Sampah KitaTravelog

Peduli dengan Lingkungan, Mulai dari Keluarga

Memiliki perbedaan pandangan akan sampah terkadang menjengkelkan, hal inilah yang saya alami baru-baru ini.  Cerita tentang sampah ini bermula ketika saya beserta dua adik sepupu, tante, dan om hendak ke rumah nenek. Bukan untuk liburan, kami berencana berziarah ke makam datuk.

Bagi kami keluarga Jawa, ziarah makam merupakan hal yang lumrah dilakukan. Apalagi jika mendekati bulan puasa. Ziarah ini dimaksudkan untuk mengunjungi keluarga yang sudah meninggal, mendoakan mereka, serta membersihkan makam dari rumput-rumput liar.

Perjalanan ke rumah nenek

Selama perjalanan ke rumah nenek, dua adik saya tidur. Satu di pelukan saya dan satu lagi menggunakan paha saya sebagai bantal. Hampir tiga perempat perjalanan sudah kami lewati. Sisa perjalanan kemudian terasa lamban, jalan yang kami lalui tidaklah mulus. Terdiri dari bebatuan dan tanah yang kalau hujan tentunya sangat sulit untuk dilewati. 

Dari rumah kami ke rumah nenek, memakan waktu sekitar tiga jam. Estimasi waktu ini tentunya tidak termasuk macet di jalan. Hal pertama yang harus sekali saya persiapkan sebelum berangkat adalah makanan. Saya sangat tidak bisa kelaparan, menahan perut kosong selama perjalanan. Jika itu terjadi, dapat dipastikan bahwa saya akan mengalami mabuk perjalanan.

Kami mampir ke tempat pengisian bahan bakar, Pertamina, untuk mengisi bahan bakar mobil. Sembari itu, saya bersama adik pergi ke toilet untuk buang air. Setelahnya kami kembali melakukan perjalanan. Karena perut sudah mulai berbunyi, akhirnya saya membuka makanan ringan yang dibawa. Ternyata tante saya juga membeli jajanan lain ketika berhenti di pertamina tadi, dan jajanan tersebut lumayan banyak. 

Kami pun satu persatu mengambil jajanan yang diinginkan untuk dikonsumsi. Tidak lama, hal yang tidak mengenakkan pun terjadi. Ketika adik saya selesai akan satu bungkus makanannya, ia hendak membuang sampah. Namun sampah tersebut diberikan kepada bundanya. 

Adakah yang bisa menebak nasib sampah tersebut? Dibuang ke jalan. Hanya dengan membuka kaca pintu mobil, sampah tersebut keluar dan tidak tahu keberadaan hingga sekarang. Ironi bukan? Ketika saya melarang hal tersebut, tante saya hanya mengatakan “dak papo” yang berarti “tidak apa-apa” dalam Bahasa Indonesia. Hal inilah yang mulai membuat saya jengkel. Padahal sampah tersebut merupakan sampah plastik yang sulit untuk terurai. 

Kejadian tersebut tidak selesai di situ saja. Ketika tante saya mengambil kacang kulit, dirinya membuka kaca mobil lagi. Selanjutnya mengupas kacang dan membuang kulitnya di jalan. Sungguh saya tidak habis pikir. Karena tidak dapat menghentikan aksi tersebut, akhirnya ketika adik saya menghabiskan satu bungkus makanan lagi, saya mengambil bungkus tersebut dan menyimpannya. Hal ini saya lakukan untuk membuang sampah tersebut setelah sampai di rumah nenek. 

Sontak kedua adik saya bertanya akan hal itu. “Ngapo di simpan mbak? Buang be” (kenapa disimpan mbak? buang aja) begitu katanya. 

Saya pun memberikan penjelasan bahwa bungkus makanan tersebut merupakan sampah. Tidak baik untuk membuang sampah secara sembarangan. Sampah tersebut akan mengganggu pemandangan, dan juga dapat menyebabkan banjir. Adik saya antara menerima atau tidak akan penjelasan tersebut. Mereka masih menganggap bahwa tidak masalah membuang sampah sembarangan, toh itulah hal yang dilakukan oleh bundanya kala di mobil. Ketika sampai di tempat penitipan mobil, kami pun turun. Perjalanan akan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor. Hal ini karena jalanan yang sempit sehingga mobil tidak dapat masuk. 

Penampakan dekat rumah nenek dengan sungai yang keruh/Pitnia Ayus

Sembari menunggu jemputan, saya melihat ke sekitar. Daerah ini merupakan daerah aliran Sungai Batanghari. Sayangnya anak sungai ini sangatlah keruh, dan memiliki banyak sekali sampah. Kami memang tidak menggunakan ketek atau sampan untuk sampai ke rumah nenek saat itu. Namun saya pernah menggunakannya, dan tentunya ada banyak sekali sampah di sungai tersebut. Air yang keruh tersebut merupakan air yang digunakan oleh warga. Mulai dari mencuci motor, mandi, hingga buang air besar. Saya nggak sampai hati ngebayangin air sekotor itu sehari-hari.

Memang tidak semua aspek kehidupan menggunakan air tersebut. Masyarakat terbiasa menampung air hujan untuk kebutuhannya seperti memasak. Namun untuk mandi, beberapa di antaranya masih menggunakan air tersebut. 

Tidak jarang pula anak-anak kampung bermain di dalamnya yang dipenuhi oleh lumpur serta sampah. Sedih bukan? 

Sungai arah ke rumah nenek/Pitnia Ayus

Padahal kampung nenek merupakan salah satu daerah yang masih asri. Banyak sekali tanaman hijau tumbuh di sini, dan juga mata pencaharian masyarakat sekitar yaitu petani pinang, kopi, kelapa, dan kelapa sawit. 

Dari perjalanan tersebut saya mengetahui satu hal bahwa sebelum menggambarkan hidup ramah sampah kepada orang lain, alangkah lebih baik untuk menerapkan hal tersebut pada keluarga. Akan terasa percuma jika orang lain susah payah diberikan edukasi akan hal tersebut namun ternyata keluarga yang dekat pun masih acuh akan sampah. 

Sedikit saran saya bagi pada pengguna kendaraan roda empat, sediakanlah tong sampah di mobil tersebut. Tidak perlu mahal, yang murah-murah saja. Ketika sedang di perjalanan dan mengonsumsi makanan atau minuman, sampah yang dihasilkan dapat dikumpulkan. Lalu ketika menjumpai tempat pembuangan sampah, barulah sampah tersebut dikeluarkan. 

Selain itu, saya juga mulai memberikan edukasi mengenai sampah sedikit demi sedikit kepada keluarga. Mulai dari yang lebih kecil dan masih dapat diasah rasa kepeduliannya akan alam, hingga orang tua yang masih menganggap bahwa membuang sampah bisa dimana saja. 

Semoga suatu saat nanti semua orang yang ada di bumi ini sadar dan peduli akan lingkungan. Berharap tentu tidak masalah bukan? 

Artikel Terkait
Semasa CoronaTravelog

Mengunjungi Taman Safari Prigen Semasa Corona

Semasa CoronaTravelog

Melihat Lebih Dekat Rupa Perjalanan dari Kupang ke Rote Kala Pandemi

Travelog

Merayakan Hari Raya di Lappa Laona The Green Highland

Travelog

Berwisata ke Museum Benteng Vredeburg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *