Travelog

Pantai Pulodoro, Sebuah Kesunyian

Mencari informasi mengenai Pantai Pulodoro di Google, akan tersaji sebuah berita terkait penemuan mayat tanpa kepala. Sungguh terdengar menyeramkan. Nama Pantai Pulodoro memang terdengar cukup asing di telinga para wisatawan bahari Malang Selatan apabila dibandingkan dengan Pantai Sendang Biru, Pantai Tiga Warna, Pantai Balekambang, Pantai Goa Cina dan pantai terkenal lain di Kabupaten Malang. Tidak mengherankan apabila pantai ini layak dijadikan destinasi wisata favorit bagi orang-orang yang menghindari kerumunan pengunjung. Pantai Pulodoro berlokasi di Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Kecamatan paling barat di Kabupaten Malang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar.

Pada awalnya, saya sendiri tidak pernah tertarik untuk mengetahui pantai-pantai di kawasan Kecamatan Donomulyo karena terlampau jauh untuk dijangkau dari Kota Malang. Akhirnya sebuah ajakan dari seorang teman, mampu menggoyahkan diri. Ia menjanjikan bahwa tidak hanya keindahan satu pantai yang terpampang, namun hidangan berupa keelokan beberapa pantai dalam satu kawasan di Pantai Pulodoro akan memanjakan. Saya pun dengan yakin mengiyakan tawaran tersebut.

Seperti pada umumnya ketika mengunjungi pantai di kawasan Malang Selatan. Suguhan pemandangan khas pedesaan dan hutan lindung begitu terasa. Karena bukan menjadi salah satu pantai favorit pengunjung. Rute perjalanan yang menghadang begitu membuat produksi hormon adrenalin meningkat. Melewati jalanan berbatu yang membelah hutan menjadi tantangan tersendiri selama kurang lebih tiga puluh menit lamanya.

Pantai Bantol/Melynda Dwi Puspita

Begitu sampai pada sebuah bangunan berbahan kayu, kami mengistirahatkan motor yang sedari tadi dipaksa menghadapi jalanan terjal berliku. Kami sodorkan uang beberapa puluh ribu dari dompet yang tersimpan rapi di dalam tas, kepada seorang pria yang nampak asyik bermain dengan kepulan asap rokok. Kemudian kami langkahkan kaki menuju gundukan pasir bebatuan kapur yang cukup menukik. Dengan sisa tenaga yang sedikit terkuras selama perjalanan, kami menerobos hambatan yang ada di depan mata. Sayup-sayup irama gempuran ombak membangkitkan semangat. 

Hingga tiba waktunya untuk kami dapat berdiri di atas luasnya hamparan pasir putih kecoklatan dengan batuan kecil yang menyebar. Pantai itu ialah Pantai Bantol, sebagai awalan dan penawar rasa lelah bagi kami. Bibir pantai cukup panjang sehingga bisa membuat kami merasa menjadi sosok mini yang hidup di dunia. Terjangan ombak pun hanya mencapai pulau karang yang tersedia jauh di depan mata. Tidak lama waktu yang kami habiskan, hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Pantai Watu Seling Buceng/Melynda Dwi Puspita

Kebahagiaan kami segera sirna ketika harus melewati rawa-rawa dan kawasan hutan mangrove yang masih asri. Ia, hanyalah satu-satunya jalan yang harus diseberangi. Hening, selain hanya terdengar suara hewan-hewan asing yang menemani. Namun angan menikmati suasana Pantai Pulodoro menjadi pemicu kami untuk lanjut menelusuri. 

Sebaran batuan putih dengan ukuran lebih besar menyambut kami. Batu-batu karang juga tidak malu menampakkan dirinya. Air laut menjauh dari bibir pantai saat kami mencoba mendekati. Ia adalah Pantai Watu Seling Buceng, pantai kedua yang kami temui sebelum menuju tujuan utama. Tidak hanya kami berdua yang berusaha mengarahkan pandangan ke arah lautan. Namun juga terdapat beberapa orang bersenda gurau di dalam sebuah tenda berwarna jingga dengan pintu terbuka.

Pantai Kedung Celeng/Melynda Dwi Puspita

Melanjutkan perjalanan ke sisi barat, tidak hanya bentangan pasir pantai yang menyambut. Namun ada pula kumpulan tanaman waru yang mengering terkena sengatan sinar matahari. Terlihat juga sebuah penyekat, yaitu pulau karang di sebelah kanan. Gulungan ombak lebih besar dibandingkan dua pantai sebelumnya yang telah dilalui. Pantai Kedung Celeng menjadi penanda, petualangan hampir berakhir.

Beberapa hewan bercangkang hitam dengan duri-duri panjang juga hadir. Walaupun tak bernyawa lagi, cangkang Bulu Babi itu sempat mengingatkan kami akan beranekaragamnya ciptaan Tuhan. Terlihat pula sebuah batu karang yang telah memutih terseret ombak dan memutuskan menetap di pinggir pantai.

“Tinggal sedikit lagi,” suara-suara bermunculan di dalam pikiran. Segera kami berusaha mengeluarkan sisa energi demi menengok salah satu keajaiban alam. Dua pulau karang menyapa kami, ombak pun jauh dari jangkauan. Hanya ada kumpulan air asin tenang membentuk cekungan seperti setengah lingkaran. Bak sebuah kolam pribadi, banyak orang yang memanfaatkannya sebagai wahana untuk berenang ataupun sekadar membasahi raga. Air laut pun jernih berwarna kehijauan menambah kesejukan. Akhirnya kami mencapainya, Pantai Pulodoro, pantai keempat, sekaligus yang terakhir.

Tidak membawa bekal dan peralatan, sehingga kami memutuskan untuk bersandar pada sebuah pohon. Mengamati perilaku alam, ataupun menengok pengunjung lain yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Berusaha menghimpun lagi bahan bakar untuk modal mengakhiri perjalanan. Ingin rasanya menanti mentari kembali ke tempat peristirahatan. Sayang jarak dan waktu yang membatasi impian.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.
Artikel Terkait
Travelog

Menyusuri Titik Nol Kota Banjarmasin

Travelog

Mencoba Berjalan di Jembatan Gantung Terpanjang se-Asia Tenggara

Travelog

Perjalanan Menyusuri Pulau Rote

Travelog

Pantai Indrayanti, Gunung Kidul, Seharusnya Jadi Tempat Favorit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *