Pesona HutanTravelog

Rumah Bekantan di Pulau Bakut

Kelotok yang kami tumpangi perlahan-lahan mulai membelah sungai. Mesinnya bising, sebising deru gergaji mesin yang menebang pohon-pohon di hutan Kalimantan, cukup untuk membuat penumpang tidak bisa bicara satu sama lain. Lantaran angin yang berhembus cukup kencang juga, kami berbicara saling berteriak satu sama lain. Kami mengarungi sungai menuju Pulau Bakut.

Kami memutuskan untuk pergi ke Pulau Bakut, sebuah pulau konservasi bekantan yang paling dekat dengan Kota Banjarmasin. Letaknya persis di bawah Jembatan Barito. Sebenarnya pulau ini hanyalah sebuah delta di Sungai Barito, namun pulau ini dijadikan sebagai tempat konservasi bekantan dan Taman Wisata Alam (TWA) yang dikelola BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kalimantan Selatan.

Nasrun, yang menyewakan dan juga mengemudikan kelotok menyuruh kami menengok ke kiri. Ada beberapa bekantan yang nampak bersantai di pohon-pohon pinggir sungai. Bekantan paling besar nampak termenung menyaksikan kelotok kami melintas, mungkin dia tahu bahwa kehadiran kami bakal mengusik ketenangannya. Gelombang air yang disebabkan lintasan kelotok sampai ke tepian pulau itu. Jarak dari dermaga menuju pulau tidak terlalu jauh, tetapi untuk ukuran sungai, Sungai Barito laksana ular piton raksasa.

“Bekantan hewannya pemalu, mungkin bakal jarang kalian lihat langsung,” ujar Nasrun sebelum kami melompat ke dermaga Pulau Bakut. “Chat saja nanti kalau sudah mau pulang.”

Rumah bagi Bekantan

Begitu kaki menapak di atas dermaga, serombongan mahasiswa menyambut kedatangan kami, sekalian menyebarkan kuesioner, katanya untuk mengamati perilaku masyarakat dengan hewan di sekitarnya. Selepasnya, kami mulai memasuki TWA Pulau Bakut. Menurut papan informasi, luas wilayah pulau ini mencapai 18,70 hektare dan telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai kawasan pelestarian dengan fungsi taman wisata alam. 

Kami berkeliling pulau ini diatas titian kayu yang dibangun, beserta dua buah menara pandang. Saya mengitari sembari mengamati, apakah bekantan yang tadi kami lihat di pinggir sungai juga ada di dalam sini. Saya amati, hanya kotoran-kotorannya yang berhamburan di atas titian. Tidak ada tanda-tanda kemunculan bekantan. Alhasil saya hanya berhasil memotret kupu-kupu.

“TWA ini didirikan pada 2018, dan mulai difungsikan buat wisata pada 2019,” terang Imam Riyanto yang menjabat sebagai Kepala Resort TWA Pulau Bakut. Pulau ini sedari dulu memang sudah menjadi habitat asli bekantan yang konon berasal dari Pulau Kaget, sebuah delta yang juga terletak di Sungai Barito. Ekosistem yang mendukung dari Pulau Bakut sebagai rumah bekantan adalah pohon rambai, yang digunakan bekantan sebagai rumah, sumber makanan, dan juga tempat bermain. Hasil monitoring populasi bekantan di pulau ini pada bulan Maret 2021 mencapai 116 ekor. 

Beberapa bekantan di pulau ini adalah hasil sitaan ataupun hasil serahan masyarakat. Penjualan. Menurut Imam, jumlahnya pada 2019 lebih dari 10 ekor dan 2020 ada 3 ekor. 

Kebiasaan bekantan pada pagi hari berada di pinggir sungai. Siang menjelang, mereka mulai masuk ke dalam pulau untuk mencari makan. Berdasarkan penelitian Aktivitas Makan dan Jenis Pakan Bekantan di Pulau Baku Kabupaten Barito Kuala oleh Zainuddin dan Rezeki, ada 8 jenis tumbuhan yang sering dijadikan makanan oleh bekantan diantaranya: piai, kokosan monyet, rambai laut, beringin, waru, kirinyuh, bunga telang, putri malu besar, dan buas-buas.

Bekantan di Pulau Bakut
Salah satu karya Imam Riyanto, memotret bekantan an anaknya di Pulau Bakut/Imam Riyanto

Bekantan dan Rantai Makanan

Bekantan tidak sendirian di pulau ini. Secara alami, predator-predator pun mengisi pasok rantai makanan Pulau Bakut, mulai dari elang laut perut putih, elang tikus, elang bondol, dan biawak. Pulau ini menjadi rumah pula bagi sebagian burung seperti burung madu kelapa, pekaka emas, dan lainnya. Kondisi sekitar Pulau Bakut yang aman dari gangguan manusia menciptakan keseimbangan yang bagus. Masyarakat sekitar juga sadar bahwa bekantan adalah hewan yang dilindungi. 

Yang cukup mengganggu, menurut Imam, adalah monyet ekor panjang. Kalau bekantan terlihat pemalu dan cenderung menjauh dari manusia, monyet ekor panjang justru bisa menciptakan konflik baru; entah dengan bekantan sendiri ataupun dengan manusia. “Baru-baru ini bahkan ada 2 ekor, entah datang dari orang yang membuang atau dari Pulau Kembang, kita tidak tahu, nantinya pengen kami tangkap dan pindahkan ke habitatnya,” jelas Imam. 

Bekantan di Pulau Bakut berdasarkan monitoring terpisah dalam 4 kelompok besar dan 1 kelompok kecil. Sumber daya makanan yang melimpah dan daya tampung pulau yang masih luas, nampaknya masih banyak ruang untuk bekantan untuk berkembang biak. Bekantan biasa hidup dalam kelompok yang berjumlah hingga 30 ekor. Ciri khas monyet yang satu ini memang dari hidungnya yang panjang, sebab itu sering dijuluki sebagai “Monyet Belanda”. Keunikannya dan statusnya sebagai hewan endemik ini juga akhirnya menjadikan bekantan maskot fauna Kalimantan Selatan.

Bekantan di Pulau Bakut
Yang membedakan antara bekantan jantan dan betina adalah hidungnya/Imam Riyanto

“Katanya di sekitar sini ada buaya.”

Mendengar penuturan tersebut, saya sedikit bergidik. Buaya adalah pemuncak rantai makanan yang bisa melahap bekantan kapan saja.

“Tapi saya sendiri belum pernah melihatnya.”

Syukurlah, saya rasanya malas bertemu predator tersebut di tempat seperti ini, di tengah-tengah sungai yang dalam dan luas.

Bekantan di sini tidak pernah meminta makanan kepada para pengunjung, selain karena bekantan punya rasa malu yang kuat, para penjaga juga melarang pengunjung untuk memberi makan. Memberi makan dapat menghilangkan insting dasar dari hewan; berburu makanan. 

Delta-delta yang terletak di Sungai Barito sudah menjadi taman wisata alam yang mengakomodasi kebutuhan akan konservasi hewan, terutama bekantan: TWA Pulau Bakut, TWA Pulau Kaget, dan TWA Pulau Kembang. Seandainya populasi bekantan di Pulau Bakut sudah melampaui, pulau lainnya, terutama Pulau Kaget siap menampung bekantan lainnya.

Imam mengingatkan betapa pentingnya pengajaran dan penyuluhan kepada masyarakat yang berinteraksi langsung dengan kehidupan satwa. Jangan sampai mereka menganggap binatang adalah hama yang harus dimusnahkan. 

BKSDA berusaha keras untuk bisa menjembatani konflik yang kerap terjadi. Juga, BKSDA mempekerjakan tenaga lokal sebagai penjaga taman wisata. Tentu hal ini membuat lapangan pekerjaan untuk warga lokal tersedia. 

Memang harusnya keberadaan taman wisata dapat menguntungkan semua pihak, baik dari hewan yang semakin dilindungi atau masyarakat yang juga menikmati keuntungan dari gelaran wisata.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

Perjalanan LestariTravelog

Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Travelog

Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Naik Ojek Kapal ke Pulau Komodo, Kenangan Tak Terlupakan