, ritus, hingga aturan-aturan adat yang usianya sama tua dengan lahirnya kampung tersebut.

“Karena kami ini kan orang pegunungan, orang [yang tinggal di] hutan, mana kami mengerti [konsep] kampung dulu? Kalau kami tembus [bikin] kampung ini kan [gampang] diserang orang, [karena] dulu zaman ngayau,” papar Ransum. “Jadi, kami harus lari ke hutan. Kami cari makan di hutan.”

Dahulu, ritual ngayau masih kental dilakukan oleh suku-suku Dayak pemburu kepala. Masyarakat suku Dayak Basap Lebo merupakan kelompok kecil dan terasing di dalam hutan, yang tidak memiliki tradisi perang antarsuku. Mereka bersembunyi hingga ke pedalaman rimba belantara. Bertahan hidup di longai, celah datar sempit di antara bukit batu menjulang penuh gua prasejarah, yang kini dinamakan ekosistem karst Sangkulirang-Mangkalihat. Kawasan terpencil tanpa arah yang susah ditembus siapa pun. 

Di antara waktu-waktu tersebut, para nenek moyang Ransum mulai berusaha merintis kampung. Membuat beberapa rumah sederhana. Namun, mereka belum berani menempati karena takut sewaktu-waktu diserang dan dibunuh suku lain.

Sampai kemudian situasi benar-benar kondusif dan tak ada lagi permusuhan antarsuku, kampung tersebut mulai hidup. Masyarakat membangun banyak rumah, membuka ladang-ladang pertanian, seperti jagung, singkong, dan padi gunung. Tetua adat menetapkan batas hutan dan memberlakukan aturan-aturan adat. Terutama soal kewajiban menjaga hutan dan gugusan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang ada di “halaman belakang” kampung mereka.

“Kami takut orang masuk ke sana dan merusak hutan kami, karena hutan itu jadi penghidupan kami,” terang Ransum. Sumber daya alam di dalamnya memang melimpah, antara lain sagu, madu, hingga buah-buahan hutan. Hewan-hewan buruan juga masih berkeliaran, seperti babi hutan, pelanduk, hingga kijang. Tidak terkecuali ikan-ikan air tawar yang hidup di aliran Sungai Lesan. 

Sistem pemerintahan perlahan berjalan ketika dipimpin oleh Sampan, kepala kampung pertama sebelum Asrani (48). Sampan adalah paman Asrani. Oktober lalu, Asrani terpilih kembali sebagai Kepala Kampung Merabu, setelah pernah menjabat pada periode 1998—2011.

Eratnya hubungan orang Dayak Lebo dengan hutan membuatnya lekat dijuluki suku peramu dan pemburu. Memanfaatkan segala sumber daya di hutan seperlunya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga meracik tanaman-tanaman hutan sebagai ramuan saat ada yang sakit atau memerlukan penanganan Belian (dukun adat).

Ransum (baju hitam dan celana putih) menebar beras kuning ke tengah-tengah penari saat prosesi adat Festival Tuaq Manuk 2023/Ester Suwarsih INDECON

Maka pada beberapa ritus khusus, memberi “makan“ penghuni hutan—yang tak kasatmata—adalah wajib bagi masyarakat Dayak Lebo. Tidak terkecuali lokasi-lokasi sakral, seperti Gua Bloyot dan gua-gua karst lain, Danau Nyadeng, maupun Puncak Ketepu. Salah satu caranya melalui tradisi iraw atau melas kampung. Sebuah ritual adat tolak bala, yang bertujuan agar madu maupun hasil hutan di dalamnya, buah-buahan, dan panen padi melimpah.

Keberadaan beras kuning menjadi krusial dalam ritus-ritus tersebut. Penaburan beras kuning biasa dipergunakan untuk beberapa kegiatan. Misalnya tradisi manugal, pembukaan lahan baru untuk menanam padi secara gotong royong. Padi yang digunakan jenis padi gunung tanpa melalui persemaian benih, yang hanya bisa panen sekali dalam setahun.

  • Takdir Dayak Lebo di Persimpangan Jalan
  • Takdir Dayak Lebo di Persimpangan Jalan

Menurut Ransum, proses penentuan lahan penanaman padi sebenarnya cukup panjang. Beras kuning menjadi media spiritual untuk melihat kelayakan lahan bekas bukaan hutan secara terbatas tersebut. Jika satu petak lahan dianggap tetua tidak akan menghasilkan, maka akan berpindah ke tempat lain. 

“Itu adat kami dulu [dan] masih dipakai nenek moyang kita. Nah, sekarang ini, ya, tebas-tebas saja. Enggak ada lagi yang mau [seperti dulu], karena susah juga,” ujar Ransum. 

Agus Atino (53), warga pendatang yang beristri asli Dayak Lebo, mengakui beras kuning mestinya disediakan saat manugal. Terutama ketika malam harinya pesta lemang, yaitu makan-makan bersama di pondok tengah kebun. Lemang adalah kuliner khas Merabu berupa beras ketan dalam bambu panjang yang dibakar.

“Harusnya [memang] ada seserahan semacam pondok kecil 1×1 meter yang diisi beras kuning dan bunga-bungaan. Sayangnya, kemarin nggak sempat untuk mencari. Bapak-bapak juga nggak ada yang bisa dimintai tolong karena pada sibuk,” jelasnya.

Beras kuning tersebut juga biasa digunakan untuk menyambut tamu dari luar kampung. Ransum menjelaskan, “Itu tanda hormat kita kepada semua orang yang datang ke kampung. Kita menaburkan beras kuning supaya dia selamat. Pulang kembali ke kampungnya sendiri dengan selamat. Enggak kena sakit, enggak kena bahaya.”

Bukan apa-apa. Bapak empat anak itu khawatir jika ada orang masuk hutan tanpa pamit padanya. Lalu si tamu tak dikenal membawa banyak orang, yang pada akhirnya hanya akan merusak hutan desa seluas 8.245 hektare tersebut.

Akan tetapi, karena faktor kesehatan, penyambutan adat seperti itu tidak selalu dia lakukan. Hanya pada beberapa momen tertentu, seperti kehadiran pejabat daerah, pemerintah pusat, tamu-tamu organisasi nirlaba yang memiliki program di Merabu, atau prosesi puncak di Tuaq Manuk, yang kini menjadi kalender festival adat tahunan Kabupaten Berau.

Selebihnya, ia hanya menitip pesan. Khususnya kepada operator wisata yang membawa tamu ke Merabu, agar setidaknya meminta izin dan pamit kepada Ransum sebelum masuk hutan.

“Kalau kita telusuri betul-betul sejarah adat yang ada [turun-temurun], berat [memang] hukum adat itu. Banyak pantangan-pantangannya. Tapi, ya, itu untuk kebaikan kita juga,” tutur Ransum lirih. “Kami hanya berusaha meneruskan pesan nenek moyang kami agar memelihara hutan [dengan adat].”

Takdir Dayak Lebo di Persimpangan Jalan
Ibu-ibu gotong-royong memasukkan beras ketan dalam ruas bambu untuk membuat lemang yang dibakar dengan api. Pesta lemang dirayakan setelah tradisi manugal selesai. Lokasi pesta biasanya berada di area pondok tengah kebun, yang berbeda dengan lahan budidaya padi/Deta Widyananda

“Kalau saya mati, ya, habis sudah…”

Sembilan belas tahun menjadi tetua adat, Ransum tidak memungkiri kendala besar yang ia hadapi untuk melestarikan adat Dayak Lebo dari nenek moyangnya. Selain arus modernisasi yang berkembang pesat, masuknya dua agama baru—Kristen dan Islam—menurutnya juga berperan dalam membatasi ritus-ritus adat yang ada.

Meskipun beberapa orang masih terbuka dan mau melaksanakan adat, tetapi tidak sedikit yang mulai meninggalkan karena pesan pemuka agama masing-masing. Biasanya penolakan terhadap adat disebabkan sejumlah ritual yang dipandang bertentangan dengan aturan kitab suci atau menyekutukan Tuhan. Termasuk soal memberi “makan” sosok-sosok tak kasatmata penghuni hutan atau menabur beras kuning sebelum manugal tadi.

“Kalau agama kan tidak ada pementang-pementangnya,” kata Ransum. Ia beranggapan bahwa dalam agama tidak diatur pantangan-pantangan sebagaimana halnya adat. Di sisi lain, agama sebenarnya bisa menjadi pelengkap adat yang sudah ada. Namun, ia sendiri memilih melunak dan membiarkan dinamika yang terjadi saat ini.

Keresahan Ransum tersebut diakui sendiri oleh Asrani, Ia mencoba menjembatani perbedaan pandangan agama dan adat. Menurutnya, kehidupan adat di era sekarang tidak lagi sama seperti dahulu. 

“Sebenarnya kita [melakukan ritual adat] hanya melestarikan saja. Kami berpikir ini [adat] memang peninggalan dan tradisi kita, bukan dibuat-buat. Walaupun dianggap ketinggalan zaman, itulah jati diri kita,” jelas Pak Ra, sapaannya. “Saya rasa di budaya itu juga sebenarnya tidak ada yang salah, karena zaman dulu kan orang memang belum punya agama.”

Keterbukaan akses informasi dan teknologi yang serba praktis dan tidak ribet menjadi faktor lain yang bisa berpengaruh. Khususnya anak-anak muda, yang literasinya soal tradisi-tradisi di kampungnya masih terbatas. Keterbatasan literasi adat dan regenerasi tidak hanya berbahaya pada eksistensi adat, tetapi juga pengembangan ekowisata yang jadi andalan Merabu beberapa waktu terakhir. Sejauh ini belum ada upaya konkret dalam mengawetkan pengetahuan adat yang dituturkan Ransum sebagai pustaka secara tertulis dan rapi.

Rangkaian upacara adat dalam Festival Tuaq Manuk 2023 di Balai Adat Kampung Merabu/Ester Suwarsih INDECON

Sebagai jalan tengah, penyelenggaraan Festival Tuaq Manuk pada Juli lalu seolah menjadi momentum tepat. Berlangsungnya rangkaian upacara adat selama hampir sepekan penuh menunjukkan komitmen Kampung Merabu mempertahankan darah budaya nenek moyangnya.

Tuaq Manuk dicetuskan oleh Simpo Belian Danyam, pemimpin adat pada masa-masa awal kampung berdiri, setelah menerima hidayah sang leluhur penguasa alam melalui petunjuk mimpi. Tuaq Manuk merupakan tradisi gotong royong bernuansa spiritual yang merangkul semua golongan, sekaligus sebagai wadah literasi tentang unsur-unsur kehidupan sehari-hari yang melekat dalam adat Dayak Lebo: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup, sistem mata pencaharian, sistem religi, sistem kesenian, dan sistem kesakralan. 

Terdapat empat masa atau tahapan utama dalam ritual Tuaq Manuk. Beramu, masa orang-orang mengupayakan apa yang diperlukan. Pasing, masa orang mendoakan yang sudah ada. Menyadi Tuaq, masa orang melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Peding, masa setiap orang harus taat pada aturan atau pantangan. Setiap prosesi tersebut selalu diiringi tari-tarian dan alunan aneka jenis musik Tuaq, seperti tajaan, bibi temongang batang, tapik-tapik bagizam, sebumung buka-buka sebumung, batu luga-luga, dan tarenten buto taretung.

Tujuan besarnya agar masyarakat dan hutan Kampung Merabu diberikan keberkahan dan senantiasa bersyukur pada hasil yang diterima. Baik untuk kebutuhan tahun ini maupun tahun-tahun mendatang. Panen padi sukses, buah-buahan dan madu berlimpah, juga termasuk memberi obat dan doa pada warga yang mengalami beragam kesulitan. Selain warga lokal, wisatawan yang datang pun boleh hadir untuk lebih mengetahui tradisi lokal Merabu.

Sekalipun begitu, raut wajah Ransum tetap menyiratkan kegundahan. Tantangan yang membentang di depan matanya seolah terlampau besar; menempatkan adat Dayak Lebo dalam dilema. Ia tentu tak akan mungkin menahan segala arus langkah yang perlahan bisa saja berpotensi meminggirkan adat. Urusan apa pun itu.

Takdir Dayak Lebo di Persimpangan Jalan
Senyum Ransum dengan pakaian adat Dayak Lebo. Pohon durian dan hutan di belakangnya adalah lokasi kampung pertama berdiri/Deta Widyananda

“Kita sedih karena pementang-pementangnya banyak dilanggar. Apa yang dilarang, kita kerjakan. Nanti baru tahu [dampaknya] pas tiba-tiba sakit,” keluhnya. “Jadi, sedih kalau adat kita dikurangi terus.”

Sekarang saja, menurut kakek sembilan cucu itu, ketua adat sudah jarang dipercaya untuk menyelesaikan beberapa persoalan fisik. Baik masalah yang menimpa kampung maupun hutan desa. Kemampuan spiritual seorang ketua adat seperti Ransum hanya diperlukan ketika warga sudah benar-benar buntu. Secara terus terang, ia menyebut status pemangku adat di Merabu hanya sebagai topeng saja.

Kegelisahannya tidak berhenti sampai di situ. Regenerasi pemangku adat Dayak Lebo juga memusingkan kepalanya. Ransum sebenarnya telah menyiapkan anak pertamanya, Soleman, sebagai penerus tampuk kepemimpinan adat di Kampung Merabu. Meskipun ia sendiri belum terlalu yakin. Perlu waktu untuk benar-benar bisa menyelami filosofi adat merasuk dalam raga dan jiwanya.

“Dia [masih] belum tahu sejarah dan cara-cara [ritual] adat Merabu,” katanya. Sampai sekarang ia masih berusaha mewanti-wanti agar jangan sampai membiarkan adat Merabu punah ditelan bumi.“Kalau saya mati, ya, habis sudah [adat Dayak Lebo],” ujarnya pasrah. Jika sudah begitu, maka adat Dayak Lebo hanya menjadi catatan sejarah untuk anak cucu dalam cetakan album foto, mahkota enggang, mandau, dan baju jomok yang terpajang membisu di dinding rumah Ransum. (*)


Foto sampul:
Seorang pria Merabu memegang tugal kayu tradisional dengan muka celemotan arang. Di sela-sela tradisi manugal, warga saling bersenda gurau dengan mencolek arang ke wajah masing-masing. Tidak terkecuali jika ada tamu yang ikut, sebagai bentuk penyambutan orang dari luar kampung. Suasana pun menjadi riuh dan akrab/Deta Widyananda

Pada September—Oktober 2023, tim TelusuRI mengunjungi Sumatra Utara, Riau, dan Kalimantan Timur dalam ekspedisi Arah Singgah: Meramu Harmoni Kehidupan Manusia dan Alam. Laporan perjalanannya dapat diikuti di telusuri.id/arahsinggah.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Bahu-Membahu Menjaga Hutan Merabu