Travelog

Perjalanan Sederhana Melewati Merapi

Air masih membasahi wajahku. Cuci muka berhasil membuatku segar kembali. Sementara itu, tangan ini masih berkutat membuka media sosial di ponsel. Aku yang baru bangun dari berselancar mencari informasi-informasi di media sosial, seketika dikagetkan dengan berita tentang erupsi Gunung Semeru. Awal tahun ini penuh dengan kejadian tak terduga. Selain Semeru, aku juga menengok kabar terbaru Merapi yang juga mulai beraktivitas kembali.

Kubaca informasi-informasi itu dengan saksama, hingga kujumpai foto-foto lava yang keluar dari kawah Gunung Merapi. Memandangi Merapi yang tampak merah membuatku teringat tentang keindahannya kala terlelap. Sebuah kenangan manis nan sederhana tentang aku dan keluarga pernah tercipta di sisi Merapi.

* * *

Matahari bersinar cerah pagi ini. Sinarnya meringsek masuk melalui celah jendela di kamarku. Aku pun terjaga sembari mengeriyipkan mata karena sangat silau. Aku beranjak dari tempat tidur, membuka pintu kamar, dan menemui pemandangan kegaduhan ayah, ibu, dan kakakku yang sibuk mengemasi barang. Dalam hati aku bertanya apa yang mereka lakukan.

Dengan menyandarkan bahu pada pintu serta beberapa kali menguap karena masih mengantuk, aku berpikir sejenak. Benar saja, aku terlewatkan sesuatu pagi ini. Aku segera bergegas lari ke kamar mandi untuk mandi. Setelahnya, aku berjalan ke arah kamar orang tuaku, lalu bertanya jam berapa kami akan berangkat. Ibu yang sibuk melipat beberapa baju untuk dimasukkan dalam tas pun menjawab bahwa kami berangkat satu jam lagi. Hari ini aku sekeluarga berencana melawat kerabat ke daerah Candi Borobudur berada, Magelang.

Semua sudah siap. Segala keperluan telah ada di dalam bagasi mobil. Pakaian khas keluarga yang ingin piknik sudah kami kenakan. Aku sekeluarga masuk ke mobil, lalu ayah menyalakan mesin dan melaju dengan kecepatan sedang. Raut bahagia menghiasi wajah kami. Tanpa terasa satu jam sudah terlewat, ayah pun bertanya kita akan meneruskan lewat jalan raya lagi atau memilih medan pegunungan lewat Selo, Boyolali.

Aku menjawab, “Lewat gunung, Yah.”

Kakakku menambahkan, “Betul. Hawane adem, asri, segar juga.”

Ayah mengarahkan mobil ke daerah Selo. Kami melewati area dataran tinggi dengan pemandangan yang menghijau. Sampailah kami pada sebuah jalan yang diapit oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Hawa dingin dipadu suasana khas pedesaan, membuatku bersemangat membuka kaca jendela. Aku turunkan kaca itu hingga seluruhnya. Angin khas dataran tinggi menerpa wajahku, membuatku memejamkan mata sejenak. Kutarik nafas dalam-dalam, membiarkan udara segar masuk ke dalam tubuhku.

Potret Merapi dari pemberhentian kami/Tasya Rahmawati

Ibu lalu mengingatkan ayah, kakak, dan aku untuk sarapan. Ibu memang selalu membawa bekal dari rumah untuk kami sarapan bila sedang dalam perjalanan pagi seperti ini. Ayah pun meminggirkan mobil ke bibir jalan. Posisi parkir kendaraan kami sangat pas, dari sini kami bisa melihat Gunung Merapi dengan jelas. Sesuatu, semacam asap keluar dari puncaknya.

Ibu dengan sigap mengambil bekal makanan dari bagasi belakang. Satu per satu tutup kotak makanan terlepas. Ternyata ibu telah menyiapkan nasi putih hangat ditemani lauk ayam goreng, ikan bandeng, dan tanpa lupa sambal terasinya. Sebuah termos berisi teh hangat pun berdiri tegak di sudut bagasi. Aku, ayah, dan kakak sigap mengambil piring masing-masing.

“Kalau makan begini kudu pakai tangan,” celetuk ayah pada anak-anaknya.

“Bener banget! Biar makin nikmat.. Bu, bawa air mineral ndak?” tanya kakak pada ibu yang sibuk menata bekal.

“Iya, ambil wae di belakang,” sahut beliau.

Kakakku langsung keluar membuka pintu bagasi dan mengambil sebotol air mineral 1500ml untuk cuci tangan. Ayah dan aku mengikutinya. Akhirnya kami makan lesehan di samping mobil. Angin sejuk berembus tiap detik membuat suasana semakin menyenangkan. Nasi hangat, ayam goreng, sambal, dan segelas teh hangat; sempurna! Sederhana, tapi kebersamaan bersama keluarga ini tak akan terlupa.

Sarapan selesai. Kakakku sibuk memotret pemandangan sekitar. Sedangkan aku yang tak suka berfoto, hanya duduk di jok depan sambil menghadapkan badan ke arah Merapi yang tampak agung di seberang. Aku menoleh pada sosok ayah yang merengkuh sesuatu di belakang mobil.

Setelah ayah melangkah mendekat mobil, beliau membawa sekantong plastik berisi sampah botol, gelas plastik, dan kemasan makanan ringan. Rupanya ayah memperhatikan ada beberapa sampah berserakan di sekitar kami. Beliau berkata bahwa sampah-sampah itu adalah sampah yang sengaja dibuang oleh orang yang melintas atau pernah singgah sejenak di tempat itu sebelum kami. Ibu mengikat plastik erat dan meletakkan di bagasi, tepat bersebelahan dengan kantong sampah kami. Tindakan ayah dan ibu membuatku alangkah bangga memiliki orang tua yang peduli pada lingkungan seperti mereka. 

“Ayo, Kak. Udah dulu foto-fotonya. Kita lanjut jalan daripada kesiangan nanti,” ajak ayah sambil berjalan ke pintu jok sopir sebelahku.

Kakak menghentikan aktivitas dan duduk tepat di jok belakangku. Dia tutup pintu perlahan. Aku dan ayah memasang sabuk pengaman. Kemudian, ayah mulai menginjak gas. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah kerabat. Selama kami melewati dataran tinggi, seluruh kaca mobil kami buka. Aku dan keluarga benar-benar merasakan udara segar berdampingan dengan embusan angin yang terkadang menusuk tulang.

Sementara ayah fokus menyetir, aku asyik memperhatikan sekitar. Kutengok jok belakang, kudapati ibu dan kakakku sedang mendokumentasikan perjalanan kami. Aku lempar senyum pada ibu yang tak sengaja melihatku. Beliau pun tersenyum balik padaku.

“Tolong rekam jalanan depanmu, Dik,” pinta beliau menyerahkan ponselnya.

Aku ambil alih ponsel ibu dan mulai merekam suasana jalan. Sebuah mobil sedan hitam, truk pasir merah, dan sepeda motor matic terlihat jelas di kamera. Aku kembalikan ponsel ibu saat muncul pemberitahuan bahwa memori penuh, sehingga tidak mampu merekam lagi.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol, bersahut-sahutan dengan radio yang menyala cukup keras. Tanpa sadar, aku mengantuk dan terlelap dengan posisi kepala menyandar pada kaca mobil yang tertutup separuh.

Dan tak terasa, kami tiba di Magelang. Ayah menepuk pundakku dan membuatku tergugah kaget. Aku menegakkan badan dan segera turun dari mobil dan membantu yang lain membawa barang. Kerabatku bertanya perkara perjalanan kami, dengan antusias kuceritakan kepadanya! Kala itu, aku benar percaya jika kebahagiaan dapat datang dari hal-hal kecil tanpa duga, seperti sekedar melakukan perjalanan bersama keluarga, dan duduk manis menyantap sarapan di pinggir jalan.

Artikel Terkait
NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Travelog

Monumen Kresek dan Kisahnya

Travelog

Anjing-anjing yang Memandu Kami di Gua Maria Bukit Kanada

Travelog

Menengok Gugusan Karang di Pantai Watu Leter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *