Pilihan EditorTravelog

Mencari Durian ke Teluk Dalam, Nias Selatan

Saat pertama menginjakkan kaki di Nias, hal pertama yang saya bayangkan adalah durian. Nias memang sudah jadi legenda di antara kawan-kawan saya sebagai tempat enak untuk makan durian.

Di musim panen, harga buah aromatik itu bisa sangat murah. Mereka bilang harganya akan menyaingi sebungkus Chiki. Beda sekali tentunya dari durian-durian di Kalibata yang harganya balapan dengan steak di restoran mewah.

Sayang, saya tiba di Gunungsitoli bukan saat musim durian. Tapi tak apa. Katanya, di Teluk Dalam, tiga jam perjalanan dari Gunungsitoli, masih ada durian sisa panen musim ini. Kebetulan juga kawan-kawan seperjalanan punya keinginan untuk melihat lompat batu di Desa Adat Bawomataluo yang pernah mejeng di uang seribuan tahun 90-an. Untuk ke Desa Bawomataluo, untungnya, kami mesti lewat daerah Teluk Dalam.

desa bawomataluo
“Boulevard” Desa Bawomataluo/Syukron

Baguslah. Rasa-rasanya saya bisa menuntaskan dua misi dalam satu perjalanan. Misi utama saya, ya, tetap durian.

Pemandangan menuju Nias Selatan

Jadi itu hari saya bangun pagi demi ke Teluk Dalam, Nias Selatan. Sepertinya, bangun pagi adalah rutinitas wajib saat di Nias. Sebelumnya, saya juga bangun pagi untuk ke Alasa, Nias Utara.

Dibandingkan jalan Gunungsitoli-Alasa, jalan ke Teluk Dalam lebih manusiawi. Jalan raya mulus walau tidak terlalu lebar. Seandainya ada acara besar di Nias, tentu jalanan akan macet luar biasa sebab kecilnya jalan itu berbanding terbalik dengan besarnya volume kendaraan.

Tapi sebenarnya kondisi jalan sekarang sudah mendingan. Konon, sebelum tsunami dulu, untuk ke Teluk Dalam perlu waktu hingga enam jam. Sehabis tsunami, jalan dibangun baru dan diaspal sehingga lebih nyaman dan waktu tempuh jadi lebih singkat.

desa bawomataluo omo sebua
Omo sebua di Desa Bawomataluo/Syukron

Ada dua hal yang lumrah di Nias Selatan, tapi tak biasa menurut saya. Pertama, selalu ada makam di pekarangan tiap rumah. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana jika rumah-rumah itu dijual: apakah pembelinya mau diberi bonus makam? Hal lumrah kedua adalah baju yang dijemur dengan cara dihamparkan begitu saja di pekarangan, bahkan hingga ke bahu jalan, bukannya digantung. Ketika saya tanya kenapa cucian itu tidak digantung di jemuran, mereka menjawab bahwa ini sudah menjadi kebiasaan.

Melihat tradisi orang Nias di Bukit Matahari

Mobil mulai memperlambat laju. Ternyata kami sudah tiba di Desa Adat Bawomataluo. Tapi, untuk mencapai lokasi, kami mesti meniti sekitar 80 anak tangga. Maklum saja, desa ini memang bertengger di bukit. Bawomataluo sendiri berarti Bukit Matahari.

Hari itu cukup panas, waktu yang pas untuk menghamparkan pakaian. Saya masih geli sendiri membayangkan metode untuk menjemur pakaian yang tadi saya lihat di jalan. Yang terbayang oleh saya adalah proses menjemur ikan asin, tapi ikan asinnya diganti pakaian.

nias
Seorang warga desa Bawomataluo duduk di depan omo hada/Syukron

Sebagai desa wisata budaya, bangunan rumah tradisional (omo hada dan omo sebua) khas Nias dengan fondasi dari kayu-kayu besar di Desa Bawomataluo masih terpelihara di kanan-kiri jalan. Barangkali karena sudah terbiasa dengan turis, dan hari itu juga sepertinya sedang banyak wisatawan yang datang, orang-orang di sana tidak terlalu memperhatikan keberadaan kami.

Gampang sekali membedakan mana orang luar dan mana masyarakat sekitar. Patokannya, jika pakaiannya modis, itu kemungkinan besar adalah turis.

Sepanjang perjalanan masuk, ada beberapa orang yang menawarkan souvenir khas Nias dan jasa lompat batu. Saya baru tahu bahwa lompat batu, tradisi turun-temurun untuk menandakan bahwa anak-anak muda sudah beranjak dewasa, ternyata tidak hanya dipertontonkan pada waktu-waktu tertentu. Kapan saja kita bisa menyaksikannya. Tinggal bernegosiasi dengan pemuda setempat, kita bisa melihat atraksi melompati batu setinggi 2 meter setebal 40 cm itu. Bonusnya adalah baju khas Nias yang bisa kita pakai untuk foto bersama.

Lompat batu di Desa Bawomataluo, Nias/Syukron

Pariwisata membuat semuanya jadi bisa dinegosiasikan. Tradisi yang sakral menjadi mudah untuk disajikan. Semua sudah dikontrol oleh ekonomi. Saya jadi berpikir, apakah memang harus seperti ini untuk [mengembangkan] pariwisata?

Perenungan itu sampai saya bawa dalam perjalanan pulang, juga pertanyaan-pertanyaan lain: Apakah saya mau ke sana untuk kedua kalinya? Bagaimana kalau tak ada lagi wisatawan yang mau ke sana?

Pikiran-pikiran itu membuat saya tenggelam dalam lelapnya tidur. Begitu bangun memasuki Gunungsitoli, seketika saya tersadar: Ah, sial! Saya lupa mencicipi durian di Teluk Dalam.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Berimajinasi seperti anak-anak, bersemangat ala pemuda, dan bijaksana layaknya orang tua.
Related posts
Travelog

Perjalanan Menuju Baduy Dalam

Travelog

Mencari Udara Segar di Gunung Penanggungan

Travelog

Pulau Talango dan Kenangan Manis di Seberang Madura

Travelog

Rumah-rumah Tak Berpagar di Kampung Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *