Itinerary

Remeh-temeh yang Tak Remeh tentang Tempe

Dalam sebuah orasinya, Putera Sang Fajar, Sukarno, pernah berkata begini: “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Rakyat Indonesia dituntut untuk tidak seperti tempe yang lembek dan murah. Proses menginjak-injak biji kedelai dalam pembuatan tempe juga sesuai dengan kepedihan rakyat Indonesia yang diinjak-injak penjajah.

Meskipun berhasil mengobarkan semangat rakyat dalam melawan penjajah, klausa “bukan bangsa tempe” itu secara peyoratif mengubah pemaknaan soal kata “tempe.” Tempe jadi dekat dengan hal-hal yang lemah, cengeng, dan penakut. Bahkan stigma itu masih terbawa sampai sekarang, bahwa tempe adalah makanan kaum rendah dan tidak mampu. Padahal, dari segi nutrisi, tempe bisa mengandung zat gizi penting seperti vitamin B12, lho!

Penting diketahui bahwa vitamin B12 dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel saraf otak dan tubuh. Karena vitamin B12 biasanya hanya ditemukan di pangan protein hewani seperti telur, daging unggas, maupun ternak, makanan seperti tempe tentu sangat bermanfaat bagi seorang vegetarian dalam memenuhi asupan zat gizi.

Uniknya, tidak semua tempe bisa mengandung vitamin B12 secara alami. Hanya tempe tradisional. Lantas mengapa hanya tempe tradisional yang mengandung vitamin B12 secara alami? Mari kita coba jawab pelan-pelan.

Perajin memproduksi tempe di industri tempe rumahan, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, 13 Januari 2016 via TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Penelitian Keuth dan Bisping (1994) menemukan bahwa kandungan vitamin B dalam tempe Indonesia [tradisional] eksis akibat adanya kontaminasi dari bakteri Klebsiella.[1] Dalam teks-teks mikrobiologi dijelaskan bahwa bakteri Klebsiella ditransfer paling banyak lewat kontak [dengan] manusia, contohnya via kulit dan keringat. Nah, saya menduga potensi besar akan keberadaan vitamin B12 dalam tempe tradisional itu ada kaitannya dengan proses pembuatan tempe tradisional yang sarat kontak dengan manusia; ada proses menginjak-injak biji kedelai! Dugaan saya ini diperkuat temuan Keuth dan Bisping (1994) bahwa kandungan vitamin B12 tidak ditemukan pada tempe yang diproduksi dalam lingkungan steril dan tersanitasi baik.

Namun, tenang saja, sekarang sudah banyak produsen yang sengaja menambahkan Klebsiella lewat proses yang higienistanpa menginjak-injak kedelai—agar tempe yang diproduksi mengandung bervitamin B12.


Ada yang kurang rasanya jika tidak berbicara mengenai pengalaman pribadi saya dengan tempe. Saat kuliah, saya disibukkan oleh kegiatan penelitian dan kerja sampingan sebagai guru bimbingan belajar. Di masa-masa itu, berat badan saya pun mulai tidak terjaga akibat pola makan yang berantakan, sampai, pada satu waktu, mengetahui soal tempe challenge dari akun Instagram @tempemovement.

Tantangannya mudah: saya hanya perlu mengganti lauk dengan tempe selama sebulan penuh, walaupun juga disarankan berolahraga minimal dua kali seminggu. Dengan prinsip nothing to lose, saya beranikan diri untuk mencoba tantangan itu. Hasilnya, dalam sebulan kulit saya menjadi lebih halus dan tidak berjerawat. Masalah berat badan, saya turun 4,5 kg! Badan pun menjadi terasa lebih ringan dan kinerja otak semakin baik, sangat membantu saya dalam mengajar.

Setiap hari harus bertemu tempe bukanlah sesuatu yang menyusahkan. Stoknya ada di mana-mana. Rasanya yang cenderung bland (tidak dominan) membuat tempe bisa disertakan dalam resep apa pun. Waktu itu, seminggu pertama saya lewati cukup dengan grilled tempe dengan sedikit garam, lada, tanpa minyak. Saya bisa menikmatinya meskipun dari segi rasa memang tidak begitu meriah, hanya wangi gosong seperti sate dan warnanya masih putih dengan tambahan sedikit corak hitam pembakaran.

Pekerja menyelesaikan pembuatan tempe di industri tempe rumahan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 8 April 2015 via TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Kalau saya sedang sibuk dan tidak sempat memasak, tempe goreng tukang pecel bisa jadi solusinya. Aromanya lebih penuh karena menggunakan minyak bekas aneka rupa daging; rasanya lebih gurih karena direndam bumbu kuning; warnanya yang cokelat merata lebih menggoda untuk dilihat. Tapi, jangan terlalu pede saat memakan tempe pinggir jalan ini, karena tempe tradisional tentu tidak menggunakan kedelai yang tersortasi dengan baik; jadi bisa saja ada batu kecil yang sangat mengganggu kalau terkunyah—bahkan bisa merusak gigi.

Terlepas dari semuanya, tempe tetap menjadi salah satu produk yang tidak bisa dilepaskan dari peradaban masyarakat Indonesia. Jadi, sekarang ada satu alasan tambahan untuk makan tempe—selain enak, murah, menyehatkan, dan menyehatkan—yakni untuk ikut melestarikan budaya Indonesia.

Yuk, makan tempe hari ini!


[1] Keuth, S., & Bisping, B. (1994). Vitamin B12 production by Citrobacter freundii or Klebsiella pneumoniae during tempeh fermentation and proof of enterotoxin absence by PCR. Applied and environmental microbiology, 60 5, 1495-9.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Paman dari tiga keponakan. Suka menulis dan membaca.

Samuel Wepe

Paman dari tiga keponakan. Suka menulis dan membaca.
Artikel Terkait
Itinerary

Senja dari Pinggir Brantas

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Ngobrolin Fotografi Perjalanan bareng Ingga Suwandana

#dirumahajaItinerary

Tuliskan Perjalananmu, Mumpung Lagi di Rumah Aja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *