Travelog

Perjumpaan Pertama dengan Ranu Kumbolo

Agustus 2019 kemarin, saya diajak teman untuk trekking ke Ranu Kumbolo. Sebelum menerima ajakan itu, banyak pertimbangan yang berseliweran dalam kepala saya. Maklum, ini bakal jadi trekking perdana bagi saya. Tapi, akhirnya saya mengiyakan juga.

Jam 6 pagi di hari yang ditentukan, saya dan teman-teman berangkat dari Kota Malang ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kami berdelapan—dua perempuan dan enam laki-laki—konvoi naik motor selama dua jam.

Setiba di base camp pendakian, kami melapor. Barang-barang bawaan kami dicek dan didata untuk memastikan bahwa kami trekking dengan bekal yang layak dan (nantinya) tidak meninggalkan sesuatu kecuali jejak. Lalu kami di-briefing soal banyak hal, dari mulai peraturan dan larangan, tentang flora dan fauna dilindungi, fauna dilindungi yang aktif di malam hari, pohon-pohon berkain yang dikeramatkan di sekitar Ranu Kumbolo, dll. Pengarahan itu lumayan lama, sekitar setengah jam.

ranu kumbolo
Foto bersama di gapura Gunung Semeru/Cindar Bumi

Sekira jam 9 pagi, kami memulai petualangan. Estimasi waktu tempuh perjalanan menuju Ranu Kumbolo ialah empat sampai lima jam. Meskipun perjalanan itu akan berlangsung lama, saya merasa sangat antusias dan bersemangat. Rasa ragu tak ada lagi dalam benak saya, sudah hilang disapu indahnya pemandangan yang saya lihat dari tadi.

Tapi, baru lima belas menit berlalu, saya sudah merasa benar-benar lelah. Tenaga saya begitu terkuras oleh jalanan yang menanjak dan berdebu itu. Rasa ragu yang tadi hilang kembali muncul: apakah saya bisa tiba di Ranu Kumbolo? Saya tak enak hati mengutarakan keraguan saya pada teman-teman, enggan membuat mereka kecewa.

Untungnya kami sering istirahat, entah di tanah berdebu atau rerumputan. Untuk menawar lelah, kami juga selalu bersenda gurau. Dalam perjalanan seperti ini, kelakar-kelakar yang dilempar bisa jadi bahan bakar untuk menjaga semangat.

ranu kumbolo
Ranu Kumbolo tampak dari Tanjakan Cinta/Cindar Bumi

Mungkin pendaki-pendaki veteran yang membaca tulisan ini akan bilang saya norak. Tapi, saya kagum sekali melihat interaksi para pendaki. Ketika berpapasan, para pendaki selalu saling sapa dan melontarkan kalimat-kalimat penyemangat: “Semangat, Mbak dan Mas. Sebentar lagi sudah sampai,” atau, “Ayo, sedelut maneh sampek. Wes karep ngarep.

Pendaki yang pendiam, atau terlalu “ngap” untuk bicara, akan menyapa dengan wajah ramah dan senyuman.

Hal lain yang bikin saya bersemangat adalah di beberapa pos—untuk ke Ranu Kumbolo kami harus melewati empat pos yang jaraknya jauh-jauh—ada penjual makanan, minuman, dan obat-obatan ringan. Di salah satu pos, kami mendapati lapak yang menjual buah semangka merah dan kuning, yang masing-masing sepotongnya dijual Rp2.500 dan Rp3.000. Teman-teman saya mengatakan bahwa rasa semangka di sana lebih manis dan segar, beda dari rasa semangka-semangka yang pernah mereka coba sebelumnya.

Tenda-tenda di Ranu Kumbolo/Cindar Bumi

Saya dan teman-teman akhirnya sampai di Ranu Kumbolo sekitar jam 4 sore. Kami tak langsung memasang tenda, melainkan duduk-duduk dulu untuk menikmati senja. Setelah hari mulai gelap, baru kami mencari lahan kosong yang cukup untuk tiga tenda. Begitu tenda terpasang, kami memasak mi dan meracik minuman hangat.

Saat kami tiba, tenda belum begitu banyak. Namun, semakin malam, tepian Ranu Kumbolo semakin meriah oleh tenda.

Jam 8 malam, ketika menengadah ke langit, saya melihat milky way yang tampak elok meskipun harus berebut panggung dengan bulan dan gemintang. Malam itu saya benar-benar bersyukur sekali karena sudah mengambil keputusan untuk menerima ajakan trekking ke Ranu Kumbolo, sambil berharap akan diberikan kesempatan sekali lagi untuk ke sana suatu hari nanti.

Karena hawa makin dingin, saya lapisi badan dengan jaket, celana tumpuk tiga, kaus kaki tumpuk empat, dan sarung tangan dua lapis. Jam 10 malam kami sudah istirahat dalam tenda. Tapi, sampai jam 1 dini hari, saya tak bisa tidur nyenyak karena kaki saya kram. Untuk mengatasinya, saya oleskan minyak tawon di kaki—ampuh!

ranu kumbolo
Para pendaki sedang mengemasi tenda di pinggir Ranu Kumbolo/Cindar Bumi

Saya baru bisa tidur nyenyak jam 2 dini hari. Lucunya, teman-teman saya malah banyak yang terbangun selepas saya tidur. Menurut cerita mereka, suhu saat itu mencapai 8˚C. Tapi saya tak merasakannya karena saya sudah tidur pulas disponsori minyak tawon.

Pagi-pagi, kami bersama-sama menyambut matahari—sekalian foto-foto tentunya. Ranu Kumbolo pagi-pagi begini indah sekali. Ada kabut putih menggelayut rendah di atas permukaan danau.

Matahari makin naik dan kami makin lapar. Kami pun kembali ke tenda dan memasak dengan kompor kecil. Karena persediaan air menipis, kami menggunakan air danau untuk memasak. (Kami juga meminum air danau yang tak direbus, yang secara mengejutkan ternyata benar-benar segar.)

Kami bermalas-malasan dalam tenda sehabis makan. Sekitar jam 11 siang, kami mengemasi barang bawaan dan bersiap-siap untuk turun ke base camp. Berangkat tengah hari, kami tiba di base camp sekitar jam 4.30 sore lalu bergegas pulang ke Malang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Cindar Bumi

Mahasiswa. Sibuk berorganisasi di sana-sini. Ketika merasa jenuh, ia akan traveling bersama teman-temannya.
Related posts
Travelog

Belajar Memilah Sampah "Iso Bosok" dan "Ora Iso Bosok" di Kongres Sampah

Pilihan EditorTravelog

Sederhananya Pulau Meosmanggara di Raja Ampat

Travelog

Angkringan Kedaulatan Rakyat

Travelog

Sarapan Sego Wiwit di Puncak Sosok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *