Interval

Rizki Lazuardi dan Proyek “Magnetic Syrinx” di Bebunyian Sound Art Festival 2023

Rizki Lazuardi (41) dikenal sebagai seniman dan kurator Indonesia yang banyak berkarya di bidang gambar bergerak, seperti film dan instalasi expanded cinema. Selain praktik pribadinya, ia bersama sejumlah kawan-kawan di kota Bandung juga menjalankan inisiatif seni dan riset bernama Indeks.

Pada Bebunyian Sound Art Festival 2023, peraih gelar Master of Fine Arts (MFA) dari The Hochschule für bildende Künste (HFBK) University of Fine Arts Hamburg, Jerman itu turut mengisi deretan lini artis penampil selain Jin Sangtae, Muhammad Zeian, Utami Atasia Ishii, dan WAFT Lab. Acara ini memamerkan aneka pertunjukan unik, proyek-proyek instalasi seni, dan pengalaman aural untuk pengunjung.

Dalam festival yang berlangsung di Space K, Surabaya (26/11) tersebut, Rizki Lazuardi menampilkan video esai berjudul “Magnetic Syrinx”. Melalui wawancara tertulis, ia menjelaskan proyek yang erat dengan kaset rekaman kicau burung itu kepada TelusuRI.

Rizki Lazuardi dan Proyek “Magnetic Syrinx” di Bebunyian Sound Art Festival 2023
Rekaman lapangan burung-burung di alam direkam pada vinil untuk sesi turntablist battle di Bebunyian Sound Art Festival 2023/Agid Antaris

Kami tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang proyek video esai Anda, “Magnetic Syrinx”. Bisakah Anda memberi tahu kami tentang asal usul proyek ini? Kapan Anda pertama kali menemukan rekaman kicau burung dan menyadari dampaknya terhadap pasar dan industri rekaman Indonesia?

Proyek “Magnetic Syrinx” bermula dari rasa penasaran saya sejak sekolah dasar. Saya dulu sering menghabiskan waktu di toko kaset. Di antara sejumlah kaset dari para musisi yang menarik perhatian saya, justru kaset kicau burung yang membuat saya penasaran. Kaset itu selalu memenuhi salah satu rak. Selalu saja ada rilisan baru. Saya penasaran siapa pembelinya? Bagaimana pembeli ini tertarik isi rekamannya? Bagaimana kaset ini direkam? Setelah saya dewasa, saya baru tahu kalau pendengar kaset ini bukan manusia. Pola produksi dan konsumsinya berbeda dari normalnya kaset musik.

Kami tahu bahwa Anda sangat tertarik dengan proses katalogisasi industri rekaman dan perbedaan kaset kicau burung dengan cara katalogisasi rekaman musik biasa. Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang hal itu dan apa yang menurut Anda paling menarik dari metode tersebut?

Ketertarikan saya atas praktik katalog ini berakar dari kekaryaan saya sebelumnya yang biasa bekerja dengan arsip. Arsip lebih dari sekadar artefak. Yang menjadikannya arsip adalah metadata, yang dalam skala lebih luas tersusun dalam sistem katalog.

Dalam industri rekaman, sistem katalog yang hadir dalam sistem pemasaran kaset umumnya didasarkan pada genre musik. Dan sistem ini memasukkan semua spesies dan ordo burung dalam kategori yang sama. Menariknya, burung sebagai makhluk hidup, sudah memiliki sistem katalog berdasar taksonomi. Saya tertarik untuk melihat secara kritis bagaimana sistem klasifikasi ini bergeser seiring dengan tereduksinya agensi natural kicauan burung menjadi token estetik sesuai standar manusia.

Kita memahami bahwa produk-produk kaset sudah tidak populer lagi saat ini. Menurut Anda apa yang menyebabkan menurunnya popularitas kaset?

Pastinya pola konsumsi di era digital memberikan pendengar opsi lebih banyak daripada membeli dan menyimpan produk rekaman fisik. Tapi ‘kan kini kaset tidak benar-benar mati. Menurun drastis sih, iya. Skala produksinya dirasionalisasi menjadi lebih terbatas dan kini kaset dilihat sebagai objek collectible. Yang lebih menarik disoroti adalah pola konsumsi kaset burung. Burung tidak memiliki kultural kapital yang sama layaknya musisi untuk hasil rekamannya menarik dikoleksi. 

Rizki Lazuardi dan Proyek “Magnetic Syrinx” di Bebunyian Sound Art Festival 2023
Rekaman lapangan burung-burung di alam yang direkam pada vinil untuk sesi turntablist battle, kaset-kaset burung kicau Indonesia, dan bendera yang digunakan untuk kompetisi kicau burung, juga dikenal sebagai “Gacor”/Agid Antaris

Meskipun industri rekaman sudah tak lagi populer, pelatihan burung dan kompetisi kicau burung masih sangat populer. Apa pandangan Anda mengenai hal ini?

Ini tidak aneh. Industri rekaman kaset burung ‘kan hanya menumpang popularitas pasar burung berkicau dan kompetisinya. Kultur memelihara burung sudah ada sejak periode prakolonial di Indonesia. Perdagangan dan kompetisinya saja yang marak di era modern. Tanpa industri rekaman dan peredaran kaset, akses ke suara burung jauh lebih mudah saat ini. Ini sama saja seperti penjualan CD [compact disc] yang menurun, tapi minat bermain musik dan musisi baru tetap saja ada.

Pertunjukan yang Anda buat untuk Bebunyian merupakan perpanjangan dari video esai Anda. Apa yang ingin Anda capai dari pertunjukan ini? Bisakah Anda ceritakan sedikit tentang ide Anda dan bagaimana ide tersebut dikembangkan oleh para pemainnya? Apakah ada hasil yang tidak diharapkan dari pertunjukan ini?

Saya melihat adanya kemiripan antara kompetisi suara burung dan hip hop turntablism—selanjutnya di sini kita sebut sebagai DJ (disc jockey) battle. Manusia melihat kemungkinan estetika aural dari keduanya. Baik suara burung dan scratch turntablist mengalami manipulasi sonik. Burung dilatih untuk memiliki vocabulary yang kaya dan berlanjut lebih panjang dari karakter alaminya. Bedanya, pada DJ battle, manusia sendiri yang berlatih dan secara langsung melakukan manipulasi suara.

Vinyl [vinil] yang digunakan pada eksperimen DJ battle ini adalah soundbank atau field recording suara burung yang direkam di alam terbuka. Artinya, kicauan burung ini merupakan suara asli burung di habitat alaminya tanpa intervensi manusia. Vinil semacam ini cukup mudah dan murah didapat di marketplace Eropa atau Amerika. Target awalnya adalah para bird enthusiast, watcher, atau editor film dan radio sebagai sampel atau media pembelajaran. Menurut saya, scratching pada field recording suara burung ini sama seperti memanipulasi suara burung tanpa mengintervensi langsung organismenya. Dan jika manusia yang menentukan standar estetika pada suara burung, kenapa tidak manusianya saja yang berkompetisi? Ini adalah proposal bagi “skena” kompetisi burung berkicau yang tidak terlalu antroposentris. 

Apakah ada rencana eksplorasi lebih lanjut yang ingin Anda jelajahi dalam subjek dan konteks yang sama? Dan jika iya, bisakah Anda memberi tahu kami lebih banyak tentang ini?

Saya ingin bekerja bersama sejumlah DJ dan merilis album turntablism burung berkicau. Baik album burung berkicau dan hip hop turntablism adalah hal yang umum di industri rekaman. Kenapa tidak dengan keduanya?

Apakah Anda punya kesan akhir mengenai hubungan kita (manusia) dengan burung, atau tentang minat budaya kita terhadap hewan dan persaingan dengan hewan?

Riset untuk proyek ini membawa saya pada pengetahuan baru seputar hubungan interspesies. Saya baru tahu kalau burung cenderung bereaksi pada suara kicauan sesama spesiesnya saja.

Ketika berkunjung ke laboratorium ornitologi di Widyasatwaloka Cibinong, saya baru tahu etika untuk tidak sembarangan memutar rekaman suara burung di alam terbuka. Dan ini baru pengetahuan seputar burung, ya. Pada industri rekaman, saya menjumpai cukup banyak juga trivia menarik seputar perekaman burung yang berbeda dengan workflow perekaman musik.

Rizki Lazuardi dan Proyek “Magnetic Syrinx” di Bebunyian Sound Art Festival 2023
Dari kiri ke kanan: Turntablist DJ Dellen, Rizki Lazuardi, kurator Bebunyian Sound Art Festival Ayos Purwoaji, juri kompetisi kicau burung Yohanes Canary, dan Turntablist DJ Shortkutz/Agid Antaris

Bagaimana Anda mengukur dampak dari proyek yang Anda kerjakan untuk penonton?

Sampai saat ini saya lebih sering menghadirkan karya ini di ekosistem seni rupa. Saya ingin lebih banyak melibatkan penggemar burung berkicau. Buat saya akan lebih penting untuk mendapatkan respon mereka atas capaian manipulasi suara yang dihadirkan oleh DJ.

Seberapa yakin Anda mengerjakan proyek-proyek serupa di masa depan? Bagaimana prospeknya?

Saya belum memikirkan proyek serupa lagi. Buat saya proyek ini bahkan belum selesai dikembangkan. Saya ingin menyelesaikan versi final film esainya, tampil lebih banyak dengan para turntablist DJ dan merilis rekaman bersama mereka. Pastinya mendapat tanggapan dari para pegiat burung berkicau.


Foto sampul:
Rizki Lazuardi (tengah) memandu DJ battle di Bebunyian Sound Art Festival 2023 bersama DJ Dellen dan DJ Shortkutz/Agid Antaris


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melihat Pameran “The Silent Text”, Seni yang Lahir dari Kontemplasi