Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Perjalanan ini dilakukan pada Juni 2018. Saat itu sedang libur panjang, saya yang bertempat tinggal di Kupang memutuskan untuk berlibur sekaligus mengunjungi sanak-saudara di pulau selatan Indonesia, Rote Ndao tepatnya di Desa Sedeoen, Kecamatan Rote Barat dan di Desa Lole, Kecamatan Rote Tengah—yang tentunya masih termasuk dalam provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya berangkat dengan menumpangi kapal feri, kapal yang sering dijumpai jika ingin bepergian Kupang—Rote atau sebaliknya.

Kapal ini cukup besar, dan tidak hanya terdiri dari satu lantai saja, tetapi ada beberapa (entah saya lupa). Intinya, dalam kapal tersebut kita masih bisa bergerak leluasa, kesana-kemari menikmati indahnya perpaduan biru laut dan langit yang bersahaja, serta pulau-pulau kecil yang berjejer seakan menghantar saya menuju lautan lepas.

Diatas Kapal Ferry—Menuju Rote/Resti Seli

Hingga akhirnya, saya benar-benar ditengah lautan lepas. Kapal berjalan dengan tenang, walaupun ada beberapa kali kapal ini oleng akibat hantaman ombak besar. Sampai-sampai membangunkan penumpang lain yang sedang tidur. Beberapa penumpang terlihat panik, tetapi sebisa mungkin tetap tenang. Perjalanan ini cukup memakan waktu kira-kira 4 jam lamanya. Saya sampai ke daratan Pulau Rote sekitar pukul 15.30 WITA.

Setelah kapal bersandar, saya pun lekas turun dan menjumpai beberapa sanak keluarga yang sudah menunggu untuk menjemput saya. Tak butuh waktu lama, motor saya mulai melaju. Lelah sudah, tetapi sekali lagi. Alam Rote tidak pernah mengecewakan.  Sepanjang jalan, adakalanya saya ditemani pepohonan rimbun seperti hutan lalu tak lama kemudian, ladang luas dan cuaca panas menyapa kulit saya. 

Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, saya tiba di Desa Sedeoen. Indah bukan main desa ini. Berada tepat di pesisir pantai, seluruh tanah di sini diselimuti pasir pantai. Di depan rumah saya berhadapan langsung dengan penginapan berbentuk rumah kecil beratapkan daun lontar, berjejer lurus di depan. Penginapan ini dibangun oleh orang asing yang membeli tanah di sini dan mendirikan usaha penginapan.

Potret Pantai Sedeoen/Resti Seli

Dibalik penginapan-penginapan ini terdapat pantai Sedeoen yang indah di belakangnya.  Untuk sampai ke pantai tersebut, saya berjalan sekitar 35 meter melewati lorong setapak kecil di sela-sela penginapan. Setapak itu menuntun langkah saya menuju pantai indah yang terbentang di ujung sana. Setapak itu terbentang sepanjang pantai, untuk memudahkan pengunjung atau siapa pun yang ingin menikmati keindahan pantai.

Pantainya bersih, pasirnya putih, beberapa perahu yang terparkir dengan baik, dan sinar matahari yang menyengat. Pantai ini juga terdapat rumah kecil atau pondok beratapkan daun kelapa. Tempat berteduh bagi siapa saja di pantai itu. 

Desa ini juga menjadi salah satu saksi menghantar mentari ke peraduannya. Itulah mengapa, senja terlihat sangat bersahaja di sini. 

Setelah beberapa hari di sini, saya pergi mengunjungi sanak-saudara lainnya di belahan Pulau Rote yang lain. Desa Lole, Kecamatan Rote Tengah. Tidak jauh berbeda, sepanjang perjalanan saya berjumpa dengan pepohonan rimbun kemudian, padang yang terbentang luas. Memakan waktu kurang lebih 1 jam.

Pemandangan yang berbeda ditemui di sini, bukan pantai. Tetapi, sawah hijau yang sangat luas. Persawahan ini terletak tepat di depan rumah saya. Sehingga, udara di sini sangat sejuk. Terdapat juga kolam ditengah sawah yang memanfaatkan masyarakat sebagai tempat menimba air minum dan tempat mandi. Namun jangan salah, ditengah kolam ini sudah dibangun tembok yang memisahkan air minum dan tempat mandi. Air di bagian atas atau yang berasal langsung dari mata air, akan dijadikan warga sebagai air minum. Setelahnya dibagian bawah, adalah tempat mandi atau berendam bagi siapa saja. 

Sawah di Desa Lole/Resti Seli

Saya bermalam di desa ini, ketika malam menjelang, suhu menjadi sangat dingin. Untuk menghangatkan tubuh dan memuaskan lapar di perut, saya bersama beberapa anggota keluarga lainnya, memilih untuk membuat api lalu membakar seekor babi kecil (kami non-muslim). Itu hal yang biasa bagi saya, setiap kali saya berkunjung kesini, pasti akan disuguhkan dengan membunuh ayam atau seekor babi kecil.

Sayangnya, waktu itu sama sekali belum ada listrik yang masuk di desa itu. Sehingga gelap gulita menutupi pandangan kami. Jadi, untuk melewati malam, kami bertukar cerita, sembari menikmati makan malam—daging babi bakar—ditemani remang-remang lampu ti’oek. Lampu tradisional yang menggunakan sumbu dan minyak tanah. Kemudian, kami pun tertidur pulas.

Selang beberapa hari lamanya, perjalanan saya telah usai. Saya diantar ke pelabuhan Ba’a tempat kapal dengan rute Rote—Kupang menjemput saya. Saya pergi dengan keindahan Pulau Rote yang membekas dihati, pantainya yang bersih dan menarik serta persawahan yang sejuk dengan kolam kecil di tengahnya, menambah kesan tersendiri bagi perjalanan saya kala itu.

Pantai Sedeoen dan Persawahan Desa Lole, hanyalah sebagian kecil dari sejuta keindahan yang ada di Pulau Rote, ini membuat saya ingin kembali suatu waktu, untuk menjelajahi dan menemukan kecantikan alam lainnya.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.

Resti Seli adalah seorang perempuan muda yang sedang suka-sukanya menulis, fotografi, olahraga, dan travelling.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Pantai Indrayanti, Gunung Kidul, Seharusnya Jadi Tempat Favorit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Cantiknya Air Laut Warna Toska di Pantai Bukambero, Sumba