TRAVELOG

Perempuan-Perempuan Penjaga Tradisi Batik Tulis Giriloyo

Namanya Suhir. Usianya nyaris seabad, 96 tahun. Pembatik tertua di Kampung Batik Giriloyo, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. 

Di teras rumahnya, sehelai kain selalu terkulai di gawangan. Setiap pukul enam pagi Suhir sudah mulai sibuk membatik. Dia akan beristirahat setelah 4–5 jam bekerja. Saat saya datang pukul 09.00 di pengujung Oktober 2025, ia masih duduk di hadapan kain mori. Tangan kirinya memegang kain, tangan kanannya menorehkan canting melukis motif.

Nur Mukromah (50). anak bungsu yang tinggal serumah dengan Suhir menyambut kedatangan saya. “Zuhur biasanya, Mbah Suhir istirahat salat. Setelah itu tidur siang. Nanti pas bangun mbatik lagi,” ia menjelaskan kebiasaan ibunya.

Nur Mukromah punya keterbatasan psikologis. Komunikasi kami sangat terbatas. Namun, tak lama berselang anak Suhir yang lain, Nuryatun (64), yang rumahnya bersebelahan datang menghampiri kami.

Kendati sudah lanjut usia, Suhir masih bisa ngelowong dengan presisi (Janika Irawan)
Kendati sudah lanjut usia, Suhir masih bisa ngelowong dengan presisi/Janika Irawan

Sepanjang Usia untuk Membatik

Di masa mudanya, Suhir memasarkan sendiri batiknya ke Kota Yogyakarta yang berjarak belasan kilometer dari tempatnya tinggal. Berbagai pesanan dari toko dia penuhi. Menurut Nuryatun, hasil dari penjualan batik mampu menghidupi keluarga mereka. 

“Untuk kebutuhan sehari-hari dari batik itu. Dulu mudah jual batik. Sekarang ora payu (tidak laku). Di Jogja itu sukar,” ujar Nuryatun, anak keempat Suhir.

Selain Suhir ada Hartinah (83). Jika Suhir sudah kehilangan pendengaran sehingga sulit diajak berkomunikasi, Hartinah sebaliknya, bahkan sangat cakap berbahasa Indonesia. Saat berbicara dengan saya, nyaris tidak ada bahasa Jawa yang ia gunakan. Terlihat Hartinah sudah terbiasa berkomunikasi dengan orang luar.

Meski sudah usia lanjut, Hartinah masih aktif membatik. Dia mengerjakan pesanan kain batik dari berbagai konsumen luar daerah. Hanya saja, kini membatik tidak lagi terikat oleh waktu kerja yang ketat dari pagi hingga sore. Pesanan yang dia terima pun mulai dibatasi, menyesuaikan dengan kemampuannya.

“Pokoknya mbatik semaunya saja. Yang penting sudah selesai nyuci, bersih-bersih, baru mulai mbatik. Jadi waktunya sudah enggak pasti,” kata Hartinah. “Nanti kalau sudah zuhur kan salat. Habis salat tidur, biasanya dua jam, terus nanti bangun mbatik lagi kalau masih ada waktu.”

Menikmati masa senja tanpa kerja membatik bisa saja dilakukan Suhir dan Hartinah. Mereka bisa menggantungkan kebutuhan hidup pada anak-anaknya. 

Namun, bagi Hartinah, membatik bukan hanya soal pekerjaan atau ekonomi, melainkan merasakan kebahagiaan. “Orang banyak saja yang ngasih tahu, ‘Mbah, mbatik untuk apa? Duduk saja sudah ada uang’, katanya. Ya, kan untuk senang-senang. Senangnya saya mbatik itu,” tegasnya.

Hartinah membersihkan luberan malam panas agar tidak mengubah motif (Janika Irawan)
Hartinah membersihkan luberan malam panas agar tidak mengubah motif/Janika Irawan

Proses Panjang untuk Sehelai Kain Batik

Sepotong kain batik tulis siap jual membutuhkan proses panjang. Paling singkat sekitar satu bulan, ini berlaku bagi pembatik yang masih usia produktif. Semakin menua, kemampuan untuk kerja efektif perlahan menurun. 

Ketika masih muda, Hartinah masih bisa menghasilkan satu potong kain batik dalam sebulan. Namun, kini kemampuan itu seolah telah hilang. Bahkan kemampuan membuat motif awal sudah tidak bisa ia lakukan. 

“Warna hitamnya kan saya kirim ke Solo. Terus setelah dari Solo dicecek lagi pakai canting paling kecil. Jadi, proses batik itu lama sekali. Pokoknya, tiga bulan baru jadi,” kata Hartinah. 

Hartinah mengirimkan batik untuk diwarnai ke Solo bukan tanpa alasan. Dulu pewarnaan dilakukan secara mandiri, tetapi hasil yang didapat kurang maksimal. Menurutnya, pewarnaan yang mereka lakukan kerap kali merusak malam yang merupakan motif batik itu sendiri. 

“Dulu pernah, sebelum tahu di Solo itu diwarnai sendiri. Setelah tahu di Solo, ya, kirim saja ke Solo,” jelasnya. 

Selain itu, kemampuan lain yang sudah tak lagi ia kuasai yaitu nyecek. Proses penyempurnaan motif pada kain batik menggunakan canting berukuran paling kecil setelah pewarnaan awal.

Nyecek juga sudah enggak bisa. Saya cuman ngelowong sama nembok. Makanya bisa tiga bulan baru jadi. Kalau zaman dulu satu bulan bisa satu lembar. Sekarang sudah, pokoknya enggak bisa.”

Tiga jenis canting yang difungsikan untuk nyecek, nglowong, dan nembok (Janika Irawan)
Kiri ke kanan: Tiga jenis canting yang difungsikan untuk nyecek, nglowong, dan nembok/Janika Irawan

Sejarah Batik Giriloyo 

Kampung Batik Giriloyo terletak di utara Bukit Merak. Di sana bersemayam raja-raja Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pada 5 November 2025 lalu, Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwono XIII dimakamkan di sana. 

Batik telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak ratusan tahun silam. Sebuah tradisi dan sumber penghidupan yang terus dirawat. Sejarah batik Giriloyo tidak bisa dilepaskan dari keberadaan makam raja yang dibangun pada tahun 1632 itu. Dua tahun setelah kompleks makam dibangun, warga sekitar—khususnya laki-laki—banyak yang direkrut menjadi abdi dalem. Sementara para perempuan dikenalkan dengan batik. Mereka diajarkan cara membuat pakaian khas keraton itu.  

“Batik yang awalnya dulu cuma dikerjakan oleh putri-putri raja, keluarga raja, akhirnya bisa berkembang di tempat ini,” terang Nur Ahmadi, Ketua Desa Wisata Wukirsari. 

Berbagai motif batik warisan kerajaan Mataram terus dilestarikan sampai sekarang, di antaranya Wahyu Temurun, Sido Asih, dan Sido Mukti. 

Pada tahun 1634 hingga 1980-an, pembatik di Giriloyo hanya bekerja sebagai buruh. Namun, lambat laun kesadaran untuk memproduksi batik sendiri tumbuh. 

Perubahan dimulai pada 1982, ketika perempuan pembatik dikumpulkan oleh lurah setempat untuk dilatih mengembangkan keahlian membatik. Dari sebelumnya hanya menggambar motif, mereka akhirnya mampu menghasilkan kain batik siap jual. 

Hingga kemudian, dari 60-an perempuan pembatik di Giriloyo, muncul inisiatif mendirikan kelompok pembatik. Menurut Hartinah, pelopor kelompok batik di Giriloyo, saat itu lahir sekitar tujuh kelompok pembatik, salah satunya kelompok Bimasakti yang ia pimpin. Sejak tahun 1985 sampai sekarang, kelompok ini membatik di rumah Hartinah.

Dari tujuh kelompok, Bimasakti yang masih bertahan sampai sekarang. Kini bertambah menjadi 12 kelompok batik yang ada di Wukirsari. 

Di antara kelompok itu, juga ada nama Khibtiyah (56), salah satu pembatik dan pemandu edukasi batik yang masih eksis di Giriloyo. Baginya, melestarikan batik tulis berarti menjaga keaslian dan memberi edukasi kepada masyarakat agar memahami perbedaan tersebut.

Ia juga kerap meluruskan, sebuah pakaian disebut batik jika melalui proses pemolaan dengan malam (lilin) panas menggunakan canting. Adapun pembuatan dengan metode cap atau printing tidak patut disebut batik. “Yang printing itu bukan batik, tapi tekstil bermotif batik,” katanya. 

Pernyataan itu sejalan dengan pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan takbenda, bahwa batik sejati dipahami dari proses panjang panjang pembuatannya yang tidak terlepas dari sentuhan kreatif manusia.

Khibtiyah menunjukkan pola titik-titik yang dihasilkan dari proses nyecek menggunakan canting berukuran paling kecil (Janika Irawan)
Khibtiyah menunjukkan pola titik-titik yang dihasilkan dari proses nyecek menggunakan canting berukuran paling kecil/Janika Irawan

Kebangkitan setelah Gempa 2006 dan COVID-19

Tanggal 27 Mei 2006, gempa bumi meluluhlantakkan kawasan sepanjang Sesar Opak. Kebanyakan rumah rata dengan tanah, 5.782 jiwa meninggal dunia, 26.299 orang mengalami luka berat dan ringan. Aktivitas membatik mati total, gairah pun hilang. Bagi mereka yang penting hanya satu, menyelamatkan diri. Warga fokus memperbaiki rumah yang rusak dan menghilangkan trauma.

Setelah setahun mengalami masa-masa sulit, warga berusaha membangun kembali semangat yang runtuh karena bencana. Sampai tercetus sebuah inisiatif menciptakan selendang sepanjang seribu meter yang berhasil memecahkan rekor MURI.

“Masuk rekor MURI pada waktu itu. Peristiwa itu merupakan salah satu tonggak sejarah kebangkitan batik yang ada di Wukirsari atau di Giriloyo ini,” kata Nur Ahmadi.

Perlahan, pengunjung kembali berdatangan. Ekonomi mulai pulih. Pada tahun 2009 muncul gerakan baru. Kampung Batik Giriloyo mulai melebarkan sayap ke eduwisata. Wisatawan yang datang bisa belajar langsung proses membatik dari memolai hingga mewarnai.

Dari situ, kunjungan terus meningkat. Puncak tertinggi terjadi pada 2019. Setidaknya ada 29.000 tamu datang berkunjung. Namun, cobaan kembali datang. COVID-19 membuat jumlah kunjungan turun drastis, hanya 7-8 ribu orang. 

Nur Ahmadi, Ketua Desa Wisata Wukirsari (Janika Irawan)
Nur Ahmadi, Ketua Desa Wisata Wukirsari/Janika Irawan

Kondisi mulai membaik dua tahun kemudian. “Kunjungan di tahun 2022 tembus 24.000. Walaupun masih di bawah 2019, tapi sudah lumayan jauh naik dari pada tahun 2021,” kata Nur Ahmadi.

Dalam waktu tiga tahun, pamor Wukirsari yang memiliki ikon batik tulis Giriloyo dan wayang kulit ini terus meningkat. Kegigihan warga Wukirsari diganjar penghargaan, antara lain masuk 100 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022, juara pertama ADWI 2023 kategori desa wisata maju, hingga “The Best Tourism Village 2024” dari UNWTO. 

“Juara ini hanya sebagai bonus. Karena semuanya, kami menganggap sebagai juara tatkala warga kami sudah bisa menikmati dampak dari adanya pariwisata,” kata Ahmadi. Total ada 8.000 warga atau pembatik yang mendapat manfaat dari desa wisata.

Raihan penghargaan beriringan dengan peningkatan jumlah kunjungan. Sepanjang tahun 2023 kunjungan tembus 40.000 orang. Lalu tahun 2024 tercatat kunjungan 45.000 wisatawan. Omzet dari paket wisata dan penjualan batik ditaksir sekitar 2,3 miliar rupiah tahun 2023 dan 2,8 miliar rupiah tahun 2024. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Biasa dipanggil Janika. Tinggal di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan ke gunung. Suka menulis demi kepuasan hidup.

Avatar photo

Biasa dipanggil Janika. Tinggal di Yogyakarta. Hobi jalan-jalan ke gunung. Suka menulis demi kepuasan hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mendaki Gunung Ungaran di Akhir Pekan