Travelog

Sendu Senja di Perbatasan Kota

Sebentar lagi perpisahan terjadi. Pagi, siang beranjak pulang. Dan sore akan menutup perjalanan waktu hari ini. Para manusia pun mulai beranjak meninggalkan rutinitasnya. Jam kantor telah usai dan waktunya kembali pulang. Tak ada mendung, bumi mulai gelap. Tersisa penggalan-penggalan cahaya di langit. Matahari hendak pamit, dia menunggu di ufuk timur untuk mengucapkan kata perpisahan kepada manusia lewat sepenggal cahaya. 

Momen itu tak ingin aku lewatkan. Ku ajak seorang teman menemani menyaksikan perpisahan di perbatasan kota. Tempat persinggahan banyak orang yang melewati jalan itu. Perbatasan tersebut membatasi Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Barru. Jalan poros tepatnya di km 83 tujuan Kota Pare-Pare ke Kota Makassar. Sisi timur perbatasan itu adalah laut dan sisi barat terdapat perbukitan. Tempat itu menjadi wisata persinggahan bagi pejalan lintas daerah. Menikmati peristirahatan dengan sepucuk senja tepi laut. Cahayanya yang redup setidaknya mampu menambah semangat melanjutkan perjalanan. Dan memang, hendaknya peristirahatan harus disertai hal-hal yang indah.

“Kau suka senja?” Tanyaku pada teman sewaktu tiba di perbatasan itu.

“Siapa sih orang yang tidak menyukai senja, Bro?!” Jawabnya 

Perbatasan Kabupaten Pangke dengan Kabupaten Barru
Perbatasan Kabupaten Pangkep dengan Kabupaten Barru/Yusran Ishak

Betul juga kata temanku, siapa yang tidak menyukai senja? Tak ada yang ingin menolak keindahan. Manusia justru jadi pemburu keindahan. Dan senja berhasil menafsirkan keindahan tanpa kata-kata. Lewat cahayanya senja mengungkap bahwa keindahan tak perlu diumbar, tak perlu disuarakan. Perburuan itu membuat manusia sukar menerima hal-hal buruk, sebab bertentangan dengan prinsip keindahan. Lagi pula siapa manusia yang ingin ditimpa hal buruk dalam hidupnya?

Beberapa pejalan mulai singgah. Tukang somai sibuk melayani pelanggan. Yang lainnya fokus menatap senja di layar ponselnya. Senja mereka abadikan dengan jempol-jempol dewa. Sedang aku dan temanku duduk di tembok pembatas jalan. Di bawah ku ombak terus melaju menghantam beton. Akibatnya ombak itu pecah berhamburan menjadi buih.

“Kenapa kau suka senja?” Kembali aku bertanya pada temanku.

“Senja itu tenang dan menenangkan. Cahayanya yang redup sangat sederhana, aku damai saat melihatnya. Setidaknya situasi itu sedikit meringankan beban pikiranku, Bro! Senja tak pernah berkhianat, dia selalu ada untukku. Aku tak pernah menunggu senja, tak juga tak merasa kehilangan saat tiada pergi. Sebab aku yakin besok senja akan kembali untukku,” katanya.

Kabupaten Pangkep
Senja/Yusran Ishak

temanku menjawab pertanyaan ku sambil melihat senja. Jawabannya tidak asing bagi ku. Aku gemar bertanya perihal alasan orang menyukai senja. Dan jawaban mereka semua seragam bahwa senja perihal ketenangan. Jawaban itu membuat aku berpikir, mungkin bumi ini terlalu bising sehingga manusia gemar mencari ketenangan. Tapi bagaimana mungkin bumi berisik sedangkan bumi tak bermulut?

Justru aku melihat manusialah yang sangat berisik. Hal penting sampai tidak penting lantang berbunyi dari mulutnya. Beribu pujian sampai sejuta makian terdengar di mana-mana. Hal baik sampai hal terburuk bergema menghakimi. Hal serius sampai lelucon membuat kebahagiaan, kesedihan sampai amarah terdengar keras. Saat mereka lelah saling melempar kebisingan sesama manusia, mereka memaksa bumi berteriak. Mereka membakar bumi hingga hewan berteriak tak karuan. Mencemari bumi sampai laut berteriak menyebabkan tsunami. Mengorek-ngorek tanah sampai gunung berapi muntah bersuara lantang. Manusia memang aneh, pikir ku. Mereka menyukai ketenangan tapi mereka pula lah yang begitu berisik.   

Matahari tinggal setengah, dia tenggelam menyisakan siluet awan di tengah warna jingga keemasan. Berpenderan memancarkan kilauan redup menawan. Di bawahnya aku dan temanku masih termangu memandangnya sambil mencoba memaknai perpaduan warna majemuk itu. Aku pun kembali bertanya pada temanku.

“Bro, kau tahu tidak bagaimana senja itu terbentuk?”

“Tidak!” Setelah dia diam menanti jawaban.

  • Kabupaten Pangkep
  • Kabupaten Pangkep
  • Kabupaten Pangkep
  • Kabupaten Pangkep

Aku terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat supaya momen ini lebih bermakna. Aku tak ingin menjawab secara ilmiah seperti kata Steve Ackerman, seorang Profesor meteorologi Amerika. Yang menjelaskan bahwa senja adalah fenomena alam yang disebut scattering sehingga menyebabkan molekul dan partikel kecil di atmosfer mengubah arah sinar matahari yang membuat cahaya berhamburan. Ragam warna yang terlihat saat senja seperti ungu, biru, jingga, orange sampai merah disebabkan oleh variasi ukuran gelombang cahaya dan ukuran partikel. 

Aku memilih berbicara senja dengan sedikit filosofis. Bahwa senja hadir disebabkan oleh persandingan dua perbedaan, gelap dan cahaya. Aku ibaratkan gelap sebagai keburukan dan cahaya sebagai kebaikan. Kedua sifat tersebut sangat berbeda, kita tak perlu mempertengkarkan mereka perihal siapa lebih kuat atau siapa lebih bermanfaat. Cukup menerimanya, menempatkannya pada posisi masing-masing sehingga hanya keindahan yang akan tampak.

Sewaktu-waktu mungkin aku akan terjebak dalam keburukan, saat itu aku berharap kau tak pergi tapi berada di samping sebagai sosok cahaya. Agar pertemuan kita oleh hati yang lapang melahirkan senyum damai seperti senja. 

Senja itu simbol kebesaran hati. Semua hal di dunia ini berbeda, kita tidak dituntut untuk menyatukan perbedaan itu. Karena menyatukan mereduksi yang beragam menjadi satu dan satu melahirkan warna tunggal yang monoton sehingga keindahan tidak tercipta. Memperluas hati memang tidak mudah, butuh perjuangan untuk itu. Tapi lihatlah, matahari dari barat ke timur juga menjelaskan pada kita arti perjuangan bukan?

Biarlah kita tetap berbeda, sebab perbedaan justru melahirkan keindahan dan keindahan lahir dari pertemuan sesuatu yang berbeda.

Temanku tersenyum mendengar jawaban yang aku berikan. Kami lalu kembali menatap senja dan matahari sudah tenggelam. Yang tersisa hanya cahaya sendu, terpancar memanjakan mata. Adzan Magrib mulai terdengar, orang-orang yang singgah mulai bergegas melanjutkan perjalanan. Aku dan temanku pun meninggalkan perbatasan itu. Dan sejatinya perpisahan itu tidak ada. Sebab senja akan kembali hadir membawa setitik temu di waktu berbeda, di situasi berbeda. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Hobi bepergian dan tertawa lalu menulisnya dalam buku harian. Sarjana pertanian namun lebih suka dianggap petani.

Hobi bepergian dan tertawa lalu menulisnya dalam buku harian. Sarjana pertanian namun lebih suka dianggap petani.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Bukit Seger dan Senja Temaram di Mandalika