Events

Serunya Perayaan Hari Disabilitas Internasional di Bulukumba

Di antara perjalanan dan tempat-tempat yang menyenangkan, sepertinya momen perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Bulukumba pada awal Desember menjadi yang terbaik sepanjang tahun 2023. Lanskap Bulukumba dengan tebing dan jalur lintas provinsi di pinggiran laut memang cantik. Namun, yang paling berkesan adalah perjalanan dan rangkaian kegiatan Hari Disabilitas Internasional yang dilaksanakan di ballroom Hotel Agri. Satu rangkaian acara dengan malam sebelumnyaa di mes Pemerintah Kabupaten Bulukumba di area wisata Pantai Bira.

Rombongan dari Makassar berangkat sekitar pukul 10.00 WITA dengan tiga jenis kendaraan. Bus medium yang ditumpangi anak-anak dan orang tua dari Komunitas Orang Tua Anak Down Syndrome (KOADS), mobil berkapasitas 16 orang yang diisi beberapa panitia menaiki mobil berkapasitas maksimum 16 orang, dan satu minibus Avanza putih. Pagi itu, cuaca cerah dengan jejak-jejak hujan yang baru saja reda. Bau tanah yang menyenangkan tercium syahdu. Orang-orang yang tidak kukenal tampak sibuk membungkus hadiah permainan lomba. Aku membantu membungkus dengan kertas kopi sewarna, sedangkan beberapa orang lainnya tampak sibuk mengatur barang-barang bawaan mereka di bagasi bus. 

Emon, seorang teman tuli dan guru bahasa isyaratku di Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) tampak melambaikan tangannya. Ia bersemangat begitu melihatku muncul dari bagian belakang rumah titik kumpul kami. 

“Kamu ikut juga?” tanyanya dengan bahasa isyarat. 

Aku mengangguk, “Nanti aku ikut di mobil kamu.” 

Perjalanan ke Bulukumba

Kami tidak banyak berbincang. Selain situasi sedang sibuk-sibuknya, saya juga cukup kikuk setelah dua bulan lebih tidak berkomunikasi dengan bahasa isyarat. 

Kami menaiki mobil Avanza berwarna putih, menempuh perjalanan sekitar 162 kilometer ke Bulukumba. Emon menawarkan untuk lewat rute Galesong, lalu berbelok ke Bontonompo Selatan. Akan tetapi, kami harus menjemput satu orang lagi tepat setelah melewati Jembaran Kembar Gowa. Jadi, rute kami harus melewati Kabupaten Gowa, kemudian menyusuri jalanan menuju Kabupaten Takalar. Perjalanan kami berlangsung menyenangkan.

Saya belajar sangat banyak kosakata baru dalam bahasa isyarat. Misalnya menyebut “Kota Makassar” dengan memperagakan passapu, ikat kepala merah khas Makassar. Mengisyaratkan huruf “J” untuk Kabupaten Janeponto, yang diikuti kedua tangan dikepal dan sejajar di depan dada. Oh iya, bahasa isyarat Kabupaten Bulukumba juga sangat identik dengan ciri khas daerah ini, yakni dengan memberikan gerakan ombak.

Pengalaman mendampingi Emon di kursi depan, seorang teman tuli yang pandai mengemudi, membuat saya banyak menggunakan bahasa isyarat saat harus mengarahkan arah. Juga memberitahukan hal-hal kecil selama perjalanan, seperti “kita singgah di apotek terdekat”, “menyetirnya pelan-pelan saja”, dan “ayo, singgah beli minuman dingin dulu.”

Perjalanan Makassar—Bulukumba berjalan lancar dan menyenangkan. Rombongan kami berhenti di Mesjid Besar Jeneponto untuk makan siang bersama dan melanjutkan perjalanan sekitar pukul 14.00 WITA. Karena menaiki mobil terkecil, memungkinkan kami untuk singgah ke area kota Bulukumba. Kami mengambil beberapa perlengkapan, seperti air galon untuk konsumsi selama di Bira, serta baju kaus sablonan yang dipesan khusus untuk acara HDI ini. 

Malam Hari Penuh Tawa

Rombongan kami menjadi yang terakhir tiba di Bira. Anak-anak dan para orang tua telah menikmati acara berenang sejak sebelum matahari tenggelam. Saat memarkirkan kendaraan kami, beberapa rombongan tampak basah kuyup karena baru tiba dari Pantai Bira dengan berjalan kaki. Mereka tampak senang sekaligus kelelahan. 

Setelah beristirahat dan makan malam, lepas Isya kami berkumpul di selasar lantai dua yang luas dan terbuka tanpa atap. Ada lampu tali LED yang menambah suasana cantik malam hari. Mes yang kami tempati merupakan akomodasi milik Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Tampaknya masih sangat baru, bahkan beberapa bagian mes masih dalam proses pembangunan.

Selasar yang kami gunakan malam ini merupakan bagian atas mesdengan teralis pengaman dari besi hollow yang dicat hitam legam. Tingginya cukup ideal dan sulit dijangkau anak-anak. Selasar ini cukup lebar, sekitar 6×3 meter dan lantainya sudah berkeramik meski agak licin. Angin pantai bertiup kencang beberapa kali, membawa kabar bau-bauan laut yang tidak sempat kudatangi sore tadi.

Acara malam ini penuh dengan tawa. Saya berterima kasih kepada adik-adik dari KOADS yang memenuhi hati kami dengan banyak cinta dan tingkah lucu yang tulus. Down Syndrome merujuk pada kondisi kelainan kromosom 21 yang menyebabkan keterlambatan perkembangan dan intelektual. Bersama orang tua mereka kami banyak menari dan bermain aneka ragam permainan. Mulai dari lomba memindahkan pipet tercepat, sampai permainan berebut kursi yang diganti dengan rebutan kertas HVS sebagai tempat pijakan. 

Merayakan Perbedaan 

Pada permulaan hari jelang acara puncak, orang-orang di kamar kami bangun lebih cepat dari kamar-kamar lain. Setelah bergantian mandi di toilet seadanya, kami lalu berangkat menuju lokasi acara yang berjarak satu jam dari mes tersebut.

Perjalanan pagi ini berlangsung lancar. Jalan masih sangat sepi. Kami hanya berpapasan dengan anak-anak berseragam sekolah yang dapat dihitung jari. Suasana pagi dan langit kemerahan menjadi teman kami sepanjang perjalanan, sampai tibalah kami di Hotel Agri. Saat tiba, tempat parkir masih kosong. Hotel ini kelihatan sepi.

Setelah bertanya pada salah satu petugas yang kebetulan lewat, kami diarahkan menuju lokasi acara. Sebuah ruangan superbesar dengan pintu kaca. Begitu kami masuk, kursi-kursi dibalut sarung putih sudah tersusun rapi. Begitu halnya dengan empat meja di bagian belakang. Saya menemukan kawan saya sedang sibuk mengemasi dua camilan manis dan sebotol air mineral ke dalam kotak putih polos. 

Serunya Perayaan Hari Disabilitas Internasional di Bulukumba
Sambutan Ketua Panitia Syamsul Iman dalam acara puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional di Bulukumba/Nurul Jamil

Sekitar pukul sembilan pagi lewat belasan menit, acara pun dimulai. Saya cukup beruntung berkesempatan menangkap momen-momen menggemaskan selama acara berlangsung. Terutama ketika anak-anak melakukan beragam pentas seni, seperti Angngaru’—tari tradisional—hingga menyanyi. Selama dua hari bersama anak-anak dari pagi di Makassar, sampai pulang sore hari ini, saya melihat bahwa perlu pendekatan baru dalam mewujudkan inklusivitas di masyarakat kita.

Disabilitas sangat akrab dengan label negatif hanya karena mereka berbeda. Dalam penyampaian singkat dari Kak Syarif, seorang disabilitas netra pada sesi paparan singkatnya, menyatakan orang dengan disabilitas seringkali mengalami stigma miring dalam kehidupan sehari-harinya. Prosesnya berlangsung dalam empat tahap: labelisasi, lalu stereotifikasi, kemudian segregasi atau pemisahan orang-orang dengan disabilitas dari lingkungan mereka, hingga tahap akhir, yakni diskriminasi.

Saya sampai pada satu penyadaran saat mendengar pemaparan Kak Syarif siang itu. Bukankah seluruh tahap pemberian stigma tersebut sangatlah sepihak? Hanya dari orang nondisabilitas kepada orang dengan disabilitas saja, bukan? Lalu kenapa hal ini bisa terjadi dan bertahan sangat lama? 

Sebagai seorang fisioterapis, sebuah profesi kesehatan dengan fokus utama rehabilitasi gerak dan fungsi gerak, saya cukup sering berjumpa dan menangani kasus-kasus anak dengan disabilitas, seperti cerebral palsy, spektrum autis maupun sindrom down dengan keterlambatan tumbuh kembang, atau kasus-kasus delay development pada anak lainnya. Latar belakang saya membuat perspektif pribadi tentang disabilitas dengan kacamata yang medis sekali. Padahal sebenarnya disabilitas hari ini sangat kolot jika pendekatannya hanya sebatas medis. Perlu pendekatan yang lebih komprehensif dan holistik dalam mendukung keikutsertaan disabilitas yang bermakna dalam masyarakat kita. 

Sederhananya, melihat disabilitas hanya dari satu kacamata kuda medis saja, secara singkat akan langsung memberikan pandangan ketidakberdayaan hanya karena kondisi medis yang ada pada mereka. Padahal, berbeda tidak selalu berarti lebih buruk. Perlu ada usaha ekstra dari kita dalam mewujudkan inklusivitas yang bermakna. Karena berbeda, mereka memerlukan pendekatan yang berbeda pula. Namun, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi hak mereka dalam menikmati segala fasilitas dan kesempatan-kesempatan dalam hidup. 

Serunya Perayaan Hari Disabilitas Internasional di Bulukumba
Kak Syarif, teman netra yang mengisi materi tentang labelisasi pada kawan-kawan disabilitas/Nurul Jami

Pertanyaan Baru

Kami lekas pulang kembali ke Makassar selepas acara. Kami tiba sekitar pukul 20.00 WITA, setelah sebelumnya mampir makan malam di Bakso Adi Bontonompo.

Perbincangan kami berlanjut sembari menikmati bakso keju dan urat yang komposisinya sangat pas. Di tengah perbincangan, Kak Syarif bercerita tentang aktivitas alam yang ia gemari, yaitu mendaki gunung.

Mendengar bagaimana Syarif pergi ke banyak tempat dan menikmati banyak hal, membangkitkan perasaan bahagia dalam hati saya, sehingga memunculkan pertanyaan baru, “Bagaimana menikmati alam dengan cara berbeda?” 

Menggali pertanyaan tersebut dalam kacamata teman disabilitas adalah semangat baru, yang lahir dari pertemuan singkat dua hari di Bulukumba dan tujuan petualangan selanjutnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyusuri Leang Saripa di Kabupaten Maros